Advertising

Monday 28 December 2009

[wanita-muslimah] Hoakiao dari Jember

 

http://andreasharsono.blogspot.com/2007/01/hoakiao-dari-jember.html

Hoakiao dari Jember
Andreas Harsono

Namanya Ong Tjie Liang (王 志 良). Dia satu Hoakiao dari Jember, sebuah
kota tembakau di sebelah timur Pulau Jawa. November lalu, menjelang
pemilihan gubernur Aceh, saya bertemu lagi dengannya di Hotel Sultan
di daerah Peunayong, Banda Aceh.

Saya memanggilnya "Liang." Dia seorang travel writer. Saya pernah
membaca laporannya soal Pulau Weh. Ketika bertemu di Aceh, dia bilang
baru kembali dari Merauke di Papua. "Merauke datar, nggak ada pohon
tua, semua bangunan baru, abu-abu, nggak ada sejarah."

"Sabang jauh lebih punya sejarah," katanya, mengacu pada kota di Pulau Weh.

"Mungkin zaman van Heutsz, Merauke tak sebesar dan seburuk sekarang.
Transmigrasi besar-besaran dari Jawa (sejak 1980an) bikin Merauke
berkembang tanpa kendali. Welek kabeh."

Van Heutsz adalah Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz, perwira Belanda
yang mengklaim bahwa Belanda menang dalam Prang Atjeh pada 1904 dan
lantas memperkenalkan slogan "vom Sabang tot Merauke" atau "dari
Sabang sampai Merauke." Slogan ini belakangan dipakai Presiden
Soekarno ketika hendak menduduki Irian Barat pada 1960an. Maka lagu
terkenal ciptaan R. Surarjo "Dari Barat Sampai ke Timur" diubah jadi
"Dari Sabang Sampai Merauke."

Liang suka pindah-pindah isi pembicaraan. "Pernah coba makan bubur
sapi depan Hotel Katulistiwa di Singkawang?" tanya Liang, ketika tahu
saya sering ke Pontianak, tiga jam dari Singkawang. Ketika kenalan
kami, Voja Miladinovic dari Sipa Press, butuh alamat di Manado, Liang
mengeluarkan telepon seluler dan memberikan beberapa nama orang
Minahasa, Sangir maupun Talaud.

Liang pernah menulis soal Hotel Turismo di Teluk Dili. Ini hotel
indah, bersejarah, dibangun zaman Portugis. Pada November 1996,
militer Indonesia curiga kehadirannya. Di hotel itu ada sekelompok
aktivis hak asasi manusia dari Australia dan Irlandia, hendak
memperingati penjagalan orang Timor oleh tentara Indonesia di kuburan
Santa Cruz, November 1991. "George Toisuta memerintahkan kami semua
meninggalkan Dili," katanya. "Aku satu pesawat dengan orang Irlandia
itu." Toisuta kini panglima Kodam Siliwangi di Bandung. Dulu Toisuta
malang melintang di Timor Leste, Aceh dan Papua.

Liang juga bolak-balik ke Ambon dan Ternate ketika apa yang disebut
"perang agama" antara Islam dan Kristen bergejolak. Pendek kata, dia
sering berada di tempat di mana ada pergolakan. Dia masuk ke basis
Gerakan Acheh Merdeka di Pidie tapi juga blusak-blusuk di Biak, Wamena
atau Timika. Dia mewawancarai Aung San Suu Kyi di Rangoon tapi juga
Jose Ramos-Horta di Vancouver.

Orang yang kenal dia sering bingung dengan perjalanannya. Voja
Miladinovic menyebut Tjie Liang, "A good writer who could sense the
pulse of Indonesia and put it into words." Marrissa Haque, seorang
artis-cum-politikus, pernah bertanya kepadanya, "Mas ini bekerja untuk
bahan tulisan atau buat intel Amerika berkedok ilmuwan?" Liang
tersenyum kecut ketika menunjukkan SMS Marissa kepada saya. "Masak aku
dianggep CIA?" katanya.

Saya tertarik mengenal Liang karena ia berbeda dari stereotype Hoakiao
di Indonesia. Mereka biasanya dianggap tak suka politik, lebih banyak
kerja di bidang bisnis atau kerja sebagai dokter, arsitek, manajer
atau pemain badminton. Mereka juga sering dianggap kaya. Licik. Egois.
Tidak membaur. Kalau ada masalah melarikan diri. Mereka sering jadi
kambing hitam bila terjadi krisis di kepulauan ini.

Saya lebih suka memakai kata "Hoakiao" atau overseas Chinese daripada
kata "Cina" maupun "Tionghoa." Baik "Cina" maupun "Tionghoa" secara
linguistik tak membuat pembedaan antara orang macam Liang dengan
orang-orang yang ada di daratan Tiongkok.

"Tionghoa" atau "Zhonghoa" (中 崋) artinya "orang (kerajaan) Tengah."
Zhongguo (中 国) adalah nama Republik Rakyat Tiongkok dalam bahasa
Mandarin. Nama "Cina" berasal dari kata dinasti Cin. Nama "Cina" resmi
dimaksudkan untuk menghina pada zaman Presiden Soeharto. "Hoakiao"
(padanannya "Huaren" maupun "Huayin") lebih cocok untuk orang macam
Liang. Charles Coppel, yang menulis disertasi The Indonesian Chinese
in the Sixties: A Study of an Ethnic Minority in a Period of Turbulent
Political Change, belakangan memilih menyebut mereka dalam bahasa
Inggris "Chinese Indonesian" (bukan Indonesian Chinese). Artinya,
mereka lebih "Indonesia" daripada "Chinese." Novelis Pramoedya Ananta
Toer memakai kata "Hoakiao" dalam bukunya Hoakiao di Indonesia. Saya
kira panggilan "Hoakiao" lebih cocok walau saya juga tak kaku pada
pemakaian "Cina" maupun "Tionghoa."

Liang menarik sebagai bahan studi kasus karena dia lahir pada 1965
ketika Soeharto mulai naik kuasa dan melarang semua yang berbau Cina
maupun Hoakiao. Soeharto membunuh lebih dari tiga juta warga
Indonesia. Mereka dianggap komunis. Sekolah-sekolah mereka ditutup.
Bahasa Mandarin tak boleh muncul. Ada larangan membawa buku atau
cetakan dengan karakter Mandarin. Mereka dipaksa mengganti nama
mereka. Mereka tak boleh merayakan Imlek. Mereka harus minta surat
kewarganegaraan Indonesia walau mereka lahir di Jawa, Sumatra,
Kalimantan dan sebagainya. Walau mereka lancar bahasa Jawa, Melayu,
Madura dan lain-lain, mereka dianggap "keturunan asing."

Kini sesudah Presiden Soeharto turun dari kekuasaannya, diskusi soal
orang-orang macam Tjie Liang bisa dibicarakan lebih terbuka. Presiden
Abdurraman Wahid mengizinkan kebudayaan Hoakiao dipertunjukkan
kembali: bahasa Mandarin, tahun baru Imlek, agama Khong Hu Chu dan
sebagainya. Saya ingin tahu bagaimana generasi Hoakiao ini memandang
dirinya sendiri? Bagaimana generasi yang hilang ini memandang
diskriminasi terhadap diri mereka?

Bila Anda naik mobil dari Surabaya menuju Jember, Anda akan menelusuri
Sungai Bondoyudo di daerah perkebunan tebu Jatiroto. Sepanjang jalan
ada rel dan lori tebu. Ada sawah-sawah. Ini mengingatkan saya pada
gambaran perkebunan gula dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya.

Pusat kota Jember biasa disebut "Jalan Raya." Disana ada macam-macam
toko dengan sebuah alun-alun serta dua masjid besar. Menurut sensus
Badan Pusat Statistik tahun 2000, kabupaten Jember punya 2.2 juta
penduduk di mana 98.6 persen Muslim. Orang Hoakiao Jember kebanyakan
beragama Kristen atau Buddha. Ada sedikit yang beragama Islam. Mereka
tinggal di daerah perdagangan, baik di Jember atau kota-kota kecil
semacam Kalisat, Ambulu atau Balung. Mereka golongan minoritas.
Jumlahnya, saya perkirakan kurang dari 10,000 orang atau kurang dari
0.5 persen.

Penduduk kota Jember kebanyakan bicara bahasa Jawa atau Madura. Bahasa
Jawa dialek Jember agak beda dengan Jogjakarta atau Solo. Orang Jember
memakai kata "koen" atau "kowe" untuk panggilan orang kedua. Oleh-oleh
khas Jember adalah tape (singkong yang diragikan) atau suwar-suwir
(manisan dari tape, rasanya empuk-empuk manis).

Jember mulai tumbuh sebagai daerah urban pada 1850an ketika George
Birnie, seorang warga Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan
dan memasarkan tembakau dari Jember ke Eropa. Birnie mendatangkan
pekerja dari daerah sekitar Blitar dan Pulau Madura. Menurut seorang
buyutnya, novelis Alfred Birney, George Birnie menikah dengan Rabina,
perempuan Jawa, dan mengirim anak-anaknya ke negeri Belanda untuk
studi. Salah satu di antaranya adalah Willem Birnie, kakek Alfred
Birney.

"Keluarga Birnie dulu keluarga kaya di Jember," kata Jacoba Jasina
Maria Vink, seorang pensiunan guru Jember. Bapaknya, Gerardus Hermanus
Vink, tiba di Jember dari Belanda pada 1910 untuk bekerja di Landbouw
Maatschapij Oud Djember milik keluarga Birnie. Vink senior menikah
dengan perempuan Jawa. Jacoba kelahiran 1918. Dia kenal betul
perubahan Jember dari zaman Belanda, Jepang dan Indonesia.

George Birnie juga menanam kopi, coklat, kelapa dan sebagainya.
Kehadiran Birnie memancing pengusaha lain ikut membuka perkebunan.
Pada 1950an, perkebunan-perkebunan ini disita pemerintah Indonesia dan
dijadikan perkebunan negara.

Salah satu toko di Jalan Raya bernama Toko Sinar, milik keluarga besar
Ong Tjie Liang. Di sampingnya, ada Toko Juli, milik Ong Seng Hwie,
empeknya Tjie Liang (empek dalam bahasa Hokkian artinya "paman tua").
Di kedua toko inilah saya mendapat cerita tentang asal-usul keluarga
Liang. Toko-tokonya sangat sederhana. Meja dan almari dari kayu tua.
Penerangan redup. Toko Sinar menjual alat listrik. Toko Juli menjual
radio dan tape recorder.

Hwie mengatakan orang tuanya bernama Ong Kong Swie dan Yauw Siauw Tja.
Swie berasal dari desa bernama Kang Tauw, distrik Bo Chan, daerah Hen
Hwa di Hokkian, selatan Tiongkok. "Itu daerah miskin, nggak ada
industri," katanya. Kebanyakan orang Hokkian jadi petani atau nelayan.
Kakeknya Hwie bernama Ong Kie Soen. Kuburannya ada di Kang Tauw. Siauw
Tja sendiri berasal dari desa Hwi Aua, distrik Bo Chan.

Pada 1925, pasangan ini naik kapal via Xiamen menuju Surabaya.
Tujuannya, rumah kakak Swie, bernama Ong Kong Siang, yang membuka
bengkel sepeda di Mojokerto, selatan Surabaya.

Swie pun ikut mengelola bengkel. Dia sempat pindah ke Banyuwangi, di
mana Hwie lahir pada 1928. Namun pada 1930 mereka kembali ke Mojokerto
ketika Siang memutuskan kembali ke Tiongkok. Swie mengambil alih
bengkel kakaknya di Mojokerto. Pada 1930, Siauw Tja melahirkan anak
laki-laki lagi, diberi nama Ong Seng Hwa.

Pada 1932, Swie memutuskan pindah ke Jember dari Mojokerto. Hwa
mengatakan pada saya bahwa empek dan papanya mulanya punya kongsi di
Jember. Namun kongsi ini pecah dengan rekan dagang mereka. Swie pun
pergi ke Jember guna mengurus bengkel dan toko sepeda bernama "Han
Gwan Hin."

Waktu itu, Jember berkembang pesat berkat perkebunan dan pertanian
tembakau. Keluarga Birnie membuka jalur lelang tembakau langsung di
Amsterdam. Toko "Han Gwan Hin" ikut berkembang dalam pertumbuhan
ekonomi ini. Belakangan saudara misan Swie, bernama Ong Kong Ling,
ikut menyusul ke Jember dan membuka home industry kembang tahu. Kelak
kedua keluarga Ong ini memiliki ratusan keturunan di Jember. Namanya
manusia, mereka kawin campur, dengan orang Hakka, Jawa, Madura dan
sebagainya. Agamanya juga macam-macam, dari Khong Hu Chu sampai Islam.

Bagaimana menerangkan keluarga pendatang ini di Pulau Jawa? Leo
Suryadinata dalam buku The Culture of the Chinese Minority in
Indonesia membuat dua kategori orang Hoakiao: peranakan dan totok. Dua
kategori ini mulai muncul pada awal abad XX ketika migrasi orang Cina
ke Jawa meningkat.

Menurut Suryadinata, kaum peranakan atau babah kebanyakan tak
menguasai bahasa etnik mereka, entah Hokkian, Hakka atau Teochiu. Ada
sedikit yang bisa bahasa Mandarin, satu dari lima bahasa resmi
Perserikatan Bangsa-bangsa. Mereka relatif tinggal lebih lama di Pulau
Jawa. Mereka mengirim anak-anaknya ke sekolah dengan kurikulum
Belanda. Orientasi kewarganegaraan mereka adalah Belanda. Mereka
bekerja sebagai profesional, dokter, arsitek, penulis dan sebagainya.

Misalnya, anak George Birnie, Willem, sesudah berpisah dari isteri
Belandanya, kawin tanpa ikatan pernikahan resmi, dengan seorang
perempuan peranakan bernama Sie Swan Nio. Mereka punya lima anak,
semuanya lahir di Surabaya, antara 1912 dan 1925. Ayah novelis Alfred
diberi nama Adolf Sie. Dia seorang peranakan Indo-Tionghoa.

Beda dengan peranakan, kaum totok orientasinya ke Tiongkok. Anak-anak
totok sekolah bahasa Mandarin. Mereka juga menguasai bahasa Mandarin
atau bahasa etnik. Agamanya kebanyakan Khong Hu Chu. Ini berbeda
dengan kaum peranakan yang cukup banyak beragama Katholik atau
Protestan. Pekerjaan totok kebanyakan berdagang. Keluarga Ong adalah
keluarga totok. Mereka memelihara rumah abu moyang mereka. Mereka
memakai dua bahasa: Hokkien dan Melayu. Di Jember, Siauw Tja
melahirkan lima anak lagi sehingga total ia memiliki lima putra dan
tiga putri. Anak-anak ini bisa bahasa Madura dan Jawa.

Menurut Hwie, papanya berwatak sedikit keras. "Kerja apa saja mau dia.
Seperti becak, itu khan kerjaan nggak enak. Dia bisa berhasil kerja,"
kata Hwie. Belakangan Swie menjadi juragan becak.

Pada 1936, Siang meninggal dunia di Tiongkok. Pada awal 1941, Swie
pergi ke Tiongkok untuk urusan keluarga kakaknya. Ketika suaminya
pergi, Siauw Tja hamil anak bungsu mereka. Anak ini lahir pada 18
November 1941 dan dinamai Ong Seng Kiat (王 先 业). Dialah yang kelak
menjadi ayah Ong Tjie Liang.

Beberapa bulan sesudah kelahiran Seng Kiat, Jepang menyatakan ikut
Perang Dunia II dengan menyerang pangkalan laut Amerika Serikat di
Pearl Harbor, Hawaii. Jepang segera menduduki Asia Tenggara. Kehidupan
ekonomi dan sosial di Hindia Belanda porak-poranda. Di Jember, bahan
makanan dan pakaian sulit sekali didapat. Perkebunan banyak tak
berjalan karena banyak pegawai administrasi ditangkap Jepang.

Jacoba Jasina Maria Vink mengatakan bahwa bapaknya meninggal dalam
tahanan (intern) Jepang di Ambarawa, dekat Jogjakarta. Rumah mereka
dirampas "pemuda" –maksudnya milisi Indonesia. Jacoba Vink dan
saudara-saudaranya ditahan bersama sekitar 300 orang Belanda di Kotok,
sebuah perkebunan dekat Jember. "Besar sekali sentimen terhadap orang
Indo," kata Jacoba.

"Kalau sini jalan, nggak punya sepatu dimakan rayap. Mau jalan ke
gereja dibilang, 'Oh iku senuk Jepang,'" kata Jacoba, artinya, "Oh itu
pelacur Jepang."

Yauw Siauw Tja bekerja keras menghidupi ketujuh anaknya. Putri
sulungnya kebetulan sudah menikah dan tinggal di Banyuwangi. Menurut
Ong Seck Nio, adiknya Hwa, mama mereka membuat kue keranjang dan telor
bebek asin. Remaja Hwie berjualan ikan asin di daerah Puger, sebuah
perkampungan nelayan. Hwa dan Seck Nio berjalan kaki menjajakan telor
asin dan kue keranjang. "Jalan sampai Patrang," kata Seck Nio kepada
saya. Patrang waktu itu daerah pinggiran kota Jember.

Hwa dan Seck Nio juga harus membantu mengasuh adik-adik mereka, yang
masing-masing hanya terpaut satu tahun. Pada 1945, ketika Seck Nio
berumur 13 tahun, dia diminta ikut kakaknya, Ong Seck Eng, pindah ke
Banyuwangi, mengasuh anak-anak Seck Eng.

Perang Dunia II membuat hubungan kapal laut antara Tiongkok dan Jawa
terputus. Pada Agustus 1945, Soekarno dan Mohamad Hatta, dua tokoh
nasionalisme Indonesia, menyatakan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.
Belanda tidak terima. Belanda dan Indonesia berunding, diwarnai
perselisihan militer, hingga 1949, ketika Hatta menerima penyerahan
kedaulatan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat di Den Haag.

Ong Kong Swie tak bisa keluar dari Tiongkok untuk kembali ke Jember.
Dia menikahi janda kakaknya di Tiongkok. Baru pada 1948, ketika
suasana perang pelan-pelan mereda, Swie naik kapal ke Medan lalu
kereta api ke Jakarta dan Surabaya. Seng Kiat pertama kali menjemput
papanya pada umur tujuh tahun. "Dia takut pulang ke Jember, punya
salah," kata Seng Kiat.

Ong Seng Kiat tumbuh dewasa di Jember. Dia pandai bergaul, suka
bergurau, suaranya besar dan punya banyak sekali kenalan –Hoakiao,
Hakka, Madura, Jawa, Osing dan sebagainya. Dia bisa bahasa Melayu,
Jawa, Madura, Mandarin, Hakka dan Hokkian. Nama "Seng Kiat" –banyak
orang susah mengeja nama-nama Hoakiao— secara alamiah disederhanakan
dalam pergaulan menjadi "Sengkek."

Sengkek sempat mengecap bangku sekolah menengah di Surabaya namun
kelas dua sudah keluar. "Ngerpek (mencontek) ketemu diusir," kata
Sengkek. Sengkek dikeluarkan dari sekolah bersama kakaknya, Seng Hay,
yang lebih tua setahun. Kakak sulungnya, Hwie, menyayangkan
adik-adiknya tak sekolah dengan benar. Dia mengatakan pada saya bahwa
wajar bila anak-anak tertua --macam dirinya, Hwa dan Nio-- sekolahnya
kacau karena zaman perang. "Mama terlalu memanjakan anak-anaknya,"
kata Hwie, mengeluh soal adik-adiknya.

Pada 5 Maret 1963, Ong Kong Swie, setelah 15 tahun kembali hidup di
Jember, meninggal dunia. Sengkek menikahi tunangannya, Tjen Ie Lan,
seorang perempuan Hakka, di depan peti jenasah papanya. Sengkek
percaya lebih baik menikah depan jenasah orang tua daripada menunda
pernikahan. Swie dimakamkan di kuburan orang Hoakiao di Kaliwates,
Jember. Sengkek memutuskan berdagang alat-alat listrik, mengubah nama
"Han Gwan Hin" menjadi Toko Sinar. "Modal cuma Rp 137,500," kata
Sengkek.

Tjen Ie Lan, isteri Sengkek, seorang perempuan kelahiran Kalisat tahun
1943. Orang tuanya, Tjen Tek Jong dan Tan Bing Lien, berasal dari
distrik Ta Bu, provinsi Hakka di Guang Dong, selatan Tiongkok.
"Kebanyakan disana soro (sengsara), ke Jawa cari kehidupan baru," kata
Tjen Ie Ing, kakak perempuan Ie Lan, kepada saya.

Alasan klasik. Para imigran di seluruh dunia, dari Amerika hingga
Afrika, mencari penghidupan lebih baik ketika suasana di kampung
halamannya susah. Ketika masih berumur belasan tahun, Tek Jong
berangkat dari Guang Dong menuju Hongkong. "Agak lama di Hongkong,
terus Singapore lalu Jakarta," kata Ie Ing.

Pada 1924, ketika baru berumur 17 tahun, Tek Jong tiba di Surabaya dan
memutuskan berdagang di daerah perkebunan tembakau di Kalisat, dekat
Jember. Dia juga mengundang ayahnya datang ke Kalisat namun si ayah
tidak kerasan dan kembali ke daratan Tiongkok.

Sepuluh tahun di Kalisat, Tek Jong "mengimpor" calon isteri dari
Tiongkok lewat bantuan seorang mak comblang. Tan Bing Lien baru
berumur 19 tahun ketika tiba di Kalisat. Dia juga baru pertama kali
bertemu calon suaminya. Perempuan ini mungil, biasa kerja keras, anak
yatim. Mereka menikah dan dikarunia dua putra dan dua putri.

Ada seseorang yang membuat perubahan besar dalam keluarga Tjen dan
kelak pada kehidupan Tjie Liang. Pada 1939, sebuah gereja Pantekosta
di Surabaya mengundang seorang penginjil dari Tiongkok. Namanya, Dr.
John Sung, yang terkenal di daratan Tiongkok dan Asia Tenggara.

John Sung sebelumnya kuliah di Wesleyan University di Ohio, Amerika
Serikat, lalu meraih Ph.D. di bidang kimia di Ohio State University.
Dia mahasiswa cerdas. Gelar master dan doktor dicapainya hanya dalam
30 bulan. Namun kehidupan John Sung makin hari makin kristen. Dr. John
Sung lalu memutuskan kuliah theologi di Union Theological Seminary di
New York. Namun dia tak suka dengan pendekatan ilmiah di sekolahnya.
Agama kok dilihat dengan nalar? Pada 1927, dia pulang ke Tiongkok. Di
kapal, dia terus-menerus berdoa, akhirnya memutuskan membuang semua
ijasah, sertifikat dan medali penghargaannya ke laut. Walau bisa
membangun karir dan menjadi kaya raya sebagai pejabat dalam birokrasi
Kekaisaran Tiongkok, John Sung memutuskan jadi pengkhotbah miskin.

Caranya berkhotbah tergolong spektakuler. Dia menyanyi, berkhotbah,
menangis, berkhotbah, menyanyi, biasanya selama dua jam, tiga kali
sehari! John Sung pernah membawa peti mati ke dalam gereja, lalu
berteriak, "Cari uang, cari uang, angkat peti mati ini." John Sung pun
lantas masuk ke dalam peti. Maksudnya, dia mengkritik orang Cina yang
cuma cari uang, lupa urusan agama dan kematian. Cara-caranya
berkhotbah menimbulkan sensasi. Di Surabaya, dia mempengaruhi banyak
orang Hoakiao, termasuk suami-isteri Tek Jong dan Bing Lien, masuk
agama Kristen.

Ie Lan lahir ketika orang tuanya sudah Kristen. Dua tahun sesudah
menikah, Ie Lan melahirkan putra sulungnya, Ong Tjie Liang. Mereka
tinggal di sebuah rumah dalam sebuah gang sempit. Sengkek sibuk
mengelola Toko Sinar. Ie Lan jadi ibu rumah tangga sekaligus membantu
suaminya di toko.

Tiga minggu sesudah kelahiran Liang, pada 1 Oktober 1965, sekelompok
tentara dari Divisi Diponegoro dan Tjakrabirawa, menculik dan membunuh
beberapa jenderal Angkatan Darat di Jakarta. Para penculik diduga
perwira-perwira binaan Partai Komunis Indonesia. Maka Jenderal
Soeharto memimpin suatu penumpasan golongan kiri, yang termasuk paling
berdarah di dunia. Pulau Jawa banjir darah! Antara dua hingga tiga
juta orang dibunuh tanpa lewat proses pengadilan. Di Jember, belasan
orang mengatakan pada saya bahwa mereka sering melihat mayat mengapung
di sungai. Banyak mayat tanpa kepala.

Suasana chaos. Ie Lan mengungsi sementara ke Surabaya. Sengkek sering
meninggalkan Ie Lan sendirian di rumah. Sengkek ternyata juga sering
memukul Ie Lan bila bertengkar. Ie Lan mengatakan pada saya bahwa dia
merasa "lahir baru dan percaya Yesus" pada periode ini. Dia berubah
dari orang Kristen formal menjadi Kristen Lahir Baru. Ie Lan lantas
rajin pergi ke gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Tjong Hwee cabang Jember.
Ini sebuah gereja Hoakiao, didirikan sejak zaman Belanda, dengan nama
Bond Kristen Tionghoa. Ie Lan rajin membantu pekerjaan gereja.

Pada awal 1970an, Soeharto sudah membungkam semua lawan politiknya.
Ratusan ribu aktivis kiri diasingkan di Pulau Buru. Amerika Serikat
dan Inggris diam saja melihat pelanggaran demi pelanggaran hak asasi
manusia di Indonesia. Mereka menganggap Soeharto sekutu penting mereka
dalam menghadapi komunisme. Soeharto membuka pasar Indonesia terhadap
modal Barat. Freeport McMoran membuka tambang raksasa di Papua.
Ekonomi tumbuh. Geliat ekonomi ini juga membuat perkebunan-perkebunan
Jember bergerak lagi. Lelang tembakau pindah dari Amsterdam ke Bremen,
Jerman. Sengkek dan Ie Lan membeli sebuah rumah besar kolonial
Belanda. Kehidupan mereka pun mulai makmur. Ada mobil, liburan ke
pantai, punya villa di gunung, makan-makan dan sebagainya.

Namun Soeharto memperkenalkan pendekatan baru terhadap apa yang
disebutnya "masalah Cina." Dia hendak menciptakan berbagai macam
aturan. Intinya, tiga buah pilar kebudayaan Hoakiao akan dipangkas:
media berbahasa Mandarin, sekolah-sekolah Hoakiao serta organisasi
sosial dan politik kaum Hoakaio.

Mulanya, sesudah Indonesia berdaulat, ada dua aliran pemikiran di
kalangan tokoh Hoakiao tentang posisi Hoakiao. Indonesia sudah jadi
negara merdeka. Belanda sudah tak kuasa di Batavia lagi. Tiongkok
adalah tanah leluhur tapi bukan tanah air mereka.

Aliran pertama, mempromosikan kebijakan "integrasi" dimana orang
Hoakiao tetap bebas memiliki kebudayaan mereka. Nama Hoakiao macam Ong
Tjie Liang bisa tetap dipakai. Agama Khong Hu Chu, sekolah bahasa
Mandarin dan sebagainya sah dipertahankan. Aliran ini didukung oleh
Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) dengan tokoh
Siauw Giok Tjhan dan Yap Thiam Hien. Baperki gencar mengkritik
berbagai kebijakan politik "asli" yang tumbuh subur di Pulau Jawa dan
Sumatra sejak awal 1950an. Baperki berpendapat, dalam kebangsaan
sejati, setiap warga punya hak dan kewajiban sama, tanpa pandang bulu
etnik atau agamanya.

Aliran kedua bicara soal "asimilasi" atau "pembauran" dimana orang
Hoakiau dianjurkan ganti nama. Mereka ingin kebudayaan Hoakiao membaur
dengan apa yang disebut "penduduk asli." Tujuannya, kaum minoritas
Hoakiao kelak tak lagi akan menjadi suatu kelompok tersendiri.
Organisasinya bernama Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB).
Tokoh-tokohnya, K. Sindhunata, Junus Jahja, P.K. Ojong, Onghokham,
Harry Tjan Silalahi dan Soe Hok Gie.

Debat ini lalu campur baur dengan politik. Baperki mendekat ke
Presiden Soekarno dan Partai Komunis Indonesia. Yap Thiam Hien tak
setuju dengan kebijakan ini. Dia keluar dari Baperki. LPKB mendekat ke
golongan kanan dan militer. Ketika Soeharto menghancurkan golongan
kiri dan Soekarnois, tak ayal lagi, Soeharto juga menumpas Siauw dan
kawan-kawannya. Ratusan sekolah Hoakiao ditutup. Kebudayaan Hoakiao
dilarang. Mereka disuruh untuk ganti nama. Bahasa Mandarin dilarang.
Anak Hoakiao dibatasi untuk masuk ke birokrasi, militer dan
universitas. Kelenteng-kelenteng Khong Hu Chu diganti jadi vihara
Buddha. Soeharto juga minta semua orang Hoakiao memiliki surat
kewarganegaraan Indonesia. Surat-surat ini, dari surat ganti nama
hingga kewarganegaraan, kelak jadi ajang pemerasan.

Namun Soeharto menekankan kebijakannya pada pembangunan ekonomi.
Selama Soeharto berkuasa, muncul beberapa ratus konglomerat.
Kebanyakan pengusaha Hoakiao. Kesannya, Hoakiao adalah sekutu
Soeharto. Media membantu menciptakan kesan bahwa semua orang Hoakiao
kaya dan segelintir konglomerat itu –termasuk Sudono Salim Prajogo
Pangestu, Bob Hasan-- adalah "wakil" masyarakat Hoakiao. Kebencian
terhadap Hoakiao terkadang muncul dari pembantu-pembantu Soeharto
lewat media dan militer. Ada menterinya bilang bahwa jumlah orang
Hoakiao hanya tiga persen di Indonesia, namun menguasai 90 persen
ekonomi Indonesia. Kemiskinan pun disalahkan pada golongan Hoakiao.

Debat "integrasi" versus "asimilasi" itu, tentu saja, tak melibatkan
Hoakiao Jember. Kebanyakan Hoakiao Jember tak terlibat politik. Mereka
super minoritas. Namun dampaknya terkena juga. Antara 1965 dan 1966,
rezim Soeharto merampas sekolah-sekolah Mandarin di Jember. Toko-toko
Hoakiao ada yang diambil. Pada 1971, Sengkek mengambil keputusan
mengganti namanya. Dia menemui seorang guru Jawa, kenalannya di
Jember, untuk dicarikan nama Jawa. Ratusan Hoakiao lain juga mengganti
nama mereka.

Sekolah Mandarin sudah ditutup ketika Liang kecil mulai sekolah.
Sengkek dan Ie Lan mengirim Liang ke sekolah Katholik. Ie Lan
sebenarnya kurang suka pada ajaran Katholik. Dia menganggap orang
Katholik "menyembah patung" –ini tuduhan khas orang Protestan terhadap
patung Bunda Maria. Tapi SD Katholik Maria Fatima termasuk sekolah
terbaik di Jember. Sengkek suka karena sekolah ini disiplin.

Suatu pagi, kelasnya Liang pergi main sepak bola di alun-alun. Liang
ternyata tidak ada. "Aku lihat dia duduk di bawah pohon, baca buku,"
kata Ie Lan, mengenang masa kecil anak sulungnya. Salah seorang guru
Liang, tak lain tak bukan adalah Jacoba Maria Vink, orang
Indo-Belanda, yang kebetulan juga tetangga Sengkek. "Aku bangga ketika
ujian, murid-muridku dapat nilai 10 semua," kata Vink.

Saya beruntung Liang mengizinkan saya membaca semua buku harian
miliknya. Liang rutin menulis kegiatannya, hampir setiap hari, sejak
berumur 12 tahun ketika dia melanjutkan di SMP Katholik Maria Fatima.
Buku harian ini menggambarkannya sebagai anak biasa, suka main basket
(Rabu-Jumat) dan badminton (Selasa-Kamis). Suka nonton bioskop, entah
di gedung Jaya, Kusuma atau Sampurna. Dia mencatat judul-judul film
tontonannya: Special Magnum, Jalal Kawin Lagi, Savage Weekend,
Midnight Express, Killer Dogs, Inem Pelayan Sexy, Game of Death.
Buku-buku bacaannya mulai serius. Dia membaca biografi Soekarno,
Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, John Sung, Mochtar Lubis, Soe Hok
Gie.

Setiap pagi dia sekolah, siang menjaga toko, sore main basket, malam
nonton bioskop. Dia terkesan ketika nonton final World Cup di televisi
hitam-putih antara kesebelasan Argentina dan Belanda di Buenos Aires
pada 1978. Ini siaran langsung pertama World Cup di Pulau Jawa.
Argentina, dengan jagoannya Mario Kempes, menang 3-1.

Liang sering menyebut nama keempat adiknya: Jinjin, si kembar Tantan
dan Chenchen serta Bingbing. Mereka sering main bersama:
kejar-kejaran, petak umpet, debukan dan lain-lain. Debukan adalah
permainan tradisional anak-anak Jember. Intinya, sebuah bola kasti
dipakai untuk melempar pemain. Pemain yang kena lempar harus mendebuk
pemain lainnya. Kegemaran Liang adalah memelihara ikan, burung
berkicau dan merpati. Dia mencatat kapan beli uget-uget (makanan ikan)
atau kroto (makanan burung). Dia punya lebih dari dua lusin burung.

Ketika umur 13 tahun, dia mencatat bahwa dia mulai les bahasa Inggris
setiap sore (Senin-Rabu-Jumat) di Hur's English Course. "22 Mei 1979:
pakai celana panjang pertama kali," tulisnya. Dia bangga. Maklum bila
sekolah, murid-murid masih pakai celana pendek. Namun suatu saat, dia
terlalu cepat menutup ritssluiting celana sehingga "burungnya"
terjepit. Sakitnya minta ampun. Butuh waktu sekian menit untuk
pelan-pelan membuka kembali ritssluiting itu. Untung "burung khusus"
itu tidak berdarah.

Ada juga kisah sedih. Pada 1979, hubungan Ie Lan dan Sengkek makin
jelek. Sengkek terlibat affair dengan Winarti, seorang guru Jawa
Protestan, yang mengajar di sekolah milik Kie Tok Kauw Tjong Hwee. Ie
Lan memutuskan pergi sementara ke Lawang, dekat Malang, untuk
menenangkan diri dan belajar theologi di Institut Theologi Alkitab.

Sengkek menikahi Winarti. Ie Lan tak berani menggugat cerai mengingat
lima anaknya. Ironisnya, Ie Lan dan Winarti hamil bersamaan. Ie Lan
melahirkan anak bungsunya, Ie-ie, pada 1979 dan Winarti melahirkan
Deasy pada 1980. Liang menemani mamanya ketika melahirkan adik bungsu.
Sengkek tak menengok bayinya. Winarti tinggal di villa mereka di
Rembangan, daerah peristirahatan dekat Jember. Liang dan adik-adiknya
tinggal di Jember.

"Mama pergi dengan Bingbing. Saya menangis jika memikirkan ini. Untuk
melupakan, saya bermain debukan," catat Liang.

Sengkek juga pernah memukul anak-anaknya. "Saya dipukul Papa sebab
salah beli cat tembok. Teguh ganti Rp 1,150," tulisnya. Teguh adalah
Teguh Sugianto, seorang pegawai Toko Sinar. Namun Liang juga memukul
adik-adiknya.

Dalam buku hariannya, Liang sering mencatat keakrabannya dengan
beberapa karyawan papanya termasuk Teguh, seorang yatim piatu, lelaki
Hoakiao asal Pekalongan, kulitnya gelap sekali. Ada juga Sapek atau
Man Tuka, seorang tukang listrik Madura. Ada juga Mbek Wi, perempuan
Madura kelahiran Kalisat. Bek Wi, seorang janda, merawat Liang dan
adik-adiknya, dari bayi hingga dewasa. Man Tuka dan Bek Wi bekerja
sejak Liang belum lahir hingga pensiun. Mereka sering tak tega melihat
anak majikannya dipukul hanya karena salah kecil. Ada juga Pak Ti,
orang Jawa, pendiam, khusus menangani burung dan ayam peliharaan.
Liang mencatat bahwa Bek Wi selalu mengerokinya bila ia sakit. Liang
terbaca suka sekali pada Man Tuka dan Bek Wi.

Pada 7 Maret 1981, Liang mengisi buku hariannya: "Waktu selesai ujian
teori seni suara, saya mau mengambil sepeda di tempat sepeda. Ada
sebuah kaleng bekas tempat susu (kental). Kaleng saya tendang, tanpa
saya ketahui bahwa ada Pak Moel (guru sejarah Aloysius Moeljoto)."

"Saya kemudian dipanggil. Ditanya: Tahu aturan atau tidak?"

"Saya jawab, 'Tahu.' Tiba-tiba saya ditempeleng dan hilanglah kacamata
saya hancur berkeping-keping."

"Kemudian dia menarik saya masuk dalam kelas. Kemudian dia berkata,
"Pecah atau tidak naik kelas?"

"Saya menangis, saya tentu menjawab pecah. Tapi pulangnya, hati saya
berontak." Moeljoto mengancam Liang tidak naik kelas bila melaporkan
kejadian itu.

Dua hari kemudian, Suster Maria Anneti, kepala sekolah SMP Maria
Fatima, memanggil Liang ke ruangnya. Liang menulis, "Di kantor, suster
bertanya soal kemarin dulu. Dia mengatakan bahwa menurut Pak Mul,
anjing itu, ia hanya akan menyentuh kepala saya untuk menjorokkan
saya. Tapi bersamaan dengan itu saya bergerak."

"Saya bantah dengan mengatakan bahwa kacamata saya jatuh kurang lebih
tiga meter dari tempat berdiri. Suster tetap mengatakan bahwa saya
tetap bersalah karena menendang kaleng."

Inilah pertama kali Liang merasakan ketidakadilan. Seorang guru
memukul murid lalu berbohong. Ada lebih dari 40 murid melihat namun
tak ada satu saksi pun ditanyai. Suster Anneti membela Moeljoto. Liang
pun memutuskan membalas dengan caranya sendiri. Hari itu, dia
memecahkan kaca toilet sekolah dengan tangannya sendiri!

Saya sedih membaca buku-buku harian Liang periode 1979-1982, sesudah
pernikahan kedua Sengkek. Dia jadi anak yang sering merasa tertekan.
Dipukul papanya sendiri, dipukul gurunya sendiri. Buku-bukunya penuh
dengan detail. Saya tergoda untuk menyimpulkan bahwa buku harian
inilah tempat latihan Liang berlatih menulis pertama kali. Dia memaki
Moeljoto dan Sengkek dengan kata-kata yang kasar. Namun dia juga
menulis puisi dalam bahasa Melayu maupun Inggris. Ketika pergi ke
Jember, saya hendak menemui Moeljoto, ternyata dia meninggal terkena
stroke Juni 2004.

Pada 1982, ketika Liang lulus sekolah, Ie Lan mengambil keputusan
penting. Dia membujuk suaminya mengirim Liang ke sekolah Katholik di
Malang. Namanya, SMA Katholik Sint Albertus. Ie Lan menitipkan Liang
kepada teman dekatnya, sebuah keluarga Hoakiao asal Samarinda, yang
punya rumah di Malang dan Lawang.

Sint Albertus sebuah sekolah Katholik milik Ordo Carmel. Ia didirikan
1936 oleh pastor-pastor Belanda. Bangunannya jauh lebih besar, lebih
tua dan lebih elegan dari sekolah-sekolah di Jember. Waktu Liang
masuk, sekolah ini dipimpin E. Siswanto, seorang pastor Jawa, biasa
dipanggil "Romo Sis" –seorang legenda dalam dunia pendidikan. Sekolah
ini juga dikenal dengan nama SMA Dempo karena terletak di Jalan Dempo.
Alumni sekolah ini cukup beragam. Ada novelis Y.B. Mangunwijaya, tapi
juga Jenderal Rudini, mantan kepala staf Angkatan Darat Indonesia.

Ie Lan mengantar Liang mondok di rumah keluarga Joseph Kumala: Jl.
Argopuro 25, Lawang. Liang sedih meninggalkan orang tua, adik-adik dan
teman-temannya di Jember. Ketika Ie Lan pulang ke Jember, Liang
mengantar ke pintu gerbang. Lalu Liang masuk ke kamar dan menangis
sendirian.

Usia Liang baru 16 tahun. Dia belum pernah sekali pun tinggal jauh
dari keluarga. Dia merasa sedih meninggalkan mamanya, yang sering
bertengkar dengan papanya. Keluarga Kumala menyediakan sebuah kamar
kecil, 1.5x2 meter, mungkin bekas gudang. Kamar bersih. Ada ranjang
besi dan lemari pakaian mungil. Halaman rumah luas. Ada sekitar dua
lusin pohon buah. Tante Kumala suka menanam bunga.

Namun perlahan-lahan Liang mulai menyukai sekolah baru ini. Jalan
Dempo sebuah kawasan peninggalan Belanda. Banyak pohon-pohon dan
jalan, yang aman untuk anak-anak sekolah berjalan setiap pagi dan
siang.

Setiap pagi, sekitar pukul 6:00, Liang diantar mobil ke Malang. Mobil
Colt Mitsubishi itu juga dipakai untuk antar jemput anak sekolah.
Keluarga Kumala punya rumah di Malang. Liang lebih sering tinggal
sendirian di rumah Lawang.

Beberapa bulan kemudian, satu keluarga missionaris dari Pusan, Korea,
Han Soong In, ikut tinggal di rumah besar ini. Han dosen Institut
Theologi Aletheia, tempat mamanya pernah kuliah, yang terletak hanya
lima rumah lagi dari rumah Kumala. Keluarga Han punya dua anak kecil.

Aneh juga, Liang menumpang di rumah orang, lalu ada keluarga Korea
menempati rumah utama. Kikuk juga. Liang tak tahu banyak soal
pergaulan. Pengalaman itu membuat Liang belajar banyak. Bagaimana
harus membawa diri? Bagaimana berhadapan dengan orang yang latar
belakangnya berbeda? Bagaimana belajar toleran?

Di Lawang, Ie Lan mengantar Liang ke Gereja Kristus Tuhan, nama baru
gereja Kie Tok Kauw Tjong Hwee, yang tentu saja, juga harus ganti
nama. Gereja ini hanya terletak empat rumah dari pondokannya. Liang
bahkan pernah jadi ketua perkumpulan pemuda gereja ini.

Liang jatuh cinta pada perpustakaan sekolah. Liang mulai meminjam
buku-buku yang kelak ternyata mempengaruhi caranya memandang dunia.
Novel kesukaannya, karya Albert Camus, Pearl S. Buck dan Somerset
Maugham. Semua karya-karya klasik dibaca. Dia juga tertarik pada
Perang Vietnam. Foto-foto perang tersebut sangat mengesankannya. Namun
juga ada roman picisan. Dia menguasai bahasa Inggris, cukup guna
membaca novel-novel itu.

Suatu hari, Romo Sis mengumumkan di loud speaker bahwa mulai bulan
lalu dipilih murid, yang paling banyak meminjam buku perpustakaan.
Murid tersebut akan diberi penghargaan. Dia menyebut nama Liang
sebagai peminjam buku terbanyak. Liang terkejut. Pengumuman itu sangat
mengesankan dirinya. Guru-guru, wali kelas dan teman-temannya memberi
ucapan selamat.

Minat Liang sebenarnya pada ilmu-ilmu sosial dan bahasa. Namun awal
1982, Liang hanya seorang remaja yang tak tahu banyak tentang luasnya
dunia. Liang kesepian dan tak banyak yang dikerjakan di luar sekolah
dan gereja. Liang hanya berpikir menurut kebanyakan temannya. Murid
pandai harus masuk ilmu alam.

Maka Liang pun masuk jurusan ilmu alam. Ini keputusan yang tak tepat.
"Aku tidak menyesal masuk jurusan ilmu alam tapi terkadang aku pikir
bagaimana hari ini bila sejak sekolah menengah memilih ilmu sosial?"
katanya.

Liang suka ikut kegiatan olah raga. Buku hariannya mencatat dia
bermain basket dan saat kelas dua jadi pengurus klub olah raga
sekolah. Tanggungjawab ini dipegangnya hingga lulus. Setiap minggu,
minimal dua sore, Liang berurusan dengan lapangan basket. Namun
kadang-kadang, diajak ikut acara aneh-aneh. Liang pernah ikut lomba
topeng, didandani macam make up kelompok musik Kiss. Pada Hari
Kartini, dia ikut lomba "Parade Bencong" –didandani jadi perempuan.
Teman-temannya tak sadar kalau "perempuan" di pentas itu adalah Liang.
Ingrid Dwiyani bercanda menyebutnya, "Anggun dan cantik."

Liang juga suka menyanyi. Dia membentuk sebuah kelompok musik. Mereka
membawakan lagu-lagu Rod Steward, Kiss, Deep Purple, Queen dan
sebagainya. Andy Purwadi, seorang teman kelas, jagoan gitar. Ada juga
Tjandra Anggono jadi motor kelompok. Christian Johan main gitar dan
Agustinus Simply Satu main piano. Liang jadi penyanyinya.

Liang mengatakan pada saya bahwa dia suka sekali dengan SMA Dempo.
Dari semua sekolah yang pernah diikutinya, dari taman kanak-kanak
Tjahaja di Jember pada 1970 hingga Universitas Harvard di Cambridge
pada 1999, Liang merasa periode Dempo adalah saat yang meninggalkan
banyak kenangan manis.

"Tak ada satu pun guru yang menyakiti kami," katanya. Terkadang murid
dihukum karena tidak kerja pekerjaan rumah atau bolos. Hukumannya,
disuruh menulis banyak sekali sesudah jam sekolah selesai. Misalnya,
"Saya berjanji tidak akan bolos lagi." Romo Sis sendiri yang menghukum
murid. Romo Sis sering memanggil orang tua murid. Ini kebijakan baik
sehingga tak semua guru berhak memberikan hukuman.

Romo Sis tak pernah memakai pemaksaan. Dia mengajak murid atau guru
bicara. Itupun orang sudah merasa nervous. Liang merasa jadi murid
yang agak diperhatikan karena keluarganya pecah. Ada guru bimbingan
psikologi yang sering jadi tempatnya konsultasi.

Pelajaran yang paling disukai adalah Sejarah. Liang pernah menulis
makalah soal Soekarno, nasionalisme dan masa mudanya. Makalah itu
dipuji guru dan sempat dipamerkan sekolah. Liang tak suka Fisika,
Kimia dan Matematika. Tapi bahasa Inggris selalu bagus. Liang masih
mengambil les bahasa Jerman. Pelajaran mengarang atau menulis buat
majalah sekolah juga disukai. Tapi Liang belum banyak menulis. Lebih
sibuk dengan basket, menyanyi dan belajar.

Liang belakangan diberi sepeda motor Suzuki oleh Sengkek. Liang lebih
leluasa bergerak. Beberapa kawan menganggapnya sebagai anak yang
bandel, pendiam tapi berani menentang arus. Liang pernah menaiki
sebuah tumpukan loud speaker, ketika menyanyi dalam sebuah konser
sekolah. Norak sekali. Tapi ya masa remaja. Masih mencari kepribadian.
Masih mencari perhatian orang. Dia pernah membuat puisi dan menamakan
rekan-rekan dan dirinya "sekerumun anjing liar."

Kami adalah sekerumun anjing liar yang paling perkasa
Berpacu dari armagedon hingga kelam
Kami berlari tanpa menjadi letih
Kami berjalan tanpa menjadi lesuh

Kami pahlawan tanpa nama
Bertaruh dengan kehampaan nyata hingga keping-keping kami yang terakhir
Menangis untuk kemenangan dan tertawa untuk sebutir kekalahan

Pendek kata, Liang senang sekali dengan sekolah ini. Entah kenapa.
Mungkin Liang masih remaja. Cinta pertamanya terjadi di Lawang. Liang
jatuh cinta pada teman gereja, lebih muda dua tahun. Namanya Phoa Hwie
Eng. Liang memanggilnya Fe En.

Tapi cinta monyet. Pegangan tangan saja tidak pernah. Liang sering
pergi ke rumah Fe En, cerita aneh-aneh dan membual. Liang tak punya
uang banyak. Keuangan keluarganya mulai sulit sesudah Sengkek menikah
lagi. Dia sering bertengkar, minat bekerja menurun. Kemana-mana Liang
naik kendaraan umum. Liang menderita sekali dengan asap rokok.
Sementara Fe En sudah mengendarai mobil sendiri.

Ketika kelas dua, Liang pindah ke Malang, kost di sebuah rumah di
Jalan Widodaren. Hubungan itu pun merenggang. Fe En memutuskan
hubungan mereka. Fe En mengirim kartu Natal dan bilang, "Maafkan aku."
Liang merasakan sakit hati pertama kali. Saya agak geli membaca
catatan-catatannya, konyol, remaja jatuh cinta. "Aku nggak tahu dimana
dia sekarang. Pasti sudah lain," kata Liang, tersenyum.

Maka Liang lebih sering bermain dengan teman-teman sekelas. Belajar
bersama, makan bakso, diskusi dan sebagainya. Setiap kali ada waktu
libur, Liang kembali ke Jember dan bermain-main dengan adik-adik dan
saudara-saudara jauh.

Menariknya, Malang juga membuatnya mulai menjauh dari kehidupan gereja
--sebuah praktek yang belakangan jadi kebiasaannya, kurang suka
berdekatan dengan institusi agama apapun. "Aku lihat bagaimana satu
pendeta tua, gendut, main perempuan. Aku juga kenal isteri missionaris
yang culas. Aku kenal dekat dengan satu perempuan, ketika remaja,
diperkosa seorang pastor. Dan aku banyak mengetahui kyai, juga main
perempuan," katanya.

Pada pertengahan 1984, Liang lulus dari Dempo dengan nilai lumayan.
Sengkek menanyainya ingin kuliah dimana? Liang menjawab, "Berklee
College of Music (Boston)." Dia ingin jadi pemusik. Sengkek keberatan.
Liang satu-satunya anak lelaki. Pergi ke Amerika juga butuh uang besar
sekali. Sengkek kini harus bertanggungjawab terhadap tujuh anak. Liang
memilih mendengarkan masukan papanya. Dia kuliah teknik elektro di
Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Dia pikir bila lulus, bisa
meneruskan bisnis keluarga.

Di Salatiga, Liang berkenalan dengan dosen-dosen radikal macam Arief
Budiman, Ariel Heryanto, Broto Semedi, George Aditjondro, Liek
Wilardjo, Nico L. Kana, Supriyadi dan sebagainya. Liang mahasiswa
teknik tapi tidak tertarik pada matakuliah teknik. Liang ikut kelompok
diskusi Arief Budiman, seorang doktor dari Harvard, salah satu
cendekiawan beneran di Indonesia. Broto Semedi mengajar filsafat.
Aditjondro mengajar Neo Marxisme. Liang makin sering membaca. Apa yang
dipelajari di SMA Dempo, mendapat dorongan yang lebih besar lagi di
Satya Wacana. Di Salatiga, kesadaran politiknya makin luas.

Dia sadar bahwa penindasan juga terjadi pada banyak golongan minoritas
lain. Baik di Timor Leste, Papua, Minahasa, Aceh, Lampung, Borneo dan
lainnya. Dia belajar analisis kelas. Orang miskin ditindas golongan
penguasa, tanpa peduli etnik atau agamanya. Dia belajar tentang
ketidakadilan antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin.
Satya Wacana memberi kesempatan kepada Liang untuk belajar, lepas dari
lingkaran primordial, membela yang benar.

Liang mulai ikut upaya melawan penindasan negara Indonesia. Dia ikut
demonstrasi. Dia ikut pers mahasiswa. Liang merasakan pengalaman pahit
dengan aktivisme. Dia takut dikejar tentara. Intrik-intrik dalam
gerakan membuatnya lelah. Dia memakai banyak waktunya membantu
organisasi sais dokar, melawan rencana penggusuran dokar. Achmadi dan
Sukardi, dua sais dokar, banyak membuatnya belajar tentang kehidupan
orang kecil. Bila merasa lelah, dia pergi ke sebuah pesantren kecil,
pinggiran kota, istirahat selama dua atau tiga hari.

Belakangan bahkan manajemen universitas ini memecat dosen-dosen yang
kritis, termasuk Arief Budiman. Liang tak merasa memiliki kampus Satya
Wacana lagi. Pada 1993, dia pindah ke Phnom Penh dan mulai bekerja
sebagai reporter. Karirnya sebagai travel writer pun dimulai. Dia
mulai malang melintang di Asia Tenggara.

Yuri Slezkine mungkin bisa membantu menerangkan fenomena Hoakiao.
Slezkine seorang cendekiawan Rusia, dosen University California at
Berkeley di Amerika. Dia menulis buku The Jewish Century, tentang
etnik Yahudi, yang diganyang di Eropa sejak akhir abad XIX, lalu
melakukan migrasi besar-besaran ke negara lain.

Analisisnya, bisa diterapkan pada minoritas lain di segala pelosok
dunia. "Sangat provokatif tetapi kena betul analisanya," kata Liem
Sioe Liong, seorang aktivis hak asasi manusia dari Tapol di London.
Liem seorang Hoakiao, warga negara Belanda. Dia menulis buku West
Papua: The Obliteration of a People bersama Carmel Budiardjo.

Slezkine menulis bahwa orang Yahudi hidup dalam suatu masyarakat
dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu, dengan cara hidup tertentu pula,
yang menimbulkan sentimen dari masyarakat sekitarnya. Namun orang
Yahudi tak sendirian. Di dunia ini, di berbagai tempat dan waktu
berbeda, selalu ada suku atau etnik, yang secara eksklusif menyediakan
jasa untuk masyarakat di sekitarnya. Mereka termasuk Roma-Gypsi di
Eropa, orang Fuga di Ethiopia, Sheik Mohammadi di Afghanistan, etnik
Armenia, orang India di Afrika Timur, etnik Lebanon di Afrika Barat
dan Amerika Latin serta orang Hoakian di Asia Tenggara.

Slezkine menyebut mereka, kaum "Mercurian," sebagai lawan kata dari
putra daerah, yang disebutnya, "Apollonian." Dalam kepercayaan Romawi,
Apollo adalah dewa pertanian dan peternakan. Masyarakat Apollonian
utamanya petani dan peternak, plus ksatria dan ulama, yang hidup
dengan cara mengatur akses para petani tadi ke tanah dan keselamatan
surgawi.

Mercuri adalah dewa para pengembara, pedagang, penterjemah, tukang,
penunjuk jalan, pengobat dan semua pelintas batas. Kaum Mercurian
adalah kelompok etnik yang tak terlibat produksi makanan. Mereka hidup
dengan cara menyediakan jasa kepada kaum Apollonian.

Zaman dulu, masyarakat Apollonian menganggap ada pekerjaan yang
berbahaya atau kotor, untuk dikerjakan warga mereka sendiri.
Contohnya, berhubungan dengan negeri asing atau suku lain; mengatur
uang; mengobati orang sakit; bekerja dengan api dalam penempaan logam
misalnya. Semua ini adalah kemahirannya kaum Mercurian. Para
pengembara kebanyakan mulai sebagai tukang. Kakek buyut Slezkine
adalah tukang besi Yahudi. Ong Kong Swie mengelola bengkel sepeda dan
becak.

Kaum Mercurian sering pindah tempat. Mereka memahami pentingnya
menguasai bahasa-bahasa. Sengkek menguasai enam bahasa. Ketika rezim
Soeharto melarang bahasa Mandarin, Sengkek dan Ie Lan mendorong
anak-anaknya belajar Inggris. Kaum Mercurian secara alamiah terlibat
dalam kerja penterjemahan, tukang cerita, penunjuk jalan dan
perantara.

Kaum Apollonian memandang Mercurian berbahaya, kotor dan asing. Kaum
lelakinya bukan ksatria, jarang ikut perang. Kaum perempuannya
dianggap cantik namun juga genit, menggoda. Makanan mereka berbeda.
Mereka hanya membeli, menjual dan kemungkinan mencuri, barang maupun
ide. Mereka dibenci dan puncak kebencian terhadap kaum Mercurian
adalah Holocaust –pembunuhan lebih dari enam juta orang Yahudi di
Jerman oleh rezim Adolf Hitler. Ini penjagalan manusia terbesar dalam
dunia modern. Ia juga mendorong Perang Dunia II.

Holocaust bikin jutaan orang Yahudi lari dari Eropa. Slezkine menyebut
tiga tujuan: Palestina dimana mereka mendirikan negara Israel; Amerika
Serikat dimana ada ide kenegaraan liberal non-etnik; dan Uni Soviet
dimana ada komunisme –sebuah dunia tanpa kapitalisme dan nasionalisme.
Semua berhasil dengan variasi masing-masing. Kaum Yahudi lantas jadi
lambang dari penganyangan massal sekaligus kesuksesan.

Slezkine menyebut mereka berhasil karena sudah lama sekali jadi kaum
urban, melek sastra, artikulatif dan secara pekerjaan fleksibel.
Mereka mementingkan akal sehat, keuletan, kebersihan, melintasi batas
serta memilih "memelihara" hubungan dengan orang daripada ternak.
Inilah tuntutan abad XX. Maka mereka berhasil mengatasi penganyangan
rezim macam Hitler.

"Hari ini kita semua diharapkan jadi orang Mercurian," kata Yuri
Slezkine. Nilai-nilai Apollonian, tentu saja, sangat perlu
dipertahankan seraya mempelajari bahasa internasional, berhubungan
dengan bangsa lain, mempertahankan hutan dan sebagainya. Saya kira,
barisan Mercurian ini bertambah di Indonesia dengan orang Madura di
Kalimantan, orang Jawa di Sumatra, orang Bugis, Buton, Makassar di
Maluku atau orang Rote di Pulau Timor.

Liang mewakili stereotype kaum Mercurian di Indonesia. Liang
sebenarnya tak beda dengan kebanyakan Hoakiao. Kalau dia sedikit beda,
ini hanya karena dia seorang penulis, namun sebenarnya banyak Hoakiao
jadi penulis. Dia juga "berkelahi" –sebuah kegiatan khas Apollonian--
ketika memutuskan membela kelompok-kelompok tertindas, namun dia
melawan dengan penanya, bukan ototnya.

Dari Ong Kong Swie, lalu Sengkek, lalu Liang, keluarga ini mengalami
perubahan cukup jauh secara kultural. Swie seorang Hoakiao totok,
namun Sengkek bisa bahasa Jawa, Madura, Melayu. Liang secara kultural
lebih global. Tek Jong memutuskan masuk Kristen. Ie Lan bahkan Kristen
keras. Sengkek memutuskan mengganti namanya jadi Jawa.

Namun perubahan itu, dipaksa maupun tidak, tak membuat mereka tak
dianggap sebagai "non-pribumi." Mereka tetap tinggal di Jember,
turun-temurun, namun akan tetap dianggap "asing." Saya kira rasa
curiga terhadap orang Hoakiao takkan mudah hilang di Pulau Jawa dan
Sumatra. Kecurigaan serupa juga takkan cepat pergi dari Aceh terhadap
orang Jawa, orang Madura di Kalimantan atau dari Papua terhadap
"pendatang rambut lurus." Setidaknya, negara ini bisa belajar dari
Yuri Slezkine bahwa menciptakan diskriminasi formal justru membuatnya
lebih buruk. Diskriminasi senantiasa ada dalam masyarakat. Namun
diskriminasi oleh negara membahayakan keberadaan negara itu sendiri.

Kini Ie Lan sudah pisah dari suaminya dan hidup di Jogjakarta bersama
tiga anak perempuannya. Sengkek hidup dengan Winarti di Jember. Mereka
punya anak satu lagi. Sengkek membiayai sekolah anak-anaknya hingga
selesai kuliah. Dua orang adik kandung Liang kini tinggal di Jakarta,
tiga orang di Jogjakarta.

Saya tanya kepada Sengkek, siapa guru Jawa, yang memberikan nama Jawa
kepadanya. "Pak Dasar," katanya. Guru itu mengatakan, 'Engkone koen
Hartono, koen Harsono ae.'" Artinya, "Kakakmu (Seng Hin) bernama
Hartono, kamu Harsono saja." Sengkek juga menjawakan nama Liang. Ie
Lan usul nama "Harsono" dijadikan nama marga. Ini sebuah kebiasaan
orang Tionghoa. Suku pertama nama marga, suku kedua nama pangkat. Maka
anak-anak Sengkek pun diberi nama belakang Harsono semua. Liang diberi
nama "Andreas Harsono." Ong Tjie Liang adalah Andreas Harsono. Mereka
adalah saya.

2009/12/22 donnie damana <donnie.damana@gmail.com>:
> Kalopun yang bikin orang china.. mereka pasti nyesel..
> Gak dicari ilmunya malah dimintai sumbangan mulu.. :))

-
salam,
Ari

__._,_.___
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment