----- Original Message -----
From: "Dwi Soegardi" <soegardi@gmail.
To: <wanita-muslimah@
Sent: Monday, February 22, 2010 07:24
Subject: [wanita-muslimah] Simbolisasi Demo dan Pelecehan
http://suaramerdeka
PEREMPUAN
17 Februari 2010
Simbolisasi Demo dan Pelecehan
Oleh Zusiana E Triantini
ADA pakaian dalam perempuan (BH) di gedung KPK. Katanya sebagai simbol
lemah dan lambannya kinerja KPK atau bancinya KPK. Pakaian dalam ini
dibawa para demonstran ke Gedung KPK oleh Aliansi Mahasiswa Nusantara
(AMN) pada 3 Februari 2010.
Akan tetapi, yang menjadi persoalan dan pertanyaan, mengapa pakaian
dalam yang dipajang dan diberikan kepada KPK adalah pakaian dalam
perempuan, bukan pakaian dalam laki-laki? Apakah ini berarti ingin
mengatakan bahwa KPK lemah dan lamban seperti halnya perempuan atau
sebaliknya perempuan lemah dan lamban seperti KPK?
Dosa apa perempuan, sehingga disimbolkan dengan kelemahan dan
kelambanan.
############
HMNA:
Tidak kurang jumlahnya dari pihak perempuanpun pasrah menerima statusnya dan mencoba berupaya mencintai dan menyenangi kedudukannya sebagai makhluk manusia nomor dua dengan alasan theologis. Yang berminat, silakan baca Seri 329 di bawah:
************
BISMILLA-HIRRAHMA-
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
329. Bukan Theologis Melainkan Sosio-Historis-
Partai-partai politik dalam era reformasi ini pada bermunculan, di antaranya Partai Perempuan yang diprakarsai oleh novelis La Rose dan Titi Said. Hemat saya, boleh jadi munculnya Partai Perempuan ini yang antara lain menimbulkan inspirasi dari Kohati Korkom UMI. Yaitu pada hari Kamis 2 Juli 1998 Kohati Korkom UMI menyelenggarakan Dialog Kemuslimahan bertempat di Kampus UMI. Saya mendapat amanah memberikan sekapur sirih. Amanah ini saya terima dalam rangka memperingati Mawlud Nabi Muhammad SAW. Saya padatkan sajian sekapur sirih itu seperti berikut.
Secara sosio-historis-
Sebenarnya pandangan bahwa kaum perempuan adalah sub-ordinat dari kaum laki-laki bertolak dari kisah bahwa Sitti Hawa itu diciptakan Allah dari tulang rusuk Adam yang dicabut tatkala Adam sedang tidur.(*) Bahkan Sitti Hawa dari tulang rusuk Adam ini dijadikan sebagai justifikasi theologis ilmu kejantanan (kaburu'neang) dalam kalangan suku Bugis Makassar, agar kemana saja pergi harus menyisipkan badik di pinggang. Karena belum sempurna sifat jantan dalam dirinya apabila tulang rusuk yang hilang itu tidak disubstitusi dengan badik.
Sikap pasrah sebagian perempuan sebagai sub-ordinat ini timbul, oleh karena secara theologis mereka merasa bersalah kepada laki-laki. Sitti Hawalah yang mempengaruhi membujuk bahkan merengek Adam supaya makan buah larangan. (Iblis menamakan buah larangan ini dengan buah khuldi, artinya buah kekekalan, khuldi dari akar Kha, Lam, Dal artinya kekal).
Sebenarnya kisah di atas itu bersumber dari Israiliyat, yaitu produk budaya bangsa Israil, yang tidak berasal dari wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa AS. Di dalam Al Quran tidak ada disebutkan bahwa Sitti Hawa dari tulang rusuk Adam. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim memang ada disebutkan bahwa perempuan (bukan Sitti Hawa!) dari tulang rusuk (tidak disebutkan dari rusuknya Adam!). Hadits adalah penjelasan Al Quran, akan tetapi tidak menambah substansi. Jadi perempuan dari tulang rusuk, AL Mar.atu min Dhil'In, adalah metaphoris. Apapula jika dibaca Hadits itu secara lengkap, yang artinya: perlakukanlah perempuan itu dengan bijak, karena perempuan itu dari (baca: bersifat) tulang rusuk. Kalau dibiarkan ia bengkok, kalau dikerasi ia patah.
Kaum perempuan tidak usah dibayang-bayangi rasa bersalah karena Sitti Hawa telah membujuk Adam makan buah larangan, sebab di dalam Al Quran Allah berfirman:
FaazaLlahuma sysyaytha-nu (S. Al Baqarah, 2:36), maka syaytan menipu keduanya.
Ayat (2:36) menjelaskan bahwa tidak ada diskriminasi atas Adam dan Sitti Hawa, yaitu keduanya (huma-) sama-sama bersalah.
Jelaslah bahwa kedudukan diskriminatif perempuan sebagai sub-ordinat laki-laki (wanita dijajah pria sejak dulu menurut nyanyian Sabda Alam), bukanlah bertumpu pada alasan theologis, melainkan hanya bersifat sosio-historis-
Memang dari segi jasmani ada perbedaan laki-laki dengan perempuan, sebab pada laki-laki normal hormon jantannya 60%, sedangkan hormon betinanya hanya 40%, sedangkan sebaliknya pada perempuan normal hormon betinanya yang 60%, sedangkan hormon jantannya hanya 40%. Hormon jantan sifatnya keras aktif, hormon betina sifatnya lembut pasif, secara nafsani yang jantan merasa melindungi dan betina merasa dilindungi. Itulah sebabnya dalam konteks kehidupan berumah tangga berlaku qaidah: ar rija-Lu qawwa-muwNna 'ala nnisa-i, laki-laki (baca: suami) itu pemimpin atas perempuan (baca: isteri). Suami adalah Kepala Negara, isteri adalah Menteri Dalam Negeri. Juga di dalam lapangan bulu tangkis perempuan game pada angka 11, sedangkan laki-laki pada angka 15.
Akan tetapi secara nafsani dan ruhani tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan, yang secara eksplisit dinyatakan oleh Firman Allah:
Inna lmuslimi-na wa Lmuslima-ti wa lmu'mini-na wa lmu'mina-ti wa lqa-niti-na wa lqa-nita-ti wa shsha-diqi-na wa shsha-diqa-ti wa shsha-biri-na wa shshabira-ti wa lkha-syi-i-na wa lkha-syi'a-ti wa lmutashaddiqi-
yang artinya: Sesungguhnya orang-orang Islam laki-laki dan orang-orang Islam perempuan, orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan, orang-orang taat laki-laki dan orang-orang taat perempuan, orang-orang benar laki-laki dan orang-orang benar perempuan, orang-orang sabar laki-laki dan orang-orang sabar perempuan, orang-orang khusyu' laki-laki dan orang-orang khusyu' perempuan, orang-orang dermawan laki-laki dan orang-orang dermawan perempuan, orang-orang berpuasa laki-laki dan orang-orang berpuasa perempuan, orang-orang laki-laki yang memelihara kesuciannya dan orang-orang perempuan yang memelihara kesuciannya, orang-orang laki-laki yang berzikir banyak-banyak dan orang-orang perempuan yang berzikir, maka Allah menyediakan bagi mereka pahala yang besar.
Alhasil para muslimat dapat saja aktif berpolitik dengan persyaratan memiliki sifat-sifat terpuji menurut ayat (33:35) dan bagi yang telah berumah tangga sanggup membagi waktunya dan mendapat izin dari suaminya. Bahkan dapat pula mendirikan Partai Muslimat yang berasaskan Islam, mengapa tidak ?! WaLla-hu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 5 Juli 1998
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-
------------
(*) Telah dibahas dalam Seri 183 yang berjudul: "Perempuan Dijadikan dari Tulang Rusuk?", ttg. 2 Juli 1995
http://waii-
############
Para demonstran hendaknya menyadari bahwa di era demokrasi
saat ini dengan mode zaman yang semakin berkembang, tidaklah arif dan
bijak jika mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah dan
lamban.
Mungkin para demonstran juga harus memiliki bekal wawasan tentang
kesetaraan gender, sehingga tidak merasa menjadi makhluk yang paling
perkasa dan melecehkan perempuan.
Mental patriarkhi yang sudah lama bercokol di otak masyarakat
Indonesia dengan memosisikan perempuan sebagai makhluk kedua memang
masih sulit dihapus.
Sebagai masyarakat beradab, memiliki wawasan politik yang cukup luas
dan memegang predikat mahasiswa, sangat naif jika para demonstran
masih saja melecehkan perempuan.
Konstruksi sosial masyarakat Indonesia yang seringkali masih
menomorduakan perempuan menjadi salah satu faktor berkembangnya
stereotype lemah dan lamban yang dijatuhkan pada perempuan.
Bukan hanya itu, ulama (terutama laki-laki) seolah menjadi pembenar
stereotype tersebut dengan melakukan penafsiran yang bias gender.
Anehnya lagi, hal ini juga diamini oleh sebagian masyarakat, termasuk
kaum perempuan.
Padahal, jika menilik semangat humanitas agama, sejatinya agama apa
pun di Indonesia menjunjung tinggi kedudukan perempuan. Islam
mendudukkan perempuan dengan kedudukan istimewa hingga memiliki surah
khusus tentang perempuan.
Nasrani mendudukkan perempuan sebagai orang yang mulia dan terhormat
seperti disematkan pada Bunda Maria, begitu pula Hindu dan Budha serta
Khong Hu Chu. Dengan kata lain, Tuhan pun menghargai, bahkan
mengistimewakan perempuan. Mengapa manusia tidak bisa melakukannya?
Dalam perspektif Islam, dikenal kaidah fiqh la darara wa la dirara
(jangan sampai merugikan diri sendiri apalagi orang lain). Dalam
konteks ini, perempuan menjadi kaum yang dirugikan, karena disimbolkan
dengan kelemahan dan kelambanan.
Apalagi jika melihat pada saat demonstrasi di depan Gedung KPK
tersebut, simbol pakaian dalam perempuan dibawa bersamaan dengan
pedang sebagai simbol kekerasan atau peperangan yang dianggap sebagai
simbol kejantanan.
Padahal, apabila kita melihat realitas sosial masyarakat, banyak
perempuan yang membawa pedang - berperang - dan banyak pula laki-laki
yang lemah dan lamban.
Sesungguhnya pedang (jantan) yang diidentikan dengan laki-laki dan BH
(lemah dan lamban) yang diidentikkan dengan perempuan, hanyalah
konstruksi masyarakat yang sering dilekatkan pada masing-masing jenis
kelamin, bukan kontruksi Tuhan yang bisa dipatenkan.
Merusak Demokrasi Maksud hati memeluk gunung, apa daya pemikiran dan
tangan tak sampai. Mungkin kalimat itu pantas diberikan kepada para
demonstran yang menganalogikan KPK dengan simbol perempuan.
Maksud para demonstran mengkritik kinerja KPK dan mengekspresikan
kebebasan berpendapat, namun mereka kurang jeli dan melakukan
eksploitasi yang justru merusak demokrasi.
Apalagi dengan mengatakan KPK = Banci. Ini berarti telah terjadi
pelecehan pada dua golongan sekaligus, yaitu kaum perempuan dan kaum
waria (banci).
Kebebasan berekspresi tentu harus dilakukan dengan cara-cara yang
tidak merugikan siapa pun. Substansi kritik atas persoalan tersebutlah
yang seharusnya banyak diangkat, bukan dengan menampilkan
simbol-simbol yang justru menghilangkan substansi dari apa yang hendak
disampaikan.
Dalam dunia demokrasi, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia
merupakan hal pokok yang harus dipahami.
Cara-cara yang lebih elegan dan kreatif untuk mengutarakan pendapat
setidaknya bisa dilakukan.
Selain itu, pemilihan analogi yang lebih selektif setidaknya juga
menjadi pertimbangan, sehingga tidak menghilangkan nilai-nilai
humanity, plurality, equality sebagai bagian penting dari semangat
demokrasi. (37)
- Zusiana E Triantini, staf pengajar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan
Pengurus Wilayah Fatayat NU DIY
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment