Advertising

Sunday, 21 February 2010

Re: [wanita-muslimah] Seri 911 Post-Modernisme, Pluralitas dan Pluralisme

Ini adalah tanggapan ustadzah Anita Tamara atas pemahaman Abah HMNA tentang
pluralisme dan pluralitas
di milis WM ini hampir 5 tahun yang lalu.
Mengharapkan Abah berubah saya rasa sangat sulit,
tapi bagi yang lain dapat mengambil pelajaran dari wacana ini.
Salah satu uraian tentang pluralisme yang terbaik yang pernah saya baca.

http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message/70047

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com<http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/post?postID=FbjznFk4AKH5yToeAXmD3M7o6TKnPqkGnMk2JlQLgsu3KusW-ooqvTP2PI7tvEXHC2Ziw1hI_uxGcq7Bbk50BgGoG_l9SoD-tQ>,
"H. M. Nur Abdurrahman"
<hmna@t...> wrote:
> Syafii Anwar wrote:
> MUI salah dalam memahami pluralisme. ......... Inti pluralisme adalah
bagaimana mengembangkan saling menghormati dalam perbedaan itu.
> --------------------------
> HMNA:
> Ha? Yang salah memahami sebenarnya siapa? Saling menghormati dalam
perbedaan, itukan kesadaran tentang keberagaman (pluralitas).
> Howgh
>

Pluralitas itu hanya menyadari perbedaan saja. Seorang yg hidup dalam
pluralitas tidak akan mengusik orang-orang yang berbeda, namun tetap
punya penilaian pribadi terhadap yg berbeda itu "lebih jelek" "tidak
selamat" dsb. Pluralitas sudah ada di Indonesia sejak dahulu.

Sedangkan pluralisme itu ada unsur empati dalam kesadaran itu. Empati
ini penting untuk melihat dari sudut pandang orang yg berbeda itu.
Karena tanpa empati pasti orang-orang masih punya pendapat "kamu lebih
jelek daripada saya." Sulit memang untuk berpluralisme, untuk
menghilangkan prasangka ini. Pluralisme adalah "semua agama adalah baik
untuk pemeluknya masing-masing", bukan "semua agama adalah baik (untuk
saya)."

Memahami pluralisme, berarti tidak pernah berpikir untuk mengubah agama
orang lain. Berarti berpikir "Siapapun yg baik karena agamanya, maka
agama itulah yg paling cocok untuknya. Siapapun yg pindah agama lalu
jadi lebih baik sebagai seorang manusia, maka berarti ia pindah agama
karena lebih cocok dengan agama barunya." Orang-orang yg memahami
pluralisme tidak akan menghujat orang murtad, juga tidak akan melakukan
misi-misi pengalihan agama orang lain (proselytizing).

Sekali lagi saya bilang sulit. Ada seorang teman saya Kristen yg sangat
bisa memahami pluralisme. Karena di keluarganya ada 3 agama, yaitu
Kristen, Islam, Budha. Satu teman lagi juga ada yg Islam dan Katholik
dalam keluarganya. Mereka ini melihat kehidupan keluarga besarnya
sehari-hari baik-baik saja, melakukan ritual-ritual yg dianggap sebagai
pemenuhan kehausan spiritualitas saja, sedangkan sisanya berinteraksi
dengan baik menurut ajaran agamanya masing-masing, ternyata kok ya
tetap nyambung sebagai sebuah keluarga besar. Orangtua mereka memang
agak menyayangkan anaknya pindah agama untuk menikah dengan orang yg
beda agama. Maklum, namanya juga orangtua, maunya yg diajarkan ke anak
dipegang terus oleh anaknya (hal ini kan juga berlaku dalam prinsip-
prinsip lain). Tapi, nggak ada tuh acara kecewa-kecewa apalagi sampai
tidak mengaku anak.


Coba kita BAYANGKAN.
TEMPATKAN DIRI KITA dalam diri mereka (put ourselves in their shoes).
Apakah yg bakal kita lakukan jika saya adalah dia? Jika kita adalah
mereka?
Kalau saya.. kalau saya.. kalau saya.. begitu banyak "kalau saya".

2010/2/20 H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@yahoo.co.id>

>
>
> BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
>
> WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
> [Kolom Tetap Harian Fajar]
> 911 Post-Modernisme, Pluralitas dan Pluralisme
>
> Pertanyaan:
> Salamun 'alaikum,
> Ringkas saja ustadz, apa itu yang dimaksud dengan "post modernisme"?
> Salam,
> I Makkuta'nang
>
> The idea of post-modernism came from Nietzsche's analysis of modernity and
> its ends of decadence and nihilism. Pada pokoknya post-modernisme itu anti
> kemapaman. Semangat post modernisme berupaya mendekonstruksi itu semua
> konstruksi-konstruksi yang ada namun tanpa memberikan konstruksi yang baru
> sebagai alternatif, karena post-modernisme bertolak dari dasar pikiran
> (premise) relativisme, yang berujung pada kemunduran (dekadensi) dan
> nihilisme. Tahun 1970-an tema pluralisme dan multikulturalisme mewarnai
> wacana pemikiran global. Pemikiran tersebut adalah "baju baru" dari
> post-modernisme.
>
> ***
>
> Ajaran Islam menerima keberadaan penganut agama dan budaya lain. Pluralitas
> agama, multi-kultur, multi-etnis, dan bangsa dalam masyarakat dan negara
> manapun di dunia dewasa ini adalah suatu keniscayaan. Al-Qur`an sudah
> jauh-jauh hari mengingatkan adanya pluralitas masyarakat manusia seperti
> dinyatakan dalam ayat:
> -- YAYHA ALNAS ANA KhLQNKM MN DzKR WANTsY WJ'ALNKM Sy'AWBA WQBAaL LT'AARFWA
> AN AKRMKM 'AND ALLH ATQKM (S. ALHJRAT, 49:13), dibaca: ya-ayyuhan na-su
> inna- khalaqna-kum min dzakariw wauntsa- wa ja'alna-kum syu-'u-baw wa
> qaba-ila lita'a-rafu- inna akramakum 'indaLla-hi atqa-kum, artinya:
> -- Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan
> perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
> kamu berkenal-kenalan, sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi
> Allah, ialah yang lebih taqwa.
>
> Selanjutnya ayat (30:22) menamakan keberagaman tersebut sebagai ayat-ayat
> Allah, tanda-tanda kebesaran Allah bagi yang berilmu pengetahuan.
>
> Dalam berhadapan dengan berbagai macam agama tersebut, Islam mengajarkan
> harus bersikap toleran. Bahkan pemimpin dan umat Islam harus berfungsi
> sebagai garda depan untuk melindungi umat agama lain dapat bebas menganut
> agama dan beribadat menurut ajaran agamanya masing-masing. Tentu saja dalam
> batas yang wajar, yakni tidak wajar ada yang mengaku Islam, namun juga
> menyatakan ada nabi sesudah Nabi Muhammad SAW, yaitu Qadianisme.(*) Agama
> Islam bertujuan untuk mewujudkan perdamaian dalam kehidupan ummat manusia.
> Karenanya al-Qur`an meletakkan prinsip-prinsip pergaulan manusia atau
> masyarakat muslim dengan non-muslim. Pribadi dan masyarakat Islam tidak
> boleh memaksakan penganut agama lain pindah ke agamanya (ayat 2:256). Dalam
> menyampaikan dakwah Islam, hendaklah dengan cara yang bijaksana, dengan
> pelajaran dan diskusi yang lebih baik (ayat 16:125). Pribadi muslim tidak
> dilarang untuk berbuat baik dan tolong menolong dengan penganut agama lain ,
> yang tidak bersikap bermusuhan (ayat 60:8).
>
> Tetapi dalam hal iman dan peribadatan mahdhah (ritual) memang tidak ada
> toleransi sebagaimana ditegaskan oleh Surah Al-Kafirun. Doa adalah otak
> ibadat. Karena itu doa lintas agama tidak perlu diadakan. Majelis Ulama
> Indonesia (MUI) pada bulan Juli 2005 mengeluarkan fatwa, diantaranya haram
> bagi umat Islam mengaminkan doa agama lain, haram berpaham sekularisme dan
> pluralisme.
>
> Pluralitas agama dan multikultur itu juga ditemukan dalam masyarakat Islam
> pertama yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW sendiri. Negara-Kota (City
> State) Madinah adalah masyarakat dan negara Islam pertama, yang
> konstitusinya berupa Piagam Madinah sebagai konstitusi tertulis pertama
> dalam sejarah ketatanegaraan dunia, terdiri dari perwakilan berbagai suku
> bangsa dan penganut agama. Ikut membubuhkan tanda tangannya wakil kaum
> muslimin (Muhajirin dan Anshar), bangsa dan penganut agama Yahudi, penganut
> agama Kristen Orthodok, dan kaum Arab yang non-Muslim (musyrikin / pagan).
>
> Namun demikian ummat Islam tidak diajarkan supaya berpaham pluralisme,
> apalagi pluralisme agama dan multi kulturalisme. Ketika pluralitas telah
> ditambah dengan isme, ia telah menjadi anutan, kepercayaan, paradigma,
> bahkan keyakinan. Alhasil Islam mengakui masyarakat, apalagi ummat, terdiri
> dari berbagai etnis dan kultur. Tetapi Islam tidak menganut pluralisme dan
> multikulturalisme, yang "baju baru" dari post-modernisme. WaLlahu a'lamu
> bisshawab.
> ----------------------------------------
> (*)
> Qadianisme, agama Ahmadiyah Qadiyan yang masih mengaku Islam (sic), padahal
> punya nabi lagi yaitu MGH setelah Nabi Muhammad SAW, menganggap wahyu masih
> diturunkan Allah kepada manusia. Alasan mereka yaitu Allah bersifat Maha
> Berkata-kata (Mutakallim), jadi masih terus menurunkan wahyu / berkata-kata
> kepada manusia. Qadianisme sangat naif dengan pendapatnya itu, karena Allah
> walaupun tidak lagi menurunkan wahyu / berkata-kata kepada manusia setelah
> Nabi Muhammad SAW, masih banyak makhluk Allah yang lain seperti malaikat.
> Jadi Allah tidaklah berhenti berkata-kata, walaupun sudah berhenti
> berkata-kata kepada manusia setelah Nabi Muhammad SAW.
>
> *** Makassar, 21 Februari 2010
> [H.Muh.Nur Abdurrahman]
>
> http://waii-hmna.blogspot.com/2010/02/911-post-modernisme-pluralitas-dan.html
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
wanita-muslimah-digest@yahoogroups.com
wanita-muslimah-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

0 comments:

Post a Comment