Advertising

Monday 28 December 2009

[wanita-muslimah] Reorientasi Dakwah Ormas Agama

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/12/29/93112/Reorientasi.Dakwah.Ormas.Agama.

WACANA

29 Desember 2009
Reorientasi Dakwah Ormas Agama
Oleh Agung Suseno Seto
SATU langkah positif kembali digelorakan dua organisasi sosial
keagamaan terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, yakni Gerakan
Hidup Halal.

Haedar Nasir, salah satu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah optimistis
gerakan itu sebagai upaya mengikis habis korupsi melalui jalan
kultural di luar jalur hukum dan political will.

Bagi Haedar, langkah praktis yang paling mungkin dilakukan did epan
mata adalah menggiatkan kembali dakwah, tablig, majelis taklim, dan
sejenisnya.

Langkah praktis itu tentu memungkinkan dilakukan NU dan Muhammadiyah
yang notabene organisasi yang bergerak di bidang dakwah dan sosial
keagamaan.
Pertanyaannya adalah bagaimana format dan isi dakwah?

Pertanyaan ini penting sebab dakwah Islam selama ini bisa dikatakan
marak dan kian menjamur. Mulai dari ceramah atau khutbah di atas
mimbar hingga lewat televisi. Singkatnya, kesadaran keberagamaan
masyarakat Indonesia mengalami peningkatan kuantitas. Sayangnya,
kuantitas tidak berbarengan dengan kualitas.

Makanya perlu kiranya menggeser pola dakwah yang sebelumnya
berorientasi formalistik ke pola sufistik.
Dominannya dakwah yang berciri khas simbolis dan formalistik tampaknya
patut dicurigai sebagai sebab jomplangnya kuantitas dan kualitas
keberagamaan.

Sukses dakwah belum dipahami sejauh mana penghayatan agama memantulkan
refleksi sosial transformatif, atau merasuk ke jantung-jantung
keyakinan sejati. Keimanan utuh cenderung terabikan. Pribadi-pribadi
luhur tidak tergarap oleh dakwah Islam.

Pada konteks inilah NU dan Muhammadiyah dituntut perannya
mengampanyekan dakwah dengan format dan isi yang mengantongi kekayaan
pemikiran dan pengalaman Islam mulai dari filsafat, kalam, fikih, dan
tasawuf.

Untuk yang terakhir, yakni tasawuf, tampaknya perlu mendapat porsi
lebih. Tasawuf menjadi relevan di tengah orientasi kehidupan umat yang
menggandrungi pola hidup konsumeristik, hedonistik, dan materialistik.

Kecenderungan demikian kian menumbuhkan pola dan sikap hidup rakus,
tamak, sombong, atau takabur. Lebih jauh lagi, dari sikap itu kemudian
muncul perilaku destruktif dan menyimpang. Korupsi misalnya.

Korupsi kini bak hantu menakutkan bagi negeri yang berpenduduk
mayoritas muslim ini.

Hossein Nasr (1985) menyerukan, bahwa ajaran-ajaran tasawuf sangat
dibutuhkan untuk menangkal pola hidup seperti itu.

Di antara ajaran tasawuf yang sangat relevan untuk kehidupan saat ini
adalah zuhud, taubat, shabar, bersyukur rida, qanaah, wara', uzlah.
Nilai-nilai demikian akan memberikan keseimbangan hidup antara jasmani
dan ruhani.

Melalui tasawuf manusia tidak semata-mata mengejar kesenangan
material tetapi juga ditunjukkan kebahagian spiritual.

Kebahagiaan spiritual yang dimaksud bukan kebahagiaan yang melalaikan
manusia dari kehidupan di dunia melainkan kebahagian spiritual yang
menumbuhkan gairah hidup di dunia berdasarkan ajaran Islam.

Selain itu, pola hidup dan moralitas sufistik bisa menjadi terapi bagi
para elite politik (dan juga elite agama) yang selama ini
mengabaikannya. Moralitas sufistik dalam ajaran tasawuf adalah penting
untuk mereka yang akan mengambil keputusan politik bagi masa depan
bangsa ini.

Penghayatan agama melalui internalisasi moralitas sufistik akan dapat
menghindarkan perilaku buruk yang sering melekat dari diri para
politikus, seperti tamak, rakus kekuasaan, arogan, egois, dan
ekploitatif terhadap lawan-lawan politiknya.

Memang, tasawuf dulu pernah ditakuti orang lantaran penuh dengan arti
pejoratif mengenai hal yang aneh-aneh.

Tidak jarang praktik sufisme diidentikkan dengan eksklusivisme,
tradisionalisme, dan asketisme yang secara ekstrem lari dari kehidupan
dunia dan antipersoalan-persoalan sosial dan politik. Bukan hanya
ditakuti, tapi juga dilawan agar tidak tampil di tengah kehidupan
umat.
Dua Pola Dalam sejarahnya, ada dua pola penalaran tasawuf yaitu
falsafi dan pola akhlaki. Yang pertama mendorong manusia untuk
menyucikan diri agar jiwanya bisa kembali kepada Tuhan atau menyatu
dengan Tuhan. Tasawuf falsafi cenderung mengabaikan syariah
(aturan-aturan agama yang bersifat formal-skriptural).

Di antara konsep-konsep dalam pola ini adalah ma'rifah (dari Dzunnun
al-Mishri), mahabbah (dari Rabi'ah al-Adawiyah), Wahdat al-Wujud (dari
Ibn Arabi), Ittihad (Abu Yazid al-Busthami), hulul (dari Ibn Mansur
al-Hallaj).

Adapun yang kedua, ajaran-ajarannya kembali kepada Alquran dan Sunah,
untuk pendalaman batiniah agar memperoleh akhlak yang luhur (Harun
Nasution, 1973). Victor Said Basil (2000) mencatat, pola ini bisa
dilihat dari Abu Zhar al-Ghifari seorang sufi yang taat dengan ajaran
sunnah, dan Al-Ghazali seorang sufi yang berusaha "menghidupkan"
kembali sunah Nabi.

Tampaknya, gerakan purifikasi atau perlawanan terhadap tasawuf
menjatuhkan ketakutan dan pejoratifnya pada pola yang pertama, yaitu
tasawuf falsafi. Oleh karenanya melihat iklim keberamaan di Indonesia
pola yang pertama dirasa lebih mudah diterima.

Cendekiawan muslim Indonesia Komarudin Hidayat (1995) mendedahkan inti
tasawuf sebagai ajaran yang menyatakan bahwa hahikat keluhuran nilai
seseorang bukanlah terletak pada wujud fisiknya, melainkan pada
kesucian dan kemuliaan hatinya. (10)

— Agung Suseno Seto, mahasiswa FAI Syari'ah UMS, peneliti Religion and
Social Change Institute (RESCI)


------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
wanita-muslimah-digest@yahoogroups.com
wanita-muslimah-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

0 comments:

Post a Comment