Kebetulan gua garba anak sy sementara sy mintakan tolong utk ditutup oleh rekan di milist lain yg kebetulan beliau jg seorang spiritualist muslim Pak Chodjim. Jd yg sy inginkan dia fokus ke dunia nyata, lbh aktif ke pendidikan dan berkehidupan sosial yg baik. Karena saat komunikasi dg dunia lain atau 'teman'nya dirumah, kadang meresahkan kakek-nenek jg bundanya. Sdgkan sy sbg ayah mmg tak aneh, krn sejak kecil jg mengalami hal yg sama dg anak sy hny utk penglihatan (sy hanya di frekwensi tertentu). Tp sy menyimpulkan bhw sy bukan indigo, ada rekan di milist yg sy pimpin yg suka mendeclare dirinya diberbagai milist bahwa dirinya indigo salahsatunya bernama vincent liong, ia tak menyadari bhw sbenarnya bbrp rekan lain (yg sy anggap lbh pantas dikategorikan indigo) merasa bhw kepekaan dia sbg org yg mengaku indigo lbh mengarah kpd autis, krn kepekaan sosial dan pengendalian emosinya jauh dibawah rata2, intuisi mmg lumayan, tp skrg intuisi kan bs dilatih :). Jadi mmg masih simpangsiurnya definisi indigo ini diperlukan pengkajian lbh mendalam. Smoga seminar Pak Chodjim bs menemukan wawasan baru seputar indigo sedetail2nya. :) apakah ada kajian scr islami ttg "Old Soul" dan "New Age" yg belakangan ini banyak mulai diperbincangkan Pak?
Wasalam
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message-----
From: "chodjim" <chodjim@gmail.com>
Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Date: Fri, 25 Feb 2011 07:02:27
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: Re: Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: [wanita-muslimah] Imam Homo: 'Homoseksualitas Bukan Dosa'
Ini sebagai tambahan, Mas Muiz. Dan, bila ada kekurangannya diharapkan ada perbaikan dari Mas Donnie.
Sebenarnya, Indigo dan Autis adalah dua hal yang berbeda. Memang ada anak indigo yang autis, tetapi sebagian besar autis malah tidak indigo. Indigo berkaitan dengan kecerdasan unggul dan perilakunya yang disebabkan oleh keunggulan kecerdasannya itu. Sedangkan, autis lebih terkait dengan "mental disorder", dan ini juga tidak memiliki relasi matematis dengan anak-anak yang punya SS (sixth sense).
Jadi, SS bisa terjadi pada anak indigo dan anak autis. Saya mempunyai seorang teman yang ketika masih di SD mengalami autisma. Dia bercerita kepada saya, bahwa saat di SD dia sering dihukum oleh guru, gara-gara dia berlari-larian di dalam kelas dan bahkan naik bangku murid ataupun meja guru. Menurut dia, apa yang dilakukan itu karena dia sedang asyik bermain dengan teman-temannya yang tidak terlihat oleh teman-temannya di kelas. Menurutnya, kalau lagi asyik dengan teman-temannya yang tak terlihat, justru dia merasa tidak ada guru maupun teman-teman yang berjasmani di kelasnya. Artinya, ketika dia melihat "unseen friends", matanya tak berfungsi untuk melihat realita kita yang normal ini.
Dengan demikian, para ulama ahli waris para nabi seharusnya bisa memahami kenyataan-kenyataan di alam ini, dan tidak malah autisma dengan dunianya sendiri. Baru, dunia bisa damai dan sejahtera!
Wassalam,
chodjim
----- Original Message -----
From: Abdul Muiz
To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Sent: Friday, February 25, 2011 4:29 AM
Subject: Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: [wanita-muslimah] Imam Homo: 'Homoseksualitas Bukan Dosa'
Pengertian aqil (berakal sehat) menurut hemat saya memang lebih pada kecerdasan
intelegensia/intelektual, sedangkan kecerdasan emotional di qur'an menggunakan
istilah lain yaitu "ulul albab". Makanya terhadap upaya mengambil pelajaran,
tidak digunakan term "ta'qilun" tetapi "albab" bisa diperiksa pada QS 2:269.
Saya sendiri juga tidak faham mengapa term "mukallaf" sebagai syarat orang Islam
mulai terbebani hukum islam salah satu syaratnya adalah aqil & baligh, padahal
aqal lebih pada kecerdasan intelegensi/intelektual, sementara kecerdasan
emotional itu lebih pada pada istilah "ulul albab" yakni yang memiliki visioner
termasuk kemampuan beriorientasi dengan lingkusan sosial. Secara bijak qur'an
juga menyebutkan bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas
kemampuan akan disesuaikan dengan batas kesanggupan ybs (QS 2:286).
Itulah sebabnya dalam kasus-kasus hukum pada pengidap autis yang sudah dewasa,
maka hakim untuk memperoleh pemahaman utuh akan menghadirkan saksi ahli seperti
psikolog, psikiater atau dokter syaraf untuk didengar kepakarannya tentang
pengidap autis.
Saya juga butuh pencerahan dari pakar autis, mas Donnie :)
Wassalam
Abdul Mu'iz
----- Pesan Asli ----
Dari: donnie damana <donnie.damana@gmail.com>
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Terkirim: Jum, 25 Februari, 2011 01:45:03
Judul: Re: Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: [wanita-muslimah] Imam Homo:
'Homoseksualitas Bukan Dosa'
Lha ketidak mampuan untuk nyambung dengan dunia dan lingkungan secara umum
itulah mengapa dia dianggap mempunyai kecerdasan emosional dan sosial yang
berbeda mas.
Seorang yang diberi label "normal" oleh masyarakat, akan diberi beban (oleh
masyarakat) untuk bisa nyambung dengan masyarakat di sekitarnya. Ini bukan
perkara mereka punya gift yang luar biasa, karena toh masyarakat sering
mempersepsi keliru terhadap bakat tersebut. Tetapi lebih disebabkan ketidak
mampuan untuk berfungsi secara sosial.
Saya tidak tahu apakah definisi aqil yang mas Mu'iz sampaikan apakah melulu pada
tingkat intelejensianya? apakah juga meliputi kecerdasan emosional dan
sosialnya?
Contohnya saja nih mas (Saya gak tahu nih harusnya mbak Herni yang bisa jawab),
Apakah seorang dewasa yang autis yang berat berhak membuat keputusan legal
sendiri ataukah harus dibawah pengampuan?
Contoh lain misalnya, seorang autis sangat sensitif dengan ketidak teraturan.
Apabila dia menemukan sesuatu yang tidak seperti ritme kesehariannya dia sangat
mudah untuk frustasi dan menjadi histeris. Misalnya saja nih, seorang autis
terjebak di keramaian dan karena histeris menyerang orang yang hendak
menolongnya sampai katakanlah meninggal.
Apakah dia bertanggung jawab secara hukum positif? Apakah dia juga bertanggung
jawab secara agama (berdosa), padahal dia tidak punya kemampuan untuk mengelola
reaksi emosionalnya seperti mereka yang tidak autis. (atau jangan2 dia juga
sudah dipukuli duluan oleh massa karena perbuatannya :( )
Apakah amal saleh, dosa dan pahala masih bisa diatributkan pada mereka?
Mohon saya dicerahi..
salim,
:D
On Feb 24, 2011, at 4:01 PM, Abdul Muiz wrote:
> anak autis tidak cerdas secara emosi dan sosial itu kan baru vonis sepihak yang
>
> belum tentu benar, mas dokter ?? mereka yang autis itu kan asyik dengan
>dunianya
>
> sendiri karena dia merasa tidak cocok dengan lingkungan dan orang sekitar yang
> dianggap gak nyambung dengan dirinya, kalau dia ketemu dengan guru yang cocok
> atau teman yang selevel kan bisa melakukan hal-hal yang luarbiasa. Kadang
>mereka
>
> memiliki yang disebut six sense atau indra keenam karena memang memiliki
> kepekaan dan ketajaman emosi dan mental di atas rata-rata.
>
> Wassalam
> Abdul Mu'iz
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: donnie damana <donnie.damana@gmail.com>
> Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Terkirim: Kam, 24 Februari, 2011 21:56:28
> Judul: Re: Bls: Bls: Bls: Bls: [wanita-muslimah] Imam Homo: 'Homoseksualitas
> Bukan Dosa'
>
> Masalahnya orang autistik berat kan tidak mempunyai kecerdasan emosional dan
> sosial yang normal mas.. meskipun secara intelejensia mungkin sangat brilian
> apakah masih wajib menjalankan iman dan amal saleh?
>
> :D
> On Feb 24, 2011, at 3:50 PM, Abdul Muiz wrote:
>
> > Kalau idiot, imbecil dan moron kan sering disebut abnormal karena di bawah
> >garis
> >
> > normal, nah kalau autis menurut hemat saya ya abnormal juga karena di atas
> >garis
> >
> > normal, tetapi tidak bisa dikategorikan sepadan dengan idiot karena
> > kecerdasannya kan malah di atas rata-rata. Jadi ya tidak masalah apabila
> > menerima iman dan beramal shaleh.
> >
> > Wassalam
> > Abdul Mu'iz
> >
> > ----- Pesan Asli ----
> > Dari: donnie damana <donnie.damana@gmail.com>
> > Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> > Terkirim: Kam, 24 Februari, 2011 21:45:41
> > Judul: Re: Bls: Bls: Bls: [wanita-muslimah] Imam Homo: 'Homoseksualitas Bukan
>
> > Dosa'
> >
> > Kalo anak autis masuk kedalam kategori mana mas Mu'iz?
> >
> > On Feb 24, 2011, at 3:40 PM, Abdul Muiz wrote:
> >
> > > Mbak Mei,
> > >
> > > Ayat tersebut ada kelanjutannya, "kemudian Kami kembalikan dia ke dalam
> >bentuk
> >
> >
> > > yang seburuk-buruknya, kecuali orang yang beriman dan beramal shaleh, maka
> >bagi
> >
> > >
> > > mereka ada pahala yang tiada putus-putusnya" (QS 95:5-6).
> > >
> > > Nah yang jadi perbincangan saya dengan pak Chodjim adalah, bahwa yang
> >terlahir
> >
> >
> > > intelegensinya idiot, imbecil dan moron tidak memiliki kesempatan untuk
> >beriman
> >
> > >
> > > dan beramal shaleh, karena faith (iman) dan good work (amal shaleh) hanya
> >bisa
> >
> >
> > > diterima oleh orang aqil baligh, sementara anak yang terlahir idion,
>imbecil
>
>
> > >dan
> > >
> > > moron meskipun sampai dewasa dia tidak akan berkesempatan untuk beriman
> >maupun
> >
> >
> > > beramal shaleh, karena aqil balighnya tidak pernah mengalami kemajuan.
> > >
> > > Memang pada akhir ayat di QS at tiin tsb disebutkan, "maka apa yang membuat
>
> > >kamu
> > >
> > > mendustakan pembalasan setelah itu (adanya keterangan), bukankah Allah itu
> >Maha
> >
> > >
> > > Menghakimin dan Maha Adil ?".
> > >
> > > Berbeda dengan mereka yang cuma cacat fisik, tetapi mental maupun
> > >intelegensinya
> > >
> > > masih sehat, maka dia masih sanggup menerima iman dan beramal shaleh,
> >kelemahan
> >
> > >
> > > fisik masih bisa diatasi dengan mengaktifkan kelebihan yang lain.
> > >
> > > Wassalam
> > > Abdul Mu'iz
> > >
> > > ________________________________
> > > Dari: L.Meilany <wpamungk@centrin.net.id>
> > > Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> > > Terkirim: Kam, 24 Februari, 2011 20:41:39
> > > Judul: Re: Bls: Bls: [wanita-muslimah] Imam Homo: 'Homoseksualitas Bukan
> >Dosa'
> > >
> > > Nimbrung Pak Muiz:
> > > Bagaimana dengan ayat yg menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia dengan
> > > sempurna
> > > dan dalam sebaik-baik bentuk?
> > > Artinya kan orang yg terlahir punya kekurangan [ cacat mental, cacat tubuh]
>
> > > adalah 'kesalahan' si ibu yg mengandung.
> > > Kesalahan lingkungan.
> > > Yg saya tahu bahwa selama masa kehamilan itulah calon bayi di bentuk.
>Selain
>
>
> > > campur tangan Allah tapi juga gimana si ibunya.
> > >
> > > Fakta jelas, bahwa bayi, anak2 yg cacat adalah faktor dari ibunya ketika
> > hamil.
> > > Yg banyak pantanglah, yg kurang asupan makanan yg benerlah.
> > > Makanya anak2 cacat keliatannya lebih banyak dari kalangan orang2 miskin
>atau
>
> >
> > >yg
> > >
> > > nggak peduli sama kesehatan waktu hamil.
> > >
> > > Kalo gila /skizofren, homo mungkin dari pola asuh, trauma, lingkungan?
> > > Makanya kan kalo menikah musti tahu riwayat penyakit masing2 pasangan yg
> > > kemungkinannya bisa menurun.
> > > Dimaping gitu nenek moyangnya pernah punya masalah psikis,
>kesehatan/kejadian
>
> >
> > > apa.
> > > Jadi nantinya siap2 apa perlu punya anak atau tidak. Kalo tetep mau punya
> >anak
> >
> >
> > > dengan segala risiko [ misal nenek moyangnya ada yg sarap]
> > >
> > > upayakan nanti si anak terus dalam kondisi yg terhindar dari pencetus gila,
>
> > > misalnya
> > > Daripada bikin anak tapi belakangannya si anak menderita. Jadi beban
> > masyarakat
> > >
> > > Karena kalo jadi gila, homo itu selalu ketahuannya sudah dewasa. Jadi
>selama
>
>
> > > dalam masa asuh itu pinter2lah si ortunya.
> > >
> > > Kan kalo gak bisa ngurus anak itu dosa.
> > > Silaken saja dilanjut oleh para ahlinya :-)
> > >
> > > Salam,
> > > l.meilany
> > > ----- Original Message -----
> > > From: Abdul Muiz
> > > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> > > Sent: Thursday, February 24, 2011 5:15 AM
> > > Subject: Bls: Bls: Bls: [wanita-muslimah] Imam Homo: 'Homoseksualitas Bukan
>
> > > Dosa'
> > >
> > > Thanks Pak Chodjim,
> > >
> > > tidak salah memang mengasihani anak terlahir idiot sehingga menjadi beban
> >orang
> >
> > >
> > > lain seumur-umur, namun jangan lupa firman Allah, "ma khalaqta hadza
>bathila"
>
> >=
> >
> > >
> > > tidak ada yang Engkau ciptakan ini sia-sia.
> > >
> > > Kadang ketika kita mudah mengasihani anak yang terlahir cacat (sekali lagi
> >saya
> >
> > >
> > > menilai, saya tidak menyalahkan sikap mengasihani tsb), namun lupa pada
>sisi
>
>
> > > yang lain. Sebagai komparasi saya ingin menyampaikan bahwa betapa kasihan
> >nasib
> >
> > >
> > > kambing, rusa, sapi atau binatang lain di hutan seumur-umur dijadikan
>mangsa
>
>
> > > melulu oleh sang raja hutan harimau atau singa. Apakah kita akan mengatakan
>
> > > Allah maha kejam ya ?:) apa kawaban dari fenomena ini ? bisa beragam
>jawaban
>
>
> > > yang akan diberikan. Begitu juga dengan fenomena dissable anak yang
>terlahir
>
>
> > > cacat, misalnya akan memberikan inspirasi bagi orang lain untuk riset dan
> > > pengembangan pengetahuan, memikirkan lembaga pendidikan yang cocok seperti
> >SDLB
> >
> > >
> > > (SD Luar Biasa), sang guru juga terinspirasi untuk mengupdate metode
>belajar,
>
> >
> > > dsb. Salah satu efek fenomena anak idiot atau dissable kan membuka lapangan
>
> > > kerja di sektor pendidikan ?.
> > >
> > > Dan jangan salah, manusia-manusia yang ditaqdirkan terlahir cacat bawaan
> > > (dissable) ternyata mampu berbuat "sesuatu" yang di luar perhitungan
>manusia,
>
> >
> > > seperti yang tunanetra memiliki kepekaan mendengar yang luar biasa,
>sehingga
>
>
> > >dia
> > >
> > >
> > > mampu menutupi kekurangan pandangan mata tergantikan oleh kepekaan
> >pendengaran,
> >
> > >
> > > mampu dengan tepat menebak siapa yang datang hanya lewat deteksi langkah
>kaki
>
> >
> > > bahkan bau keringat dsb dsb.
> > >
> > > Saya sekarang punya pimpinan yang salah satu anak kandungnya yang cacat
>telah
>
> >
> > > memberikan inspirasi bagi dirinya untuk tabah dan terenyuh ketika sang anak
>
> > >yang
> > >
> > >
> > > cacat suatu ketika dapat meresponse dengan baik suatu problem yang semula
> > > bingung apa solusinya. Saya juga dulu punya tetangga yang cacat bawaan
>lahir
>
>
> > > sejak bayi, tidak punya kaki, orang tuanya amat bersedih dan pesimis
> >bagaimana
> >
> >
> > > memprediksi masa depan sang anak, namun saat remaja dia belajar otodidak
>ilmu
>
> >
> > > elektronika, dia sering mengamati pamannya yang berprofesi service radio,
>dan
>
> >
> > > diam-diam dia belajar sendiri, dan sering mencoba mengotak-atik radio rusak
>
> > > hingga baik, akhirnya dia menjadi mahir dan mampu melakukan reparasi radio
> > > sebagaimana yang dilakukan orang normal, lama-lama dia punya pelanggan
> >sendiri
> >
> >
> > > dan mampu hidup mandiri bahkan dia sanggup berderma pada orang lain yang
>dia
>
>
> > > anggap lebih miskin dari dirinya. Mungkin saya tidak begitu banyak
>referensi
>
>
> > > untuk menjelaskan fenomena ini. Silakan teman-teman memberikan komentar.
> > >
> > > Allah berfiman, "fa man ya'mal mitsqala dzaaratin syarron yarah, wa man
> >ya'mal
> >
> >
> > > mitsqala dzaaratin khayron yara". Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal
> > > hamba-Nya meskipun seberat atom.
> > >
> > > Wassalam
> > > Abdul Mu'iz
> > >
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> > ------------------------------------
> >
> > =======================
> > Milis Wanita Muslimah
> > Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
> > Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
> > Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> > ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> > Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> > Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
> > Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
> > Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
> >
> > Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
> >
> >
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> ------------------------------------
>
> =======================
> Milis Wanita Muslimah
> Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
> Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
> Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
> Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
> Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
>
> Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment