Advertising

Friday, 19 October 2012

Re: [wanita-muslimah] Re: Memaknai kurban

Betul Pak Muiz, yg dibicarakan dua hal:
1. Apa hikmah kurban (lesson learned) di jaman sekarang ini?
2. Bentuk (upacara) kurban yg bagaimana, disinggung Pak Muiz di bawah ini, yg mengekspressikan hikmah itu?

Salam
Mia
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Abdul Mu'iz" <muizof@yahoo.com>
Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Date: Fri, 19 Oct 2012 23:28:52
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Memaknai kurban

Ibrahim itu hidup di era peternak sebagai salah satu profesi riel, dimana hewan ternak sebagai salah satu aset penting manusia kala itu, disembelih atau diqurbankan adalah untuk berbagi kepada sesama yang kurang beruntung menikmati protein hewani.

Zaman sekarang yang bukan berprofesi peternak, kudunya ikhlas berqurban asset harta apa saja yang dicintai seperti nilai tambah dari deposito, saham, tabungan bank, investasi apa saja, kemudian salary, honor, atau penghasilan para selebritis maupun profesi yang nilainya gedhe disembelih sekian prosen untuk diberikan kepada sesama, tentu nilainya jauh lebih signifikan.

Agar tidak campur baur tradisi idul adha, maka uangnya dibelikan hewan ternak. Ditambah sedekah lain tentu akan punya makna signifikan untuk membantu sesama yang hidupnya susah, menderita, fakir, dan dha'if.

Wassalam
Abdul Mu'iz

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: aldiy@yahoo.com
Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Date: Fri, 19 Oct 2012 07:54:59
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: [wanita-muslimah] Re: Memaknai kurban

Nah, mungkin kita juga bisa merenungi dari sisi sufistik. Pikirkan lagi pemahaman "kok Tuhan menguji ketaatan kita dengan menyuruh atau menagih nazar dengan membunuh anak sendiri?". Pemahaman ini dimungkinkan karena sudut pandang memahami Tuhan sebagai sesuatu yang "personal" yang seolah "terpisah" dari kita, sehingga timbul persangkaan bahwa Tuhan menguji ketaatan atau menagih nazar.

Kalau saja kita "menghadirkan" Tuhan dalam diri kita (Dia lebih dekat dari urat nadi lehermu) - maka kita akan mendengarkan dialog dalam diri Nabi Ibrahim, terbersit dalam mimpi2, pemikiran dan kegalauannya, umpamanya sebagai berikut:

"Ibrahim, kamu harus menyembelih anakmu. Itulah yang dilakukan para nenek moyangmu. Itulah cara untuk mencapai status tertinggi kependetaan dan kepemimpinan di ummatmu. Itulah cara mentaati Tuhanmu. Dan itulah nazarmu di jaman dulu, tunaikanlah itu!"

Lalu suara lain mengatakan; "Ibrahim, jangan terperosok kebiasaan nenek moyang yang melembagakan kekerasan dengan pengorbanan manusia. Lakukan sesuatu, putuskan lingkaran kekerasan itu, demi kemajuan ummat. Itulah cara untuk mentaati dan mensucikan Tuhanmu. Nazarmu itu dulu untuk mengorbankan anakmu karena dirimu khilaf, terbawa rasa atau belum cukup mengetahui".

Suara lain bertanya2: "tapi bagaimana caranya untuk tetap melakukan upacara kurban ini, karena upacara kurban adalah memang untuk memperingatkan kita pada sifat kekerasan. Ummat membutuhkan ini! Dan bahwa dirimu sudah kadung bernazar? Apa kata dunia?"

Dijawab oleh suara lain: "gantilah dengan seekor domba, harta yang paling berharga, paling disayangi ummatmu. Yakinlah dan tetapkan niatmu!"

Demikianlah, Ibrahim tetaplah taat (konsisten) pada kesadaran bahwa ummat perlu diingatkan akan sifat kekerasannya. Lingkaran kekerasan diputuskan, dan ummat menuju era baru ditandai kasih sayang. Dan tak perlu kita memikirkan dzat Tuhan yang personal, karena kita dapat memilih untuk "menghadirkan" Tuhan. Sehingga tak perlu timbul pertanyaan: kenapa Tuhan menguji atau menagih nazar?

Pertanyaannya sekarang; bagaimana jaman ini kita mengekspressikan kasih sayang, setelah eling waspada pada sifat kekerasan kita?

Salam
Mia
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: aldiy@yahoo.com
Date: Fri, 19 Oct 2012 04:38:22
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: aldiy@yahoo.com
Subject: Memaknai kurban

Bagaimana kita memahami atau memaknai kurban, tentu beragam. Dan kadang persepsi yg satu mengubur makna yg lain. Persepsi kelas menengah memaknai kisah bagaimana seorang nenek2 dan keluarga miskin mengusahakan korban hewan dengan sekedar uang yang dimilikinya. Ini membayangkan bagaimana karakter "filantropis" kita yg kelas menengah ini mewakili persepsi tsb.

Sekarang coba pikirkan makna dari sisi kenabian. Para nabi dan orang suci membawa agama2 sebagai response atas sifat inheren manusia yg "suka" kekerasan. Padahal fokus pada kekerasan bisa menghambat kemajuan lahir batin yg mestinya tercapai. Sehingga pada suatu ketika di jaman nabi, pengurbanan manusia jadi tradisi dan dipandang paling prestise. Ini adalah bentuk kekerasan agama yg sudah melembaga. Nabi Ibrahim mengubah tradisi kekerasan itu secara menggantikannya dengan hewan, salah satu bentuk kekayaan di tempat itu pada waktu itu. Ingatlah kawan, hikmah kenabian pada kurban adalah untuk memperingatkan kita pada sifat kekerasan yg inheren dalam kesejarahan kolektif manusia.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita di jaman ini memaknai kurban untuk meluruhkan kekerasan pada sesama manusia, alam dan lingkungan ekosistem, untuk mencapai peningkatan yg berkelanjutan?

Salam
Mia
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
wanita-muslimah-digest@yahoogroups.com
wanita-muslimah-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

0 comments:

Post a Comment