Advertising

Tuesday, 5 October 2010

RE: [wanita-muslimah] Fw: Alam Semesta, Hawking, dan Tuhan

 



Yang saya pahami, sebenarnya bahkan orang atheis-pun "menuhankan"
sesuatu. Sesuatu yang dia anggap lebih segalanya dari yang lainnya..
Hanya saja mungkin dia tidak menyebut "tuhan"-nya sebagai TUHAN.

Wallahua'lam.

Wassalaam

-Ning

From: wanita-muslimah@yahoogroups.com
[mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com] On Behalf Of Waluya
Sent: Tuesday, October 05, 2010 4:15 PM
To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: [wanita-muslimah] Fw: Alam Semesta, Hawking, dan Tuhan

Pengantar: Saya belum pernah membaca bukunya Hawking "The Grand Design".
Cuma sedikit termanggu waktu membaca tulisan Jansen H Sinamo "Ateisme
barangkali adalah sebuah bakat insani, sama halnya dengan religiusitas
dan fanatisme". Jangan-jangan Jansen betul, sebab ada seorang fisikawan
teoritis terkenal yang sangat relijius, Dr Abdus Salam (Akhmadyah) yang
(kalau tidak salah) beliau mengutip ayat-ayat Al Qur'an waktu menerima
hadiah Nobel.

Alam Semesta, Hawking, dan Tuhan
KOMPAS MINGGU, 3 OKTOBER 2010 | 04:25 WIB
JANSEN H SINAMO

Sesekali fisikawan bisa juga membuat warta mengejutkan di tengah
perkibaran kabar korupsi, konflik, dan politik dewasa ini. Namun, yang
mampu berbuat begitu barangkali cuma figur sekaliber Stephen William
Hawking, bersama Leonard Mlodinow, melalui buku "The Grand Design" yang
terbit 9 September lalu.

Di halaman 8 buku yang tanpa pengantar itu, Hawking langsung menggebrak:
According to M-theory, ours is not the only universe. Instead, M-theory
predicts that a great many universes were created out of nothing. Their
creation does not require the intervention of some supernatural being or
god. Rather, these multiple universes arise naturally from physical law.
They are a prediction of science.

Alinea inilah yang langsung berkibar di media Amerika dan Inggris, lalu
beredar ke seluruh dunia. Kabar ini-bisa ditebak-paling disambut hangat
oleh pentolan kaum ateis Inggris yang biologiman terkemuka, Richard
Dawkins, dengan berkata, "Darwinisme sudah menendang Tuhan dari
biologi.. Sekarang Hawking menyelenggarakan coup de grace."

Kubu gereja langsung bereaksi. Imam yang psikolog dan teolog dari
Cambridge, Rev Dr Fraser N Watts, berkata, "Sang Pencipta menyediakan
penjelasan yang kredibel dan masuk akal tentang mengapa alam semesta
ada, dan. lebih mungkin ada Tuhan daripada tidak. Pandangan ini tidak
tergerogoti oleh apa yang dikatakan Hawking."

Kalangan fisikawan tidak kurang kritisnya. Profesor Peter Woit dari
Universitas Columbia bahkan mencela telak buku ini: "Satu cara jitu
menaikkan penjualan buku semacam ini ialah dengan menyeret agama masuk.
Klaim yang rada konvensional 'Tuhan tak diperlukan' untuk menjelaskan
fisika dan kosmologi alam semesta awal menyulut publisitas besar bagi
buku ini. Saya lebih suka pada naturalisme dan tidak melibatkan Tuhan
dalam fisika."

Soal publisitas itu, saya sependapat dengan Peter Woit berdasarkan apa
yang ditulis Hawking sendiri di bukunya terdahulu, A Brief History of
Time-sudah 10 juta eksemplar terjual-bahwa setiap persamaan [matematika]
dalam bukunya akan mengurangi oplahnya hingga setengah. Hawking yang
sadar betul kekuatan publisitas kini menambah bensin ketenaran buku
barunya-selain tak ada rumus apa pun-dengan faktor tak perlunya peran
Tuhan tadi. Boleh jadi buku ini kelak berstatus mega-bestseller melebihi
karier A Brief History.

***

Buku ini mengisahkan sejarah pemahaman fisika tentang alam semesta sejak
Yunani klasik. Pemahaman itu kemudian berbeda diametral dengan wacana
langit-bumi Perjanjian Lama yang geosentris ketika Copernicus dan
Galileo mengedepankan kosmologi baru yang heliosentris.

Kosmologi modern semakin jauh berkembang sejak Einstein merumuskan
Relativitas Umum dan Hubble-terutama dengan teleskop atas namanya
kelak-mengamati bahwa alam semesta memang terus membalon secara
akseleratif; kini diketahui sudah 13,7 miliar tahun sejak dentuman
besar.

Terinspirasi oleh Maxwell yang dengan gemilang berhasil menyatukan
fenomena listrik, magnet, dan optik menjadi teori elektromagnetik yang
begitu kompak dan elegan, Einstein pun memelopori the holy grail of
physics abad ke-20: meringkas dan meringkus semua fenomena alam-yakni
gaya elektromagnetik, nuklir lemah, nuklir kuat, dan gravitasi-ke dalam
satu rumusan final dan ultimat. Inilah yang disebut Teori Segalahal.

Hingga akhir hayatnya, Einstein tak berhasil dalam ikhtiar besar ini.
Kemudian dilanjutkan para fisikawan teori sejagat dan setakat ini
Teori-M adalah kandidat terkuat bagi teori akbar itu, yang banyak
dibahas pada buku ini dalam bahasa yang enak dibaca dan perlu.
Konsekuensi teori inilah, jika tuntas terumuskan, akan mengaminkan
alinea heboh di atas.

Di luar kesimpulan yang "rada prematur" itu, buku ini sendiri sangatlah
indah. Sebagai pembelajar fisika lebih dari 30 tahun, saya tetap saja
terpesona, baik dengan materi bahasannya yang dahsyat maupun oleh cara
Hawking yang begitu jernih menuturkannya.

Seorang teman terpelajar dalam sosiologi berkata, "Jika orang fisika
teori mafhum The Grand Design, itu biasa. Orang teknik paham, itu juga
wajar. Tapi, orang yang cuma kenal fisika di SMA bisa terus membaca dan
mengikuti argumennya, itu luar bisa. Ilmuwan sosial seharusnya membaca
buku ini."

Hal itu benar belaka. Buku ini memang mempertontonkan in optima forma
bagaimana seharusnya berargumentasi, membangun wacana yang bermutu, dan
mengonstruksi teori yang bagus.

Rahasia alam

Rudolf Otto melukiskan perasaan tramendum et fascinans saat manusia
berhadapan dengan yang kudus, seperti Musa di Sinai menghadapi api di
semak kering yang tak terbakar. Namun, gentar dan takjub berdebar
ternyata tidak hanya perasaan kaum religius, para fisikawan juga-Hawking
termasuk-saat menghadapi rahasia alam yang mahamikro (interior atom) dan
misteri kosmos yang mahamakro (alam semesta), serta keajaiban kehadiran
insan cerdas dalam konstelasi itu di planet biru yang rentan ini.

Ateisme barangkali adalah sebuah bakat insani, sama halnya dengan
religiusitas dan fanatisme. Masing-masing melihat hal-hal yang
memperkuat kecenderungan hatinya.

Karen Armstrong dalam A History of God mengisahkan konsep Tuhan yang
terus berevolusi dalam sejarah kita, dan peran manusia di dalamnya
ternyata tetap utama membangun dunianya, terutama teologinya.

Anthony de Mello bercerita tentang Tuhan yang memilih bersembunyi dalam
hati manusia, dan siapa tahu-di kedalaman batin itu-fisika Hawking pun
takkan sanggup menjamah-Nya, apalagi memeriksa-Nya.

Jansen H Sinamo Fisikawan Lulusan ITB Tahun 1983, Sehari-hari Bekerja
sebagai Aktivis Etos Kerja, Tinggal di Jakarta

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment