Advertising

Friday, 19 August 2011

[wanita-muslimah] Sepotong Senja Untuk Pacarku

 

Sepotong Senja Untuk PacarkuSeno Gumira Ajidarma

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur
ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam
keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir
yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan.
Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan,
batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada
buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal
yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap
tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup
rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari
sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak
mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung
jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula
siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk
berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan
mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang
sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak
dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah
maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan
padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata
dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya
saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku
mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri
dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam
itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna
keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang
menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan
angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika
kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
"barangkali senja ini bagus untukmu," pikirku. Maka kupotong senja itu
sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku.
Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan
menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk
kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan
yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah
pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil
berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar
telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang
berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah
hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah
sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang
menunjuk-nunjuk ke arahku.

"Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!"

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera
masuk mobil dan tancap gas.

"Catat nomernya! Catat nomernya!"

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah
berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak
seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu
berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku
gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata
cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga
mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah
tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku
sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti
itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang
mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah
waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam
kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi
besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan
jalan.

"Senja! Senja! Cuma seribu tiga!"

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua
orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota
yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku
tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah
senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak
peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada
atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari
terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini
dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu
memberi peringatan.

"Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti.
Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak
ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…"

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai
terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan
lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene
polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk
kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak
pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya
diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah
kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak
lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal
kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran
beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa
memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir.
Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah
senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut
kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk
mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan
lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris
tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di
antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah,
merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu
tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

"Masuklah," katanya tenang, "disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana.
Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan.
Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari
itu melenyapkan keraguanku.

"Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain."

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan
main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu
merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah
gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku,
cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan.
Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan
kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih
di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke
dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan
duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan
mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih
baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke
bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang.
Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya.
Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar
dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana
aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang
bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu
pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada
lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang
sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan.
Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak
yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

"semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan
cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu.
Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?"

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau
tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu
kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak
ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia
sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung
yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan
berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat
untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu
jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana
orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss
yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu
terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan
aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan
yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku
yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak
gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi
helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah
tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket.
Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut
mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap
dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku
bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol,
kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari
gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas
kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang
sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan
datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa
gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam
lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun
semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan
senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja
yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong
senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas
hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar
langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan
bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

--
Aldo Desatura ® & ©
Twitter = @desatura
YM = desatura
Facebook = hanjakal@gmail.com

================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment