Sumber:
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/01/31/WAW/mbm.20110131.WAW135809.id.html
31 Januari 2011
Richard Tanter:
Komunisme Dianggap Kekotoran Sejarah
Indonesia di mata Richard Tanter mungkin belum banyak berubah. Dua pekan
lalu, dia datang dari Australia untuk menjadi pembicara dalam diskusi bertema
Indonesia & The World 1959-1969 di gedung Goethe-Institut, Jakarta. Diskusi itu
menghadirkan sejumlah ilmuwan politik dari berbagai negara untuk membahas
peristiwa 1965 dari sudut pandang negara masing-masing.
Tanter terperanjat mengetahui istilah G-30-S ternyata masih menjadi "hantu"
bagi sebagian kecil masyarakat. "Aneh sekali acara akademik dijaga polisi," kata
Direktur Nautilus Institute, Australia, ini. Diskusi juga menghadirkan, antara
lain, Bradley Simpson, John Roosa, serta Bernd Schafer. Kedatangan mereka
disambut demonstrasi sekelompok orang. Sebagian pembicara sempat berurusan
dengan polisi karena masalah perizinan.
Bisik-bisik beredar acara di Goethe-Institut itu diawasi ketat aparat
intelijen. Apakah ini menunjukkan intelijen masih seperti di masa Orde Baru?
Tanter tak menjawab. Ia mengatakan hanya memantau dinamika intelijen dari
kejauhan.
Intelijen sebetulnya bukan dunia yang asing bagi Tanter. Pada 1991, dia
menyelesaikan disertasinya di Universitas Monash mengenai intelijen Indonesia
1966-1989. Sebelumnya, dia sering menulis soal Timor Leste. Akibat tulisannya
yang kritis di masa Orde Baru, ia pernah dilarang masuk Indonesia.
Sekarang Tanter lebih mendalami masalah keamanan regional dan nuklir. Dia
menaruh perhatian pada upaya Indonesia membangun pembangkit listrik bertenaga
nuklir di Muria, Jawa Tengah. Indonesia, menurut dia, masih menghadapi persoalan
mendasar pengembangan proyek nuklir, yaitu informasi, transparansi, dan
regulasi. Tak ada informasi publik, kata dia, yang cukup terperinci mengenai
proyek ini.
Kamis pekan lalu, profesor ilmu politik ini menerima Purwani Diyah
Prabandari, Yandi M. Rofiyandi, dan fotografer Jacky Rachmansyah dari Tempo di
tempatnya menginap di sebuah hotel di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Dengan
terbuka dia menyampaikan pandangan tentang peristiwa 1965, intelijen, dan
nuklir.
Apa pelajaran penting dari acara seperti Indonesia & The World 1959-1969 di
Goethe-Institut?
Saya kira acara di Goethe luar biasa. Tak mudah bagi Goethe-Institut dan
pemerintah Jerman menggelar acara itu. Direktur Goethe Franz Xaver Augustin
mengatakan kita di sini bicara tentang budaya. Kita tak bisa bicara tentang
budaya tanpa sejarah. Kita tak bisa berpikir tentang sejarah tanpa memori. Saya
kira acara ini sangat konstruktif bagi orang Indonesia. Jadi kita punya
pengalaman melewati trauma.
Ada sebagian masyarakat yang menolak acara itu karena dianggap mempromosikan
komunisme....
Saya merasa aneh ketika acara akademis seperti itu harus dikawal polisi.
Ada Gerakan Pemuda Islam memprotes acara di Goethe. Mereka menganggap komunisme
sebagai kekotoran sejarah Indonesia. Saya kagum pada langkah Direktur
Goethe-Institut dan Friedrich-Ebert-Stiftung yang membuka dialog dengan massa.
Insiden itu mengingatkan suasana di era Orde Baru ketika polisi dan
intelijen membatasi diskusi tentang komunisme....
Saya melakukan penelitian tentang intelijen ketika zaman Orde Baru. Saya
tak mendalami kondisi intelijen sekarang. Jadi saya tak berkomentar tentang
intelijen. Saya hanya merasa kecewa karena polisi membiarkan insiden itu
terjadi.
Benarkah intelijen sekarang belum berubah, masih seperti di era Orde Baru?
Saya tak mau berkomentar. Bukannya takut. Saya mempelajari intelijen era
Orde Baru dalam waktu lama. Saya sekarang mengamati Indonesia dari kejauhan.
Alasan saya mempelajari intelijen 1966-1989 adalah memang waktu itu topiknya
sangat penting.
Dalam diskusi di Goethe, Anda menyebutkan Australia tak bereaksi apa-apa
terhadap peristiwa 1965?
Pemerintah Australia mendukung tentara mengambil alih kekuasaan dan
menghancurkan kekuatan politik Partai Komunis Indonesia. Indonesia kiri akan
menjadi ancaman militer dan politik. Australia, seperti Amerika Serikat dan
Inggris, ingin Indonesia pro-Barat dalam Perang Dingin. Alasan lainnya, rasisme
di kalangan politikus konservatif, elite birokrasi, dan media di Australia. Ada
pernyataan menarik Perdana Menteri Harold Holt di New York Times. Dia
mengatakan, dengan terbunuhnya 500 ribu sampai sejuta komunis, berarti akan ada
reorientasi.
Apakah parlemen di Australia sama sekali tak membahas adanya pembunuhan
besar-besaran itu?
Sangat sedikit pembahasan tentang peristiwa pembantaian setelah 1
Oktober 1965. Menteri Luar Negeri pernah memberikan pernyataan keprihatinan
singkat pada Maret 1966. Anggota sayap kiri Partai Buruh, J.F. Cairns, pernah
mengangkat isu itu. Pemerintah tak menanggapi dan kelompok kanan mencemoohnya.
Bagaimana pandangan media Australia tentang peristiwa 1965?
Media besar di Australia memberitakan soal kudeta dan peristiwa politik
sangat terperinci. Tapi informasi tentang pembunuhan ketika itu sangat sedikit.
Ketika itu jurnalis Australia di Indonesia sangat sedikit sehingga hanya
mengandalkan informasi dari kedutaan. Media menyebutkan ada pembunuhan, tapi tak
jelas lokasi dan sebagainya. Mereka menulis pembunuhan orang PKI, tapi tak
dijelaskan pelakunya. Beberapa tulisan bahkan menggambarkan peristiwa itu
sebagai karakter Indonesia. Seluruh bangsa mengamuk.
Anda menyebutkan masyarakat Australia kurang perhatian terhadap peristiwa
pembunuhan di Indonesia. Mengapa bisa demikian?
Alasannya sederhana, selama setahun setelah 1 Oktober 1965, masyarakat
biasa di Australia tak memiliki sumber informasi. Sedikit sekali artikel dari
koran mengenai pembunuhan itu.
Apa sikap Australia terhadap pengembangan teknologi nuklir di Indonesia?
Nuklir bisa dilihat sebagai sumber energi sekaligus senjata. Sebagian
kecil komunitas di Australia, bukan pemerintah, ada yang menganggap, kalaupun
Indonesia mengembangkan teknologi nuklir untuk kebutuhan energi, bisa jadi akan
berkembang menjadi senjata. Tapi itu pendapat minoritas.
Bagaimana Anda mengamati arah pengembangan nuklir Indonesia?
Pengembangan teknologi nuklir di Indonesia sangat tak jelas. Kalau
bicara tentang nuklir, semua orang tak akan percaya bagaimana arah pengembangan
teknologi nuklir sampai ada tanda tangan kontrak. Kami ingin memastikan
informasi yang benar mengenai pengembangan nuklir Indonesia. Saya kira Indonesia
tak berencana mengembangkan teknologi ke senjata. Kalau arahnya ke senjata,
pasti akan mendapat sorotan dari International Atomic Energy Agency dan Amerika.
Apakah penelitian nuklir di Indonesia sudah cukup memadai?
Kita prihatin dengan manajemen risiko. Ada yang harus ditangani serius
dalam pengembangan nuklir di Indonesia. Ingat Abdul Qadir Khan. Ilmuwan Pakistan
ini menjual nuklir ke pasar gelap. Ini salah satu kekhawatiran pengembangan
nuklir, apalagi kecenderungan korupsi masih besar.
Apa masalah utama pengembangan nuklir di Indonesia?
Indonesia mengembangkan penelitian nuklir melalui Badan Tenaga Nuklir
Nasional (Batan). Masih ada persoalan besar, yakni informasi, transparansi, dan
kekuatan regulasi di Indonesia. Tak ada informasi publik yang mendetail,
misalnya terkait dengan lokasi. Lokasi pengembangan nuklir di Muria, Jawa
Tengah, bisa terganggu pengaruh vulkanik dan seismik. Muria bukanlah lokasi yang
bagus.
Soal regulasi, bukankah ada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten)?
Kita tak bisa bergantung pada Bapeten. Apalagi ada kasus korupsi di
lembaga ini beberapa tahun lalu. Mereka harus bisa meyakinkan publik bahwa ada
perubahan di Bapeten. Isu keselamatan juga menjadi kekhawatiran setelah kejadian
Lapindo. Persoalan lain adalah risiko keuangan. Donor sulit masuk kalau tak ada
informasi tepercaya. Contoh kecil soal harga berdasarkan keterangan Batan.
Selama sepuluh tahun harga selalu US$ 1.800 per kilowatt. Padahal penentuan
harga sangat kompleks. Paling tidak harga harus direvisi dua atau tiga kali.
Donor akan melihat informasi yang dipercaya.
Pertanyaan besarnya, apakah Indonesia bisa melewati tantangan ini?
Dulu banyak yang menentang pengembangan nuklir di Jepara. Lalu diusulkan
di Banten. Tapi mereka bilang Banten terlalu dekat dengan Jakarta dan ada
Krakatau. Bangka kabarnya pas karena di sana ada tanah granit yang solid. Tapi
sampai sekarang belum ada penelitian di Bangka.
Sampai sekarang di masyarakat juga masih ada pro-kontra pembangunan
pembangkit listri tenaga nuklir....
Ya. Ada yang menyebutkan sudah saatnya beralih ke sumber energi
alternatif. Ada pula yang menyebutkan sumber energi lain masih banyak selain
nuklir yang sangat berisiko. Seperti disebutkan tadi, pengembangan nuklir
Indonesia menghadapi persoalan vulkanik dan seismik, regulasi keamanan, serta
pembiayaan. Persoalan lain: jawaban buruk bahwa pengembangan nuklir untuk
pemenuhan kebutuhan energi.
Batan pernah mengatakan siap membangun pada 2020?
Batan mengatakan soal itu beberapa tahun lalu. Enam bulan belakangan
mereka mengatakan bisa jadi tidak karena banyak yang menentang. Mengenai
kebutuhan energi, desentralisasi sumber energi seperti mikrohidro bisa
dilakukan.
Jadi seharusnya setiap negara menghindari pemakaian tenaga nuklir sebagai
sumber energi?
Sebab, selalu ada risiko dalam pengembangan nuklir. Belum lagi soal
sampah yang sulit ditangani. Orang menganggap nuklir merupakan solusi terbaik
dalam perubahan iklim, tapi secara umum sebetulnya sangat merusak lingkungan.
Richard Tanter Karier: Profesor hubungan internasional Universitas Kyoto
Seika, Jepang, 1989-2003 | Konsultan kurikulum Universitas Deakin, Australia,
2003 | Profesor hubungan internasional Royal Melbourne Institute of Technology,
Australia, 2004-2010 | Direktur Nautilus Institute, Australia Pendidikan:
Sarjana ilmu politik Universitas Melbourne, Australia, 1971 | Master sosiologi
New School for Social Research, 1982 | Doktor ilmu politik Universitas Monash,
Australia, 1992
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment