Harmoni warga di Sipirok. PULUHAN warga
Muslim dan Kristen di Kelurahan
Bungabondar, Sipirok, Tapanuli, Sumatera Utara, bahu-
membahu menyiapkan perayaan Natal pada 23 Desember 2009. Sore itu
Ustadz MT Lubis, yang memakai peci haji, memotong kerbau di halaman
Gereja Kristen Protestan Angkola Bungabondar untuk jamuan Natal.
Sekat-sekat agama tak tampak lagi di warga desa yang diapit Gunung
Tapulonanjing, Simonangmonang, dan Lubukraya itu. Mereka membaur untuk
menyiapkan pesta Natal.
\"Pada hari raya, masyarakat bahu-membahu menyiapkan pesta, saling
mengunjungi dan memberi makanan. Umat Muslim mengirimkan makanan dan
kue-kue saat Lebaran, dan umat Kristen akan melakukan hal serupa saat
Natal dan Tahun Baru,\" kata Pendeta (Pdt) Pinda Hamongan Harahap,
pemimpin Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) Bungabondar.
Pernyataan Pdt Pinda tersebut dibenarkan oleh sejumlah tokoh Muslim di
Bungabondar. Muhammad Taris Siregar, tokoh Muslim Bungabondar,
mengatakan, \"Untuk urusan ibadah, kami tidak saling mencampuri, tetapi
untuk menyiapkan pesta dan meramaikannya, kami lakukan bersama- sama,\"
katanya.
Andi Stefanus Harahap (18), putra Pdt Pinda, mengaku selalu ikut
menyiapkan takbiran, dan malam menjelang Lebaran dia ikut berkeliling
kampung meneriakkan takbir dan menabuh bambu serta beduk.
Demikian
sebaliknya, pada saat Natal naposo atau Natal untuk muda-mudi,
anak-anak muda dari kalangan Muslim membantu menyiapkan Natal. Pada
saat kebaktian, mereka juga datang untuk meramaikan.
\"Saat kebaktian, teman-teman Muslim itu kebanyakan memang hanya
mengikuti dari luar gereja dan melihat kami beribadah, tetapi ada juga
yang ikut masuk ke dalam gereja. Prinsipnya, mereka ingin ikut
meramaikan sebagaimana kami juga ikut meramaikan saat hari raya
Lebaran,\" katanya.
Muhammad Taris Siregar mengatakan, masjid bukan hanya milik kaum
Muslim, dan gereja bukan hanya milik umat Kristiani. Pintu kedua tempat
ibadah itu terbuka bagi seluruh warga desa.
\"Bagaimana kami bisa mengklaim masjid hanya milik kaum Muslim karena
kami saling membantu mendirikan tempat ibadah itu. Seluruh warga ikut
mencari batu dan pasir dari sungai saat membangun masjid dan gereja di
Bungabondar. Dana pembangunan tempat ibadah juga banyak berasal dari
sumbangan warga Bungabondar yang merantau di luar daerah. Dana itu
dikumpulkan oleh ketua adat, kemudian disalurkan secara adil untuk
membiayai pembangunan atau perbaikan kedua tempat ibadah,\" katanya.
Gambaran lain tentang harmoni di Sipirok bisa dilihat saat pesta
perkawinan dan kematian.
Bagi masyarakat Sipirok, kedua peristiwa
tersebut tidak boleh dilewatkan oleh seluruh warga. \"Semua warga harus
ikut membantu menyiapkan pesta perkawinan dan kematian. Walaupun saya
Kristen, saya berkali-kali memimpin doa saat penguburan warga. Beberapa
di antara mereka adalah para haji,\" kata Baginda Hasudungan.
Di Sipirok juga didirikan Yayasan Ampera yang memberikan beasiswa
kepada sekitar 400 anak yatim piatu dan santunan kepada janda. Yayasan
itu diprakarsai oleh almarhum MD Siregar, seorang warga Sipirok yang
merantau di Surabaya. \"Yayasan ini memberikan bantuan dengan tanpa
membedakan agama. Siapa yang membutuhkan akan dibantu,\" kata Baginda
Hasudungan, yang menjadi Bendahara Yayasan Ampera Cabang Sipirok.
Tradisi harmoni antarumat beragama di Sipirok juga telah memberikan
dampak positif yang nyata bagi para petani.
Mereka mempraktikkan
harmoni antarumat beragama dengan melakukan tradisi gotong royong dalam
menggarap sawah. \"Kami saling bergantian mengerjakan sawah milik
sesama petani. Tak ada pandang bulu dan batas agama, siapa pun yang
butuh bantuan mengerjakan sawah atau ladang akan kami bantu,\" kata
Sutan Siagian (42), petani dari Bungabondar.
HARMONI di Sipirok telah ada jauh sebelum agama Islam dan Kristen masuk
ke desa yang sekarang dihuni 242 keluarga itu. \"Sejak semula kami
memegang teguh adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang kami jauh
sebelum masuknya agama Islam dan Kristen.
Agama tidak boleh memecah
belah kesatuan dan adat. Bukankah ajaran agama sendiri mengajarkan agar
kita saling menjaga hubungan baik dengan sesama?\" kata Parningotan
Siregar, yang bergelar Baginda Hasudungan, Ketua Adat Sipirok yang
tinggal di Bungabondar.
Sipirok tercatat pernah menjadi basis penyebaran agama Islam oleh kaum
Padri dari Minangkabau selama tahun 1816-1833. Tuanku Rao, salah satu
panglima pasukan Padri, menjadikan Sipirok sebagai markas besar
pasukannya dalam menguasai Mandailing.
Setelah kepergian kaum Padri, Sipirok juga tercatat sebagai titik awal
penyebaran agama Kristen oleh sejumlah zending Jerman dan Belanda.
Pada
tahun 1857 Sipirok telah menjadi pangkalan Zending Eermeloo yang
dipelopori oleh Van Asselt, seorang zending Belanda.
Sekitar sebelas tahun kemudian Van Asselt akhirnya berhasil membaptis
Main Tampubolon dari Parausorat dengan nama baptisan Jacobus dan Pagar
Siregar dari Bungabondar dengan nama baptisan Simon Petrus. Menurut
Ketua Majelis Pendeta GKPA se-Indonesia JP Matondang, kedua orang itu
adalah baptisan pertama di Tanah Batak, atau setidak-tidaknya di Tanah
Batak Angkola.
Kedua agama yang masuk ke Sipirok hampir beriringan tersebut diterima
masyarakat dengan terbuka. \
"Sebelum masuknya kedua agama tersebut,
sebagian warga telah memeluk agama tradisional dan adat istiadat. Dan
adat itulah yang kami pelihara sebagai pengikat seluruh warga.
Sedangkan agama adalah kesadaran dan pilihan yang didasari keyakinan.
Bisa saja di sini satu rumah ada dua pemeluk agama, tetapi tidak pernah
ada masalah,\" kata Baginda Hasudungan. Baginda Hasudungan sendiri
beragama Kristen, sedangkan kakak lelaki satu-satunya beragama Islam.
Hajah Riamah Pardede (86), warga Bungabondar, juga hidup satu atap
dengan anak dan menantunya yang beragama Kristen. \"Anak saya sudah
dewasa, bisa memilih jalannya sendiri. Setelah ditinggal mati suami,
dialah yang menjaga saya. Dia yang memasak makanan dan merawat saya
kalau sakit. Walaupun agama kami berbeda, dia berbakti kepada
orangtuanya. Bangga punya anak dia,\" kata Riamah.
Menjelang Natal di Bungabondar, suasana desa benar- benar meriah. Damai
kasih Natal nyata melingkupi Sipirok yang selalu diselimuti kabut itu.
Sipirok adalah bukti nyata bahwa harmoni antarpemeluk agama bukanlah
impian. (AHMAD ARIF)
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment