Nasruddin, Bapak Lele SangkuriangSelasa, 10 Mei 2011 10:12
Kecebong, anak kodok, muncul di kolam, membuat Nasrudin gembira karena dia
mengira kecebong itu anak ikan lele. Kegembiraannya itu sirna dan dia
tersipu malu ketika diberi tahu bahwa yang dikira anak ikan lele itu adalah
kecebong. Kodok betina yang masuk ke kolam tanpa diketahui, bertelur dan
menetas bersama dua indukan ikan lele betina dan seekor jantan.
Itu pengalaman pertama Nasrudin (61) sejak delapan tahun lalu saat belajar
beternak ikan lele.
"Kecebong disangka anak lele. Ngerakeun pisan (sangat memalukan)," kata
Nasrudin, menuturkan awal usahanya menjadi peternak ikan lele delapan tahun
lalu, di Saung Pertemuan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya
(P4S) Jaya Sentosa, awal November lalu. Saung itu berdiri di tepi puluhan
kolam ikan lele yang terbuat dari terpal dan tembok di lahan seluas 12.000
meter persegi di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Mega Mendung,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kini, dia tak lagi dipermalukan atas ketidaktahuannya. Nasrudin sudah
tersohor berkat lele sangkuriang yang mulai dikembangbiakkan pada 2011. Dia
mengawali usaha beternak lele dengan benih sekitar 100.000 lele sangkuriang
yang diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi.
Nama sangkuriang yang diberikan itu memang diambil dari legenda Tanah
Pasundan untuk menandakan lokasi asal pembiakan lele jenis tersebut.
Lele sangkuriang ini merupakan perbaikan genetik melalui silang balik antara
induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dan jantan lele dumbo generasi
keenam (F6). Induk betina (F2) berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang
diintroduksi ke Indonesia pada 1985.
Petugas penyuluh pertanian dan perikanan setempat memberikan bimbingan
beternak ikan secara benar. Berkat ketekunannya, Nasrudin berhasil
mengembangkan ikan lele sangkuriang.
Dia kini sudah menjadi "pendekar lele", bukan saja mahir dalam membesarkan
lele dengan jurus-jurus yang jitu, tetapi juga mampu mengobati lele yang
diserang penyakit, seperti radang kulit, dengan obat herbal ramuannya
sendiri. Obat ini diberikan cuma-cuma kepada yang memerlukan.
*"Letkol" *
Sejak 2005, dia menjadi pelatih bagi kelompok dari sejumlah daerah, termasuk
sejumlah karyawan perusahaan swasta dan pemerintah menjelang pensiun yang
ingin beternak lele. Namanya pun sohor menjadi "Nasrudin Lele" dari Desa
Gadog. Bahkan, kalangan pembudidaya lele dan warga setempat menjuluki
Nasrudin dengan sebutan Bapak Letkol—akronim dari Lele Kolam yang
dipelesetkan menjadi Letkol—sehingga dia kemudian disebut "Letkol" Nasrudin.
Petani lele sangkuriang dari Desa Gadog ini kini lebih jauh berangan-angan
membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran dengan memelihara lele.
"Budidaya lele tidak terlalu sulit, teknologinya juga mudah dan tiga bulan
sudah bisa dipanen. Masyarakat kecil bisa membudidayakan lele di halaman
rumahnya. Cukup dengan lahan minim, hanya dengan luas 1 meter x 1 meter,
serta modal Rp 75.000 untuk bibit dan pakan, sudah bisa beternak lele skala
kecil," kata Nasrudin.
Dia tak segan-segan membagi pengetahuan memelihara lele secara benar kepada
mereka yang ingin membudidayakan lele. Dia juga siap membantu mereka yang
datang menimba ilmu di P4S Gadog tanpa dipungut biaya.
Sejumlah petugas penyuluh pertanian dan perikanan serta pakar perikanan pun
mendukung kegiatan Nasrudin membudidayakan lele sangkuriang dan melakukan
pelatihan. Dukungan ini membuat Nasrudin bersemangat dan bertambah yakin
akan angan-angannya untuk menjadikan Desa Gadog sebagai sentra budidaya lele
sangkuriang.
Bahkan, 7 September lalu, Nasrudin diangkat menjadi Ketua Gabungan Kelompok
(Gapok) Budidaya Ikan Lele Sangkuriang "Cahaya Kita" untuk wilayah tengah
Provinsi Jabar dengan pusat aktivitas di wilayah Kabupaten/Kota Bogor.
*1,5 juta benih *
Nasrudin yang puluhan tahun sebagai petani padi dan kemudian beralih menjadi
pembudidaya lele ini, bersama kelompok pembenih lele sangkuriang yang
tergabung dalam Gapok Cahaya Kita, ingin memproduksi sekitar 1,5 juta benih
lele sangkuriang setiap bulan untuk memasok anggota kelompok budidaya lele
sangkuriang yang saat ini berjumlah sekitar 50 orang.
Dengan produksi benih sebanyak itu, kelompok budidaya/pembesar ikan lele
sangkuriang diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan lele di wilayah
Jakarta. Adapun kebutuhan lele di wilayah Jabotabek diperkirakan sekitar 75
ton sehari. Pemasoknya bukan saja berasal dari petani lele Jabar, tetapi
juga dari Jawa Tengah.
"Saat ini boro-boro memasok ke Jakarta, untuk memenuhi kebutuhan konsumen di
wilayah Kota/Kabupaten Bogor saja kekurangan. Kami peternak lele sangkuriang
di daerah Gadog dan sekitarnya, meliputi Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan
Cisarua, baru mampu memproduksi sekitar 3 ton per hari dari kebutuhan
sekitar 10 ton," kata "Letkol" Nasarudin. Dari kolamnya sendiri, Nasrudin
baru mampu memasok sekitar 2 ton per minggu kepada pelanggannya. Lele
sangkuriang dijual Rp 10.500-Rp 11.000 per kilogram.
Masa depan budidaya lele cukup cerah. Apalagi, menurut Muhamad Abduh Nur
Hidayat, anggota staf Ditjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan
Perikanan, ikan lele akan dijadikan komoditas ketahanan pangan. Konsepnya
kini sedang disiapkan. Ikan lele saat ini sudah digemari oleh kalangan bawah
sampai atas. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga sempat
mempromosikannya dengan menikmati ikan lele di kampung lele Boyolali,
Jateng, tahun 2007.
Andil pedagang tenda pecel lele di Jabotabek dan daerah lainnya cukup besar
dalam meningkatkan produksi ikan lele. "Sekarang lele juga dijual di
restoran, bahkan sampai ke daerah Kalimantan Barat yang dulu tak suka ikan
lele," kata Muhamad Abduh Nur Hidayat, penasihat Gapok Cahaya Kita.
Lele sangkuriang yang dirilis sebagai varietas unggul oleh Menteri Kelautan
dan Perikanan Rokhmin Dahuri pada 2004 ini lebih cepat dipanen dibandingkan
jenis ikan lainnya dan tahan penyakit. Ukurannya lebih besar dibandingkan
lele jenis lain. Dua bulan sudah bisa dipanen. Rasa dagingnya juga lebih
gurih dibandingkan lele jenis lain. "Karena itu, tak heran kalau lele
sangkuriang disukai konsumen," kata "Letkol" Nasrudin.(kompas.com)
http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/17185-nasruddin-bapak-lele-sangkuriang.html
--
Aldo Desatura ® & ©
Twitter = @desatura
YM = desatura
Facebook = hanjakal@gmail.com
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment