Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 20 Agustus 2011
----------------------
SAHABATKU MAX LANE DAN HARI PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA 17 AGUSTUS
Sahabatku Max Lane, seorang pakar Indonesianis, sahabat rakyat Indonesia
yang mantap, menulis sebuah artikel menyambut
Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 2011. Artikel Max Lane ini
analitis, tajam dan ditulis dengan latar belakang pengetahuan sejarah
pergolakan Indonesia melawan Orde Baru dan menegakkan Indonesia yang
demokratis.
Amat disarankan agar artikel Max Lane ini dibaca dan difikirkan oleh
para pemeduli Indonesia, khususnya oleh para aktivis gerakan massa yang
terlibat dalam gerakan reformasi dan demokratisasi.
Mari kita fikirkan bersama pertanyaan Max Lane pada akhir artikelnya:
"Apakah memang sudah ada dua Indonesia:
Indonesia hasil kontra-revolusi 1965 yang berdiri di atas penindasan,
pembohongan dan KKN atau Indonesia hasil revolusi nasional 1900-1965
yang oleh kekuasaan OBS dieliminasi dari ingatan massa secara
sistematik. Akan tetapi kemudian pelahan-pelahan dengan langkah tegas
mulai bangun kembali dalam bentuk perlawanan-perlawan terhadap OBS
selama tahun 1970an - 1990an. Proses melawan dan mengakhiri Orde Baru
(1974-1998) juga sebuah proses kreatif, hanya belum tuntas pula dan
masih menghadapi pilihan." --
* * *
Dalam pada itu kita selalu yakin dan optimis, --- Bahwa kekuatan
progresif yang diinspirasi dan tergembleng dalam perjuangan kemerdekaan
sejak periode kolonialisme Belanda,kemudian perlawanan terhadap rezim
Orba, hingga jatuhnya Suharto, --- Dalam keadaan apapun akan tumbuh
terus, membesar dan mengokoh. Terutama di kalangan generasi baru!
Terimakasih atas kepedulian Max Lane pada Indonesia, sekarang dan
haridepannya.
* * *
*MAX LANE ---
17 AGUSTUS VERSUS 1 OKTOBER*
*Jumat, 19 Agustus 2011 - 00:36:16 WIB
*
Indonesia dibangun di atas reruntuhan kolonialisme. Orde
Baru meluluhlantakannya.
SAYA datang ke Indonesia pertama kali 1969 dan sudah
berkali-kali kembali ke Indonesia. Sebagai seorang yang memulai
perjalanan kehidupan intelektual sebagai mahasiswa jurusan studi
Indonesia, sejak semula saya bergairah untuk belajar sejarah Indonesia
-- apalagi bila dibandingkan dengan sejarah Australia. Meskipun sejarah
Australia juga penuh dengan kisah perjuangan rakyatnya (biasanya melawan
elit kaya, baik kolonial maupun modern), ini tak bisa dibandingkan
dengan Indonesia. Indonesia mengalami revolusi; rakyat Indonesia
menjalankan sebuah revolusi; negeri Republik Indonesia, yang
diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 dan berhasil mengusir kekuatan
politik kolonial tahun 1949, tercipta oleh sebuah revolusi nasional yang
prosesnya sudah berlangsung 30-40 tahun sebelumnya.
Semua revolusi dalam sejarah manusia adalah fenomena
hebat. Sudah beribu-ribu buku ditulis untuk mendefinisikan dan
menganalisa apa itu revolusi. Sudah jelas ada berbagai jenis revolusi;
dan juga cara orang memandang revolusi sering tergantung ideologinya dan
kepentingannya. Kata revolusi dalam bahasa Inggris bermakna perubahan
besar dan drastis dalam situasi politik. Kata itu mulai digunakan pada
pertengahan abad 15 dan berasal dari bahasa Latin yang artinya
bergelombang balik.
Buat saya, ada dua sifat yang harus dimiliki oleh semua
revolusi sosial-politik sejati. Pertama, sebuah revolusi akan
memutar-balikkan struktur kekuasaan yang berlaku. Kedua, baik di dalam
proses menggulingkan maupun memutarbalikkan struktur kekuasaan tersebut
mestinya bisa melahirkan makhluk yang baru secara esensi sebagai hasil
dari proses revolusi itu sendiri. Revolusi memutarbalikkan kekuasaan
(menghancurkan struktur lama dan mendirikan yang baru) sekaligus
kreatif; menciptakan sesuatu mahluk yang baru, yang jauh lebih fenomenal
daripada sekedar struktur kekuasaan yang baru. Begitu juga revolusi
Indonesia. Struktur kekuasaan kolonial -- di mana kekuasaan politik dan
ekonomi terpusat sepenuhnya di Den Haag, Amsterdam dan Rotterdam --
dihancurkan dan sebuah struktur kekuasaan baru didirikan.
Semula kelas kapitalis Belanda mengisi kelas penguasa;
kekuasaan kelas itu terkalahkan oleh kelas-kelas sosial lain yang
tadinya terkuasai dan tereksplotasi, terutama kelas buruh, kelas petani
kecil maupun kelas borjuis dalam negeri Indonesia. Situasi mulai
teresmikan pada 27 Desember 1949 ketika pemerintah Belanda mengakui
mahluk yang bernama Republik Indonesia Serikat (RIS). Tapi RIS ini
masih mengandung negeri-negeri yang dikuasai secara tak formal oleh
Belanda. Sesudah mengalami berbagai gejolak, RIS bubar dan
diproklamasikan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950.
Tetapi kreativitas revolusi nasional Indonesia jauh lebih
dahsyat daripada sekadar melahirkan sebuah mahluk formal, yaitu Republik
Indonesia. Revolusi Indonesia yang sebenarnya sudah mulai sejak awal
abad 20 melahirkan orang Indonesia, bangsa Indonesia dan kebudayaan
Indonesia -- semuanya yang tak pernah berdiri di atas muka bumi
sebelumnya. Makanya kata atau nama Indonesia juga tadinya tidak ada;
tidak eksis. Yang ada sebelumnya bukan orang Indonesia, tetapi orang
Jawa, orang Aceh, orang Dayak, dan seterusnya. Juga tidak ada kebudayaan
Indonesia. Kebudayaan Indonesia mulai ada dengan munculnya sastra
berbahasa Melayu (baru) dalam bentuk cerpen, roman, drama, syair, lagu,
esei dan pidato yang kemunculannya bersamaan dengan kelahiran organisasi
sosial-politik modern.
Kalau kita mempelajari fenomena munculnya kebudayaan baru
itu -- baik sastranya (semua produk tertulis, kemudian produk budaya
lain) bersama kegiatan berorganisasi secara sosial politik, memang kita
pasti akan terinspirasi sekali oleh kekayaanya akan visi, pengalaman,
ide, dan memang kreativitasnya. Belum lagi perjuangan militer, politik,
intelektual, budaya dan dipomatik yang sangat intensif sekali diantara
tahun 1945 dan 1949.
Luar biasa memang. Buat saya sendiri, saat zaman saya
mahasiswa (1969-1972) merasa sangat exciting -- dan saya selalu ingin
berangkat secepatnya ke Indonesia.
Tetapi semakin sering saya berkunjung ke Indonesia semakin
saya terkesan oleh sebuah hal yang, buat orang yang baru kenal Indonesia
pada waktu itu, sangat mengecewakan. Kegiatan-kegiatan dan suasana
menjelang dan pada hari kemerdekaan tak ada apa-apanya. Ada sebuah
pidato oleh presiden Suharto di televisi yang kurang diperhatikan
masyarakat. Ada lomba-lomba buat anak-anak di kampung. Ada pawai-pawai
yang sangat formal. Tidak ada gaung sama sekali dari kehebatan
revolusioner periode 1900-1949. Tak ada penghayatan perjuangan panjang
di semua bidang yang menciptakan Indonesia sendiri. Ide-ide yang
merupakan asal-usul adanya Indonesia sendiri -- kemerdekaan, keadilan,
perjuangan, rakyat, pergerakan, kedaulatan, sekali lagi kemerdekaan --
tidak hadir sama sekali.
Serba formal, dangkal dan penuh kelupaan. Sama garingnya
dengan peringatan hari nasional Australia yang memperingati deklarasi
non-revolusioner perkumpulan orang-orang elit putih Australia tahun
1901. Indonesia memiliki warisan politik dan budaya revolusioner, tetapi
dilupakan.
Sesudah saya semakin kenal dengan sejarah Indonesia,
situasi ini semakin lebih bermakna buat saya. Saya sempat beberapa kali
menonton footage Sukarno bicara pada 17 Agustus sebelum 1965. Saya juga
mendengarkan pidato-pidatonya. Saya memulai membaca tentang kegiatan
peringatan 17-an sebelum 1965. Saya menemukan keadaan yang justru
sebaliknya. Sebelum 1965, peringatan 17 Agustus adalah saat
diluncurkannya ide-ide politik baru oleh Sukarno yang kemudian akan
ramai dibicarakan oleh puluhan juta orang dan bahkan diperdebatkan.
Boleh setuju atau benci ide-ide itu, tetapi kenyataannya ialah seluruh
masyarakat mendiskusikannya sebagai bagian memikirkan masa depan
Indonesia, bersama-sama, beramai-ramai. Bahkan anggota-anggota
partai-parti terlarang (Masyumi dan PSI, misalnya -- yang seharusnya
tidak perlu dilarang) juga ikutan mendiskusikannya, mengingat bahwa
berbagai organisasi mereka masih legal dan aktif. Tetapi arus berbalik
tahun 1965.
Saya kira sejak 1965, dalam ideologi Orde Baru Suharto
(OBS), 1 Oktober -- Hari Kesaktian Pancasila -- lebih penting daripada
17 Agustus. Ini -- antara lain -- tercermin olek definisi OBS terhadap
17 Agustus: hari Proklamasi dan juga definisi politik buat Sukarno dan
Hatta -- terutama Sukarno -- sebagai sekadar Proklamator. Dengan
definisi tersebut, ide-ide mereka yang merupakan motor penggerak
ideologis revolusi nasional dinegasikan. Terbukti pula bahwa selama OBS,
tulisan-tulisan Sukarno dilarang. Sebenarnya ide revolusi itu sendiri
dilarang. Memang karena apa yang dijalankan oleh kekuatan OBS dari tahun
1965 sampai 1970-an adalah sebuah kontra-revolusi. Tidak mungkin sebuah
kekuatan yang menjalankan kontra-revolusi akan mampu menghayati secara
sejati arti sebuah hari peringatan revolusi --sebuah hari yang
memperingati betapa bergairahnya proses di mana rakyat tertindas
memutarbalikkan struktur kekuasaan serta menciptakan sebuah mahluk baru
bernama Indonesia. Revolusi nasional Indonesia -- kalau sejarah
sesungguhnya bisa dihayati --akan ingat kembali bahwa rakyatlah yang
menciptakan Indonesia dan Indonesia adalah milik mereka bersama, bukan
milik segelintir siapa pun.
Celakanya, kontrarevolusi OBS bukan saja kontra-revolusi
yang menggagalkan sebuah revolusi sosial (sosialis) yang sepertinya
mungkin akan segera mengancam memutarbalikkan struktur ekonomi kapitalis
Indonesia, tetapi juga menggagalkan revolusi nasonal Indonesia yang
belum tuntas sebelumnya.
Pemimpin OBS secara sukarela dan dengan semangat
(kerakusan) mengundang masuk kembali penanam modal dari negeri-negeri
imperialis dengan syarat-syarat sangat minimal sesuai dengan yang
diminta oleh Washintgton, London, Tokyo dan lain-lain. Hampir seluruh
warisan budaya dari revolusi nasional Indonesia sengaja dihilangkan dari
medan kebudayaan Indonesia. Sejarah Indonesia ditulis kembali dengan
banyak kepalsuan-kepalsuan dan itu pun hanya untuk dihapalkan. Pada
tahun 1970-an kesusasteraan nasional Indonesia tidak lagi dipelajari
dengan serius di sekolah. Banyak sekali sastra dan tulisan dilarang.
Tindakan ini, dalam bidang ekonomi serta budaya memang merupakan sebuah
pe-negasi-an revolusi nasional Indonesia. Tak mungkin 17 Agustus akan
bisa diperingati dan dihayati secara sejati. Indonesia didirikan dan
diciptakan bukan sekadar berkat proklamasi tetapi karena revolusi.
Menghayati 17 Agustus, butuh menghayati apa itu revolusi dan mengapa
revolusi itu sebuah proses yang kreatif dan membebaskan manusia.
Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober adalah hari
memperingati kemenangan pertama kontrarevolusi OBS. Saya perlu mencatat
di sini bahwa dalam pendapat saya peristiwa Gestapu atau Gestok adalah
perbuatan ngawur, idiot, dan keblinger. Sebuah konspirasi tengah malam
yang tidak bisa dibenarkan. Tetapi tindakan-tindakan Suharto sebagai
panglima Kostrad pada waktu itu tidak sekadar bertindak merespons sebuah
konspirasi malam yang illegal. Suharto, jelas dengan sadar, meluncurkan
sebuah kontarevolusi untuk membalikkan arus politik yang sedang
berkembang. Tindakannya tidak hendak mengadili segelintir orang -- baik
Aidit maupun yang militer - yang menjalankan konspirasi tengah malam
yang illegal. Tindakannya merupakan awal dari sebuah proses membasmi dan
menindas gerakan sosial, politik, dan budaya yang didukung jutaan rakyat
Indonesia yang berbasis ideologi sosialisme.
Ratusan ribu orang kemudian dibunuh tanpa proses hukum apa
pun. Mungkin ratusan ribu juga ditahan untuk jangka waktu pendek, serta
disiksa secara bengis. Puluhan ribu lain ditahan selama bertahun-tahun
tanpa pengadilan apa pun. Ini dijalankan oleh Suharto, dengan memakai
tentara (yang sudah dibersihkan dari perwira dan serdadu yang
pro-Sukarno) dan didukung keras oleh kaum intektual anti-komunis
(Angkatan 66).
Pembasmian dan penindasan ini membuka jalan untuk program
ekonomi dan budaya yang anti-revolusi nasional yang saya sudah sebut di
atas. Represi itu dan semua program politik OBS yang anti-demokratis
yang menyusul kemudian di antara tahun 1968-1990-an sebagai program
politik yang menegasikan peran rakyat Indonesia dalam kehidupan politik
negeri Indonesia sekaligus merupakan tindakan anti-nasional. Rakyat
Indonesia -- massa miskin dan marhaen, bersama mahasiswa dan intelektual
muda yang aktivis -- adalah mereka yang menciptakan Indonesia melalui
revolusinya. Program politik OBS merampok kedaulatan politik rakyat dari
tangannya. 1 Oktober juga merupakan awal dari budaya yang berdiri di
atas kebohongan-kebohongan besar, mulai dari kebohongan bahwa
wanita-wanita komunis menyiksa para Jenderal yang diculik tengah malam
sampai dengan kabar bohong mutilasi yang tak berdasar pada otopsi
dokter-dokter Angkatan Darat sendiri.
Buat OBS, 1 Oktober jelas lebih bermakna. Tetapi, saya
kira masalahnya lebih dalam, lebih mendasar lagi. Kontrarevolusi 1965
terjadi 46 tahun yang lalu. 46 tahun merupakan hampir duapertiga dari
kehidupan negeri Indonesia. Mayoritas orang Indonesia lahir selama zaman
OBS. Mayoritas besar orang Indonesia menjadi dewasa di bawah OBS dan
tidak kenal langsung Indonesia sebelum 1965. Karena selama 40 tahun
berjuta-juta anak Indonesia tidak diajarkan untuk menghayati sastra mau
pun sejarahnya sendiri, sebagian besar rakyat Indonesia tidak mengenal
proses kelahiran Indonesia itu sendiri. Selama periode ini pula sel
struktur dan kehidupan ekonomi Indonesia juga berubah. Dulu Indonesia
negeri pedesaan; sekarang lebih sebagai negeri urban dengan puluhan juta
rakyat miskin tinggal di pusat kota yang sangat padat, dan sering kumuh.
Dulu, sebelum 1965, kelas kapitalis Indonesia hanya terdiri dari ribuan
pengusaha-pengusaha kecil, dengan beberapa pengusaha menengah yang
dibantu pemerintah.
Pada kurun 1956-1965 hampir semua sektor modern sudah
resmi di tangan negara. Sekarang ada konglomerat kroni Suharto yang
tumbuh selama masa OBS hasil dari KKN nasional. Kemudian mereka sekarang
ada di mana-mana maju menjadi bupati dan gubernur di seluruh penjuru
Indonesia. Tanpa landasan kuat berupa pengetahuan dan penghayatan akan
sastra dan sejarah nasionalnya, kebudayaan yang berkembang lebih
terpengaruh konsumerisme kosmopolitan dan "budaya" sinetron yang tak
rasional, dangkal dan melayani keinginan melarikan diri dari realitas
yang pahit daripada bangkit berusaha untuk mengubah realitas tersebut.
Apakah memang sudah ada dua Indonesia: Indonesia hasil
kontra-revolusi 1965 yang berdiri di atas penindasan, pembohongan dan
KKN atau Indonesia hasil revolusi nasional 1900-1965 yang oleh kekuasaan
OBS dieliminasi dari ingatan massa secara sistematik. Akan tetapi
kemudian pelahan-pelahan dengan langkah tegas mulai bangun kembali dalam
bentuk perlawanan-perlawan terhadap OBS selama tahun 1970an - 1990an.
Proses melawan dan mengakhiri Orde Baru (1974-1998) juga sebuah proses
kreatif, hanya belum tuntas pula dan masih menghadapi pilihan.
Jadi sekarang mau pilih Indonesia yang macam apa?
Indonesia 17 Agustus 1945 atau Indonesia 1 Oktober 1965? [MAX LANE]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment