Advertising

Thursday, 4 March 2010

[wanita-muslimah] My Name Is Khan dan Derita Muslim Versi Bollywood

 



Sumber: http://www.hidayatullah.com/kolom/sudut-pandang/10930?task=viewDerita Muslim Versi Bollywood




Wednesday, 03 March 2010 13:35












//Film tentang nasib umat Islam pasca 11 September ini membludak di AS
dan Inggris. Tapi didemo partai Hindu militan di India. Kekerasan
minoritas muslim di India sering terjadi//

Oleh: Amran Nasution

Hidayatullah.com--My Name Is Khan adalah film India biasa, berkisah tentang percintaan manusia. Ini adalah love story.
Tapi alur cerita serta setting yang melatari cerita --kota San
Francisco, Amerika Serikat, setelah dua menara kembar WTC rubuh
diserang teroris, 11 September 2001-- menyebabkan film ini berbeda.

My Name Is Khan
praktis menjadi media memberitahukan dunia apa yang sesungguhnya
terjadi di Amerika Serikat setelah 11 September. Lebih dari itu, film
ini mengungkap derita kaum muslim Amerika Serikat setelah serangan
teror World Trade Center (WTC), New York, sesuatu yang selama ini tak
banyak diketahui publik dunia, termasuk masyarakat Indonesia.

Mereka
jadi korban fitnah, dituduh teroris oleh polisi atau FBI. Banyak yang
ditangkap, diperiksa dengan siksaan, untuk kemudian dilepaskan karena
tak ada bukti. Itu masih belum apa-apa. Tak terhitung jumlah muslim
menjadi korban pengeroyokan atau penganiayaan dari orang-orang Amerika
yang marah di jalan-jalan. Para wanita dilecehkan, dibuka paksa
jilbabnya. Banyak rumah atau properti milik muslim dijarah atau
dirusak. Semua itu rasis. Bagaimana tidak?

Ada segerombolan
orang Arab dipimpin Usamah Bin Ladin, dituduh melakukan teror dengan
menubrukkan pesawat  terbang ke gedung World Trade Center. Akibatnya,
dua menara kembar rubuh, dan sekitar 3000 orang di dalamnya tewas.
Peristiwa ini amat mengerikan.

Tapi mengapa yang jadi korban
pembalasan adalah  umat Islam Amerika Serikat -- berjumlah sekitar 7
juta di antara 300 juta penduduk-- yang tak tahu menahu peristiwa teror
itu? Jelas ini terjadi akibat sikap rasisme yang masih bersemayam di
lubuk hati banyak orang Amerika Serikat. Sikap inilah dulu yang
menyebabkan terjadi pemusnahan (ethnic cleansing) terhadap orang Indian di Benua Amerika, atau perbudakan selama ratusan tahun terhadap orang kulit hitam dari Afrika.

Perlakuan
rasis kepada muslim setelah 11 September memang memalukan. Soalnya,
Amerika Serikat selama ini selalu ditonjolkan sebagai negara kampiun
demokrasi, pendukung persamaan hak, dan pelindung hak asasi manusia.
Padahal melalui My Name Is Khan telah dipertontonkan betapa
jelek Amerika Serikat setelah Peristiwa 11 September. Polisinya jelek,
wartawannya jelek, tetangganya jelek, bahkan remajanya pun jelek. Semua
tak bersahabat. Semua penuh kebencian dan rasis.

Tetap Terasa India

Di atas sudah disebutkan, My Name Is Khan adalah kisah love story
yang romantik. Sebagaimana kebanyakan film Bollywood, ia kemudian
menjadi melankolis, dengan adegan-adegan yang menguras air mata, untuk
akhirnya  diselesaikan dengan happy ending.

Film ini
bercerita tentang seorang pemuda muslim asal Mumbai, India, bernama
Rizwan Khan, diperankan Shah Rukh Khan (aktor paling top dunia saat
ini), pergi merantau ke San Francisco.  Kedatangannya ke Amerika
Serikat atas sponsor adik kandungnya, Zakir, yang sudah lebih dulu
menetap di sana, dan sukses.

Rizwan menderita Asperger's syndrome,
sejenis penyakit autis yang lebih ringan. Hal itu membuatnya tampak
beda dengan manusia lain. Ia genius, mampu menghitung angka-angka yang
rumit, bisa memperbaiki nyaris semua jenis mesin, tapi kesulitan
berinteraksi dengan tempat atau orang baru. Ia amat takut warna kuning.

Atas
bantuan Zakir, Rizwan bekerja menjadi pramuniaga produk herbal untuk
kecantikan. Semua berjalan lancar. Rizwan, Zakir dan istrinya, Haseena,
seorang psikolog yang memakai jilbab, tampak hidup rukun. Mereka taat
beribadah.

Dalam pekerjaannya, Rizwan berkenalan dengan seorang
perawat kecantikan, Mandira, diperankan artis nomor 1 India, Kajol
Devgan. Janda yang ditinggalkan suaminya ini memiliki satu anak, Sameer
alias Sam.

Rizwan dan Mandira saling jatuh hati lalu menikah dan
menetap di luar San Francisco. Di tempat itu mereka mengusahakan salon
kecantikan kecil. Mandira maupun Sameer menambahkan Khan di belakang
nama mereka. Keluarga ini akrab dengan tetangganya, Mark, seorang
wartawan, tinggal bersama istrinya Sarah dan anaknya Reese.

Semua berbunga-bunga. Hanya saja beda dengan film India biasanya, tak ada adegan tari dan nyanyi di dalam  My Name Is Khan. Sebagai ganti, sejumlah lagu dijadikan ilustrasi untuk menghiasi adegan tertentu. Dengan demikian film ini tetap terasa India.

Kemudian
terjadilah peristiwa 11 September celaka itu.  Mark, tetangga mereka
yang wartawan, ditugaskan meliput perang di Afghanistan. Ia terbunuh di
sana. Sejak itu, sang anak, Reese, teman akrab Sameer, berubah menjadi
musuh. Karena namanya, Sameer rupanya dianggap orang Afghanistan.

Haseena
dikeroyok sejumlah lelaki hanya karena memakai jilbab. Trauma pada
kejadian itu ia sempat melepas jilbab untuk sekian lama. Penduduk
muslim lainnya mengalami nasib serupa: toko dirusak, rumah ditimpuk,
atau orangnya dikeroyok. Malah tak sedikit orang India penganut Sikh –
yang memakai serban di kepala – jadi korban karena disangka orang
Afghanistan dan Muslim. Jadi sekali lagi, semua ini menggambarkan
betapa sikap rasis masih berkembang subur di dalam masyarakat Amerika
Serikat.

Nasib paling parah diterima Sameer. Diawali
pertengkaran dengan Reese, ia dikeroyok sejumlah remaja bule hanya
karena kulitnya hitam. Sebenarnya Reese mencoba menyelamatkan Sameer,
tapi tak berhasil. Dalam keadaan sekarat Sameer sempat dibawa ke rumah
sakit namun nyawanya tak tertolong.

Rizwan sedih sekali atas
nasib putra tirinya. Tapi yang terguncang adalah sang ibu, Mandira. Ia
anggap ''bencana'' yang menimpa mereka karena nama Khan.  Maka Rizwan
sebagai biang bencana diusirnya. Ia perintahkan Rizwan mengatakan
kepada orang Amerika, termasuk Presiden Amerika Serikat:  bahwa namanya
Khan, tapi ia bukan teroris (My name is Khan, and I am not a terrorist).

Rizwan
pun ikhlas melakukannya. Ia mengembara seorang diri. Dalam
pengembaraan, ia berhasil menghadiri sebuah acara terbuka yang dihadiri
Presiden George W. Bush. Dengan susah-payah ia coba mendekati Presiden
sembari terus berteriak: My name is Khan, I am not a terrorist. Belum sempat teriakan itu didengar Bush, para pengawal meringkusnya. Ia dicurigai sebagai teroris.

Apa
yang ia alami kemudian sungguh menyakitkan: ia dimasukkan ke ruangan
bersuhu panas, lalu dipindah ke ruangan yang amat dingin. Berbagai
siksaan lain harus ia terima. Agaknya film ini mengadopsi cara-cara
badan intelijen Amerika, CIA, memperlakukan tahanan di  berbagai
penjara rahasia yang bisa dibaca di berbagai buku atau koran. Toh
akhirnya Rizwan harus dibebaskan karena tak terbukti sebagai teroris.
Itu juga berkat bantuan tiga wartawan India.

Nama Rizwan
kemudian melambung menjadi pahlawan di televisi karena menyelamatkan
penduduk sebuah desa di Georgia yang diterjang banjir. Kebetulan
penduduk desa itu orang kulit hitam dan sama sekali tak beroleh bantuan
atau pertolongan dari mana pun, termasuk dari pemerintah. Setelah
berita ramai di televisi, bantuan datang dari orang-orang muslim yang
dikoordinasikan Haseena dan suaminya, Zakir.

Adegan ini
tampaknya diilhami tragedi banjir bandang di New Orleans, Louisiana,
akibat badai Katrina pada 2005. Peristiwa ini merupakan salah satu
bencana alam terbesar di Amerika Serikat  – dengan hampir 2000 korban
jiwa. Mayoritas korban adalah masyarakat kulit hitam dan berhari-hari
tak dapat bantuan dari pemerintah. Peristiwa ini menyebabkan Presiden
Bush dikecam keras oleh terutama masyarakat kulit berwarna Amerika
Serikat.

Pembunuhan Muslim Gujarat

Akhirnya happy
ending itu tiba. Mandira terhibur setelah polisi menangkap para remaja
yang membunuh anaknya, berkat kesaksian Reese yang terus tersiksa oleh
rasa bersalah atas tragedi itu. Mandira pun mencari Rizwan ke Georgia.
Mereka berdua menghadiri sebuah acara pertemuan Presiden Barack Obama
yang baru terpilih menggantikan George Bush, dengan para pendukungnya.

Mereka berhasil bertemu dengan Presiden baru itu. "Namamu Khan dan kau bukan teroris (Your name is Khan and you are not a terrorist),''
ujar Obama kepada Rizwan di hadapan ribuan hadirin. Dengan pengakuan
Obama, maka selesailah tugas pengembaraan Rizwan seperti diperintahkan
Mandira. Setidaknya dia telah membuktikan bahwa tak semua Muslim itu
teroris. Kedua sejoli pun kembali bersama.

My Name Is Khan
dirilis pertama kali di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 10 Februari lalu.
Dua hari kemudian film ini beredar di Eropa, Amerika Serikat, Kanada,
Australia, dan bagian dunia lainnya, termasuk di India atau Indonesia.
Di berbagai tempat film ini dikabarkan memecahkan rekor penonton film
India, seperti di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. My Name Is Khan hanya
tambah memperkuat dominasi Bollywood – pusat perfilman India di Mumbai
-- atas perfilman dunia sekarang, setelah mengungguli Hollywood.

The New York Times,
13 Februari lalu, dalam resensinya menyebutkan adalah menarik melihat
Amerika melalui lensa Bollywood, sekali pun yang diceritakan cuma
dongeng. Misalnya, yang paling mengesankan dari film itu tentang
hubungan antara orang muslim (India) dengan orang kulit hitam Georgia.
"Khan dengan mudah memancing air mata, sembari mengajarkan tentang
Islam dan toleransi," tulis koran utama Amerika Serikat itu.

Toleransi? Kata-kata itu kian sulit dipraktikkan sekarang. Di India sendiri, My Name Is Khan beredar
di tengah ancaman kekerasan dari para pendukung Shiv Sena, partai Hindu
radikal yang sangat anti-Islam. Shiv Sena berarti bala tentara Shivaji,
Raja Hindu yang dulu berperang melawan kekuasaan Imperium Moghul yang
Islam, yang menguasai India di abad ke-16 sampai tengah abad ke-19.

Sejumlah gedung bioskop tak berani memutar My Name Is Khan.
Ketika film ini dirilis di Mumbai, 12 Februari lalu, ribuan polisi
terpaksa dikerahkan mengawal gedung bioskop dari aksi Shiv Sena.
Kelompok itu sempat menurunkan pamplet dan poster film dari  berbagai
gedung. Guna mengamankan pemutaran film sekitar dua ribu pendukung
partai radikal itu terpaksa diamankan polisi.

Sebenarnya aksi
Shiv Sena, menurut banyak pengamat, berfokus pada pemeran utama film
itu, Shah Rukh Khan, aktor paling top India yang kebetulan beragama
Islam. Akhir bulan lalu, Shah Rukh Khan yang memiliki klub kriket
mempertanyakan daftar para pemain liga primer India yang tak
mencantumkan satu pun pemain asal Pakistan. Padahal banyak pemain
Pakistan masuk kelas pemain terbaik dunia.

Pernyataan Khan
membuat marah pemimpin utama Shiv Sena, Uddhav Thackeray, mantan
karikaturis yang sudah berusia 84 tahun. Di mata Thackeray, itu sebagai
bukti bahwa artis yang sering digelari King Khan ini, sama sekali tak
peduli pada serangan teroris dari Pakistan di Mumbai pada 2008.
Thackeray menuntut Khan harus minta maaf secara terbuka. Khan menolak
karena merasa tak bersalah.

Ketika Shiv Sena beraksi di Mumbai, Khan yang oleh Majalah Newsweek dipilih sebagai salah satu dari 20 tokoh paling berpengaruh dunia, sedang
berkeliling di luar negeri mempromosikan filmnya. Melalui twitter, Khan
menulis bahwa ia tak ingin filmnya mengganggu suasana kota
kelahirannya. "Saya harap perdamaian menang dan kota dalam keadaan
tenang,'' tulisnya. Untuk diketahui penduduk muslim yang berjumlah
140-an juta di antara 1 milyar penduduk India, sering kali menjadi
korban kekerasan kelompok mayoritas Hindu.

Di Mumbai, misalnya,
di tahun 1993 meletus kerusuhan anti-Islam yang antara lain dikobarkan
Partai Shiv Sena. Pada tahun 2002, merebak kerusuhan anti-Islam di
Gujarat selama beberapa bulan, menyebabkan 2000-an muslim terbunuh.

Seperti dideskripsikan Profesor Martha Nussbaum, pakar hukum dan etik dari University of Chicago di dalam bukunya The Clash Within
(Harvard University Press, 2008), pembunuhan kaum muslim di Gujarat
oleh kelompok radikal Hindu amat kejam. Yang dibantai bukan hanya
wanita dan anak-anak, tapi orok dalam kandungan. Wanita hamil
dikeluarkan oroknya, lantas dilemparkan ke tengah kobaran api.
Pemerkosaan terhadap wanita muslim banyak terjadi. Setelah diperkosa
mereka juga dibuang ke api menyala.

Yang lebih parah, kerusuhan
ini melibatkan institusi polisi, intelijen, atau birokrat Hindu, bahkan
buku tadi menyebut nama Ketua Menteri Negara Bagian Gujarat, Narendra
Modi, dari partai Hindu, Bharatiya Janata (BJP). Banyak bukti
ditemukan, seperti foto-foto atau rekaman video, yang menunjukkan
keterlibatan Bajrang Dal, paramiliter kelompok sayap kanan Hindu, dalam
pembantaian sadistis itu.

Setelah kerusuhan, banyak properti
milik Muslim yang ditinggalkan, diambil alih orang-orang Hindu. Itulah
yang terjadi di India, yang sering dibanggakan sebagai negeri
demokratis. Dalam salah satu artikel yang ditulisnya, Profesor Nussbaum
menyesalkan peristiwa pembantaian Gujarat kurang mendapat liputan pers
internasional. Seakan-akan karena korbannya orang Islam, bisa dibiarkan
begitu saja. [www.hidayatullah.com]

Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini,  bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment