Advertising

Thursday, 4 March 2010

Re: [wanita-muslimah] My Name Is Khan dan Derita Muslim Versi Bollywood

 

1) wajib tonton itu gaya orde baru yang pernah mewajibkan tontonan film 3 30 s PKI ?? yang mau nonton ya silakan, yang gak mau ya biarin.
2) refleksi atas fenomena "tidak adil" seyogyanya tidak menunjuk cermin, karena sebenarnya perilaku diskriminasi bisa ada di mana-mana, termasuk yang ada di dalam diri sendiri.

--- Pada Jum, 5/3/10, Ari Condro <masarcon@gmail.com> menulis:

> Dari: Ari Condro <masarcon@gmail.com>
> Judul: Re: [wanita-muslimah] My Name Is Khan dan Derita Muslim Versi Bollywood
> Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Tanggal: Jumat, 5 Maret, 2010, 5:38 AM
> tanya :
>
> 1. apa seluruh pegawai suara hidayatullah sudah diwajibkan
> nonton film ini ?
> karena 21 di sby kayaknya sepi sepi aja untuk slot film
> yang satu ini.
>
> 2. kalau baca artikelnya, sepertinya sudah pada tahu kalo
> rasisme/diskriminasi apalagi yg memakai dasar diskriminasi
> agama itu jelek,
> tapi kok hidayatullah sepertinya sering menyuarakan
> perlakuan beda pada yang
> agamanya beda atau minoritas ya ?  agak heran aja
> dengan cara refleksi
> baliknya yang tidak tercermin pada kelakuan sendiri.
>
> salam,
> Ari
>
>
> 2010/3/5 cak lis <caklis@yahoo.com>
>
> >
> >
> >
> >
> > Sumber:
> > http://www.hidayatullah.com/kolom/sudut-pandang/10930?task=viewDeritaMuslim
> Versi Bollywood
> >
> >
> >
> >
> > Wednesday, 03 March 2010 13:35
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > //Film tentang nasib umat Islam pasca 11 September ini
> membludak di AS
> > dan Inggris. Tapi didemo partai Hindu militan di
> India. Kekerasan
> > minoritas muslim di India sering terjadi//
> >
> > Oleh: Amran Nasution
> >
> > Hidayatullah.com--My Name Is Khan adalah film India
> biasa, berkisah tentang
> > percintaan manusia. Ini adalah love story.
> > Tapi alur cerita serta setting yang melatari cerita
> --kota San
> > Francisco, Amerika Serikat, setelah dua menara kembar
> WTC rubuh
> > diserang teroris, 11 September 2001-- menyebabkan film
> ini berbeda.
> >
> > My Name Is Khan
> > praktis menjadi media memberitahukan dunia apa yang
> sesungguhnya
> > terjadi di Amerika Serikat setelah 11 September. Lebih
> dari itu, film
> > ini mengungkap derita kaum muslim Amerika Serikat
> setelah serangan
> > teror World Trade Center (WTC), New York, sesuatu yang
> selama ini tak
> > banyak diketahui publik dunia, termasuk masyarakat
> Indonesia.
> >
> > Mereka
> > jadi korban fitnah, dituduh teroris oleh polisi atau
> FBI. Banyak yang
> > ditangkap, diperiksa dengan siksaan, untuk kemudian
> dilepaskan karena
> > tak ada bukti. Itu masih belum apa-apa. Tak terhitung
> jumlah muslim
> > menjadi korban pengeroyokan atau penganiayaan dari
> orang-orang Amerika
> > yang marah di jalan-jalan. Para wanita dilecehkan,
> dibuka paksa
> > jilbabnya. Banyak rumah atau properti milik muslim
> dijarah atau
> > dirusak. Semua itu rasis. Bagaimana tidak?
> >
> > Ada segerombolan
> > orang Arab dipimpin Usamah Bin Ladin, dituduh
> melakukan teror dengan
> > menubrukkan pesawat  terbang ke gedung World
> Trade Center. Akibatnya,
> > dua menara kembar rubuh, dan sekitar 3000 orang di
> dalamnya tewas.
> > Peristiwa ini amat mengerikan.
> >
> > Tapi mengapa yang jadi korban
> > pembalasan adalah  umat Islam Amerika Serikat --
> berjumlah sekitar 7
> > juta di antara 300 juta penduduk-- yang tak tahu
> menahu peristiwa teror
> > itu? Jelas ini terjadi akibat sikap rasisme yang masih
> bersemayam di
> > lubuk hati banyak orang Amerika Serikat. Sikap inilah
> dulu yang
> > menyebabkan terjadi pemusnahan (ethnic cleansing)
> terhadap orang Indian di
> > Benua Amerika, atau perbudakan selama ratusan tahun
> terhadap orang kulit
> > hitam dari Afrika.
> >
> > Perlakuan
> > rasis kepada muslim setelah 11 September memang
> memalukan. Soalnya,
> > Amerika Serikat selama ini selalu ditonjolkan sebagai
> negara kampiun
> > demokrasi, pendukung persamaan hak, dan pelindung hak
> asasi manusia.
> > Padahal melalui My Name Is Khan telah dipertontonkan
> betapa
> > jelek Amerika Serikat setelah Peristiwa 11 September.
> Polisinya jelek,
> > wartawannya jelek, tetangganya jelek, bahkan remajanya
> pun jelek. Semua
> > tak bersahabat. Semua penuh kebencian dan rasis.
> >
> > Tetap Terasa India
> >
> > Di atas sudah disebutkan, My Name Is Khan adalah kisah
> love story
> > yang romantik. Sebagaimana kebanyakan film Bollywood,
> ia kemudian
> > menjadi melankolis, dengan adegan-adegan yang menguras
> air mata, untuk
> > akhirnya  diselesaikan dengan happy ending.
> >
> > Film ini
> > bercerita tentang seorang pemuda muslim asal Mumbai,
> India, bernama
> > Rizwan Khan, diperankan Shah Rukh Khan (aktor paling
> top dunia saat
> > ini), pergi merantau ke San Francisco. 
> Kedatangannya ke Amerika
> > Serikat atas sponsor adik kandungnya, Zakir, yang
> sudah lebih dulu
> > menetap di sana, dan sukses.
> >
> > Rizwan menderita Asperger's syndrome,
> > sejenis penyakit autis yang lebih ringan. Hal itu
> membuatnya tampak
> > beda dengan manusia lain. Ia genius, mampu menghitung
> angka-angka yang
> > rumit, bisa memperbaiki nyaris semua jenis mesin, tapi
> kesulitan
> > berinteraksi dengan tempat atau orang baru. Ia amat
> takut warna kuning.
> >
> > Atas
> > bantuan Zakir, Rizwan bekerja menjadi pramuniaga
> produk herbal untuk
> > kecantikan. Semua berjalan lancar. Rizwan, Zakir dan
> istrinya, Haseena,
> > seorang psikolog yang memakai jilbab, tampak hidup
> rukun. Mereka taat
> > beribadah.
> >
> > Dalam pekerjaannya, Rizwan berkenalan dengan seorang
> > perawat kecantikan, Mandira, diperankan artis nomor 1
> India, Kajol
> > Devgan. Janda yang ditinggalkan suaminya ini memiliki
> satu anak, Sameer
> > alias Sam.
> >
> > Rizwan dan Mandira saling jatuh hati lalu menikah dan
> > menetap di luar San Francisco. Di tempat itu mereka
> mengusahakan salon
> > kecantikan kecil. Mandira maupun Sameer menambahkan
> Khan di belakang
> > nama mereka. Keluarga ini akrab dengan tetangganya,
> Mark, seorang
> > wartawan, tinggal bersama istrinya Sarah dan anaknya
> Reese.
> >
> > Semua berbunga-bunga. Hanya saja beda dengan film
> India biasanya, tak ada
> > adegan tari dan nyanyi di dalam  My Name Is Khan.
> Sebagai ganti, sejumlah
> > lagu dijadikan ilustrasi untuk menghiasi adegan
> tertentu. Dengan demikian
> > film ini tetap terasa India.
> >
> > Kemudian
> > terjadilah peristiwa 11 September celaka itu. 
> Mark, tetangga mereka
> > yang wartawan, ditugaskan meliput perang di
> Afghanistan. Ia terbunuh di
> > sana. Sejak itu, sang anak, Reese, teman akrab Sameer,
> berubah menjadi
> > musuh. Karena namanya, Sameer rupanya dianggap orang
> Afghanistan.
> >
> > Haseena
> > dikeroyok sejumlah lelaki hanya karena memakai jilbab.
> Trauma pada
> > kejadian itu ia sempat melepas jilbab untuk sekian
> lama. Penduduk
> > muslim lainnya mengalami nasib serupa: toko dirusak,
> rumah ditimpuk,
> > atau orangnya dikeroyok. Malah tak sedikit orang India
> penganut Sikh –
> > yang memakai serban di kepala – jadi korban karena
> disangka orang
> > Afghanistan dan Muslim. Jadi sekali lagi, semua ini
> menggambarkan
> > betapa sikap rasis masih berkembang subur di dalam
> masyarakat Amerika
> > Serikat.
> >
> > Nasib paling parah diterima Sameer. Diawali
> > pertengkaran dengan Reese, ia dikeroyok sejumlah
> remaja bule hanya
> > karena kulitnya hitam. Sebenarnya Reese mencoba
> menyelamatkan Sameer,
> > tapi tak berhasil. Dalam keadaan sekarat Sameer sempat
> dibawa ke rumah
> > sakit namun nyawanya tak tertolong.
> >
> > Rizwan sedih sekali atas
> > nasib putra tirinya. Tapi yang terguncang adalah sang
> ibu, Mandira. Ia
> > anggap ''bencana'' yang menimpa mereka karena
> nama Khan.  Maka Rizwan
> > sebagai biang bencana diusirnya. Ia perintahkan Rizwan
> mengatakan
> > kepada orang Amerika, termasuk Presiden Amerika
> Serikat:  bahwa namanya
> > Khan, tapi ia bukan teroris (My name is Khan, and I am
> not a terrorist).
> >
> > Rizwan
> > pun ikhlas melakukannya. Ia mengembara seorang diri.
> Dalam
> > pengembaraan, ia berhasil menghadiri sebuah acara
> terbuka yang dihadiri
> > Presiden George W. Bush. Dengan susah-payah ia coba
> mendekati Presiden
> > sembari terus berteriak: My name is Khan, I am not a
> terrorist. Belum
> > sempat teriakan itu didengar Bush, para pengawal
> meringkusnya. Ia dicurigai
> > sebagai teroris.
> >
> > Apa
> > yang ia alami kemudian sungguh menyakitkan: ia
> dimasukkan ke ruangan
> > bersuhu panas, lalu dipindah ke ruangan yang amat
> dingin. Berbagai
> > siksaan lain harus ia terima. Agaknya film ini
> mengadopsi cara-cara
> > badan intelijen Amerika, CIA, memperlakukan tahanan
> di  berbagai
> > penjara rahasia yang bisa dibaca di berbagai buku atau
> koran. Toh
> > akhirnya Rizwan harus dibebaskan karena tak terbukti
> sebagai teroris.
> > Itu juga berkat bantuan tiga wartawan India.
> >
> > Nama Rizwan
> > kemudian melambung menjadi pahlawan di televisi karena
> menyelamatkan
> > penduduk sebuah desa di Georgia yang diterjang banjir.
> Kebetulan
> > penduduk desa itu orang kulit hitam dan sama sekali
> tak beroleh bantuan
> > atau pertolongan dari mana pun, termasuk dari
> pemerintah. Setelah
> > berita ramai di televisi, bantuan datang dari
> orang-orang muslim yang
> > dikoordinasikan Haseena dan suaminya, Zakir.
> >
> > Adegan ini
> > tampaknya diilhami tragedi banjir bandang di New
> Orleans, Louisiana,
> > akibat badai Katrina pada 2005. Peristiwa ini
> merupakan salah satu
> > bencana alam terbesar di Amerika Serikat  –
> dengan hampir 2000 korban
> > jiwa. Mayoritas korban adalah masyarakat kulit hitam
> dan berhari-hari
> > tak dapat bantuan dari pemerintah. Peristiwa ini
> menyebabkan Presiden
> > Bush dikecam keras oleh terutama masyarakat kulit
> berwarna Amerika
> > Serikat.
> >
> > Pembunuhan Muslim Gujarat
> >
> > Akhirnya happy
> > ending itu tiba. Mandira terhibur setelah polisi
> menangkap para remaja
> > yang membunuh anaknya, berkat kesaksian Reese yang
> terus tersiksa oleh
> > rasa bersalah atas tragedi itu. Mandira pun mencari
> Rizwan ke Georgia.
> > Mereka berdua menghadiri sebuah acara pertemuan
> Presiden Barack Obama
> > yang baru terpilih menggantikan George Bush, dengan
> para pendukungnya.
> >
> > Mereka berhasil bertemu dengan Presiden baru itu.
> "Namamu Khan dan kau
> > bukan teroris (Your name is Khan and you are not a
> terrorist),''
> > ujar Obama kepada Rizwan di hadapan ribuan hadirin.
> Dengan pengakuan
> > Obama, maka selesailah tugas pengembaraan Rizwan
> seperti diperintahkan
> > Mandira. Setidaknya dia telah membuktikan bahwa tak
> semua Muslim itu
> > teroris. Kedua sejoli pun kembali bersama.
> >
> > My Name Is Khan
> > dirilis pertama kali di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 10
> Februari lalu.
> > Dua hari kemudian film ini beredar di Eropa, Amerika
> Serikat, Kanada,
> > Australia, dan bagian dunia lainnya, termasuk di India
> atau Indonesia.
> > Di berbagai tempat film ini dikabarkan memecahkan
> rekor penonton film
> > India, seperti di Inggris, Australia, dan Amerika
> Serikat. My Name Is Khan
> > hanya
> > tambah memperkuat dominasi Bollywood – pusat
> perfilman India di Mumbai
> > -- atas perfilman dunia sekarang, setelah mengungguli
> Hollywood.
> >
> > The New York Times,
> > 13 Februari lalu, dalam resensinya menyebutkan adalah
> menarik melihat
> > Amerika melalui lensa Bollywood, sekali pun yang
> diceritakan cuma
> > dongeng. Misalnya, yang paling mengesankan dari film
> itu tentang
> > hubungan antara orang muslim (India) dengan orang
> kulit hitam Georgia.
> > "Khan dengan mudah memancing air mata, sembari
> mengajarkan tentang
> > Islam dan toleransi," tulis koran utama Amerika
> Serikat itu.
> >
> > Toleransi? Kata-kata itu kian sulit dipraktikkan
> sekarang. Di India
> > sendiri, My Name Is Khan beredar
> > di tengah ancaman kekerasan dari para pendukung Shiv
> Sena, partai Hindu
> > radikal yang sangat anti-Islam. Shiv Sena berarti bala
> tentara Shivaji,
> > Raja Hindu yang dulu berperang melawan kekuasaan
> Imperium Moghul yang
> > Islam, yang menguasai India di abad ke-16 sampai
> tengah abad ke-19.
> >
> > Sejumlah gedung bioskop tak berani memutar My Name Is
> Khan.
> > Ketika film ini dirilis di Mumbai, 12 Februari lalu,
> ribuan polisi
> > terpaksa dikerahkan mengawal gedung bioskop dari aksi
> Shiv Sena.
> > Kelompok itu sempat menurunkan pamplet dan poster film
> dari  berbagai
> > gedung. Guna mengamankan pemutaran film sekitar dua
> ribu pendukung
> > partai radikal itu terpaksa diamankan polisi.
> >
> > Sebenarnya aksi
> > Shiv Sena, menurut banyak pengamat, berfokus pada
> pemeran utama film
> > itu, Shah Rukh Khan, aktor paling top India yang
> kebetulan beragama
> > Islam. Akhir bulan lalu, Shah Rukh Khan yang memiliki
> klub kriket
> > mempertanyakan daftar para pemain liga primer India
> yang tak
> > mencantumkan satu pun pemain asal Pakistan. Padahal
> banyak pemain
> > Pakistan masuk kelas pemain terbaik dunia.
> >
> > Pernyataan Khan
> > membuat marah pemimpin utama Shiv Sena, Uddhav
> Thackeray, mantan
> > karikaturis yang sudah berusia 84 tahun. Di mata
> Thackeray, itu sebagai
> > bukti bahwa artis yang sering digelari King Khan ini,
> sama sekali tak
> > peduli pada serangan teroris dari Pakistan di Mumbai
> pada 2008.
> > Thackeray menuntut Khan harus minta maaf secara
> terbuka. Khan menolak
> > karena merasa tak bersalah.
> >
> > Ketika Shiv Sena beraksi di Mumbai, Khan yang oleh
> Majalah Newsweek dipilih
> > sebagai salah satu dari 20 tokoh paling berpengaruh
> dunia, sedang
> > berkeliling di luar negeri mempromosikan filmnya.
> Melalui twitter, Khan
> > menulis bahwa ia tak ingin filmnya mengganggu suasana
> kota
> > kelahirannya. "Saya harap perdamaian menang dan kota
> dalam keadaan
> > tenang,'' tulisnya. Untuk diketahui penduduk
> muslim yang berjumlah
> > 140-an juta di antara 1 milyar penduduk India, sering
> kali menjadi
> > korban kekerasan kelompok mayoritas Hindu.
> >
> > Di Mumbai, misalnya,
> > di tahun 1993 meletus kerusuhan anti-Islam yang antara
> lain dikobarkan
> > Partai Shiv Sena. Pada tahun 2002, merebak kerusuhan
> anti-Islam di
> > Gujarat selama beberapa bulan, menyebabkan 2000-an
> muslim terbunuh.
> >
> > Seperti dideskripsikan Profesor Martha Nussbaum, pakar
> hukum dan etik dari
> > University of Chicago di dalam bukunya The Clash
> Within
> > (Harvard University Press, 2008), pembunuhan kaum
> muslim di Gujarat
> > oleh kelompok radikal Hindu amat kejam. Yang dibantai
> bukan hanya
> > wanita dan anak-anak, tapi orok dalam kandungan.
> Wanita hamil
> > dikeluarkan oroknya, lantas dilemparkan ke tengah
> kobaran api.
> > Pemerkosaan terhadap wanita muslim banyak terjadi.
> Setelah diperkosa
> > mereka juga dibuang ke api menyala.
> >
> > Yang lebih parah, kerusuhan
> > ini melibatkan institusi polisi, intelijen, atau
> birokrat Hindu, bahkan
> > buku tadi menyebut nama Ketua Menteri Negara Bagian
> Gujarat, Narendra
> > Modi, dari partai Hindu, Bharatiya Janata (BJP).
> Banyak bukti
> > ditemukan, seperti foto-foto atau rekaman video, yang
> menunjukkan
> > keterlibatan Bajrang Dal, paramiliter kelompok sayap
> kanan Hindu, dalam
> > pembantaian sadistis itu.
> >
> > Setelah kerusuhan, banyak properti
> > milik Muslim yang ditinggalkan, diambil alih
> orang-orang Hindu. Itulah
> > yang terjadi di India, yang sering dibanggakan sebagai
> negeri
> > demokratis. Dalam salah satu artikel yang ditulisnya,
> Profesor Nussbaum
> > menyesalkan peristiwa pembantaian Gujarat kurang
> mendapat liputan pers
> > internasional. Seakan-akan karena korbannya orang
> Islam, bisa dibiarkan
> > begitu saja. [www.hidayatullah.com]
> >
> > Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO.
> Kini,  bergabung dengan IPS
> > (Institute for Policy Studies) Jakarta
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> > 
> >
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ------------------------------------
>
> =======================
> Milis Wanita Muslimah
> Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga,
> maupun masyarakat.
> Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
> Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
> Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
> Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
>
> Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
>
>
>     wanita-muslimah-fullfeatured@yahoogroups.com
>
>
>

Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment