This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Advertising

Tuesday, 19 August 2014

[wanita-muslimah] Kang Sobary: Ego Setinggi Langit

 

Ego Setinggi Langit

Oleh: Mohamad Sobary

 

Kalah secara terhormat memang tetap kalah, tapi kita tak kehilangan kehormatan. Ketika seorang cowboy terkemuka, "raja" di prairie disergap dengan begitu mudah. Ia menjadi tak berdaya di tangan seorang yang dianggapnya "pelonco" tak berarti di dalam kehidupan wild-wild west di Benua Amerika.

 

Dia luka hati, dilecehkan, dan merasa dihina sehina-hinanya oleh keadaan sehingga dia berpendapat lebih baik mati. Apalagi gunanya kebesaran, jika dunia yang kejam ini membiarkannya dikalahkan seorang "pelancong" tak bernama?

 

Ditilik dari bedilnya yang begitu mengilap, yang mengesankan baru saja dipamerkan dalam parade senjata, mustahil dia orang penting dalam percaturan hidup di daerah Barat yang "liar" itu.

 

Tak diragukan lagi. Dia bukan "jagoan" prairie, padang rumput Benua Amerika yang menjunjung tinggi kekuatan otot dan kecepatan menarik pelatuk senjata itu.

 

"Bunuh sajalah aku, malu rasanya Sens-ear dikalahkan oleh seorang pelancong," keluhnya dengan perasaan terhina. Tokoh yang dikiranya seorang pelancong itu pun kaget bahwa orang yang dikalahkannya ini ternyata orang dengan nama besar, yang membuat semua orang Indian merasa lebih baik menghindari orang yang seolah bukan apa-apa ini. Namun, si tua ini Sens-er.

 

Karena itu, si "pelancong" pun merasa iba. Dia menghibur musuhnya dengan lemah lembut dan meyakinkan bahwa dia bukan sedang terhina dan dunia tak sedang bersikap kejam kepadanya.

 

"Bagaimana tidak terhina kalau seorang Sens-er disergap begitu mudahnya oleh orang yang bukan penduduk prairie?" jawabnya galak.

 

"Siapa bilang aku bukan penduduk prairie? Aku ini Old-Shatterhand"

 

"Apa? Kau mau memperbodoh aku? Mana bisa Old-Shatterhand semuda ini?"

 

"Apa kau lupa bahwa sebutan 'old' tak selalu berarti tua dalam usia?"

 

Begitu inti dialog dua tokoh besar dunia prairie, yang baru bertemu secara tak terduga untuk pertama kalinya. Sebagaimana dikisahkan Karl May dalam seri Winnetow Ketua Suku Apache.

 

Si tua yang namanya menggetarkan itu tertunduk, tapi bersyukur yang mengalahkannya bukan sembarang orang. Old-Shatterhand pun tokoh besar, bahkan sangat besar. Si Tua lalu mengaku kalah dengan rasa damai. Dia tak lagi merasa malu karena kalah.

 

Mengakui kekalahan tak begitu mudah, meskipun kita juga sudah tahu bahwa kita kalah. Ego kita sering setinggi langit, yang membuat kita enggan merendah di depan orang lain. Lebih-lebih orang itu telah kita nilai lebih rendah dan jelas lebih tak berarti daripada kita.

 

Buat orang yang hidupnya ibarat "menyembah" keangkuhan dan segenap kekerasan, kata mengalah belum tercipta di dalam kamus hidupnya. Bagi orang-orang yang mengesankan kesalehan yang tak terbantah pun hal itu masih menjadi masalah besar, tak peduli bahwa kerjanya puasa, mengaji, dan rajin ke tanah suci.

 

Kesalehan jenis ini rupanya tak menjadi jaminan. Ketika "ujian" yang dihadapinya lebih dalam, lebih menukik ke perkara hati, yang tak mudah diajar untuk menunduk, karena sudah terlanjur ditaruh begitu tinggi, hingga "menyundul" langit yang tak terbatas itu.

 

Hati sering lebih suka congkak. Kita diajaknya berjalan tengadah, sambil meremehkan isi dunia lainnya, selain kita. Hati kita, sekali lagi, sering setinggi langit. Manusia lain tak tampak. Apalagi semut dan cacing-cacing di balik sampah.

 

Dalam banyak hal kita merasa unggul. Dalam banyak hal kita juga mengira pihak lain tak berarti. Kita bisa menargetkan untuk menang menghadapinya. Kita bahkan wajib menang dengan segala cara. Menang baginya banyak sekali caranya.

 

Dia tidak tahu bahwa kemenangan sejati, yang paling sejati, hanya satu: menang dengan jujur. Hanya satu cara. Menang demi menang yang lainnya, batil belaka, tidak sah, tidak bisa diterima, dan tak memberi kehormatan apa pun.

 

Hati yang setinggi langit tak sudi melihat fenomena psikologis dan keluhuran etis macam ini. Bisa saja—dan sangat mungkin—bahwa dia pun mengetahuinya. Namun, ini bukan suatu kapital dan tak mungkin dijadikannya kapital dalam hidup. Ini malah dianggap keliru dan mengganggu.

 

Sifat saleh, luhur budi, dan kemuliaan nilai "rendah hati", baginya hanya berlaku di gereja, di masjid, dan di willayah-wilayah rohani dan keagamaan lainnya; bukan di dalam pertempuran hidup nyata yang keras, yang jauh dari rohani. Dalam kejamnya hidup sehari-hari, aturan etis dan ajaran utama macam itu sekali lagi, hanya gangguan.

 

Di sini, ada kata strategi, ada taktik, yang bisa saja diolah dengan ramuan keculasan, sikap licik, dan segala macam corak perilaku yang "menyucikan" kedurjanaan. Karena itu, tak mengherankan bila target harus menang dan menang dengan segala cara itu akhirnya berhadapan dengan kegetiran realitas bahwa ternyata dia kalah.

 

Wah, kalah? Tak mungkin dia mampu menerimanya? Apalagi menerimanya dengan damai, seperti Sens-er, yang notabene hidup di alam liar. Ajaran tentang kasih dan menyayangi pihak lain, seperti menyayangi diri sendiri tidak ada dan tak pernah terdengar

 

Sekali lagi, kata kalah itu belum tertulis di dalam kamus hidupnya. Apa yang tak ada, setidaknya tak dikenal, tak usah dipercaya. Buat apa memercayai barang yang tak pernah atau berlum pernah ada?

 

"Loh, bukankah itu bagian penting dari ajaran tentang kemuliaan langit, yang harus diwujudkan di bumi?"

 

Ego yang tinggi menganggap itu bukan bagian dari strategi. Ego yang setinggi langit tak mudah diajak menunduk serendah bumi. []

 

SINAR HARAPAN, 13 Agustus 2014

Mohamad Sobary ; Budayawan

__._,_.___

Posted by: Kinantaka <kinantaka@gmail.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.

.

__,_._,___

[wanita-muslimah] Adnan Pandu Praja: Tambang dan KPK

 

Tambang dan KPK

Oleh: Adnan Pandu Praja

 

DENGAN alasan otonomi daerah, ribuan izin tambang telah diobral pemerintah daerah sehingga menggerus cadangan untuk anak cucu kita. Diperlukan terobosan komprehensif antara pencegahan dan penindakan.

 

Desentralisasi kewenangan pemerintah pusat ke daerah yang dikemas dalam otonomi daerah dimaksudkan untuk memberdayakan pemerintah daerah agar dapat berperan strategis menyejahterakan warganya. Namun, sayangnya, tidak diimbangi dengan penegakan hukum dan sistem pengawasan yang memadai.

 

Di bidang mineral dan batubara (minerba), misalnya, otonomi daerah ditafsirkan sebagai kewenangan mutlak untuk membagi-bagi izin tambang sampai tidak ada izin tambang yang tersisa untuk bisa diberikan kepada badan usaha milik daerah. Akibatnya, tumpang tindih izin tambang sering kita dengar, tetapi hanya segelintir orang yang dihukum.

 

Dengan ada otonomi daerah, jumlah izin tambang meningkat drastis dari 350 pada tahun 2004 menjadi 10.922 pada tahun 2014. Obral izin tambang meningkat menjelang atau setelah pemilihan kepala daerah. Yang pertama, untuk mencari modal kampanye, sedangkan yang terakhir untuk mengembalikan modal kampanye apabila yang terpilih baru pertama kali menjabat.

 

Dari 10.922 izin tambang tersebut, 4.880 di antaranya bermasalah (tidak clear and clean), misalnya tumpang tindih izin. Sementara 1.335 di antaranya tidak memiliki nomor pokok wajib pajak, tetapi tetap dapat beroperasi dan mengekspor hasilnya. Mustahil terjadi tanpa kerja sama dengan oknum berseragam.

 

Akibat obral izin tersebut, Indonesia menjadi pengekspor tambang nomor wahid di dunia, padahal hanya di urutan kedelapan penyimpan cadangan batubara dunia (menyimpan 2,63 persen). Mengalahkan Australia yang menyimpan 10 persen cadangan batubara dunia (urutan kedua) dan Amerika Serikat yang menyimpan 30 persen cadangan batubara dunia (urutan keempat).

 

Ironisnya, prestasi ekspor tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan negara. Potensi pendapatan negara yang hilang setiap tahun diperkirakan ratusan triliun rupiah.

 

Apabila tidak dikendalikan, diperkirakan 20 tahun lagi Indonesia akan mengimpor batubara. Akibatnya, tarif listrik akan meningkat drastis sehingga harga barang akan terdongkrak naik tak terkendali, yang pada gilirannya akan menimbulkan berbagai gejolak sosial. Amanat Pasal 33 UUD 45, negara melindungi kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat hanya ilusi belaka. Negara tak berdaya menghadapi mafia tambang hampir di seluruh lapis birokrasi pusat ataupun daerah.

 

Untuk menerobos kesemrawutan tersebut, melalui program kerja sama koordinasi dan supervisi (korsup) pencegahan bidang minerba, Komisi Pemberantasan Korupsi telah melakukan korsup dengan 12 instansi pusat dan 12 provinsi yang mengeluarkan 70 persen izin tambang minerba. Korsup juga melibatkan 162 pemerintah kabupaten/kota.

 

Hasilnya sangat mengejutkan. Hanya dalam tempo tiga bulan, sebanyak 323 izin tambang telah dicabut oleh pemerintah daerah dan pendapatan negara meningkat tajam, dari biasanya Rp 9 triliun pada Mei, tahun ini melonjak menjadi Rp 14 triliun pada bulan yang sama. Jumlah itu akan terus meningkat. Program korsup minerba akan diikuti pula dengan tindakan pemidanaan terhadap mafia tambang yang selama ini terkesan kebal hukum.

 

Presiden baru

 

Beberapa catatan penting hasil program korsup minerba untuk presiden baru adalah; pertama, di tingkat pusat. Tidak ada yang kukuh mempertahankan ego sektoralnya dalam forum rapat koordinasi antarinstansi yang difasilitasi KPK.

 

Berbagai data yang selama ini cenderung dirahasiakan dapat diintegrasikan tanpa hambatan berarti. Misalnya data potensi dan produksi tambang yang selama ini sulit diperoleh untuk menilai akurasi laporan SPT Pajak perusahaan tambang telah dapat diakses Dirjen Pajak. Fakta menarik yang terungkap, tidak sedikit perusahaan penilai abal-abal yang menaksir minerba siap ekspor.

 

Di samping itu, sampai saat ini kita tidak punya pelabuhan khusus minerba. Kedua hal tersebut menjadi faktor dominan yang menyebabkan potensi pendapatan negara hilang.

 

Kedua, pemerintah daerah sangat kooperatif terhadap imbauan KPK dengan mencabut ratusan izin perusahaan tambang bermasalah yang tidak clear and clean. Padahal, selama ini dikesankan sangat arogan dan emoh dikontrol oleh pusat dengan dalih otonomi daerah. Dengan demikian, KPK telah mengisi ruang kosong tata hubungan pusat dan daerah yang selama ini dipandang sebagai bentuk kegagalan otonomi daerah.

 

Ketiga, oknum yang mengeluarkan izin sembarangan atau melindungi pengusaha hitam akan ditertibkan tanpa diskriminasi. Termasuk perusahaan tambang yang mengabaikan kewajiban reklamasi pasca produksi tambang akan diseret ke meja hijau.

 

Hal ini dilakukan setelah BPK menyatakan sanggup menghitung kerugian negaranya. Langkah penindakan diperlukan karena upaya pencegahan hanya akan efektif apabila diimbangi dengan upaya penindakan yang terus-menerus dan terukur.

 

Keempat, program ini sangat strategis mengintegrasikan data virtual antarinstansi secara nasional dan real time. Idealnya pendapatan negara dari sektor minerba dapat terpantau per detik. Dan setiap ketidakpatuhan juga dapat terdeteksi sejak dini. Dengan data yang akurat, setiap kepala daerah dapat mengakses potensi pendapatan daerahnya untuk merancang aktivitas tahun berikutnya. Sebagai perbandingan, Singapura sudah mengintegrasikan data nasional secara virtual sejak 2004.

 

Kelima, tumpang tindih peraturan dan kewenangan lebih mudah dipetakan untuk diselesaikan bersama oleh semua pemangku kepentingan terkait, sehingga dapat memotong proses sinkronisasi peraturan perundang-undangan. KPK tentu tidak akan melaksanakan program kerja sama korsup minerba secara permanen. KPK hanya memicu kepatuhan saja. Akan ada transformasi (laporan) berupa rekomendasi tata kelola kepada presiden, rekomendasi audit kepada BPK, dan rekomendasi pengawasan kepada DPR sesuai dengan amanat UU KPK.

 

Khusus untuk kevakuman kendali pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah sebagai akibat dari otonomi daerah, untuk sementara KPK dapat menjadi katalisator. Oleh karena itu, presiden terpilih tidak punya pilihan selain bekerja sama dengan KPK, di samping memperbaiki tata kelola pengawasan (Kompas, 24 Juni 2014). []

 

KOMPAS, 13 Agustus 2014

Adnan Pandu Praja ; Komisioner KPK

__._,_.___

Posted by: Kinantaka <kinantaka@gmail.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.

.

__,_._,___