Ref: Arti manis dari "tak sejahter" adalah miskin
| |
| KIRA-kira, demikianlah kesimpulan yang bisa dipetik dari materi yang dipaparkan Direktur Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Centre Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Iskandarsyah Madjid, dalam diskusi bulanan yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Aceh, Kamis (28/2). Iskandarsyah memaparkan, tahun ini, Aceh memiliki anggaran (APBA) senilai Rp11,7 triliun. Akan tetapi, dana sebanyak itu tidak menjamin masyarakat Aceh bisa sejahtera atau menikmati uang itu. Karena, sebagian besar dana itu dibelanjakan ke luar daerah. Itu disebabkan provinsi paling Barat Indonesia ini tidak memiliki banyak industri, sehingga banyak bahan kebutuhan pembangunan didatangkan dari luar daerah. Tak tanggung-tanggung, dalam perkiraannya, setidaknya 70 persen dari dana tersebut digunakan untuk belanja ke luar daerah. Ironisnya, katanya, semakin besar alokasi APBA setiap tahun, maka kian bertambah pula jumlah uang yang beredar ke luar Aceh. Jadi, tak mengherankan meski Aceh termasuk ke dalam tujuh provinsi terkaya di Indonesia, tapi sekaligus provinsi ketujuh termiskin di negara ini! Tidak ada yang meragukan kekayaan alam Aceh. Banyak produk berkualitas yang dimiliki "Tanah Rencong" tersebut. Sebut saja kopi Gayo yang citarasanya dan terutama kualitasnya dikenal secara global. Demikian pula minyak nilam dari Aceh Selatan yang mayoritas diekspor ke pasar dunia seperti Eropa dan Asia. Akan tetapi, dua dari banyak komoditas (kekayaan alam) tersebut hingga sekarang ini masih belum mampu mengangkat kesejahteraan para petaninya. Umumnya taraf ekonomi para petaninya masih mencemaskan. Penikmat laba terbesar justru daerah lain. Karena, komoditas ini diekspor melalui daerah lain. Di samping itu, persoalan lain yang dihadapi Aceh adalah fokus pengelolaan kekayaan alamnya. Sebagai gambaran nyata, hingga saat ini salah satu sektor unggulan dan sangat potensial guna memicu dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya adalah sektor pertanian dan perikanan. Sebab, keduanya masih dominan sebagai penyerap tenaga kerja sekaligus penyumbang pertumbuhan terbesar ekonomi "Serambi Mekkah". Kenyataannya, sampai saat ini belum tampak hasil pengelolaan kedua sektor ini yang benar-benar menggembirakan. Kecuali untuk produksi padi atau gabah yang memang sejak dulu surplus sehingga Aceh swasembada sekaligus menjadi sumber pangan nasional, justru berbagai kebutuhan lainnya dari sektor pertanian didatangkan dari luar daerah. Aceh memiliki Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, plus sebagian Aceh Besar. Keduanya mirip dengan Tanah Karo atau Berastagi. Sayangnya, potensi Aceh Tengah dan Bener Meriah untuk menjadi sentra produksi hortikultura, belum digarap maksimal. Akibatnya, hingga detik ini, Aceh masih harus memasok kebutuhan berbagai jenis tanaman pangan itu dari Tanah Karo atau Berastagi. Jika industri diyakini menjadi motor pembangunan ekonomi tercepat, justru dunia industri berbasis hasil pertanian maupun perikanan dan kelautan di Aceh nyaris tidak muncul, jika tidak ingin dinyatakan sebagai fatamorgana. Padahal, dengan munculnya nilai tambah sebagai hasil industrialisasi, selain mampu membantu menaikkan pendapatan petani juga mengurangi jumlah belanja ke luar daerah. Harus diakui, untuk menghentikan sama sekali penggunaan anggaran daerah untuk belanja ke daerah lain adalah mustahil. Sebab, Aceh sendiri sebagaimana juga daerah-daerah lainnya di negara ini tidak memiliki semua sumber daya yang dibtuhkan untuk pembangunan sehingga mau tak mau harus mendatangkan dari luar daerah bahkan mancanegara. Yang paling realistis adalah upaya menekannya. Pemerintah Aceh dituntut merealisasikan rencana pembangunannya seakurat mungkin, khususnya terkait dengan potensi-potensi utamanya atau berbasis keunggulan daerah yang tidak dimiliki daerah lain. Dunia usaha lokal didorong dan difasilitasi untuk turut menggarap potensi-potensi ini. Aceh belum bisa mengharapkan keterlibatan dunia usaha besar untuk datang dan mengelola potensi itu karena masih tingginya problematika yang dihadapi investor luar daerah atau asing. Singkatnya, Aceh harus berani secara swadaya dan mandiri membangun daerahnya sendiri. Cuma dengan langkah demikian dan diiringi berbagai keberhasilannya, maka kekayaan "Serambi Mekkah" tersebut benar-benar mampu memberikan kesejahteraan yang memang diimpikan sejak lama. Upaya itu harus dimulai saat ini juga jika tidak ingin lebih terpuruk dan kemudian hanya menyesali nasib! |
__._,_.___
| Reply via web post | Reply to sender | Reply to group | Start a New Topic | Messages in this topic (1) |
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
.
__,_._,___






0 comments:
Post a Comment