18 February 2013
Martin Luther dan reformasi kebablasan
Sambil ngopi saya pancing om asal Sumba itu. Mengapa orang protestan aliran karismatik dan pentakosta punya hobi bikin gereja baru? Kan sudah ada banyak gereja aliran sejenis di sekitar sini? Umatnya pun tidak banyak?
Om itu tersenyum lalu ketawa. "Itu memang masalah kami orang kristen, khususnya di Jawa," katanya. "Beda dengan kalian orang katolik. Dua puluh ribu orang pun bisa ditampung di satu gereja. Kristen ini terlalu banyak aliran, denominasi."
Saya pura-pura gak ngerti. Om pu maksud bagaimana? "Kalau orang kristen itu mau kebaktian di GPIB, GKJW, atau GKI, maka gereja di kota ini sudah cukup untuk semua orang kristen. Tapi kalau trennya kayak sekarang ya gereja tak akan pernah cukup."
Om yang protestan sejati, pengagum Luther, ini sudah lama resah dengan gerakan gereja-gereja karismatik. Bikin kebaktian di hotel, restoran, ruko, garasi, rumah dan di mana saja. Mereka tidak butuh gereja besar macam GPIB atau GKI permanen.
"Mungkin GPIB tidak menarik untuk orang karismatik dan pentakosta. Mereka bikin reformasi lagi kayak zaman Martin Luther dulu. Reformatio semper reformanda!" pancing saya.
"Hehehehe... Memang ini masalah pelik karena menyangkut keimanan, doktrin dsb. Orang karismatik pasti tidak cocok kebaktian di GPIB yang tenang," katanya.
"Om sendiri cobalah kebaktian di Bethany dan sejenisnya?"
"Waduh, beta sonde cocok! Om sudah tua."
Saya pun merenung. Gereja-gereja yang tumbuh tak terkontrol di Jawa itu lebih karena kebutuhan pendeta. Gereja jadi sumber nafkah keluarganya. Maka, dia tak akan segan-segan memboyong umat GPIB, GKI, Katolik dsb agar gerejanya penuh. Makin banyak umat makan banyak income!
Saya kira Martin Luther akan menangis melihat hasil reformasinya. Kata wong cilik: reformasi kebablasan!
Inilah Sikap Tegas Jusuf Kalla Soal Gereja di Depan 700 Pendeta
JAKARTA (voa-islam.com) - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bicara soal toleransi 56.000 gereja, itulah tema sebuah kiriman Broadcast BlackBerry Messenger yang banyak tersebar dan diterima redaksi voa-islam.com.
Isi dari pesan tersebut mengisahkan Jusuf Kalla yang kini menjadi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang menanggapi secara tegas pertanyaan tentang GKI Yasmin, Bogor di hadapan 700 ratus pendeta. Ia juga berbicara soal toleransi yang harus berasal dari kedua belah pihak. Berikut ini kutipan lengkap kisah Jusuf Kalla yang berani bersikap tegas di hadapan para pendeta.
Jumat sore kemarin (1/3/2013), Pak Jusuf Kalla memimpin rapat DMI. Sehabis Magrib beliau cerita bahwa baru saja ceramah di Makasar dalam konferensi gereja dihadapan 700 pendeta. Dalam sesi tanya jawab ada yang tanya tentang gereja di Yasmin (GKI Yasmin- red.) Bogor beliau menjawab: "Anda ini sudah punya 56.000 gereja seluruh Indonesia tidak ada masalah, seharusnya berterima kasih, pertumbuhan jumlah gereja lebih besar daripada masjid, kenapa urusan satu gereja ini anda sampai bicara ke seluruh dunia?"
"Toleransi itu kedua belah pihak, anda juga harus toleran. Apa salahnya pembangunan dipindah lokasi sedikit saja, Tuhan tidak masalah kamu mau doa di mana. Izin Membangun gereja bukan urusan Tuhan, tapi urusan Walikota," begitu khasnya Jusuf Kalla dengan nada yang tinggi.
Kemudian Jusuf Kalla bercerita lagi, bahwa dalam konferensi gereja di hadapan 700 pendeta Pak Jusuf Kalla juga ditanya: "Mengapa di kantor-kantor mesti ada masjid?"
Dengan tegas JK menjawab: "Justru ini dalam rangka menghormati anda. Jumat kan tidak libur, anda libur hari Minggu untuk kebaktian. Anda bisa kebaktian dengan 5 kali shift, ibadah Jum'at cuma sekali. Kalau anda tidak suka ada masjid di kantor, apa anda mau hari liburnya ditukar; Jum'at libur, Minggu kerja. Pahami ini sebagai penghormatan umat Islam terhadap umat Kristen," tegas Jusuf Kalla.
Tentu saja kisah Jusuf Kalla yang begitu berani mengambil sikap tegas itu jelas membuat kagum umat Islam yang mendengarnya. Namun demi memperoleh kebenaran cerita tersebut jurnalis voa-islam.com mengkonfirmasi ustadz Fahmi Salim yang turut serta dalam rapat DMI bersama Jusuf Kalla.
Wakil Sekjen MIUMI tersebut akhirnya membenarkan cerita Jusuf Kalla tersebut. "itu betul, disampaikan bapak Jusuf Kalla saat rapat di DMI Jum'at sore kemarin. Jadi beliau menceritakan apa yang disampaikan saat diundang oleh sinode gereja di Makassar," kata ustadz Fahmi Salim, kepada voa-islam.com, Ahad (3/3/2013).
Semoga sikap bijak dan tegas Jusuf Kalla itu bisa dicontoh oleh para pemimpin, tokoh maupun negarawan yang lain. Jangan sampai demi meraih simpati minoritas seorang Muslim menanggalkan pembelaannya terhadap kepentingan umat Islam. [Ahmed Widad]
| Reply via web post | Reply to sender | Reply to group | Start a New Topic | Messages in this topic (2) |
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment