Semua juga setuju bahwa ajaran agama intinya sama, mungkin caranya berbeda. Oleh karena cara2 yg beragam, tak tersangka - kadang bermanfaat untuk memahami praktek agama lain, untuk mlaku pada agama sendiri.
Siapa yg mempraktekkan? Ya pemeluknya. Apa yang dipraktekkan? Ya (cara) ajarannya. Kalau kita kritis terhadap ajaran suatu agama, sebenernya menunjuk juga pada pelakunya, dan juga sebaliknya. Hanya saja diungkapkan berbeda, sesungguhnya pada koin yg sama.
Contoh: ajaran Islam yg perlu perbaikan adalah kita perlu menginternalisasikan dalam kesadaran ummat (manusia pelaku), mengenai akhlak mulia misalnya tidak korupsi, sebagai akhlaq solat. Karena hanya dari situlah solat bisa bermanfaat, HANYA dari sini, bukan sebaliknya. Kalau sebaliknya yg terjadi, maka yg ada adalah kegilaan (yang melembaga).
Salam
Mia
"Apakah praktik keberagamaan yang serba simbolik seperti itu tidak akan membuat orang eneg dan mules terhadap Islam?" tanya kawan saya itu. Saya mengangguk lemes mengiyakan. Hati saya layu, tidak berbunga-bunga lagi.
**Gak juga lah, kalo wat ane sih. Cuma mules ama manusia2 yang malpraktek ajah...:-))**
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Darwin Bahar" wrote:
>
> Raja Juli Antoni - detikNews
>
> Kamis, 21/02/2013 20:31 WIB
>
> http://news.detik.com/read/2013/02/21/203103/2176517/103/?nd772204topnews
>
> Jakarta - Hati saya sedang berbunga-bunga. Sebagai mantan aktivis sebuah
> organisasi pelajar Islam, alhamdulillah wa syukurulillah, sebulan terakhir
> meskipun bukan bulan puasa, politisi kita terasa semakin 'saleh' dan
> 'religius'. Terima kasih juga kepada media yang telah bersedia menjadi
> panggung unjuk kesalehan para politisi.
>
> Repotnya, sekarang saya mengalami kesusahan membedakan ustadz, mubaligh, dan
> kyai dengan politisi. Semuanya mirip. Perilaku keberagamaan mereka sama.
> Mungkin fenomena ini mesti dilihat sebagai keberhasilan pada level praktis
> dan kongkret ajaran tentang Islam itu adalah agama dan sekaligus negara
> (Al-Islam huwa Ad-din wa Ad-daulah). Ustadz Yes; Politikus Yes. Atau,
> mubaligh OK, presiden lebih OK dong!
>
> Coba simak rangkain kejadian di bawah ini! Insya Allah, Anda (tidak) akan
> sepakat bahwa politisi kita kini tambah religius.
>
> Agama Para Politisi
>
> Lihatlah kesalehan Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), mantan Presiden Partai
> Keadilan Sejahtera (PKS). Seketika sebelum masuk 'mobil jemputan' Komisi
> Pemberantasan Korupsi (KPK) seraya membantah bahwa ia terlibat dalam kasus
> impor sapi, LHI menyempatkan diri mengutip dzikir dari ayat Al-Qur'an:
> 'hasbunallah wa anni'ma al-wakil, ni'ma al maula wa ni'ma annashir'
> (cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allahlah sebaik-baiknya pelindung
> dan penolong). Kapan lagi kita bisa menyaksikan politikus yang dari mulutnya
> meluncur ayat-ayat Tuhan.
>
> Selain itu LHI juga terkenal seorang yang taat beragama. Seorang koleganya
> di DPR memberikan kesaksian bahwa LHI adalah sosok yang alim, religius dan
> khusuk (Kompas 31/01/2013). Di hari yang sama, tetangga LHI di malang juga
> mengeluarkan testimoni yang hampir sama bahwa LHI adalah orang yang baik
> hati, sederhana dan dermawan. Ia rajin menyantuni anak yatim piatu dan fakir
> miskin (Kompas 31/01/2012). Uswah hasanah (teladan) yang hampir sempurna!
>
> Tidak kalah saleh dari mantan presiden partai dakwah di atas, Susilo Bambang
> Yudhoyono (SBY), Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD), mempertontonkan
> kesalehannya kepada publik dengan cara yang lain. Tepat di depan Ka'bah,
> Masjid Haram Makkah Al-Mukarramah, SBY menularkan religiusitasnya dengan
> mengirim pesan singkat (SMS) kepada kader demokrat di seluruh Indonesia
> untuk berdoa agar kemelut yang menerpa partai ini segera berakhir (detik.com
> 06/02/2013 ).
>
> Ajaibnya, ternyata doa SBY langsung dikabulkan Tuhan. Usai shalat subuh di
> Makkah dan Madinah SBY mendapatkan petunjuk bagaimana cara menyelesaikan
> problem internal demokrat yang menyebabkan perolehan partai ini jeblok di
> berbagai survei (detik.com 08/02/2013). Dengan rangkaian unjuk kesalehan
> ini, sebagai partai "nasionalis-religius" kader demokrat nampaknya paham
> bahwa tindakan penyelamatan yang dilakukan SBY setibanya di Jakarta bukan
> sekedar langkah politis, pragmatis dan profan melainkan sebuah "divine
> intervention" yang harus ditaati. Saya berani bertaruh, SBY adalah presiden
> Indonesia yang paling saleh dibanding Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Gus
> Dur dan Megawati!
>
> Tidak kalah saleh dari seniornya yang berada di Makkah, Anas Urbaningrum
> (Ketua Umum PD) juga memperlihatkan kesalehan par excellence. Di tanah air,
> di rumahnya di kawasan Duren Sawit, Anas menggelar khataman Al-Qur'an. Para
> pembaca Al-Qur'an sengaja didatangkan dari sebuah pesantren Nahdlatul Ulama
> (NU) di Yogyakarta yang dipimpin mertuanya, K.H. Attabik Ali. Tidak
> tanggung-tanggung, mereka menamatkan Al-Qur'an yang sebegitu tebal dua kali
> dalam sehari (Kompas, 08/02/2013).
>
> Sehari sebelumnya, didera 'pengkhiatan para sengkuni', di depan kader
> Demokrat, Anas yang diduga terlibat bisnis haram bersama Nazaruddin (mantan
> Bendahara Umum PD), menyitir sirah nabawiyah tentang pentingnya loyalitas
> dan soliditas para sahabat bagi kemenangan dan kejayaan Islam pada masa
> Rosulullah (detik.com 07/02/2013). Bahkan, setelah kekuasaannya dipreteli di
> Cikeas, setibanya di rumah, hal pertama yang dilakukan anas adalah
> menunaikan salat, menghadap ilahi rabbi (beritasatu.com 09/02/2013). Adakah
> Ketua Umum partai yang se-saleh Anas Urbaningrum? Rasanya tidak ada!
>
> Lain PKS, lain Demokrat, lain pula Golkar. Rusli Zainal, Ketua DPP Partai
> Golkar dan juga Gubernur Riau yang kini menjadi tersangka dua kasus korupsi
> sekaligus, juga orang yang kadar kesalehannya tidak boleh diragukan. Kalau
> Anda berkunjung ke Riau petang menjelang maghrib, sempatkan menonton adzan
> maghrib di TV lokal (Riau TV). Suara muadzin-nya merdu dan mendayu-dayu
> membuat orang ingin lekas-lekas wudhu' dan sembahyang. Anda tahu, sang
> muadzin yang bersuara merdua itu adalah Bapak Gubernur Riau!
>
> Sekitar sepuluh tahun lalu ketika saya menyempatkan diri bersilaturahim
> dengan orang tua di Pekanbaru, Rusli Zainal sedang digadang-gadang untuk
> menjadi gubernur. Tetangga saya banyak yang kagum kepadanya. "Sosok muda
> visioner!" begitu kata mereka. Dan yang lebih penting, lanjut tetangga saya,
> Rusli Zainal adalah orang yang taat beragama. Biasa mengisi khutbah Jum'at
> bahkan pernah menjadi juara Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat
> kabupaten. "Kapan lagi kita punya gubernur seorang qori?" tanya tetangga
> saya menjajakan gubernur jagoannya. Memang, saya kira tidak ada gubernur di
> Indonesia yang bisa mendendangkan ayat-ayat suci sefasih Rusli Zainal!
>
> Cerita tentang kesalehan politisi kita tidak sampai di sini. Bila beri salam
> sama dengan berjilbab maka kita tidak perlu lagi ada ormas Islam seperti NU
> dan Muhammadiyah. KPK lebih canggih dalam berdakwah untuk menjilbabkan para
> muslimah. Lihatlah Maharani Suciono yang tampil pada konferensi pers pasca
> penangkapannya bersama Ahmad Fathoni di sebuah kamar hotel mewah di Jakarta.
> Tubuhnya tertutup rapat dengan kerudung yang menempel di kepalanya. Dipta
> Anindita, istri muda Irjen Djoko Susilo yang terlilit kasus simulator SIM,
> datang ke KPK juga mengenakan busana muslimah (13/02/2013). Ia terlihat
> seperti santri pulang liqo. Sulit membedakan Maharani dan Dipta dengan
> ibu-ibu Majelis Taklim Al-Mansyuroh dekat rumah saya di Bekasi selain memang
> keduanya pasti terlihat lebih cantik.
>
> Reorientasi Keberislaman?
>
> Keriang-gembiraan saya akan semakin salehnya politisi tertunda ketika
> seorang kawan mengingatkan bahwa beragama tidak boleh berhenti pada ritual
> dan simbol. Agama tidak hanya di 'kulit' tapi harus merasuk ke 'daging' dan
> 'tulang'. Bahkan dia dengan berani menuduh para politisi yang saya ceritakan
> di atas sedang melakukan malpraktik keberagamaan. "Apakah praktik
> keberagamaan yang serba simbolik seperti itu tidak akan membuat orang eneg
> dan mules terhadap Islam?" tanya kawan saya itu. Saya mengangguk lemes
> mengiyakan. Hati saya layu, tidak berbunga-bunga lagi.
>
> Tapi mau bagaimana lagi. Al-Qur'an adalah kitab suci seluruh ummat Islam
> tanpa melihat mereka berjanggut, berkumis atau plontos. Ka'bah juga tidak
> saja milik penguasa alim tapi juga kepunyaan penguasa lalim. Tuhan Yang Maha
> Pengasih dan Pengampun menurunkan Islam tidak hanya untuk rakayat jelata
> yang papa tapi juga bagi para politisi (tersangka) korup(si)tor.
> Wallahua'lam.
>
> *) Raja Juli Antoni, Peneliti Senior MAARIF Institute, Jakarta. Tutor di
> School of Languages and Comparative Cultural Studies, the University of
> Queensland, Australia. Dapat dihubungi di toni_damai@...
>
> (asy/asy)
>
| Reply via web post | Reply to sender | Reply to group | Start a New Topic | Messages in this topic (8) |
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment