Advertising

Friday, 22 February 2013

[wanita-muslimah] Wajah Ganda SBY

 

 
 
Oleh: Janpatar Simamora, SH., MH.
 
Kisruh yang selama ini melanda Partai Demokrat akhirnya memaksa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk langsung turun gunung melakukan penataan internal partai. Sang pendiri Partai Demokrat ini langsung mengambil alih tampuk kepemimpinan dan mengendalikan sepenuhnya partai yang sedang dililit beragam persoalan persoalan ini. Sekalipun SBY dan jajarannya tidak mencopot langsung kedudukan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum partai, namun dapat dipahami bahwa langkah itu memiliki makna yang sama dengan pencopotan. Anas hanya memegang tampuk kepemimpinan partai secara de jure, namun secara de facto, SBY lah yang memegang kendali.
Langkah penyelamatan partai versi SBY kali ini sesungguhnya kian membuktikan bahwa sesungguhnya partai penguasa ini sedang dilanda masalah besar. Kendati dalam berbagai kesempatan, sejumlah elit Demokrat selalu menyangkal bahwa partainya sedang terbelit beragam persoalan, namun fakta terkini sudah menampilkan wajah aslinya kendati dalam raut muka yang berbeda dari peristiwa-peristiwa sebelumnya. Sementara sebelumnya, banyak pihak yang mengasumsikan bahwa pasca memanasnya konflik di tubuh Demokrat, SBY akan mencopot jabatan Anas Urbaningrum sebagai ketua umum partai.

Dua Alasan Utama

Sebenarnya, sejak awal penulis berkeyakinan bahwa SBY tidak akan berani melakukan pencopotan jabatan sang ketua umum. Argumen penulis didasarkan pada dua alasan utama. Pertama, tidak terbuka ruang untuk melakukan pelengseran terhadap jabatan ketua umum Demokrat saat ini. Sekalipun berkembang isu yang cukup kuat terkait keterlibatan Anas Urbaningrum dalam salah satu proyek raksasa korupsi yang sedang ditangani KPK saat ini, namun sampai detik ini bahwa status hukum Anas belum sampai pada kategori tersangka.

Dengan demikian, maka ruang pemberhentian bagi dirinya menjadi hal yang masih terlalu jauh untuk direalisasikan. Kalau kemudian SBY sebagai Ketua Dewan Pembina partai melakukan tindakan pemecatan terhadap posisi Anas sebagai Ketua Umum, maka dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan akan dituding melakukan perbuatan yang melanggar aturan dasar partai. Sebagaimana layaknya sebuah organisasi, maka partai memiliki mekanisme dan prosedur pemberhentian yang jelas, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Partai memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagai acuan dalam mengambil tindakan kepartaian. Ibarat sebuah negara, partai memiliki konstitusi yang menjadi dasar pijakan dalam menjalankan roda kepartaian. Oleh sebab itu, manakala ada pihak-pihak yang melakukan tindakan di luar dari mekanisme dan prosedur yang telah digariskan dalam konstitusi partai, maka tindakan yang demikian akan dikategorikan sebagai bentuk tindakan inkonstitusional. Tentunya Presiden SBY yang selama ini dikenal sebagai sosok pemimpin yang merakyat dan menjunjung tinggi setiap aturan yang ada tidak akan mau bertindak gegabah.

Citra dan popularitas SBY justru akan tergerus habis manakala melakukan tindakan yang jauh dari mekanisme yang semestinya. Sekalipun SBY tidak dimungkinkan lagi merebut jabatan presiden untuk pemilu berikutnya, namun demikian bahwa hal itu tidak dengan sendirinya dapat dijadikan alasan yang cukup untuk melakukan berbagai bentuk pelanggaran atau setidak-tidaknya memberikan contoh buruk bagi tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara serta berpolitik di tanah air.

Kedua, posisi Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat selama ini tentu memiliki nilai tersendiri yang bisa jadi menyimpang sedikit banyak informasi yang bersifat rahasia. Artinya bahwa Anas Urbaningrum pasti mengetahui berbagai peristiwa yang melingkupi karier politik Partai Demokrat selama ini, khususnya sejumlah peristiwa dan informasi yang masuk dalam kategori rahasia bagi partai yang bersangkutan. Dengan pertimbangan itu, maka upaya pemberhentian Anas dari posisinya menjadi sesuatu yang sulit untuk direalisasikan, atau setidaknya membutuhkan pertimbangan yang cukup matang.

SBY sendiri tentu sangat mempertimbangkan hal itu. Sekali saja SBY melangkah lebih jauh dengan memberhentikan Anas dari posisinya, maka kemungkinan besar bahwa kemelut yang melanda Demokrat bukannya mereda, tetapi justru kian memanas dan berpotensi menambah runyam masa depan partai di masa mendatang. Dengan pertimbangan pemilu 2014 yang sudah di ambang pintu, tentu SBY tidak mau mengambil resiko yang bersifat fatal.

Terlepas dari apapun sesungguhnya yang menjadi pertimbangan SBY untuk tetap menempatkan Anas dalam posisinya, namun langkah mengambil-alih proses pengendalian partai justru melahirkan persoalan yang jauh lebih besar dari persoalan sebelumnya. Kalau selama ini, hanya Partai Demokrat yang terlibat kisruh politik dengan para elit di dalamnya, namun pasca pengambilalihan kepemimpinan partai akan menimbulkan masalah bagi bangsa ini. SBY akan merangkap sebagai presiden negara dan juga sebagai "presiden" partai berlambang mercy itu.

Wajah Ganda

Konkritnya, SBY menampilkan wajah ganda dengan menempatkan dirinya dalam dua posisi yang saling berlainan orientasinya. Kondisi ini tentu berpotensi mengganggu efektivitas pemerintahan yang sedang berada dalam genggaman SBY. Dengan posisi yang demikian, publik akan diperhadapkan pada sejumlah persoalan mendasar. Mulai dari kesulitan membedakan posisi presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan serta di sisi lain sebagai pimpinan partai.

Sekalipun kemudian belakangan SBY menegaskan bahwa dirinya akan mampu bekerja maksimal untuk rakyat dan lebih mengutamakan kepentingan rakyat di banding dengan kepentingan partainya, namun demikian bahwa pernyataan tersebut tidak dengan sendirinya akan gampang diterima publik. Dengan hanya posisi sebagai presiden bagi republik ini saja, SBY banyak mendapat sorotan tajam, khususnya terkait kelambanannya dalam mengambil sikap dan keputusan, konon lagi ditambah dengan beban baru sebagai pimpinan parpol.

Mungkin banyak pihak yang memandang bahwa langkah SBY kali ini cukup bijak dalam merespons kemelut partainya, karena strategi penyelamatan partai yang digulirkannya tidak menyalahi aturan dan mekanisme yang dianut partainya. Namun apa yang dilakukannya saat ini sesungguhnya sama buruknya, hanya saja langkah itu lebih halus, sehingga menampilkan wajah semu. Menampilkan wajah ganda dalam ruang yang berbeda pada akhirnya akan berpuncak pada satu titik kemelut yang jauh lebih besar dampak buruknya serta berpotensi memuluskan berbagai praktik penelikungan dalam arus kekuasaan.***

Penulis Adalah Pengajar di Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen Medan; peserta Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran Bandung.

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment