kok ngeyel terus...:-)
Dalam "KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA" tertulis: Alquran dan Alkitab.
Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
Monggo dilanjutken...:-)
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...> wrote:
>
> Dalam EYD mengenai Penulisan Kata di bawah memang justru yang ada hanya
> pemakaian kata sandang si dan sang., sedangkan sama sekali tidak ada
> mengenai Alquran.
>
> Wassalam
> HMNA
>
> Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
> Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan edisi kedua
> berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
> Nomor 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987, dicermatkan pada Rapat Kerja
> ke-30 Panitia Kerja Sama Kebahasaan di Tugu, tanggal 16-20 Desember 1990 dan
> diterima pada Sidang ke-30 Majelis Bahasa Brunei
> arussalam-Indonesia-Malaysia di Bandar Seri Begawan, tanggal 4-6 Maret 1991.
>
> Penulisan Kata
>
> A. Kata Dasar
> -------------
> Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
> Misalnya:
> Ibu percaya bahwa engkau tahu.
> Kantor pajak penuh sesak.
> Buku itu sangat tebal.
>
> B. Kata Turunan
> ---------------
> 1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata
>
> dasarnya.
> Misalnya:
> . bergeletar
> . dikelola
> . penetapan
> . menengok
> . mempermainkan
> 2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis
>
> serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
> (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
> Misalnya:
> . bertepuk tangan
> . garis bawahi
> . menganak sungai
> . sebar luaskan
> 3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan
>
> akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
> (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
> Misalnya:
> . menggarisbawahi
> . menyebarluaskan
> . dilipatgandakan
> . penghancurleburan
> 4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,
>
> gabungan kata itu ditulis serangkai.
> Misalnya:
> adipati mahasiswa
> aerodinamika mancanegara
> antarkota multilateral
> anumerta narapidana
> audiogram nonkolaborasi
> awahama Pancasila
> bikarbonat panteisme
> biokimia paripurna
> caturtunggal poligami
> dasawarsa pramuniaga
> dekameter prasangka
> demoralisasi purnawirawan
> dwiwarna reinkarnasi
> ekawarna saptakrida
> ekstrakurikuler semiprofesional
> elektroteknik subseksi
> infrastruktur swadaya
> inkonvensional telepon
> introspeksi transmigrasi
> kolonialisme tritunggal
> kosponsor ultramodern
>
> Catatan:
> (1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf
>
> kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
> Misalnya:
> . non-Indonesia
> . pan-Afrikanisme
> (2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata
>
> yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
> Misalnya:
> Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
> Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
>
> C. Kata Ulang
> -------------
> Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
> Misalnya:
> anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang,
>
> biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara,
>
> lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang,
>
> porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan,
>
> menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang,
>
> bumiputra-bumiputra
>
> D. Gabungan Kata
> ----------------
> 1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah
>
> khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
> Misalnya:
> duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja
>
> tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang
>
> empat.
> 2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan
>
> kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan
>
> pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
> Misalnya:
> alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung
> tangan,
>
> ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda
> 3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
> Misalnya:
> acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana,
> barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra,
> daripada,
> darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata,
> kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi,
> matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna,
> radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala,
> segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar,
> titimangsa, wasalam
>
> E. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
> ----------------------------------
> Kata ganti ku ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan
>
> nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
> Misalnya:
> Apa yang kumiliki boleh kauambil.
> Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
>
> F. Kata Depan di, ke, dan dari
> ------------------------------
> Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya
> kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata
> seperti kepada dan daripada.
> (Lihat juga Bab III, Pasal D, Ayat 3.)
> Misalnya:
> Kain itu terletak di dalam lemari.
> Bermalam sajalah di sini.
> Di mana Siti sekarang?
> Mereka ada di rumah.
> Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
> Ke mana saja ia selama ini?
> Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
> Mari kita berangkat ke pasar.
> Saya pergi ke sana-sini mencarinya.
> Ia datang dari Surabaya kemarin.
> Catatan:
> Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai.
> Si Amin lebih tua daripada si Ahmad.
> Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
> Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
> Ia masuk, lalu keluar lagi.
> Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.
> Bawa kemari gambar itu.
> Kemarikan buku itu.
> Semua orang terkemuka di desa itu hadir dalam kenduri itu.
>
> G. Kata si dan sang
> -------------------
> Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
> Misalnya:
> Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
> Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.
>
> H. Partikel
> -----------
> 1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang
>
> mendahuluinya.
> Misalnya:
> Bacalah buku itu baik-baik.
> Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.
> Apakah yang tersirat dalam surat itu?
> Siapakah gerangan dia?
> Apatah gunanya bersedih hati?
> 2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
> Misalnya:
> Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
> Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
> Jangan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
> Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.
> Catatan:
> Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun,
>
> bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun,
>
> sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
> Misalnya:
> Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
> Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
> Baik para mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi.
> Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
> Walaupun miskin, ia selalu gembira.
> 3. Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis
>
> terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
> Misalnya:
> Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
> Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
> Harga kain itu Rp 2.000 per helai.
>
> I. Singkatan dan Akronim
> ------------------------
> 1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf
>
> atau lebih.
> a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau
>
> pangkat diikuti dengan tanda titik.
> Misalnya:
>
> A.S. Kramawijaya
> Muh. Yamin
> Suman Hs.
> Sukanto S.A.
> M.B.A. master of business administration
> M.Sc. master of science
> S.E. sarjana ekonomi
> S.Kar. sarjana karawitan
> S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
> Bpk. bapak
> Sdr. saudara
> Kol. kolonel
>
> b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan
> atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata
> ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
> Misalnya:
>
> DPR Dewan Perwakilan Rakyat
> PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
> GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara
> SMTP Sekolah Menengah Tingkat Pertama
> PT Perseroan Terbatas
> KTP Kartu Tanda Penduduk
>
> c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu
>
> tanda titik.
> Misalnya:
>
> dll. dan lain-lain
> dsb. dan sebagainya
> dst. dan seterusnya
> hlm. halaman
> sda. sama dengan atas
> Yth. (Sdr. Moh. Hasan) Yang terhormat (Sdr. Moh. Hasan)
>
> Tetapi:
> a.n. atas nama
> d.a. dengan alamat
> u.b. untuk beliau
> u.p. untuk perhatian
> s.d. sampai dengan
>
> d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata
>
> uang tidak diikuti tanda titik.
> Misalnya:
>
> Cu kuprum
> TNT trinitrotoluen
> cm sentimeter
> kVA kilovolt-ampere
> l liter
> kg kilogram
> Rp (5.000,00) (lima ribu) rupiah
>
>
> 2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan
>
> suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang
>
> diperlakukan sebagai kata.
> a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret
>
> kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
> Misalnya:
>
> ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
> LAN Lembaga Administrasi Negara
> PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
> IKIP Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
> SIM Surat Izin Mengemudi
>
> b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf
>
> dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
> Misalnya:
>
> Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
> Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
> Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia
> Kowani Kongres Wanita Indonesia
> Sespa Sekolah Staf Pimpinan Administrasi
>
> c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata,
>
> ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis
>
> dengan huruf kecil
> Misalnya:
>
> pemilu pemilihan umum
> radar radio detecting and ranging
> rapim rapat pimpinan
> rudal peluru kendali
> tilang bukti pelanggaran
>
>
> Catatan:
> Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat
>
> berikut:
> 1. Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazin
>
> pada kata Indonesia
> 2. Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan
>
> konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
>
> J. Angka dan Lambang Bilangan
> -----------------------------
> 1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam
>
> tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
> Angka Arab : ?,?,?,?,?,?,?,?,?,?
> Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C
>
> (100), D (500), M (1.000)
> Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.
> 2. Angka digunakan untuk menyatakan:
> (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi (ii) satuan waktu (iii) nilai uang,
>
> dan (iv) kuantitas
> Misalnya:
> 0,5 sentimeter
> 5 kilogram
> 4 meter persegi
> 10 liter 1 jam 20 menit
> pukul 15.00
> tahun 1928
> 17 Agustus 1945 Rp5.000,00
> US$3.50*
> $5.10*
> ¥100
> 2.000 rupiah 50 dolar Amerika
> 10 paun Inggris
> 100 yen
> 10 persen
> 27 orang
> * tanda titik di sini merupakan tanda desimal.
> 3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen,
>
> atau kamar pada alamat.
> Misalnya:
> . Jalan Tanah Abang I No. 15
> . Hotel Indonesia, Kamar 169
> 4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab
>
> suci.
> Misalnya:
> . Bab X, Pasal 5, halaman 252
> . Surah Yasin: 9
> 5. Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai
>
> berikut:
> a. Bilangan utuh
> Misalnya:
> dua belas
> dua puluh dua
> dua ratus dua puluh dua 12
> 22
> 222
>
> b. Bilangan pecahan
> Misalnya:
> setengah
> tiga perempat
> seperenam belas
> tiga dua pertiga
> seperseratus
> satu persen
> satu dua persepuluh 1/2
> 3/4
> 1/16
> 3 2/3
> 1/100
> 1%
> 1,2
>
> 6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang
>
> berikut.
> Misalnya:
> . Paku Buwono X
> . pada awal abad XX
> . dalam kehidupan pada abad ke-20 ini
> . lihat Bab II, Pasal 5
> . dalam bab ke-2 buku itu . di daerah tingkat II itu
> . di tingkat kedua gedung itu
> . di tingkat ke-2 itu
> . kantornya di tingkat II itu
>
> 7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti
> Misalnya:
> tahun '50-an
> uang 5000-an
> lima uang 1000-an (tahun lima puluhan)
> (uang lima ribuan)
> (lima uang seribuan)
>
> 8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata
>
> ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara
>
> berurutan, sperti dalam perincian dan pemaparan.
> Misalnya:
> Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
> Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
> Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan
>
> 5 orang memberikan suara blangko.
> Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100
>
> helicak, 100 bemo.
> 9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu,
>
> susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan
>
> satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
> Misalnya:
> Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
> Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
> Bukan:
> 15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
> Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
> 10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian
>
> supaya lebih mudah dibaca.
> Misalnya:
> Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
> Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
> 11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam
>
> teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
> Misalnya:
> Kantor kami mempunya dua puluh orang pegawai.
> DI lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
> Bukan:
> Kantor kamu mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
> Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
> 12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus
>
> tepat.
> Misalnya:
> Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan
>
> puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).
> Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan
> puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "chodjim" <chodjim@...>
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> Sent: Monday, January 10, 2011 07:18
> Subject: Re: Bls: Bls: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI
>
> Hasil dari EYD kan sudah dibakukan di kamus bahasa Indonesia. Jika Abah
> masih ragu menuliskan suatu kata benar atau tidak, bisa dirujukkan pada
> kamus bahasa Indonesia. Oleh karena itu, silakan menelusuri KBBI, atau Kamus
> Bahasa Indonesia oleh J. Badudu. Bila Abah menemukan penulisan Al-Kitab dan
> Al-Quran, bisa di-"sharing"-kan di milis WM ini dengan menunjukkan KBBI
> edisi dan tahunnya.
>
> Wassalam,
>
> chodjim
>
>
> ----- Original Message -----
> From: H. M. Nur Abdurahman
> To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Sent: Sunday, January 09, 2011 12:00 AM
> Subject: Re: Bls: Bls: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI
>
>
>
> Ejaan yang benar tentang penulisan Alkitab seharusnya Al-Kitab itu menurut
> siapa, Abah? Berdasarkan EYD, Al-Quran harus ditulis Alquran, dan Al-Kitab
> harus ditulis Alkitab.
> ************************************************
> HMNA:
> Itu menurut ejaan yang baku di pesantren. Dan menurut Pedoman Umum Ejaan
> Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), kata sandang si dan sang ditulis
> terpisah dari kata yang mengikutinya. Ma'rifah Al tergolong dalam kata
> sndang. Jadi Al harus ditulis terpisah dari Quran, Kitab dll. Saya tidak
> mendapatkan dalam EYD harus ditulis Alquran, dan Alkitab.
>
> Wassalam
> HMNA
>
> ----- Original Message -----
> From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> Sent: Sunday, January 09, 2011 14:34
> Subject: Re: Bls: Bls: Re: [wanita-muslimah] TUHAN YANG BAIK HATI
>
> Mohon maaf, Abah.
>
> Ejaan yang benar tentang penulisan Alkitab seharusnya Al-Kitab itu menurut
> siapa, Abah?
>
> Kita harus mengetahui bahwa ejaan yang benar adalah ejaan Bahasa Indonesia
> yang telah disempurnakan sebagai EYD sesuai keputusan yang sudah menjadi UU
> tentang ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Berdasarkan EYD,
> Al-Quran harus ditulis Alquran, dan Al-Kitab harus ditulis Alkitab.
>
> Wassalam,
>
> chodjim
>
> ----- Original Message -----
> From: H. M. Nur Abdurahman
> To: tahajjud_call@yahoogroups.com ; wanita-muslimah@yahoogroups.com ;
> Tadabbur@yahoogroups.com ; Sabili ; mayapadaprana@yahoogroups.com ;
> mangajiRN@yahoogroups.com ; Jamaah-Islamiyah@yahoogroups.com ;
> BUGINESE@yahoogroups.
> Sent: Saturday, January 08, 2011 8:48 PM
> Subject: [wanita-muslimah] Seri 956 Al-Quran dan Nama-namanya yang Lain
>
> BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
>
> WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
> [Kolom Tetap Harian Fajar]
> 956 Al-Quran dan Nama-namanya yang Lain
>
> Pertanyaan dari Muh.Amir
> Singkat saja pertanyaan saya Ustad: "Apa itu LAI dalam Seri 955, dimana
> tertulis: pengertian selamat dalam agama Kristen dapat disimak dari
> Perjanjian Baru: -- [LAI-Roma 10:9] dst."
>
> Wassalam,
> Muh. Amir
>
> Jawab:
> LAI itu adalah sebuah lembaga yang menterjemahkan Bible ke dalam bahasa
> Indonesia. Itu adalah singkatan dari: "Lembaga Alkitab Indonesia. Terkait
> dengan Alkitab yang dipakai LAI, sesungguhnya Alkitab menurut ejaan yang
> benar adalah Al-Kitab, sebagaimana juga Al-Quran yang umumnya dalam bahasa
> pers dieja dengan Alquran. Selama ini dalam semua Seri WAHYU DAN AKAL - IMAN
> DAN ILMU saya tuliskan Al-Quran, tetapi selalu diubah oleh Redaksi Fajar
> menjadi Alquran yaitu dengan gaya ejaan bahasa pers. Sesungguhnya Al-Kitab
> adalah nama lain dari Al-Quran. Asal tahu saja bahwa dalam Bible tidak ada
> disebutkan bahwa nama Kitab Suci tsb adalah Alkitab. Bahkan dalam Kitab Suci
> tsb tidak ada juga disebutkan bahwa nama Kitab Suci itu adalah Bible atau
> Bijbel. Berlainanan dengan Al-Quran dan nama-namanya yang lain ada
> dinyatakan nama-nama itu oleh ayat-ayatnya.
>
> Di bawah adalah daftar Al-Quran dan nama-namanya yang lain. Ayat-ayat di
> bawah cuma dikemukakan artinya saja, karena keterbatasan ruangan. Huruf
> ganda aa, ii dan uu dalam menuliskan nama-nama tsb dalam terjemahan
> maksudnya dipanjangkan membacanya. Di antara tanda [] adalah akar katanya
> yang terdiri dari tiga huruf dari nama-nama tsb.
>
> 1. Al-Quran [QRA] (Bacaan)
> Dan jikalau Kami jadikan Al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa 'Ajam
> (bahasa selain bahasa Arab), tentulah mereka (orang Arab Quraisy)
> mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya (dalam bahasa yang dapat
> kami fahami)?" Apakah (patut Al-Quran) dalam bahasa 'Ajam sedang (rasul
> berbicara langsung di antara orang-orang yang berbahasa) Arab? (S.
> Fushshilat, 41:44)
>
> 2. Al-Kitab [KTB] (Tulisan)
> Al-Kitaab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
> bertaqwa (S. Al-Baqarah, 2:2)
>
> 3. Al-Furqan [FRQ] (Pembeda benar salah)
> Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan kepada hamba-Nya, agar
> dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (S. Al-Furqaan, 25:1)
>
> 4. Adz-Dzikr [DzKR] (pemberi Peringatan)
> Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami
> benar-benar memeliharanya. (S. Al Hijr, 15:9)
>
> 5. Al-Mau'izhah [W'AZh] (Pelajaran)
> Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu Al-Mau'izhah dari Maha
> Pengaturmu dan Asy-Syifaa' bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada
> dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (S. Yunus, 10:57)
>
> 6. Asy-Syifa' [SyFa] (Penyembuh)
> Lihat no.6 (S. Yunus, 10:57)
>
> 7. Al-Hukm [hKM] (Peraturan/Hukum)
> Dan demikianlah, Kami telah menurunkan itu sebagai Al-Hukm dalam bahasa
> Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang
> pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara
> bagimu terhadap (siksa) Allah. (S. Ar-Ra'd, 13:37)
>
> 8. Al-Hikmah [hKM] (Kebijaksanaan)
> Itulah Al-Hikmah yang diwahyukan Maha Pengaturmu kepadamu. Dan janganlah
> kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu
> dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari
> rahmat Allah). (S. Al Israa', 17:39)
>
> 9. Al-Huda [HDY] (petunjuk)
> Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar Al-Hudaa, kami beriman kepadanya.
> Barangsiapa beriman kepada Maha Pengaturnya, maka ia tidak takut akan
> pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan
> kesalahan. (S. Al-Jinn, 72:13)
>
> 10. At-Tanzil [NZL] (yang Diturunkan)
> Dan sesungguhnya ini benar-benar At-Tanziil oleh Pengatur semesta alam,
> (S. Asy-Syu'araa', 26:192)
>
> 11. Ar-Rahmat [RhM] (Karunia)
> Dan sesungguhnya itu benar-benar menjadi petunjuk dan Ar-Rahmat bagi
> orang-orang yang beriman. (S. An-Naml, 27:77)
>
> 12. Ar-Ruh [RWh] (Ruh)
> Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu Ar-Ruuh dengan perintah Kami. (S.
> Asy- Syuura, 42:52)
>
> 13. Al-Bayan [BYN] (Pencerah)
> Ini adalah Al-Bayaan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran
> bagi orang-orang yang bertakwa. (S. Ali 'Imraan, 3:138)
>
> 14. Al-Kalam [KLM] (Ucapan/Firman)
> Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan
> kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Al-Kalaam Allah,
> kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan
> mereka kaum yang tidak mengetahui. (S. At-Taubah, 9:6)
>
> 15. Al-Busyra [BSyR] (Kabar Gembira)
> Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan itu dari Maha Pengaturmu
> dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan
> menjadi petunjuk serta Al-Busyraa bagi orang-orang yang berserah diri
> (kepada Allah)". (S. An-Nahl, 16:102)
>
> 16. An-Nur [NWR] (Cahaya)
> Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari
> Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu
> An-Nuur yang terang benderang. (Al-Qur'an). (S. An Nisaa' [4]:174)
>
> 17. Al-Bashair [BShR] (Pedoman)
> Ini adalah Al-Bashair bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
> meyakini. (S. Al-Jaatsiyah, 45:20)
>
> 18. Al-Balagh [BLGh] (Penyampaian)
> Ini adalah Al-Balaagh yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi
> peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah
> Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.
> (S. Ibrahim, 14:52)
>
> 19. Al-Qaul [QWL] (Perkataan)
> Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut Al-Qaul ini kepada
> mereka agar mereka mendapat pelajaran. (S. Al-Qashash, 28:51)
>
> WaLlahu a'lamu bisshawab.
>
> *** Makassar, 9 Januari 2011
> [H.Muh.Nur Abdurrahman]
> http://waii-hmna.blogspot.com/2011/01/956-al-quran-dan-nama-namanya-yang-lain.html
>
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment