tanya :
1. apa seluruh pegawai suara hidayatullah sudah diwajibkan nonton film ini ?
karena 21 di sby kayaknya sepi sepi aja untuk slot film yang satu ini.
2. kalau baca artikelnya, sepertinya sudah pada tahu kalo
rasisme/diskriminasi apalagi yg memakai dasar diskriminasi agama itu jelek,
tapi kok hidayatullah sepertinya sering menyuarakan perlakuan beda pada yang
agamanya beda atau minoritas ya ? agak heran aja dengan cara refleksi
baliknya yang tidak tercermin pada kelakuan sendiri.
salam,
Ari
2010/3/5 cak lis <caklis@yahoo.com>
>
>
>
>
> Sumber:
> http://www.hidayatullah.com/kolom/sudut-pandang/10930?task=viewDeritaMuslim Versi Bollywood
>
>
>
>
> Wednesday, 03 March 2010 13:35
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> //Film tentang nasib umat Islam pasca 11 September ini membludak di AS
> dan Inggris. Tapi didemo partai Hindu militan di India. Kekerasan
> minoritas muslim di India sering terjadi//
>
> Oleh: Amran Nasution
>
> Hidayatullah.com--My Name Is Khan adalah film India biasa, berkisah tentang
> percintaan manusia. Ini adalah love story.
> Tapi alur cerita serta setting yang melatari cerita --kota San
> Francisco, Amerika Serikat, setelah dua menara kembar WTC rubuh
> diserang teroris, 11 September 2001-- menyebabkan film ini berbeda.
>
> My Name Is Khan
> praktis menjadi media memberitahukan dunia apa yang sesungguhnya
> terjadi di Amerika Serikat setelah 11 September. Lebih dari itu, film
> ini mengungkap derita kaum muslim Amerika Serikat setelah serangan
> teror World Trade Center (WTC), New York, sesuatu yang selama ini tak
> banyak diketahui publik dunia, termasuk masyarakat Indonesia.
>
> Mereka
> jadi korban fitnah, dituduh teroris oleh polisi atau FBI. Banyak yang
> ditangkap, diperiksa dengan siksaan, untuk kemudian dilepaskan karena
> tak ada bukti. Itu masih belum apa-apa. Tak terhitung jumlah muslim
> menjadi korban pengeroyokan atau penganiayaan dari orang-orang Amerika
> yang marah di jalan-jalan. Para wanita dilecehkan, dibuka paksa
> jilbabnya. Banyak rumah atau properti milik muslim dijarah atau
> dirusak. Semua itu rasis. Bagaimana tidak?
>
> Ada segerombolan
> orang Arab dipimpin Usamah Bin Ladin, dituduh melakukan teror dengan
> menubrukkan pesawat terbang ke gedung World Trade Center. Akibatnya,
> dua menara kembar rubuh, dan sekitar 3000 orang di dalamnya tewas.
> Peristiwa ini amat mengerikan.
>
> Tapi mengapa yang jadi korban
> pembalasan adalah umat Islam Amerika Serikat -- berjumlah sekitar 7
> juta di antara 300 juta penduduk-- yang tak tahu menahu peristiwa teror
> itu? Jelas ini terjadi akibat sikap rasisme yang masih bersemayam di
> lubuk hati banyak orang Amerika Serikat. Sikap inilah dulu yang
> menyebabkan terjadi pemusnahan (ethnic cleansing) terhadap orang Indian di
> Benua Amerika, atau perbudakan selama ratusan tahun terhadap orang kulit
> hitam dari Afrika.
>
> Perlakuan
> rasis kepada muslim setelah 11 September memang memalukan. Soalnya,
> Amerika Serikat selama ini selalu ditonjolkan sebagai negara kampiun
> demokrasi, pendukung persamaan hak, dan pelindung hak asasi manusia.
> Padahal melalui My Name Is Khan telah dipertontonkan betapa
> jelek Amerika Serikat setelah Peristiwa 11 September. Polisinya jelek,
> wartawannya jelek, tetangganya jelek, bahkan remajanya pun jelek. Semua
> tak bersahabat. Semua penuh kebencian dan rasis.
>
> Tetap Terasa India
>
> Di atas sudah disebutkan, My Name Is Khan adalah kisah love story
> yang romantik. Sebagaimana kebanyakan film Bollywood, ia kemudian
> menjadi melankolis, dengan adegan-adegan yang menguras air mata, untuk
> akhirnya diselesaikan dengan happy ending.
>
> Film ini
> bercerita tentang seorang pemuda muslim asal Mumbai, India, bernama
> Rizwan Khan, diperankan Shah Rukh Khan (aktor paling top dunia saat
> ini), pergi merantau ke San Francisco. Kedatangannya ke Amerika
> Serikat atas sponsor adik kandungnya, Zakir, yang sudah lebih dulu
> menetap di sana, dan sukses.
>
> Rizwan menderita Asperger's syndrome,
> sejenis penyakit autis yang lebih ringan. Hal itu membuatnya tampak
> beda dengan manusia lain. Ia genius, mampu menghitung angka-angka yang
> rumit, bisa memperbaiki nyaris semua jenis mesin, tapi kesulitan
> berinteraksi dengan tempat atau orang baru. Ia amat takut warna kuning.
>
> Atas
> bantuan Zakir, Rizwan bekerja menjadi pramuniaga produk herbal untuk
> kecantikan. Semua berjalan lancar. Rizwan, Zakir dan istrinya, Haseena,
> seorang psikolog yang memakai jilbab, tampak hidup rukun. Mereka taat
> beribadah.
>
> Dalam pekerjaannya, Rizwan berkenalan dengan seorang
> perawat kecantikan, Mandira, diperankan artis nomor 1 India, Kajol
> Devgan. Janda yang ditinggalkan suaminya ini memiliki satu anak, Sameer
> alias Sam.
>
> Rizwan dan Mandira saling jatuh hati lalu menikah dan
> menetap di luar San Francisco. Di tempat itu mereka mengusahakan salon
> kecantikan kecil. Mandira maupun Sameer menambahkan Khan di belakang
> nama mereka. Keluarga ini akrab dengan tetangganya, Mark, seorang
> wartawan, tinggal bersama istrinya Sarah dan anaknya Reese.
>
> Semua berbunga-bunga. Hanya saja beda dengan film India biasanya, tak ada
> adegan tari dan nyanyi di dalam My Name Is Khan. Sebagai ganti, sejumlah
> lagu dijadikan ilustrasi untuk menghiasi adegan tertentu. Dengan demikian
> film ini tetap terasa India.
>
> Kemudian
> terjadilah peristiwa 11 September celaka itu. Mark, tetangga mereka
> yang wartawan, ditugaskan meliput perang di Afghanistan. Ia terbunuh di
> sana. Sejak itu, sang anak, Reese, teman akrab Sameer, berubah menjadi
> musuh. Karena namanya, Sameer rupanya dianggap orang Afghanistan.
>
> Haseena
> dikeroyok sejumlah lelaki hanya karena memakai jilbab. Trauma pada
> kejadian itu ia sempat melepas jilbab untuk sekian lama. Penduduk
> muslim lainnya mengalami nasib serupa: toko dirusak, rumah ditimpuk,
> atau orangnya dikeroyok. Malah tak sedikit orang India penganut Sikh –
> yang memakai serban di kepala – jadi korban karena disangka orang
> Afghanistan dan Muslim. Jadi sekali lagi, semua ini menggambarkan
> betapa sikap rasis masih berkembang subur di dalam masyarakat Amerika
> Serikat.
>
> Nasib paling parah diterima Sameer. Diawali
> pertengkaran dengan Reese, ia dikeroyok sejumlah remaja bule hanya
> karena kulitnya hitam. Sebenarnya Reese mencoba menyelamatkan Sameer,
> tapi tak berhasil. Dalam keadaan sekarat Sameer sempat dibawa ke rumah
> sakit namun nyawanya tak tertolong.
>
> Rizwan sedih sekali atas
> nasib putra tirinya. Tapi yang terguncang adalah sang ibu, Mandira. Ia
> anggap ''bencana'' yang menimpa mereka karena nama Khan. Maka Rizwan
> sebagai biang bencana diusirnya. Ia perintahkan Rizwan mengatakan
> kepada orang Amerika, termasuk Presiden Amerika Serikat: bahwa namanya
> Khan, tapi ia bukan teroris (My name is Khan, and I am not a terrorist).
>
> Rizwan
> pun ikhlas melakukannya. Ia mengembara seorang diri. Dalam
> pengembaraan, ia berhasil menghadiri sebuah acara terbuka yang dihadiri
> Presiden George W. Bush. Dengan susah-payah ia coba mendekati Presiden
> sembari terus berteriak: My name is Khan, I am not a terrorist. Belum
> sempat teriakan itu didengar Bush, para pengawal meringkusnya. Ia dicurigai
> sebagai teroris.
>
> Apa
> yang ia alami kemudian sungguh menyakitkan: ia dimasukkan ke ruangan
> bersuhu panas, lalu dipindah ke ruangan yang amat dingin. Berbagai
> siksaan lain harus ia terima. Agaknya film ini mengadopsi cara-cara
> badan intelijen Amerika, CIA, memperlakukan tahanan di berbagai
> penjara rahasia yang bisa dibaca di berbagai buku atau koran. Toh
> akhirnya Rizwan harus dibebaskan karena tak terbukti sebagai teroris.
> Itu juga berkat bantuan tiga wartawan India.
>
> Nama Rizwan
> kemudian melambung menjadi pahlawan di televisi karena menyelamatkan
> penduduk sebuah desa di Georgia yang diterjang banjir. Kebetulan
> penduduk desa itu orang kulit hitam dan sama sekali tak beroleh bantuan
> atau pertolongan dari mana pun, termasuk dari pemerintah. Setelah
> berita ramai di televisi, bantuan datang dari orang-orang muslim yang
> dikoordinasikan Haseena dan suaminya, Zakir.
>
> Adegan ini
> tampaknya diilhami tragedi banjir bandang di New Orleans, Louisiana,
> akibat badai Katrina pada 2005. Peristiwa ini merupakan salah satu
> bencana alam terbesar di Amerika Serikat – dengan hampir 2000 korban
> jiwa. Mayoritas korban adalah masyarakat kulit hitam dan berhari-hari
> tak dapat bantuan dari pemerintah. Peristiwa ini menyebabkan Presiden
> Bush dikecam keras oleh terutama masyarakat kulit berwarna Amerika
> Serikat.
>
> Pembunuhan Muslim Gujarat
>
> Akhirnya happy
> ending itu tiba. Mandira terhibur setelah polisi menangkap para remaja
> yang membunuh anaknya, berkat kesaksian Reese yang terus tersiksa oleh
> rasa bersalah atas tragedi itu. Mandira pun mencari Rizwan ke Georgia.
> Mereka berdua menghadiri sebuah acara pertemuan Presiden Barack Obama
> yang baru terpilih menggantikan George Bush, dengan para pendukungnya.
>
> Mereka berhasil bertemu dengan Presiden baru itu. "Namamu Khan dan kau
> bukan teroris (Your name is Khan and you are not a terrorist),''
> ujar Obama kepada Rizwan di hadapan ribuan hadirin. Dengan pengakuan
> Obama, maka selesailah tugas pengembaraan Rizwan seperti diperintahkan
> Mandira. Setidaknya dia telah membuktikan bahwa tak semua Muslim itu
> teroris. Kedua sejoli pun kembali bersama.
>
> My Name Is Khan
> dirilis pertama kali di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 10 Februari lalu.
> Dua hari kemudian film ini beredar di Eropa, Amerika Serikat, Kanada,
> Australia, dan bagian dunia lainnya, termasuk di India atau Indonesia.
> Di berbagai tempat film ini dikabarkan memecahkan rekor penonton film
> India, seperti di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. My Name Is Khan
> hanya
> tambah memperkuat dominasi Bollywood – pusat perfilman India di Mumbai
> -- atas perfilman dunia sekarang, setelah mengungguli Hollywood.
>
> The New York Times,
> 13 Februari lalu, dalam resensinya menyebutkan adalah menarik melihat
> Amerika melalui lensa Bollywood, sekali pun yang diceritakan cuma
> dongeng. Misalnya, yang paling mengesankan dari film itu tentang
> hubungan antara orang muslim (India) dengan orang kulit hitam Georgia.
> "Khan dengan mudah memancing air mata, sembari mengajarkan tentang
> Islam dan toleransi," tulis koran utama Amerika Serikat itu.
>
> Toleransi? Kata-kata itu kian sulit dipraktikkan sekarang. Di India
> sendiri, My Name Is Khan beredar
> di tengah ancaman kekerasan dari para pendukung Shiv Sena, partai Hindu
> radikal yang sangat anti-Islam. Shiv Sena berarti bala tentara Shivaji,
> Raja Hindu yang dulu berperang melawan kekuasaan Imperium Moghul yang
> Islam, yang menguasai India di abad ke-16 sampai tengah abad ke-19.
>
> Sejumlah gedung bioskop tak berani memutar My Name Is Khan.
> Ketika film ini dirilis di Mumbai, 12 Februari lalu, ribuan polisi
> terpaksa dikerahkan mengawal gedung bioskop dari aksi Shiv Sena.
> Kelompok itu sempat menurunkan pamplet dan poster film dari berbagai
> gedung. Guna mengamankan pemutaran film sekitar dua ribu pendukung
> partai radikal itu terpaksa diamankan polisi.
>
> Sebenarnya aksi
> Shiv Sena, menurut banyak pengamat, berfokus pada pemeran utama film
> itu, Shah Rukh Khan, aktor paling top India yang kebetulan beragama
> Islam. Akhir bulan lalu, Shah Rukh Khan yang memiliki klub kriket
> mempertanyakan daftar para pemain liga primer India yang tak
> mencantumkan satu pun pemain asal Pakistan. Padahal banyak pemain
> Pakistan masuk kelas pemain terbaik dunia.
>
> Pernyataan Khan
> membuat marah pemimpin utama Shiv Sena, Uddhav Thackeray, mantan
> karikaturis yang sudah berusia 84 tahun. Di mata Thackeray, itu sebagai
> bukti bahwa artis yang sering digelari King Khan ini, sama sekali tak
> peduli pada serangan teroris dari Pakistan di Mumbai pada 2008.
> Thackeray menuntut Khan harus minta maaf secara terbuka. Khan menolak
> karena merasa tak bersalah.
>
> Ketika Shiv Sena beraksi di Mumbai, Khan yang oleh Majalah Newsweek dipilih
> sebagai salah satu dari 20 tokoh paling berpengaruh dunia, sedang
> berkeliling di luar negeri mempromosikan filmnya. Melalui twitter, Khan
> menulis bahwa ia tak ingin filmnya mengganggu suasana kota
> kelahirannya. "Saya harap perdamaian menang dan kota dalam keadaan
> tenang,'' tulisnya. Untuk diketahui penduduk muslim yang berjumlah
> 140-an juta di antara 1 milyar penduduk India, sering kali menjadi
> korban kekerasan kelompok mayoritas Hindu.
>
> Di Mumbai, misalnya,
> di tahun 1993 meletus kerusuhan anti-Islam yang antara lain dikobarkan
> Partai Shiv Sena. Pada tahun 2002, merebak kerusuhan anti-Islam di
> Gujarat selama beberapa bulan, menyebabkan 2000-an muslim terbunuh.
>
> Seperti dideskripsikan Profesor Martha Nussbaum, pakar hukum dan etik dari
> University of Chicago di dalam bukunya The Clash Within
> (Harvard University Press, 2008), pembunuhan kaum muslim di Gujarat
> oleh kelompok radikal Hindu amat kejam. Yang dibantai bukan hanya
> wanita dan anak-anak, tapi orok dalam kandungan. Wanita hamil
> dikeluarkan oroknya, lantas dilemparkan ke tengah kobaran api.
> Pemerkosaan terhadap wanita muslim banyak terjadi. Setelah diperkosa
> mereka juga dibuang ke api menyala.
>
> Yang lebih parah, kerusuhan
> ini melibatkan institusi polisi, intelijen, atau birokrat Hindu, bahkan
> buku tadi menyebut nama Ketua Menteri Negara Bagian Gujarat, Narendra
> Modi, dari partai Hindu, Bharatiya Janata (BJP). Banyak bukti
> ditemukan, seperti foto-foto atau rekaman video, yang menunjukkan
> keterlibatan Bajrang Dal, paramiliter kelompok sayap kanan Hindu, dalam
> pembantaian sadistis itu.
>
> Setelah kerusuhan, banyak properti
> milik Muslim yang ditinggalkan, diambil alih orang-orang Hindu. Itulah
> yang terjadi di India, yang sering dibanggakan sebagai negeri
> demokratis. Dalam salah satu artikel yang ditulisnya, Profesor Nussbaum
> menyesalkan peristiwa pembantaian Gujarat kurang mendapat liputan pers
> internasional. Seakan-akan karena korbannya orang Islam, bisa dibiarkan
> begitu saja. [www.hidayatullah.com]
>
> Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini, bergabung dengan IPS
> (Institute for Policy Studies) Jakarta
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
wanita-muslimah-digest@yahoogroups.com
wanita-muslimah-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/






0 comments:
Post a Comment