Serta mengilhamkannya (untuk mengenal) jalan yang membawanya kepada kejahatan, dan yang membawanya kepada bertaqwa
Maksudnya Allah mengilhamkan kepada hambaNya sehingga hambaNya itu tahu mana jalan yang menuju kepada kejahatan, dan mana jalan yang menuju kepada bertaqwa. Dengan demikian manusia itu akan memilih menghindarkan jalan yang menuju kepada kejahatan dan mengambil jalan yang menuju kepada bertaqwa.
Wassalam
HMNA
----- Original Message -----
From: Wikan Danar Sunindyo
To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Sent: Friday, November 25, 2011 6:15 PM
Subject: Re: Re: Re: Re: [wanita-muslimah] CIRI EKONOMI ISLAM
kalau hubungannya dengan surat Al Syams (QS 91:8) apa pak?
"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan] kefasikan dan ketakwaannya"?
Berarti Allah memberikan ilham kepada jiwa hal yang baik dan hal yang
buruk (tidak selalu baik) dan membiarkan jiwa yang memilih.
Jadi ilham itu bisa baik, bisa buruk
dan ilham buruk bukan dari setan, tapi dari Tuhan
Begitu pak?
salam,
--
Wikan
2011/11/25 H. M. Nur Abdurrahman <mnur.abdurrahman@yahoo.co.id>
>
>
>
> Ini dia catatan kaki Seri 331
>
> Dari Firman Allah yang dikutip di atas itu jelaslah bahwa wahyu hanya diturunkan kepada para Nabi dan Rasul, serta Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang terakhir. Allah tidak lagi menurunkan wahyu setelah Nabi Muhammad SAW. Selo Sumarjan "mencuri" istilah wahyu dari Al Quran, kemudian ia mengkorupsi makna substansi tersebut sehingga menyimpang dari makna yang sesungguhnya dengan mengatakan bahwa Soekarno dan Suharto mendapat wahyu dari atas langit, dengan menunjukkan telunjuknya ke langit dua kali, sekali untuk Soekarno, sekali untuk Suharto.
>
> Majelis Ulama Indonesia hendaknya memperhatikan hal ini, karena Selo Sumarjan yang melakukan korupsi bahasa Al Quran dalam bidang sosiologi, membawa efek meracuni aqidah anak baru gede (ABG) dalam kalangan ummat Islam! Orang boleh bebas mengeluarkan pendapat, tetapi jangan melanggar rambu-rambu hak asasi ummat Islam. WaLla-hu a'lamu bishshawab.
>
> *** Makassar, 19 Juli 1998
> [H.Muh.Nur Abdurrahman]
> http://waii-hmna.blogspot.com/1998/07/331-wahyu-menurut-selo-sumarjan.html
> -----------------------
> (#)
> Secara etimologis, makna "wahyu" terbagi dua:
>
> 1. Wahyu verbal,
> hanya diturunkan kepada para nabi,"FabasaLlahun nabiyyyina mubasysyiriyna wamundziriyna wa anzala ma'ahumul kitaba bilhaqqi liyahkum bainan naasi piymakh talafuw fiyhi" (Maka Allah membangkitkan nabi-nabi untuk penggembira dan penggentar dan menurunkan Kitab bersama mereka itu di atas kebenaran untuk (menetapkan keputusan) hukum (siapa yang benar) di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan) (Qs. Al-Baqarah [2]:213).
>
> Jadi menurut ayat ini barulah perlu dan cukup tentang kriteria seorang Nabi ialah mendapat wahyu verbal berupa Kitab sebagai rujukan untuk menetapkan keputusan hukum (yahkum). Wahyu verbal ini tidak lagi diturunkan Allah setelah Nabi Muhammad SAW. Ini tidak berarti sifat Allah yang Mutakallim sudah berhenti, karena manusia bukanlah satu-satunya makhluk yang cerdas, ada malaikat dan ada pula makhluk yang cerdas di makrokosmos (jagat raya), "wa lahu aslama man fis samawati wal ardhi" (dan Islamlah barang siapa yang ada di langit (makrokosmos) dan di bumi (mikrokosmos) (Qs Ali 'Imraan [3]:83). Dikatakan makhluk cerdas karena dinyatakan dengan man (siapa) bukan ma (apa) untuk benda-benda ciptaan Allah yang tidak cerdas.
>
> 2. Wahyu non-verbal,
> terdiri atas empat:
>
> 2.1. Bermakna "isyarat" (al-isyârah). Makna ini dijelaskan oleh Allah SWT., "Fakharaja 'ala qawmihi mina'l-mihrabi fa awha ilayhim an sabbihuhu bukratan wa 'asyiyyan" (Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat (awha) kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang) (Qs. Maryam [19]: 11). Makna "wahyu" di sini adalah isyarat kepada kisah nabi Zakariya.
>
> 2.2. Bermakna "ilham secara fitrah" (al-ilham al-fithriy). Makna "wahyu" ini dijelaskan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya, "Wa awha rabbuka ila al-nahli anittahidziy mina'l-jibali buyutan wa mina's-syajari wa mimma ya'risyun. Tsumma kuliy min kulli al-tsamarat faslukiy subula rabbiki dzululan yakruju min buthuniha syarabun mukhtalifun alwanuhu fihi syifa'un linnasi inna fi dzalika la'ayatan liqawmin yatafakkarun" (Dan Tuhanmu mewahyukan (awha) kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.) (Qs. Al-Nahl [16]: 68-69).
>
> Jadi, arti "pewahyuan" (al-iha') di sini adalah "al-ilham al-fithriy", petunjuk (al-hidayah) , arahan (al-tawjih) bagi lebah untuk menempuh sebab-sebab dalam mempertahankan eksistensinya, melakukan kerjanya lewat fitrahnya dan instingnya yang sangat menakjubkan.
>
> 2.3. "Ilham Tuhan" (al-Ilham al-Ilahiy). Artinya, apa yang disematkan oleh Allah ta'ala ke dalam hati hamba-hamba- Nya yang terpilih, yang berkaitan dengan jalan-jalan kebaikan, arah kebaikan, dan cara berbuat kebaikan. Hal ini dijelaskan oleh-Nya, "Wa awhayna ila ummi Musa an ardhi'hi fa idza khifti 'alayhi fa'alqihi fi'l-yammi wa la takhafiy wa la tahzaniy
> inna raaduhu ilayki wa ja'iluhu mina'l-mursalin" (Dan kami ilhamkan (awhayna) kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari para rasul) (Qs. Al-Qashash [28]: 7).
>
> 2.4. Bisikan (al-waswasah) . Artinya, apa yang dimasukkan oleh setan ke dalam jiwa dan menipu manusia dari kebenaran (al-haqq) dan kebaikan (al-khayr). Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT., "Kadzalika ja'alna likulli nabiyyin 'aduwwan syayatina'l-insi wa'l-jinni yuhiy ba'dhuhum ila ba'dhin zukhrufa'l-qawli ghururan wa law sya'a rabbuka ma fa'aluhu fadzarhum wa ma yaftarun. Wa litashgha ilayhi af'idatu'l-ladzina la yu'minuna bi'l-Akhirati wa liyardhawhu wa liyaqtarifu ma hum muqtarifun" (Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan (yuhiy) kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan) (Qs. Al-An'am [6]: 112).
>
> Jadi, setan adalah makhluk pembangkang dan tiran (al-mutamarrid al-thagiyah) : baik dari jenis ataupun jenis manusia. Kedua-duanya menghalang-halangi setiap seruan kebenaran: menanamkan "keraguan" (syubhat), mengobarkan fitnah dan menghalangi jalan kebenaran.
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment