Advertising

Sunday, 9 January 2011

Bls: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI

 

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada panjenengan pak Chodjim, ini saya
share figur alumni Universitas Madinah yang sudah kembali ke tanah air, semoga
bermanfaat.

"Istinbat Hukum di Indonesia Lemah Metodologi"
 
Suatu hari ada seorang ustadz dari Indonesia bertanya tentang suatu hukum kepada
seorang syaikh di Arab Saudi. Sang ustadz tadi bertanya tentang dalil hukum yang
bersumber pada Imam Syafii. Syaikh yang merupakan rektor salah satu perguruan
tinggi di Madinah itu tidak serta merta menanggapi pertanyaan tersebut. Ia malah
balik bertanya kepada si penanya, "Kenapa Saudara bertanya kepada kami, bukankah
di negara Saudara ada ahli fikih Imam Syafii," ujar syaikh. Syaikh ini lalu
menyebutkan nama yang dimaksud, yang tidak lain merupakan murid terbaiknya
selama menuntut ilmu di Madinah.
 
Beliau adalah Dr Mawardi Muhammad Saleh, MA. Pria kelahiran Bangkinang, 24 Juni
1969 ini menyelesaikan S1 hingga S3 di Madinah Islamic University dengan
peringkat Al Mumtaz Ma'a Martabati Asy-Syarafil Ula (summa cumlaude). Yang
membuat para pembimbingnya tercengang pada putra Indonesia ini adalah tugas
akhir selama ia kuliah nyaris sempurna dalam nahwu dan sharaf. Ketika S2,
Mawardi membuat tesis berjudul Tahqiq al-Matlabal 'Aliy fi Syarhi Wasith al-Imam
al-Ghazali setebal 900 halaman. Begitu juga disertasi doktornya yang berjudul
Ziyadat was-Tidrakaat al-Imam al-Nawawi, 'alal Imam ar-Rafi'iy fi Babi al-Zakat
setebal 1.100 halaman.
 
Mawardi adalah orang Indonesia kelima yang meraih doktor di Universitas Madinah.
Empat sebelumnya adalah Dr Salim Segaf al-Jufri, Dr Ahsin Sakha, Dr Abd Muhith,
dan Dr Hidayat Nurwahid. 
 
Menurut Mawardi, dalam mengerjakan tugas-tugas akhir ia merasa tidak cukup
kepada sumber-sumber cetakan, apalagi yang sudah diterjemahkan. "Demi kebenaran
saya langsung mencarinya ke manuskrip-manuskrip yang ada di perpustakaan Madinah
dan Mesir," kata Mawardi yang menempuh pendidikan D1 di LIPIA Jakarta. Pasalnya,
Mawardi pernah menemukan kesalahan dalam kitab Al-Umm yang pernah dicetak.
 
"Ketika buku itu saya bandingkan dengan manuskrip, ada tiga baris kalimat yang
hilang," aku Mawardi. Padahal, tambahnya,  kalimat itu sangat penting. Inti dari
pemikiran Imam Syafii.
 
Mawardi sangat serius dalam menggali pemikiran-pemikiran Imam Syafii, baik fikih
maupun ushul fikih. Ushul fikih merupakan ilmu yang menjadi metode para ulama
dalam mengambil dalil-dalil hukum (istinbat) dari al-Qur`an dan Sunnah. Saking
seriusnya, dia juga meneliti sanad ilmu dari Imam Syafii. Dalam pengamatannya,
matangnya kaidah ushul fikih Imam Syafii berada di tangan Imam Ghazali.
 Terbukti selama hidup, Imam Ghazali menulis empat  buku tentang ushul fikih,
yaituAl-Basith, Al-Wasith, Al-Wajiz, dan Al-Khulafah. Kitab ini menjadi
referensi utama para ulama dalam mempelajari ushul fikih Imam Syafii.
 
Dari situ, Mawardi sangat kagum dengan ulama Islam terdahulu, "Kecintaan mereka
terhadap ilmu sangat luar biasa. Hidup mereka habis untuk belajar dan menulis
ilmu."  Ini juga yang menginspirasi Mawardi untuk mendalami kitab-kitab ulama
terdahulu. "Semua ilmu itu sangat bermanfaat bagi saya kini," ujar pria yang
saat ini menjabat Koordinator Komis Fatwa MUI Riau.
 
Selain menjadi Ketua MUI Kabupaten Kampar Riau, Mawardi kini dipercaya sebagai
Wakil Direktur Pascasarjana Bidang Akademik Universitas Islam Negeri (UIN)
Pekanbaru.
 
sumber : http://www.hidayatullah.com/dev/majalah.php?mjl_id=96
 
Kita tunggu kiprah pak Dr Mawardi memperkuat dunia fatwa islam di negeri kita,
kita sudah terlalu sering menerima dan menyaksikan fatwa MUI pusat yang jauh
dari sejuk dan kurang acceptable bagi kaum muslimin di semua kalangan. Saya
setuju opini pak Chodjim, ulama kita sekarang baru tahap menuqil, kurang melihat
realita masa sekarang, bukti dan rasio kurang terexplore dengan jeli, sehingga
fatwa yang dihasilkan lebih banyak hebohnya.
 
Wassalam
Abdul Mu'iz

________________________________
Dari: chodjim <chodjim@gmail.com>
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Terkirim: Sen, 10 Januari, 2011 01:30:47
Judul: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI

 
Saya tentunya ikut berterima kasih kepada Mas Muiz, karena mau "sharing" sudah
kedahuluan, dan intinya sama yang ingin saya "sharingkan".

Ada tambahan, kelemahan ulama Islam zaman sekarang bukan hanya tidak
"mengupdate" hasil ijtihad ulama dahulu, tetapi hampir semua ulama sekarang
telah meninggalkan tradisi inteletualitas Islam, yaitu "filsafat". Padahal,
meski Imam Ghazali menulis "tahafut al-falasifah" (absurditas filsafat), tetapi
ia seorang filsuf. Ia ahli di bidang filsafat.

Sekarang memang ada pelajar-pelajar Islam yang menekuni studi filsafat, bahkan
lebih ciut filsafat Islam. Tetapi, dewasa ini mereka baru pada tahap "menukil"
belum sampai tahap "muhaqqiq" yaitu mencari kebenaran berdasarkan bukti dan
rasio.

Sejak tradisi intelektualitas, atau hikmah, atau filsafat ini ditinggalkan oleh
para ulama Islam, maka umat Islam semakin ditinggalkan dalam percaturan dunia.
Karena tertinggal dalam berlomba kehidupan di dunia ini, umat Islam merasa
menjadi umat tertindas. Lahirlah radikalisme sebagai bentuk pemberontakan
terhadap kemapanan. Lahirlah sikap ingin memutar arah jarum jam. Namun, yang
terjadi adalah umat yang semakin nestapa....

Wassalam,

chodjim

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment