Advertising

Saturday, 25 September 2010

[wanita-muslimah] Hoegeng dan Pemilihan Kapolri

 

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=69902:hoegeng-dan-pemilihan-kapolri&catid=78:umum&Itemid=131

Hoegeng dan Pemilihan Kapolri
Oleh : Hendy Yang

"Ada dua polisi yang tidak bisa disuap: Hoegeng dan polisi tidur." Guyonan ini sering dilontarkan masyarakat sebagai rasa kekagumannya atas kredibilitas mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso (biasa disapa Hoegeng).

Pada masa-masa pemilihan calon Kapolri ini, banyak masyarakat memimpikan sosok kapolri selanjutnya akan sebersih, sejujur, dan seberani Hoegeng.

Hoegeng menjabat sebagai Kapolri pada (1968-1971). Beliau berada pada setengah decade pertama pemerintah Soeharto. Penganjur pertama penggunaan helm pada pemakai sepeda motor ini terkenal sebagai sosok yang jujur dan berintegritas.

Beliau memang telah tiada. Namun sosok yang jujur masih menduduki tempat dalam hati banyak masyarakat-termasuk saya. Saya masih terkesan akan sebuah cerita mengenai beliau. Suatu kala, ia mendapat penugasan sebagai kepala reskrim di Sumut. Wilayah ini menjadi suatu batu ujian bagi seorang polisi karena daerah ini terkenal dengan penyeludupan.

Hoegeng disambut dengan sebuah cara yang sangat unik. Beberapa cukong perjudian telah menyiapkan rumah dan mobil pribadi kepadanya. Saya membayangkan rumah tersebut pastilah sangat mewah-mungkin lengkap dengan kolam renang dan koki dari hotel bintang lima. Mobil hadiah tersebut pastilah sebuah mobil keluaran terbaru yang belum pernah melintas di jalan Sumut.

Jika saya menjadi Hoegeng, saya pun akan berpikir beberapa malam karena hadiah yang menggiurkan tersebut. Namun Hoegeng bukan saya-dan mungkin tidak punya pikiran seperti saya. Ia tahu sedang memakai baju apa-seragam kepala reskrim pastinya. Seragam yang tidak hanya melekat di badan semata namun berbeban tanggung jawab yang begitu besar.

Saya percaya, ia melihat tawaran para cukong judi tersebut sambil api kemarahan menyembul dari matanya. Tanpa berpikir beberapa malam-seperti saya-bahkan beberapa menit pun tak Hoegeng perlukan untuk menolak tawaran tersebut. Ia lebih memilih tinggal di hotel sebelum dapat rumah dinas.

Para cukong pun tak kenal menyerah. Mereka memenuhi rumah dinas Hoegeng dengan perabot-perabot mewah. Perabot-perabot yang mungkin mahal, antik, dan tiada duanya. Namun beliau kembali menolak dengan tegas. Saya dapat membayangkan kemarahannya, ketika ia mengeluarkan paksa perabot-perabot mewah tersebut kala ultimatum agar pemberi perabot untuk mengambil kembali perabot tersebut tak dihiraukan-pemulung kala itu pasti senang sekali. Wah, empat jempol buat Hoegeng.

Saya bisa membayangkan juga, para cukong itupun mungkin sempat mengimpor dara-dara cantik dari berbagai suku di Indonesia dan berbagai negara untuk disajikan kepada Kapolri. Jika saya sedang menonton film bercerita seperti ini, saya pasti akan menggerutu, "dia tak akan bisa menolak kali ini." Maklumlah wanita merupakan kelemahan terbesar banyak pria. Namun Hoegeng tampaknya menolak juga terbukti dia dapat memberangus para cukong tersebut.

Saya ingat satu kisah lagi. Suatu kala, ia sedang melintas di sebuah jalanan yang macet dengan menaiki mobil Polri 1. Jika melihat prilaku bos kebanyakan, seharusnya Hoegeng kala itu dapat marah dan memaki para bawahannya supaya mobilnya diberikan jalan untuk lewat.

Aneh bin ajaib, sikap Hoegeng kala itu mungkin takkan ada duanya lagi. Ia langsung turun dari mobilnya dan menuju perempatan jalan. Di perempatan jalan, ia bukannya memaki polisi yang sedang mengatur lalu lintas namun membantu polisi tersebut untuk melancarkan kembali jalan yang macet. Ia sedang mencontohkan bahwa seorang polisi, apapun jabatannya, merupakan seorang pembantu masyarakat.

Namun sayang, polisi seperti Hoegeng harus pensiun dini. Banyak menduga, pemberhentiannya karena polisi jujur ini hendak menangkap seorang penyeludup besar, yang buktinya sudah kuat di Polri. Ketika ia hendak melapor ke Cendana untuk melaporkan rencananya, ia kaget. Si penyeludup ternyata tengah berbincang dengan Pak Soeharto. Ia pun pernah menduga bahwa peristiwa itulah pemicu pemberhentiannya.

Ia pensiun tanpa membawa harta yang berarti. Pria kelahiran Pekalongan ini tak punya simpanan apa pun. Para kerabatnyalah yang bermurah hati menghadiahkannya rumah dan mobil-ia tak pernah meminta.

Huh, hati saya penuh sesak karena haru mengenang Hoegeng (Ini realita! Kalimat ini tak pernah saya rencanakan sebelumnya). Saya rasa momen pemilihan Kapolri yang baru merupakan saat yang tepat untuk kembali mengingat Pak Hoegeng. Realita adanya kapolri yang begitu jujur, bersih, dan berani di Indonesia membuat masyarakat dapat menaruh harap akan Kapolri yang baru nanti.

Apa yang harus masyarakat lakukan? Masyarakat harus turut serta berdoa agar Khalik memberikan seorang Kapolri yang menyerupai bahkan melebihi Hoegeng. Selanjutnya, masyarakat pun harus mengawal setiap proses pemilihan Kapolri. Jika ada ketidaksesuaian, masyarakat harus cepat membuat suatu opini publik agar menjadi sebuah kekuatan menolak cakapolri yang dianggap tidak layak.

Marilah kita sama-sama berharap agar Kapolri yang lebih jujur, bebas korupsi, dan berani membuat Indonesia makin jaya di mata dunia.***

Penulis adalah pemerhati Sosial Politik.


[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment