Advertising

Friday, 7 January 2011

Bls: Bls: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI

 

Ya, beginilah kalau mempersepsi asma'ul husna menurut syahwat pribadi, sehingga
al ahad tidak perlu ada karena dianggap : 1) sinonim dengan al wahid, 2) tidak
lazim menggunakan nama abdul ahad pada manusia.

Padahal asma'ul husna 1) banyak yang sinonim, contohnya : Allah Maha
Pengampun ada al ghaffar, al ghafuur, belum lagi nama lain tetapi ada kedekatan
makna dengan pengampun yaitu al afw dan al tawwab kemudian Maha Besar ada al
kabiir dan ada al mutakabbir, Maha Kasih Sayang ada al Rahman dan al Rahiim,
masih banyak lagi yang sinonim, dan yang perlu diketahui adalah sinonim dalam
asmaul husna tidak selalu memiliki makna yang persis sama tetapi apabila diurai
lebih lanjut akan dijumpai perbedaannya. Adapun 2) penafian al ahad tidak ada
hubungannya dengan kelaziman nama manusia (abdul wahid lebih lazim daripada
abdul ahad). Kalau pakai logika ini maka tidak ada artinya sifat wajib
Tuhan "laysa kamitslihi" atau "mukhalafatulil hawaditsi".

Nama-nama Allah yang indah terlalu luas untuk diurai dan dijelaskan dengan
kata-kata dan teramat banyak untuk ditafsirkan, maka tidak ada yang aneh dengan
istilah tuhan yang baik hati dari pak Sarlito Wirawan, begitu juga dengan opini
Emha Ainun Najib yang pernah menyebut bahwa Allah itu Maha Lucu.

________________________________
Dari: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@yahoo.co.id>
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Terkirim: Jum, 7 Januari, 2011 23:55:21
Judul: Re: Bls: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI

 
Saya mengambilnya dari Dua Kitab di antara Enam Kitab (Kutubu Sittah), yaitu
1. Shahih Bukhari
2. Shahih Muslim

ALAhD (Al Ahad) mengapa tidak ada?
Lihat no. 67 ALWAhD (Al Waahid): Maha Esa
ALAhD maknanya sama dengan ALWAhD. Bahkan untuk nama orang Abdul Wahid lebih
lazim dari Abdul Ahad.

Sedangkan mengenai ALRB (Ar Rabb)?
Coba perhatikan S. Al Fatihah, atas dasar apa ALRB yang urutan no.3 dalam S. Al
Fatihah tidak dimasukkan? Bahkan ALRB itu aadalah yang pertama-tama diturunkan:
Iqra bismi Rabbika. Kalau ALRB tidak dimasukkan, lalu ada di mana Maha Pengatur?

Perkara referens dari Depag, itu terkadang ada juga kekeliruan. Coba perhatikan
terjemahan Al-Quran keluaran Depag. S. Isra 17:1 ada yang salah terjemahannya:
Al-Bashiir diterjemahkan dengan Maha Mengetahui. Selanjutnya silakan dibaca Seri
398 di bawah yang menunjukkan kekeliruan Departemen Agama yang lebih fatal.
*********************************************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
398. Penyisipan Dalam Terjemahan Al Quran
dan Tahlil Dalam Azan di TPI

Pergolakan politik di tanah air kita tinggalkan dahulu untuk dibahas. Presiden
sendiri juga kelihatannya buat sementara tidak mau repot kok (baca: keliling
Asean, USA dan Jepang). Tampaknya pemerintah menempuh politik ranca' di labuah,
politik luar negeri lebih diprioritaskan ketimbang di dalam negeri, yaitu
masalah Aceh yang sangat mendesak dan resistensi yang mulai marak tentang
rencana hubungan dagang dengan Israel. Politik ranca' di labuah ini mengandung
risiko: Yang dikandung berceceran, yang dikejar tidak dapat.

Seperti yang telah dijanjikan dalam Seri 397, maka dalam seri ini dibahas kedua
contoh terakhir tentang penyisipan, yaitu seperti dinyatakan dalam judul di
atas.
Firman Allah SWT:
-- WHW ALDZY KHLQ ALYL WALNHAR WALSYMS WALQMR KL FY FLK YSBHWN (S.ALANBYA", 33),
dibaca: Wahuwal ladzii khalaqal layla wannahaara wasysyamsa walqamara kullun fii
falakin yasbahuun (S. al ambiya-',21:33), diterjemahkan:

-- Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan
masing-masing dari keduanya itu beredar dalam garis edarnya.

Terjemahan tersebut dapat dibaca dalam halaman 499 dari Buku Terjemahan Al Quran
oleh Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta, berdasar atas SK Menteri
Agama RI no.144, tahun 1989. Eloknya dalam menterjemahkan itu kata-kata sisipan
ditaruh di antara dua kurung, jadi cantiknya demikian: -- Dan Dialah yang telah
menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan masing-masing (dari keduanya
itu) beredar dalam garis edarnya.

Rupanya terjemahan itu berlatar belakang pada pemikiran pendekatan kontekstual.
Yakni yang beredar itu dalam konteks matahari dan bulan, sehingga perlu
disisipkan kata-kata dari keduanya itu, untuk lebih mempertajam makna terjemahan
itu. Namun perlu dicamkan bahwa tidaklah selamanya terjemahan ataupun penafsiran
itu harus memakai pendekatan kontekstual. Dalam kasus terjemahan di atas
penyisipan itu mengakibatkan dua kesalahan, yaitu kesalahan gramatikal dan
kesalahan substansial.

Dalam bahasa Arab ada tiga tingkat dalam menyatakan jumlah, yaitu: mufrad
(tunggal), mutsanna (dua) dan jama' (banyak, tiga ke atas). Berbeda misalnya
dengan bahasa Belanda, yang hanya dua tingkat: enkelvoud (tunggal) dan meervoud
(banyak, dua ke atas). Kata terakhir dari ayat (21:33) yang diterjemahkan di
atas ialah YSBHWN (dibaca: yasbahuun), bentuknya jama', lebih dari dua yang
beredar. Dengan penyisipan itu, maka terjadilah kesalahan gramatikal. Penyisipan
kata keduanya hanya boleh dilakukan jika seandainya kata terakhir ayat (21:33)
bukan dalam bentuk YSBHWN, melainkan YSBHAN (dibaca: yasbahaan), artinya dua
yang beredar.

Jadi terjemahan itu seharusnya demikian:
-- Matahari dan bulan masing-masing berenang dalam falaknya.
Kesalahan substansial ialah terjemahan Dept Agama mematok bahwa yang beredar
hanya matahari dan bulan saja. Padahal ayat (21:33) mengisyaratkan ada yang
tersirat. Yaitu setelah menyebutkan matahari dan bulan lalu ditutup dengan kata
dalam bentuk jama', lebih dari dua yang beredar, artinya yang beredar itu bukan
matahari dan bulan saja. Tiap-tiap sesuatu ciptaan Allah di alam syahadah ini
beredar ataupun berenang dalam falaknya, termasuk bumi. Ayat (21:33)
mengisyaratkan yang tersirat yaitu bumipun beredar dalam orbitnya. Bayangkan
apabila di zaman Nabi Muhammad SAW Al Quran dengan terang-terangan menyatakan
bahwa bumi bergerak, maka masyarakat akan menolak untuk percaya. Itulah gaya Al
Quran, informasi yang belum dapat dicerna oleh masyrakat berhubung karena
lingkungan budayanya masih belum mampu untuk mencerna informasi itu, Al Quran
menyampaikannya secara isyarat yang tersirat. Karena Al Quran diperuntukkan bagi
seluruh ummat manusia dari seluruh tingkat budayanya masing-masing sampai akhir
zaman.

Kalimah Tahlil adalah kalimah mengEsakan Allah: LA ALH ALA ALLH dibaca: La-
ila-ha illaLla-h, yang artinya: Tiada tuhan kecuali Allah. Ke dalam terjemahan
kalimah Tahlil ini dalam azan di TPI disisipkan anak kalimat: yang patut
disembah, sehingga menjadi: Tiada tuhan (yang patut disembah) kecuali Allah.
Terjemahan tersebut dicemari oleh polytheisme: Selain Allah yang patut disembah
terdapat tuhan-tuhan lain yang tidak patut disembah. Ini disebut faham
monolatry, yaitu hanya menyembah satu Tuhan, sementara mengakui eksistensi
tuhan-tuhan yang lain yang tidak patut disembah (the worship of but one God,
when other gods are recognized as existing).

Dalam kurun waktu (1700-1550) sebelum Miladiyah (SM) Dinasti Hyksos (Raja
Gembala) bangsa al 'Ibriyah al Qadimah dari Kan'an memerintah Mesir setelah
menundukkan Dinasti Fir'aun. Salah seorang raja Hyksos mengawinkan puterinya
Sitti Hajar dengan Nabi Ibrahim AS dari bangsa al 'Ibriyah al Jadidah (Ibrani,
Habiru). Tiga generasi sesudahnya bangsa Ibrani diizinkan menetap di delta s.Nil
(Goschen) atas prakarsa Raja Muda Mesir Nabi Yusuf AS. Ajaran Tawhid, mengEsakan
Tuhan, yang diajarkan Nabi Yusuf AS, beberapa generasi kemudian memberikan
inspirasi kepada Fir'aun Akhenaton. Dinasti Fir'aun kembali berkuasa setelah
mendesak Dinasti Hyksos keluar Mesir tahun 1550 SM. Sejak itu bangsa Ibrani
mulai ditekan dan diperbudak. Akhenaton adalah Fir'aun ke-9 dari 11 Fir'aun dari
Dinasti XVIII yang memerintah selama (1377-1360) SM. Pada mulanya ia bernama
Amun Hotep IV (Amenophis) artinya dewa Amun puas, kemudian setelah mengumumkan
kepercayaan baru hanya boleh menyembah satu tuhan yaitu Aton ia mengubah namanya
menjadi Akhenaton artinya bersama dalam Aton. Menurut Akhenaton, Ra (matahari
yang dianggap tuhan) adalah manifestasi dari Aton. Sungguhpun demikian ia tidak
menolak eksistensi tuhan-tuhan Mesir yang lain seperti dewa Amun, dewa Osiris,
dewi Nil dll. Jadi kepercayaan baru bentukan Akhenaton itu termasuk monolatry.

Yang patut diwaspadai oleh para orang tua agar putera-puterinya yang kecanduan
menonton tayangan Misteri Gunung Merapi dan Kaca Benggala tidak terseret kepada
monolatry: bahwa di samping Allah, memang ada dewi Durga yang memberikan
kesaktian kepada Mak Lampir dan memang ada dewi Laut Selatan yang menjadi isteri
raja-raja Mataram. Walla-hu a'lamu bishshawa-b.

*** Makassar, 14 November 1999
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/1999/11/398-penyisipan-dalam-terjemahan-al.html

Wassalam
HMNA

----- Original Message -----
From: "Abdul Muiz" <muizof@yahoo.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Friday, January 07, 2011 09:30
Subject: Bls: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI

Abah HMNA merujuk hadits apa ya ?? kalau menurut hadits bukhari muslim 99+1,
penyebutan asma'aul tidak ada al rabb, namun ada al ahad (dapat dilihat di
halaman awal al qur'an terbitan Depag RI), sedangkan yang dikutip abah tidak
ada
al ahad namun ada al rabb.

Menurut Quraish Shihab dalam bukunya "asma'ul husna" tentang jumlah bilangan
asma'ul husna : menurut riwayat bukhari-muslim ada 99+1, kalau menurut At
Thabathabai ada 127, menurut ibnu Barjam Andalusi ada 132, menurut Al
Qurtuby
ada 200, menurut Abubakar Ibnul Araby ada 1000.

________________________________
Dari: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@yahoo.co.id>
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Terkirim: Kam, 6 Januari, 2011 21:55:19
Judul: Re: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI

99 Al-Asma ul Husna
"Allah mempunyai Al-Asma ul Husna (nama-nama yang baik), maka memohonlah
kepada
Allah dengan menyebut nama-nama itu." (QS Al-A'raaf:180)

1. ALRhMN (Ar Rahmaan): Maha Pengasih
2. ALRhYM (Ar Rahiim): Maha Penyayang
3. ALRB (Al Rabb): Maha Pengatur
4. ALMLK (Al Malik, Al Maalik): Maha Merajai, Maha Memiliki
5 ALQDWS (Al Qudduws): Maha Suci
6 ALSLAM (As Salaam): Maha Penjaga
7 ALMWaMN (Al Mu'min): Maha Menjamin
8 ALMHYMN (Al Muhaimin): Maha Melindungi
9 AL'AZYZ (Al 'Aziyz): Maha Mulia
10 ALJBAR (Al Jabbar): Maha Perkasa
11 ALMTKBR (Al Mutakabbir): Maha Megah
12 ALKhALQ ()Al Khaaliq): Maha Pencipta
13 ALBARYa (Al Barri): Maha Pembuat
14 ALMShWR (Al Mushawwir): Maha Pembentuk
15 ALGhFAR (Al Ghaffar): Maha Pengampun
16 ALQHAR ( Al Qahhar): Maha Pemaksa
17 ALWHAB (Al Wahhaab): Maha Pemberi
18 ALRZAQ ( Ar Razaaq): Maha Pemberi Rizki
19 ALFTAh (Al Fattaah): Maha Membuka
20 AL'ALYM (Al 'Aliym): Maha Mengetahui
21 ALQABDh (Al Qaabidh): Maha Pencabut
22 ALBASTh (Al Baasith): Maha Meluaskan
23 ALKhAFDh (Al Khaafidh): Maha Menjatuhkan
24 ALRAF'A (Ar Rofi'): Maha Mengangkat
25 ALM'AZ (Al Mu'izz): Maha Pemberi Kemuliaan
26 ALMDzL (Al Mudzill): Maha Pemberi Kehinaan
27 ALSMY'A (As Samiy'): Maha Mendengar
28 ALBShYR (Al Bashiyr): Maha Melihat
29 ALhKM (Al Hakaam): Maha Menetapkan Hukum
30 AL'ADL (Al 'Adl): Maha Adil
31 ALLThYF (Al Lathiyf): Maha Halus
32 ALKhBYR (Al Khabiyr): Maha Waspada
33 ALhLYM (Al Haliim): Maha Penyantun
34 AL'AZhYM (Al 'Azhiym): Maha Agung
35 ALGhFWR (Al Ghafuwr): Maha Pengampun
36 ALSyKWR (Asy Syakuwr): Maha Pembalas
37 AL'ALY (Al 'Aliyy): Maha Tinggi
38 ALKBYR (Al Kabiyr): Maha Besar
39 ALhFYZh (Al Hafiydh): Maha Pemelihara
40 ALMQYT Al Muqith : Maha Pemberi Kecukupan
41 ALhSYB (AL Hasiyb): Maha Penjamin
42 ALJLYL (Al Jaliil): Maha Luhur
43 ALKRYM (Al Kariym): Maha Pemurah
44 ALRQYB (Ar Roqiyb): Maha Peneliti / Mengawasi
45 ALMJYB (Al Mujiib): Maha Mengabulkan
46 ALWAS'A (Al Wasi'): Maha Luas
47 ALhKYM (Al Hakiym): Maha Bijaksana
48 ALWDWD (Al Waduwd): Maha Mencinta
49 ALMJYD (Al Majiyd): Maha Mulia
50 ALBA'ATs (Al Baa'its): Maha Membangkitkan
51 ALSyHYD (Asy Syahiyd): Maha Menyaksikan
52 ALHQ (Al Haqq): Maha Benar
53 ALWKYL (Al Wakiyl): Maha Memelihara
54 ALQWY (Al Qawiyy): Maha Kuat
55 ALMTYN (Al Matiyn): Maha Kokoh
56 ALWLY (Al Waliyy): Maha melindungi
57 ALhMYD (Al Hamiyd): Maha Terpuji
58 ALMhShY (Al Muhshiy): Maha Menghitung
59`ALMDYa (Al Mubdi'): Maha Memulai
60 ALM'AYD (AL Mu'iyd): Maha Mengulangi
61 ALMhYY (Al Muhyi): Maha Menghidupkan
62 ALMMYT (Al Mumiyt): Maha Mematikan
63 ALhY (Al HayY): Maha Hidup
64 ALQYWM (Al Qoyyuwm): Maha Berdiri Sendiri
65 ALWAJD (Al Waajid): Maha Kaya
66 ALMAJD (Al Majid): Maha Bagus (Magnificent)
67 ALWAhD (Al Waahid): Maha Esa
68 ALShMD (Ash Shamad): Maha Tempat Bergantung / Meminta
69 ALQADR (Al Qaadir): Maha Kuasa / Menyeimbangkan
70 ALMQTDR (Al Muqtadir) : Maha Menentukan
71 ALMQDM (Al Muqaddim): Maha Mendahulukan
72 ALMWaKhR (Al Muakhkhir): Maha Mengakhirkan
73 ALAWL (Al Awwal): Maha Pertama
74 ALAKhR (Al Aakhir): Maha Penghabisan
75 ALZhAHR (Azh Zhaahir): Maha Nyata
76 ALBAThN (Al Baathin): Maha Tersembunyi
77 ALWALY (Al Waaliy): Maha Memimpin / Maha Memerintah
78 ALMT'AALY (Al Muta'-aliyy): Maha Tinggi
79 ALBR (Al Barr): Maha Melimpahkan Kebaikan
80 ALTWAB (At Tawwaab): Maha Menerima Taubat
81 ALMNTQM (AL Muntaqim): Maha Membalas
82 AL'AFW (Al Afw): Maha Pengampun
83 ALRaWF (Ar Rauwf): Maha Menghiba / Menghibur (Compassionate)
84 MALKALMLK (Al Malikul Mulk): Maha Menguasai Kerajaan
85 DzALJLALWALKRAM (Dzul Jalaali Wal Ikraam): Maha Memiliki Kebesaran dan
Kemuliaan
86 ALMQShTh (Al Muqshith): Maha Mengadili
87 ALJAM'A (Al Jaami'): Maha Mengumpulkan
88 ALGhNY (Al Ghaniyy): Maha Kaya
89 ALMGhNY (Al Mughniyy): Maha Pemberi Kekayaan
90 ALMAN'A (Al Maani'): Maha Mencegah
91 ALDhR (Al Maani'): Maha Mencegah
92 ALNAF'A (An Naafi'): Maha Memberi manfaat
93 ALNWR (An Nuwr): Maha Bercahaya
94 ALHADY (Al Haadiyy): Maha Memberi Petunjuk
95 ALBDY'A (Al Badiy'): Maha Pencipta Yang Baru
96 ALBAQY (Al Baaqiyy): Maha Kekal
97 ALWARTS (Al Waarits): Maha Pewaris
98 ALRSyYD (Ar Rosyiyd): Maha Pintar / Cerdas
99 ALShBWR (Ash Shabuwr): Maha Penyabar

Jadi dengan Allah menjadi 99 + 1

Allah adalah Nama Diri, Proper Name. Allah tidak bisa diterjemahkan ke dalam
bahasa apapun juga. Lain halnya ke-99 Al-Asma ul Husna, itu bisa
diterjemahkan
seperti dilakukan di atas.

Allah adalah Proper Name, Nombre Propio, Nama Asli, Nama Diri, maka tidak
untuk
diterjemahkan. Nama Asli ALLAH ini mengandung keunikan, uniqueness, el
ùnico,
satu-satunya, the One and Only One. Karena Allah adalah Proper Name tidak
dijabarkan dari akar kata dalam bentuk fi'il (verb) atau isim (noun). Beda
hal
nya dengan kata ilah yang dijabarkan dari akar kata Alif-Lam-Ha = ilah(un),
berbentuk isim = "sesembahan" hasil imajinasi manusia, yaitu berhala, atau
manusia yang dipertuhankan seperti Jesus dalam theologi Trinitas. Ilahun
bisa
dijama'kan alihatun. Jika kita menyebut Tuhan = God, maka kata god, singular
=
tuhan, bisa dijamakkan, menjadi gods /dewa2, yang ini maskulin / male
gendernya.
Sedang kalau digenderkan feminin/female, menjadi goddess/dewi2. Jadi kata
God
ini lebih bisa membiaskan kejamakan dan juga jenis kelamin. Sedangkan Allah,
Yang Proper Name, tidak terikat pada ilmu nahwu yang dijabarkan dari akar
kata
tiga huruf, tidak kejamakan, tidak laki2, tidak perempuan.

Jadi karena Allah adalah Proper Name, maka tidak bisa diterjemahkan dalam
bahasa
apapun juga, bukan God, bukan Tuhan, bukan Deu, bukan Thian. Manusia
mencipta
tuhan di dalam benaknya. Itulah dia yang disebut ilah(un). Itulah yang
dinafikan
(ditolak) dalam la ilaha, tidak ada itu ilahun hasil ciptaan manusia dalam
benaknya, yang Ada adalah Yang mencipta manusia dalam alam semesta, Dia
punya
Proper Name adalah Allah. Sebab sewaktu manusia belum ada di permukaan bumi
ini,
ilahun itu juga tidak ada, karena itu adalah hasil ciptaan manusia dalam
benaknya. Jadi ma'na la ilaha illaLlah, adalah tidak ada ilah (=sesembahan)
hasil ciptaan manusia dalam benaknya, Yang Ada adalah Allah. Itulah dia m'na
tiada ilah selain Allah.

Para antropoloog setelah mengadakan penelitian atas bangsa-bangsa Semit
mendapatkan bahwa orang-orang Semit ada yang menyembah air, sumur (= mata
air),
ada yang menyembah bulan, maka mereka berkesimpulan bahwa ilah(un) itu
adalah
dewa air, dewa sumur, dewi bulan. Selanjutnya para antropoloog itu membuat
hoax
(kebohongan "ilmiyah") dengan trick (akal-akalan) permainan semantik. Mereka
membubuhkan al di depan ilah, sehingga menjadi al-ilah, itulah dewa air,
dewa
sumur, dewi bulan. Membubuhkan al pada ilah adalah suatu yang sangat
kontradiktif. Ilah yang telah dinafikan itu, kok diberi bubuhan al. Itulah
yang
disebut hoax. Kemudian al-ilah disulap menjadi Allah, itulah yang disebut
permainan semantik.

Waktu Abel Tasman ke bagian timur kepulan Nusantara ini banyak kelasi
kapalnya
meninggal karena penyakit scheurbuik (nanti pada abad ke-20 ketahuan bahwa
penyakit itu disebabkan oleh kekurangan vitamin C). Maka Abel Tasman singgah
di
Ambon mengambil kelasi. Tiba suatu waktu Abel Tasman yang sedang berdiri
bersama
dua orang kelasi Ambon, nampaklah dari jauh sebuah daratan. Kelasi Ambon
yang
berdiri di tengah segera menunjuk: Itu ada pulau. Abel Tsman bertanya: Apa
nama
itu pulau, dan serempak dengan itu kelasi Ambon yang satu bertanya pula
kepada
temannya: Mana itu pulau. Karena jengkel kepada temannya mengapa pulau yang
sudah jelas kelihatan itu tidak dilihatnya, ia balik bertanya: Ose tra lia'
(engkau tidak lihat)? Segera Abel Tasman dengan rasa puas karena mendapat
jawaban, masuk ke dalam kamarnya, menulis dalam log-boeknya: Pada jam
sekian,
tanggal sekian, tahun sekian, kami menjumpai daratan baru bernama Australia.
Maka permainan semantik al-ilah menjadi Allah tidaklah berbeda dalam hoax
tentang lahirnya Australia, dengan permainan semantik dari Osetralia.

Falammaa Balagha Ma'ahu sSa'ya- Qaala Yaa Bunayya Inniy Ara- Fi lManaami
Anniy
Adzbahuka Fanzhur Maadzaa Tara- Qaala Yaa Abati If'al Maa Tu'maru
Satajiduniy
Insya- ALla-hu mina shShaabiriyna (AshShafat,102). Tatkala putra itu sudah
balig
dan telah sanggup membantu bekerja, berkatalah (Ibrahim): Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam tidurku bahwa aku menyembelihmu, maka
bagaimanakah pendapatmu mengenai hal ini. Berkata (Isma'il): Hai ayah,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapati aku,
insya
Allah, termasuk golongan orang yang tabah (37:102).

Allah Yang Proper Name, tidak mempunyai arti yang terkait dengan sifat dan
perbuatan apapun juga : "Wa lam Yakun laHu- Kufuwan Ahad" (S. Al Ikhlaash,
4),
dan tak satu juapun yang sekufu (setara) denganNya. Menurut ayat (37:102),
Allah
telah memberitahukan Nama DiriNya kepada Nabi Ibrahim AS seperti diucapkan
oleh
Isma'il: "Satajiduniy Insya ALlahu mina shShaabiriyna". Kepada Nabi Muhammad
SAW
Allah memberi tahu 99 Al-Asma ul Husna (nama-nama terbaik) yang dikaitkan
kepada
sifat dan perbuatan Allah.

Jadi Nama Allah telah diturunkan Allah sebelum penyembah berhala menciptakan
dalam benak manusia yang melahirkan kebudayaan Semit nama-nama seperti Lat
dan
Ilah. Pada zaman Nabi Isma'il AS orang Arab di Makkah masih beragama Tawhid,
menyembah Allah, seperti diajarkan oleh Nabi Isma'il AS. Dalam perjalanan
sejarah agama Tawhid yang diajarkan oleh Nabi Isma'il AS, walaupun nama
Allah
masih tetap dipelihara (nama ayahanda Nabi Muhammad SAW adalah Abdullah),
dikotori oleh kebudayaan jahiliyah hasil olahan benak masyarakat jahiliyah
penyembah berhala itu, yang menghasilkan tuhan ciptaan manusia yang trinitas
Arab jahiliyah: Lat-Uzza-Manat.
Al-Lat adalah dewi kesuburan dan peperangan.
Al-Uzza adalah dewi yang memberi kekuatan, dan
Al-Manat adalah Dewi Nasib atau peruntungan.

Wassalam

HMNA

----- Original Message -----
From: "abdul mu'iz" <quality@posindonesia.co.id>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, January 05, 2011 11:19
Subject: Re: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI

Tidak boleh menambahi asma'ul husna ?? padahal
berapa bilangan asma'aul husna di qur'an tidak
ada ketegasan jumlah nama-nama Allah, kalau
merujuk hadits bukhari ya ada 99 + 1, tetapi
kalau merujuk pada riwayat yang lain, maka amat
beragam ada yang yang menyebut 120, 200, 500 dsb
(silakan baca buku asma'ul husna karya Quraish
Shihab) dan tidak ada ulama' islam yang
menyalahkan penyebutan bilangan asmaul husna
lebih dari 100 lho. Bahkan di referensi yahudi
dan nasrani, nama-nama indah dari Tuhan itu lebih
banyak dari referensi islam. Menurut hemat saya
tidak ada penambahan asma'ul husna oleh Pak
Sarlito sebagaimana tulisan yang diposting pak Chodjim tsb.

Wassalam
Abdul Mu'iz

At 09:12 AM 1/6/2011, you wrote:
>
>
>Saya sudah jawab dalam postingan reply saya kepada pak Chojim. Baiklah saya
>ulangi:
>Walaupun Prof. Sarlito orang Islam pas-pasan, tetapi orangnya bukanlah
>terpelajar yang pas-pasan, yang seharusnya memperlakukan Hadits setaraf
>bahkan lebih tinggi dari referens biasa. Srbagai orang terpelajar yang
>tidak
>pas-pasan apa sih susahnya mencari kutipan yang benar, yang waktu mencari
>itu tentu jauh lebih singkat dari waktu tatkala menulis artikel tsb.
>Tuhan juga tidak punya tangan, Abah, meski Alquran menyebutnya "kedua
>tangan-Ku". Tuhan pasti tidak duduk di atas Kursi di Arasy, karena Dia
>tidak
>seperti segala sesuatu. Malah, Dia selalu bersama kita di mana pun kita
>berada (Q. 57:4). Wa huwa ma'akum ayna maa kuntum; dan DIA bersama kamu
>semua di mana pun kamu berada.
>
>Tambahan utk postingan ini:
>Asmaaul Husna itu termaktub dalam Al-Quran, tetapi Allah punya hati itu
>tidak termaktub. Dalam hal aqidah kita tidak boleh tambah-tambah atau
>kurangi. Ada juga terlampaui yang saya tidak jawab dari postingan pak
>Chojim: "Sebenarnya yang ingin kita ambil dari tulisan Prof. Sarlito adalah
>inti sari dalam hidup beragama dan bernegara.
>Ini tanggapan saya:
>Saya sama sekali tidak mengkritik ISI artikel Prof Prof. Sarlito Wirawan
>Sarwono, melainkan sikapnya dalam memperlakukan Hadits.
>
>Wassalam
>HMNA
>
>----- Original Message -----
>From: "abdul mu'iz"
><<mailto:quality%40posindonesia.co.id>quality@posindonesia.co.id>
>To:
><<mailto:wanita-muslimah%40yahoogroups.com>wanita-muslimah@yahoogroups.com>
>Sent: Wednesday, January 05, 2011 10:46
>Subject: Re: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI
>
>Pak Sarlito kan pakar psikologi bukan pakar agama, jadi dapat
>dimaafkan bila hadits yang dikutip itu ada kekeliruan. Namun esensi
>pesan yang disampaikan Pak Sarlito itu adalah Tuhan memiliki asmaaul
>husna seperti Al Rahman (Maha Pengasih), Al Rahiim (Maha Penyayang),
>Al Rauf (Maha Mencintai) dan Al Waduud (Maha Kasih) adalah mungkin
>yang dimaksudkan pak Sarlito dengan bahasa psikologi sebagai "baik
>hati". Tentu saja baik hati yang dimiliki Allah tidak akan sama
>dengan baik hati yang dimiliki manusia, karena Allah itu "laysa
>kamitslihi = tidak serupa dengan yang lain" dan "mukhalafatu lil
>hawaditsi = berbeda dengan makhluq-Nya".
>
>Tentang Rasulullah merespon sahabat yang membiarkan onta di halaman
>masjid tanpa diikat, kemudian beliau mengingatkan supaya diikat dulu.
>Dalam versi lain ada kemiripan dengan kisah Umar Bin Khattab yang
>menegur sahabat yang membiarkan onta di halaman masjid tanpa diikat,
>ketika ditanya oleh Umar, "mengapa tidak diikat dulu ontanya", sang
>pemilik onta menjawab, "aku serahkan pada Allah", maka umar berkata,
>"ikat dulu baru tawakkal". Esensinya kan Allah itu cuma menetapkan
>hukum alam, jika rajin maka pandai, jika hemat maka akan kaya, begitu
>pula jika membiarkan onta tidak diikat meskipun Allah Maha Kasih,
>tetapi dengan membiarkan onta tanpa diikat akan berpotensi kehilangan
>onta, misalnya onta akan pergi meninggalkan tempat entah kemana, atau
>mengundang maling untuk mengambilnya. Maka amat benarlah yang
>dikatakan pak Sarlito bahwa Allah tidak menyukai orang yang cuma
>mengandalkan taqwa dengan perilaku membiarkan ontanya tanpa diikat,
>toh Allah Maha Mengawasi atau Maha Menjaga, maka manusia wajib
>berikhtiar dengan bersikap waspada yaitu mengikat ontanya dulu, baru
>bertawakkal.
>
>Dalam keseharian seringkali kadar ikhtiar (usaha) kita amat minim
>sehingga hasil yang kita peroleh juga biasa-biasa saja bahkan jauh
>dari harapan, lantas mengeluh mengapa Tuhan tidak berbaik hati kepada
>hamba-hamba-Nya, sementara umat kafir (negara industri) kok
>mendapatkan kenikmatan hidup berlebih padahal kalau diamati betapa
>besar dan luar biasanya effort (ikhtiar) yang diupayakan untuk meraih
>harapan.
>
>Wassalam
>Abdul Mu'iz
>
>At 05:13 AM 1/6/2011, you wrote:
> >
> >
> >Sarlito Wirawan Sarwono wrote:
> >1. TUHAN YANG BAIK HATI
> >2. Jawab Rasullulah,
> >"Allah paling tidak menyukai umatNya
> >yang hanya bertakwa kepadaNya
> >tetapi tidak berusaha sebaik-baiknya"
> >
> >|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
> |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
> >
> >HMNA:
> >1. TUHAN YANG BAIK HATI ? Astaghfirullah, wa subhanallah, yang benar
> >saja, Allah kok dibilangin punya hati. Wa lam yakun lahu kufuwan ahad !
> >2. Jawab Rasullulah,
> >"Allah paling tidak menyukai umatNya
> >yang hanya bertakwa kepadaNya
> >tetapi tidak berusaha sebaik-baiknya"
> >
> >Masya-Allah, mengutip Hadits kok serampangan! Mana bisa Rasulullah
> >bersabda: "Allah paling tidak menyukai umatNya" ?! Yang punya ummat
> >yaitu para Nabi. Allah mempunyai hamba pada khususnya dan makhluq pada
> >umumnya.
> >
> >Salam
> >HMNA
> >
> >----- Original Message -----
> >From: "L.Meilany"
> ><<mailto:wpamungk%40centrin.net.id><mailto:wpam
> ungk%40centrin.net.id>wpamungk@centrin.net.id>
> >To:
> ><<mailto:wanita-muslimah%40yahoogroups.com><mai
> lto:wanita-muslimah%40yahoogroups.com>wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> >Sent: Tuesday, January 04, 2011 19:13
> >Subject: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI
> >
> >Terimakasih pak Chodjim, untuk kiriman tulisan yg indah.
> >Dulu ortu saya suka mendongeng rada mirip pengertiannya dengan
> >dibawah sesuai bahasa anak2.
> >Tuhan itu baik karena Dia kasih udara yg kita hirup kepada semua
> >orang, yg jahat, yg miskin, yg tinggal dikolong jembatan
> >gratis tanpa mbayar.
> >Begitu juga selalu menepati janji dengan menerbitkan matahari di
> >timur sinarnya untuk semua orang.
> >
> >salam,
> >l.meilany
> >
> >----- Original Message -----
> >From: chodjim
> >To: wanita muslimah
> >Sent: Tuesday, January 04, 2011 2:10 AM
> >Subject: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI
> >
> >Di bawah ini adalah tulisan Prof. Sarlito Wirawan Sarwono dalam
> >Sindo 12/12/2010. Kiranya tidak basi untuk dipostingkan pada WM agar
> >tetap menjadi pelajaran dan hikmah bagi pembacanya.
> >----------------------------------------------------------
> >
> >TUHAN YANG BAIK HATI
> >
> >Sebagian orang memang sering mengeluhkan Tuhan kita yang tak
> >henti-hentinya
> >memberi cobaan pada bangsa Indonesia:
> >Tsunami Aceh,
> >Gempa Bengkulu,
> >Gempa Yogya,
> >Gempa Padang,
> >Banjir Wasior,
> >Banjir Jakarta,
> >Merapi,
> >Bromo dan entah apa lagi nanti.
> >
> >Banyak korban harta dan jiwa, baik manusia maupun sapi.
> >Padahal bangsa ini sdh kurang apa loh,
> >Ketaatannya pada Tuhan.
> >Kuota haji bertambah terus,
> >belum termasuk haji gelap.
> >
> >Sholat Istigozah sering sekali digelar,
> >tempat-tempat ibadah tidak pernah kosong,
> >Bahkan umat Kristen dan Ahmadiyah
> >tetap saja ke tempat ibadahnya walaupun sudah digusur, dirusak, dibakar
> >atau
> >ditutup oleh umat lain.
> >
> >Sedangkan umat yang lain itu juga tidak pernah berhenti meneriakkan asma
> >Tuhan
> >yang maha besar (Allahuakbar!)
> >setiap kali mereka menumpas umat sesat, atau sekedar berunjuk kekuatan
> >ke Gedung DPR atau tempat-tempat maksiat.
> >
> >Pokoknya, semua orang Indonesia mengaku bertakwa kepada Tuhan
> >masing-masing,
> >walaupun realitanya
> >mereka saling bertikai, bahkan berbunuhan.
> >
> >Jadi mengapa Tuhan masih juga mencoba bangsa ini?
> >Tetapi saya tidak setuju dengan pendapat seperti itu.
> >
> >Buat saya , bencana-bencana alam di bumi Indonesia dan seluruh dunia
> >sudah di-blue print-kan Tuhan sejak sebelum Tuhan menciptakan Adam
> >dan Hawa dan
> >baru akan di-Ending-kan
> >kalau kiamat nanti.
> >
> >Tinggal kewajiban manusialah untuk mempelajari baik-baik blue print itu
> >untuk bisa mengantisipasi dan mengatasi bahaya yg mungkin timbul.
> >
> >Dan kita sudah melakukan antisipasi itu.
> >Ketika Merapi masuk tahap " AWAS ",
> >misalnya, semua petugas sudah memperingatkan masyarakat untuk segera
> >meninggalkan daerah bahaya.
> >
> >Bahkan Petugas, dibantu Relawan,
> >ikut mengEvakuasi warga.
> >
> >Tetapi ya itu - masih ada saja yang lebih percaya pada mbah Marijan
> >, dari pada
> >tanda-tanda Tuhan ( yang diketahui manusia melalui Ilmu ).
> >
> >Akibatnya ya itu, JATUH KORBAN sia-sia.
> >Indonesia tidak sendirian - kalau soal bencana.
> >
> >Kebakaran di Florida,
> >di Queensland (Australia),
> >di Israel,
> >Banjir di Sydney,
> >di Cina,
> >Gempa di Haiti,
> >dan seterusnya.
> >
> >Pokoknya, kalau tentang bencana
> >Tuhan tidak pilih kasih.
> >
> >Jadi tidak usahlah kita repot mengait-ngaitkannya dengan dosa umat Islam
> >Indonesia yang makin banyak, korupsi yang nggak berhenti-henti dsb.
> >
> >Di Amerika
> >yang konon korupsinya, hanya sedikit
> >(minimal sebelum dibongkar oleh Wikileaks)
> >
> >Bencananya sama saja dgn Indonesia
> >yang korupsinya sudah jadi rahasia umum sejak jaman "Panitia Anti Korupsi
> >nya
> >Bung Hatta". - dan makin gamblang setelah kasus Gayus.
> >
> >Saya malah lebih percaya bahwa Tuhan itu sangat murah hati pada bangsa
> >Indonesia, -
> >
> >Justru karena ketakwaannya.
> >
> >Betapa tidak.
> >Tatkala Negara-negara lain diguncang kerusuhan dan pemecah-belahan,
> >Seperti Yunani dan Turki, atau
> >Resesi ekonomi (Amerika), atau
> >Bom2 bunuh diri (Irak, Afghanistan),
> >Indonesia Relatif Tenang.
> >
> >Malah sudah masuk forum negara-negara maju G 20.
> >
> >Indonesia tidak diganjar kudeta atau
> >Perang saudara oleh Tuhan, seperti yang pernah terjadi di thn 1948 n 1965
> >(dua-duanya pemberontakan PKI, yang ideologinya konon memang tak percaya
> >sama
> >Tuhan).
> >
> >Yang terjadi pasca Orde Baru adalah justru yang diminta oleh bangsa
> >Indonesia,
> >Selalu Diberi oleh Tuhan.
> >
> >Bangsa Idonesia minta Suharto turun,
> >Ya Suharto turun beneran.
> >
> >Minta demokrasi sbgai pengganti tirani,
> >Tuhan ijinkan dgn Pemilu legislatif, dan pemilihan Presiden dan Kepala
> >Daerah
> >langsung oleh rakyat.
> >
> >Bangsa ini minta otonomi daerah untuk memajukan daerah dan
> >mengurangi korupsi di
> >pusat,
> >Ya diberi.
> >
> >Minta kebebasan pers,
> >Dikasih.
> >
> >Minta Polisi lepas dari ABRI dan TNI balik ke barak, - stop Dwifungsi,
> >Juga dapat.
> >
> >Minta Presiden yang ganteng,bijaksana,
> >sabar, cool, yang enak dilihat (oleh kaum ibu) waktu pidato,
> >Maka Tuhan Memenangkan SBY.
> >
> >Bahkan Presiden AS dipilihkan oleh Tuhan (melalui Pemilu AS) yang
> >"orang Indonesia",
> >sesuai dengan mimpi bangsa Indonesia
> >("Sate, baso..., enak, ya").
> >
> >Begitu baiknya Tuhan sama kita, sehingga teroris yang mengatas nama
> >kan dirinya
> >sebagai pembela Allah pun
> >tidak diberi peluang untuk bergerak.
> >
> >Beberapa tahun terakhir ini, sesudah tewasnya Nurdin Top dan Dulmatin,
> >maka praktis Densus 88 bisa mengendus setiap gerak calon teroris,
> >sehingga berkali-kali tempat persembunyian dan rencana mereka terbongkar
> >sebelum menjadi kenyataan.
> >Densus 88 memang jempol.
> >
> >Tetapi "TIDAK MUNGKIN" lah semua itu
> >tanpa ridho Tuhan.
> >
> >Bandingkan saja misalnya dengan
> >Pakistan,
> >India, apalagi
> >Palestina
> >yang masih diancam teror terus
> >sampai hari ini.
> >
> >Karena itu, kalau sekarang kita masih melihat :
> >Banyak Orang Miskin - Tawuran,
> >Pengunjuk Rasa lempar2an batu dgn. polisi,
> >Pol PP dorong2 - an dengan PKL,
> >Pilkada ribut,
> >DPR studi banding,
> >Bank Century masih gak jelas,
> >Jalanan macet,
> >Proyek MRT Jakarta macet juga,
> >RUU DIY ribut, - dan seterusnya,
> >
> >Ya kita harus lihat kesalahannya
> >Pada Diri Kita Sendiri.
> >
> >Saya teringat pada suatu hadis Nabi
> >yang mengisahkan seorang sahabat masuk ke masjid hendak menunaikan shalat
> >bersama Rasullah.
> >
> >Melihat bahwa unta sahabat itu dibiar kan begitu saja tanpa diikat, maka
> >Rasullulah mengimgatkan agar sang sahabat mengikat dulu utanya sebelum
> >masuk
> >masjid, agar unta itu tidak lari.
> >
> >Maka sahabatpun bertanya,
> >"Mengapa harus saya ikat, ya Rasul,
> >bukankah Allah akan menjaga unta itu".
> >
> >Jawab Rasullulah,
> >"Allah paling tidak menyukai umatNya
> >yang hanya bertakwa kepadaNya
> >tetapi tidak berusaha sebaik-baiknya"
> >
> >(para ikhwan yang hafal hadis,
> >maaf kalau saya menulisnya kurang pas,
> >maklum ilmu Islam saya Cuma pas-pasan).
> >
> >Begitu juga dlm agama Kristen, setahu saya ada seruan dalam bahasa Latin
> >"Ora et labora" (berdo'a dan bekerja).
> >Makna dari
> >hadis dan seruan itu sama saja,
> >yaitu kita tetap harus berusaha,
> >walaupun kita sudah bertakwa.
> >
> >Hasil dari usaha itu kita rasakan di sini,
> >di dunia yang fana ini.
> >
> >Bukan di surga,
> >sedangkan buah dari takwa dan do'a
> >bisa di sini,
> >tetapi terutama untuk nanti di akhirat.
> >
> >Masalahnya,
> >dalam bangsa Indonesia beragama
> >(khususnya Islam),
> >fokusnya terlalu ditujukan
> >pada hasil akhir nanti diakhirat saja.
> >
> >Karena itu tausyiah dan khotbah
> >para ulama dan kiai (termsk yg di TiVi)
> >tidak jauh-jauh dari nasihat-nasihat
> >bagaimana caranya
> >agar kita kelak bisa masuk surga,
> >termasuk memperbanyak ibadah
> >mulai dari sholat malam sampai zikir.
> >Nah, kalau kita ibadah terus,
> >kapan kerjanya?
> >
> >Padahal
> >untuk membuat Tim Nasional Indonesia
> >menang atas Malaysia,
> >Laos dan terutama Thailand, misalnya. tidak cukup dengan do'anya 220 juta
> >rakyat Indoesia
> >(selama ini sudah dilakukan, tetapi PSSI kalah terus),
> >
> >melainkan - dengan menambahkan
> >Irfan Bachim dan Christian Gonzales
> >ke dalam Timnas melalui proses Naturalisasi - dan
> >Setelah itu berlatih keras - dan
> >memikirkan strategi yang paling cerdik.
> >
> >Sama halnya
> >dengan Timnas Dayung
> >yang mememangi beberapa medali emas di Asian Games,
> >dan Petinju Chris John
> >yang mempertahankan sabuk emasnya.
> >
> >Semua demi mengibarkan
> >sang saka Merah Putih
> >di angkasa internasional.
> >Mereka semua
> >Berusaha,
> >Berlatih - dan
> >Berdo'a.
> >
> >Saya rasa,
> >Kalau semua orang mau sungguh-sungguh berusaha,
> >Tidak lagi cuma mau jalan pintas,
> >Tidak lagi percaya pada mitos "100 hari"
> >(kalau gagal, ganti pejabat),
> >Meninggalkan UUD (Ujung-ujungya Duit),
> >Meninggalkan kebiasaan debat-kusir
> >yang hanya mau menang sediri - dan Berusaha agar selalu Satu Kata dengan
> >perbuatan,
> >
> >Insya Allah
> >Indonesia akan lebih cepat mencapai masyarakat yang adil, makmur dan
> >sejahtera,
> >Bukan hanya nanti - di akhirat,
> >tetapi sekarang di tanah air kita.
> >
> >Robbana atina fidunia hasanah,
> >wa fil akhirati hasanah,
> >waqina adhabanar.
> >Amiin YRA
> >
> >----------------------------------------------------------
> >
> >Wassalam,
> >chodjim

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment