Advertising

Thursday, 9 May 2013

[wanita-muslimah] IBRAHIM ISA - SEKITAR PERJALANAN MAY SWAN KE EROPAH

IBRAHIM ISA
Kemis, 09 Mei 2013
--------------------------

SEKITAR PERJALANAN MAY SWAN KE EROPAH

------------------------------------------------------------

May Swan Dear,

Saya ikuti sejak semula tulisan-tulisan May Swansekitar perjalanan ke
Eropah. Menarik, menarik, dan menarik.
May memang pandai berceritera. Pada akhir setiap tulisan selalu kita
dibikin kecewa, karena tulisan itu
berhenti di situ.

Nah, kali ini ceritera Maymerupakan suatu k e s i m p u la n kecil
mengenai perjalanan ke Eropah. . . lagi-lagi menarik dan santai dibaca,
Pokoknya enak dibaca dan memberikan masukan yang jugamenarik tentang
kesan-kesan umum negeri-negeri
yang dikunjungi.

Yang juga menarik dan menggelitik danbikin sementara pembaca juga
'garuk-garuk kepala, meskipun tidak gatal',
ialah pengalaman tentang "mesin computer yang menggantikan pekerjaan
buruh", di sebuah hotel di Perancis. Lalu, tanya May, bagaimana
dengan pejuangan kaum buruh selanjutnya? Kirta-kira begitulah, May
melemparkan suatu bahan
pemikiran secara "sambil lalu" dan sederhana, tetapi justru merupakan
soal besar dalam perjuangan kaum
buruh untuk perbaikan nasib, dewasa ini.

* * *

Bukan karena putri kami sekeluarga sekarang ini adalah warga-negara
Jerman, . . . . saya pertanyakan
kesan May mengenai oprang-orang Jerman yang tidak seramah orang Inggris.
Sementara
suara menyatakan bahwa orang Inggris itu agak 'sombong' . Mereka sering
bilang orang Inggris tidak
perlu belajar bahasa asing lain. Karena bahasa Inggris adalah 'bahasa
dunia'.

Saya punya teman-teman asing, antara lain orang Inggris dan Jerman.
Kesan saya . . . kalau'sudah dekat',
semua mereka ramah, sopan dan amat bersahabat . . . . khususnya mereka
yang progresif . . Yah, lagi-lagi ini kesan . . . May.

* * *

May, belum ceritera bagaimana dengan orang Turki? Murti dan saya sering
makan di restoran Turki. Mereka
sangat ramah, dan bangga dengan ke-TURKI-ANNYA, meski menyandang paspor
Belanda. Dulu kata teman Turki itu,
orang Turki banyak yang pada keluar cari kerja. Sekarang banyak orang
luar berdatangan ke Turki mencari kerja. Artinya
Turki sekarang ini meningkat kemakmurannya. Menarikpembicaraan dengan
seorang supir taxi orangTurki.
Dalam suatu percakapan supir Turki itu menyatakan: Dulu kami memang
ingin jadi anggota Uni Eropah.
Sekarang "enggak paté-en". Tak perlumasuk Uni Eropah. Mereka sedang
dilanda krisis. Lihat Junani, Spanyol,
Itali .. .. hampir bangkrut. Sedangkan Turki ekonominya tumbuh dan
berkembang terus.
Hidup Erdogan, katanya.

* * *

Sering menulis yang pendek-pendek dan padat . .. seperti yang sering May
lakukan sungguh bagus.

Mengenangkan buku-buku yang ditulis May selama ini, saya fikir

MAY INI ADALAH DUBES BERKELILING, memperkenalkan Indonesia dimana-mana,
mesk tidak pernah dibenum oleh pemerintah RI

* * *

Sampai sini dulu. Salam hangat dan sampai jumpa lagi di internet dan
siapa tahu . .
May akan sekali lagi mengunjungi Eropah .


Amsterdam,

I. Isa

Op 9-5-2013 6:38, Chalik Hamid schreef:
> SURAT DARI SINGAPUR
>
> === PERJALANAN ===
>
> BY
>
> MAY SWAN
>
> Duduk santai berbaring di private compartment dalam pesawat SIA,
luas, nyaman, bersebelahan dengan compartment tidur, dengan ramah
ditawari berbagai layanan, dari hot towels, minuman, snacks hingga
hidangan full course dinner yang dapat dipilih dari dinner menu, baru
terasa sudah berada dalam alam perjalanan. Perjalanan yang dipilih sendiri.
>
> Dikelilingi dengan berbagai kemudahan fasilitas, tapi pikiran hanya
fokus kepada empat belas jam perjalanan terbang yang sedang menunggu.
Empat belas jam baru akan tiba di Frankfurt, Jerman; tapak pertama dalam
lima minggu perjalanan ke Eropa dari bulan Maret hingga bulan Mei 2013.

> Setibanya di Frankfurt setangkai mawar merah dan senyum ramah dari
wajah tampan sosok tinggi gagah special datang jauh dari Stockholm
menjemput ketibaanku di bandara. Kehangatan pertemuan berhasil menantang
angin malam dingin menggigil menyerang seluruh tubuh.
>
> Dengan mobil sewaan sepanjang malam menyelusuri jalan highway Jerman
terkenal panjang lurus, luas, teratur dan tak terbatas laju bagi
kendaraan. Sinar lampu di sepanjang jalan raya menerangi alam kelam
disekitar. Lalu lintas kendaraan, terlebih pula kendaraan industry berat
pengangkut containers tampak bersimpang siur walaupun hari sudah larut
malam, mencerminkan ekonomi Jerman berjalan sehat diantara Euro zone
yang mengalami krisis.
>
> Malam pertama nginap di Roermond, berdekatan dengan designer outlet
center. Sebagai orang Singapur tentunya sangat tertarik dengan
kesempatan jalan jalan shopping melihat designer goods di luar negeri,
membandingkan harga dan barang branded yang terdapat di tempat.
>
> Hari hari sesudahnya berada di Amsterdam, bertemu dengan teman teman
lama dan baru, antaranya: Siauw Maylie dan Burhan. Ibrahim Isa, Chalik
Hamid, K. Soelardjo, Djie Kiong Hoo, Sungkono dan para isteri masing
masing. Curahan hangat persahabatan berupa sebuah kenangan yang melekat
dalam sanubari. Dengan penuh harapan persahabatan akan tumbuh berkembang
selalu.
>
> Pada tanggal 31 Maret 2013, YSBI (Yayasan Sejarah dan Budaya
Indonesia) mengadakan undangan bagi umum menghadiri acara buku May Swan
memperkenalkan dua novel bahasa Inggeris terbaru: "Montmartre In
Bondowoso" dan "Sons And Daughters Of Bangka." Acara diadakan di Gedung
De Schakel, Diemen, beberapa kilometer di luar kota Amsterdam. Panel of
discussion terdiri dari Ibrahim Isa sebagai pembedah buku, Chalik Hamid
sebagai moderator dan May Swan sendiri melayani tanya / jawab dari para
hadirin. Acara dibuka oleh K. Soelardjo sebagai pemimpin YSBI. Atas
bantuan teman teman, terutama hubungan network dari Djie Kiong Hoo dan
Bertha isterinya, banyak masyarakat Indonesia di luar YSBI turut hadir
dalam acara. Suasana cukup meriah. Tercatat 106 hadirin memenuhi ruangan
pertemuan. Perlu disebut, pada akhir acara, Asahan Alham mewakili YSBI
menyerahkan hadiah kenang kenangan kepada May Swan. Disini, saya ucapkan
banyak terimakasih
> atas kehadirannya, juga atas pemberian novelnya berjudul "Perang dan
Kembang" terbitan Pustaka Jaya setebal 484 halaman yang sudah lama saya
dengar tapi baru kali ini memilikinya.
>
> Selama di Amsterdam, saban hari dapat undangan makan malam di rumah
para teman, kesempatan yang tentunya kami terima dengan sangat gembira.
Yang paling terkesan, di samping hidangan para ibu ibu adalah animated
conversation yang mengambil bagian dalam semua pertemuan. Bagaikan
aliran listerik yang bersambungan, setelah dipasang langsung menyala.
Arus pembicaraan lancar tanpa ada yang mengatur, penuh dengan cerita
kejadian di masa lalu, kejadian yang pernah dialami bersama, soal yang
dulunya dianggap sangat serious, sekarang terasa ringan bahkan menjadi
bahan humor. Agaknya usia telah mendewasakan pandangan. Tapi rasa cinta
tanah air tetap berkumandang dalam jiwa, sekalipun menjelma dalam forma
yang berlainan.
>
> Lima hari di London, cuaca semakin dingin. Jalan jalan di sekitar
Marble Arch, Piccadilly dan di tempat tempat dimana turis biasa datang
seperti Soho dan China Town, tentunya tidak lupa mendatangi Harrods,
toko lux yang menjadi lebih tenar karena hubungan Diana dengan Dodi yang
tewas bersama dalam sebuah kecelakaan mobil di Paris. Ingin melihat kota
kota lain di luar London, naik train ke Wimbledon dan Birmingham. Ketika
jalan jalan ke London Bridge suhu tercatat – 4 C. Mantel tebal tidak
berhasil menahan serangan angin dingin yang membawa gumpalan salju
tipis, melayang di udara lalu jatuh mencair di lantai, membuat jalanan
becek dan licin.
>
> Dari London berangkat ke Paris. Dijemput oleh Iba Ruri di stasion
bus. Sayangnya kali ini tidak berkesempatan bertemu dengan Johanna
Lederer seperti yang diharapkan, karena kebetulan sekali ia telah
berangkat keluar negeri sehari sebelumnya. Sorenya kami berangkat lagi
ke Normandie berempat dengan Ninon isteri mendiang Umar Said. Iba yang
bawa mobil. Perjalanan mengambil lebih dari empat jam. Sampai di
Normandie sudah larut malam, setelah mencari cari, kami memilih Ibis
Budget sebuah penginapan kecil namun bersih dan nyaman. Yang paling
terkesan, lain dari yang lain, penginapan ini sama sekali tidak ada
concierge di counter. Di ruang masuk, semua kosong, tidak ada satu
manusia pun disitu. Untuk buka pintu masuk harus pakai credit card,
antara lain menyatakan mau menginap berapa malam, mau berapa kamar, mau
breakfast atau tidak dan langsung dipotong beayanya dari credit card
yang disodorkan ke dalam mesin. Computer telah
> menggantikan tenaga manusia, dalam kasus ini menggantikan karyawan
concierge di hotel counter. Kami berempat yang belum pernah mengalami
semua ini tercengang cengang dibuatnya, lalu ketawa terbahak bahak.
Rupanya hotel ini telah mampu bikin uang sendiri tanpa bantuan tenaga
manusia. Sekiranya konsep ini diperluas dan membudaya, apa mungkin akan
merubah ideology dunia mengenai arti penindasan kaum buruh yang kita
kenal? Apa arti penindasan itu masih relevant kalau yang dinamakan buruh
adalah mesin bukannya manusia? Lalu, apa yang akan dikerjakan oleh
manusia? Aakh, ini sudah menjauh dari lingkaran tulisan kali ini. Tapi
mungkin teman kita Kiong Hoo dapat menjawabnya?
>
> Hari kedua di Normandie Iba membawa kami ke daerah pantai dimana
tentara sekutu mendarat melawan tentara Jerman dalam WW II, juga melihat
tayangan film documentary terdapat dalam teater disitu juga. Setelah
itu, sorenya melanjutkan perjalanan ke St. Michel, dan akhirnya ke
fortress of St. Malo di Britania sebuah benteng kuno yang dirubah
menjadi kota modern penuh dengan toko toko indah dan restoran. Bawa
mobil kembali ke Paris, sampai ditempat sudah dini hari. Tidur sebentar
di rumahnya Ninon, lalu berangkat ke Stockholm dengan pesawat pagi. Lagi
lagi Iba yang mengantar kami ke bandara. Pertemuan kami di Paris kali
ini singkat tapi padat. Banyak melihat tempat dan kejadian yang belum
pernah kami ketahui, dan semua ini demi bantuan Iba. Disini, saya
mengucap Banyak Trimakasih pada Iba.
>
> Acara buku kedua diadakan di Stockholm. Selain para anggota paguyuban
setempat, yang datang turut meramaikan termasuk anak anak muda generasi
kedua dari masyarakat diaspora Indonesia di Stockholm. Sekalipun jumlah
yang datang tidak seramai di Amsterdam, tapi ruang tamu tuan rumah penuh
sesak dengan para hadirin, suasana jauh lebih meriah, terasa sangat
intim dan santai bagaikan di rumah sendiri. Mereka datang serombongan
bersama sama, suara tawa gembira mendahului mereka sebelum memenuhi
ruangan. Semua buku diborong, bahkan ada yang memesan beberapa buku
lagi. Penerimaan dan perhatian yang diberikan kepada May Swan sangat
mengharukan.
>
> Perjalanan seterusnya ke Turki bagian baratdaya, daerah pertanian dan
perkebunan. Dari tetumbuhan di ladang tampak lahan Turki sangat subur.
Dalam delapan hari perjalanan guided tour, banyak waktu dilewati dalam
perjalanan. Menginap di sebuah hotel di kota Antalya, lalu pindah ke
kota Pamukka, dari situ naik kapal river boat melintasi Sungai Manavgat,
dan berhenti di pantai Laut Mediterranean. Banyak yang terjun berenang,
menikmati terik panas matahari dengan suhu 36 derajat C. Aku tidak. Dari
situ dibawa ke daerah Hierapolis dimana terdapat banyak puing puing
sejarah, termasuk jembatan kuno warisan pendudukan Roma. Kesan
keseluruhan mengenai Turki cukup bersih, aman dan teratur, sekalipun
tidak mewah. Dimana mana tidak pernah nampak adanya kemiskinan, seperti
yang terdapat di bagian Itali.
>
> Hari terakhir perjalanan kembali ke Frankfurt, dan berangkat dari
situ ke Singapur.
>
> Secara keseluruhan, sebagai turis dapat pelayanan cukup baik dari
masyarakat setempat, terutama ketika bertanya mengenai direction.
Sebagai perbandingan, orang lokal di London sangat bersahabat dan selalu
bersedia membantu jika diminta. Kata "Thank you" dan "Excuse me" sangat
murah diucapkan dengan senyum di wajah. Sedangkan di Paris ekspresi
wajah agak cuek, bahkan tidak ada ekspresi sama sekali, tapi dalam train
mereka cukup sopan, anak muda seringkali dengan suka rela memberi tempat
duduknya kepada yang lebih tua, sekalipun tanpa mengucapkan kata kata.
Orang Jerman lain lagi, bukan saja kaku kelihatannya, tapi juga kaku
pembawaannya. Tentunya ini hanya kesan seorang turis yang kebetulan
numpang jalan. Tidak dapat dianggap sebagai biblical truth.
>
>
>
>
>


------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
wanita-muslimah-digest@yahoogroups.com
wanita-muslimah-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

0 comments:

Post a Comment