Advertising

Thursday, 18 August 2011

[wanita-muslimah] Cintaku Seolah-olah Tergadai (3-Tamat)

 

Cintaku Seolah-olah Tergadai (3-Tamat) *Karena Tak Tahan, Kuceraikan
Istriku*
*SEBELUMNYA* diceritakan, Jaenal yang dipaksa menikah dengan gadis tua
putri kawan ayahnya tidak menemukan kebahagiaan. Sejak malam pertama, sang
istri nyaris tidak mau melayaninya, tidak mau menunaikan kewajibannya
sebagai istri. Setelah itu sang istri selalu mengeluh pada orangtuanya bahwa
ia tidak dinafkahi. Jaenal merasa seperti seorang pembantu. Ia harus
mengantar jemput istrinya ke tempat kerjanya. Belum lagi omelan sang mertua
yang menyakitkan hatinya. Lalau bagaimana sikap Jaenal selanjutnya? Inilah
akhir kisahnya yang ditulis kembali oleh *H. Undang Sunaryo*. Semoga
bermanfaat.

*AKU* ibarat makan buah simalakama. Jika aku diam terus, hati ini rasa
sangat sakit diperlakukan tidak semena-mena oleh istri dan mertuaku, tetapi
jika harus pergi meninggalkan mereka, bagaimana kata orang? bagimana pula
anakku? Aku tak ingin kehilangan muka di hadapan teman-teman dan tetanggaku.
Aku bingung.

Mau memberitahukan pada ayah dan ibu, aku tak tega. Kasihan pada mereka.
Makanya sepahit apa pun yang aku rasakan, aku simpan dalam hati tanpa ada
orang lain tahu. Pekerjaan keseharianku sungguh membosankan. Pagi mengantar
istri, siang cari duit, sore hari jemput istri dan malam hari aku tidur
sendirian di dalam kamar.

Istriku melahirkan. Anakku lahir perempuan sesuai dengan harapan istri
mertua. Aneh, sejak anak lahir aku tak dibolehkan untuk mencoba menyentuh
anakku sendiri. Aku dilarang mendekati anakku. Sejak lahir hingga anakku
berusia tiga tahunan, tak pernah lepas dari pangkuann ibu mertua. Aku sedih
dengan perlakuan itu.

Kepedihan bukan hanya menimpa diriku, ayah dan ibu pernah sakit hati,
gara-gara menengok anakku yang baru lahir lantas tak dibolehkan mendekati
dan menyentuh cucunya. Dan anehnya melihat sikap ibu mertua, ayah mertua tak
mampu berbuat apa-apa, padahal dialah punya peranan penting dalam rumah
tangga. Toh aku bukan orang lain tetapi sudah menjadi anaknya sudah
sepantaslah aku diperlakukan adil.

Karena ayah dan ibu merasa sakit hati, barulah aku melontarkan perjalanan
hidup selama berumahtangga. Begitulah perlakuan mertua terhadap diriku yang
sudah ingkar janji. Padahal kalau aku melanjur emosi, aku akan mengugat
mereka, karena cita-citaku terpupus karena rayuan dan ajakannya untuk
mengawini anaknya.

Mendengar ungkapan rasa sakit yang menimpa diriku, ayah dan ibu mencoba
meminta tolong kepada temannya untuk bisa menyelesaikan persoalanku. Namun
setelah dilakukan tak membuahkan hasil malah ayah mertua mengancam agar
anaknya segera diceraikan saja. Apa setelah tercerus kata-kata seperti itu
apa boleh buat demi harga diri ayah dan ibu menyarankan agar aku mengajukan
cerai. Dan sejak itulah aku tak mau lagi datang menemui istriku.

Persayaratan perceraiakan aku ajukan ke pengadilan agama. Dalam sidang
pertama istriku tidak hadir. Pada sidang kedua juga absen. Pada sidang
mediasi pun tidak hadir juga. Dan pada sidang keempat datanglah seorang
wakil dari keluarga perempuan dengan membawa surat bersegel. Isinya antara
lain menyilakan perceraian dilangsungkan asalkan anakku tak dibolehkan ikut
dengan bapaknya.

Oke, tidak apa-apa. Persoalan anak tak jadi masalah. Meski ada tekanan
seperti itu anakku ya tetap anakku. Nanti juga sang anak pasti
membutuhkanku. Serbagai konsekuensi akan sebagai ayahnya, aku sisihkan uang
hasil kerjaku untuk ditabungkan. Uangnya untuk anakku di masa nanti.

Aku sengaja menabung uang untuk anak, karena setiap kali aku mengasih uang
istri selalu menolaknya. Lebih sakit lagi ketika ibu mengasih pakaian dan
makanan buat cucunya, di hadapan ibu pemberian itu langsung dibuangnya.
Sungguh keterlaluan hingga ibu pernah jatuh sakit.

Alhamdulillah aku sudah sah berstatus duda. Saking hati selalu meronta ingin
membalas dendam, hanya kurun dua bulan setelah menduda aku langsung menikah
dengan perempuan lain. Saking bangganya, ayah dan ibu langsung membeli rumah
di Kota Bandung. Aku dikasih modal untuk bisnis. Begitu sebaliknya ibu dan
ayah mertua ikut membantu kelangsungan rumah tanggaku.

Setahun aku berumah tangga dengan istri baru rasanya sungguh amat bahagia.
Hidup rukun damai tanpa mendengar kata-kata yang tak mengenakkan di hati.
Mertua amat sayang sama diriku begitu sebaliknya ayah dan ibu amat sayang
sama menantunya. Aku selalu banyak bersyukur kepada Allah yang telah memberi
petunjuk jalan bagiku untuk menempuh hidup baru yang lebih baik dari
sebelumnya, setelah lima tahun aku berada dalam tekanan batin.

Allah pun telah membuka pintu hati mantan ibu mertua. Tiba-tiba dia datang
ke rumah orangtuaku sambil minta maaf sama ayah ibuku dan menyerahkan anakku
untuk bertemu kakek dan neneknya. Meski hanya beberapa jam ayah ibu
menikmati belaian kasih sayang terhadap cucunya, kemudian anakku dibawa lagi
oleh neneknya, ibu merasakan bahagia. Mudah-mudahan semua mendapat hidayah
dari Allah swt. **

--
Aldo Desatura ® & ©
Twitter = @desatura
YM = desatura
Facebook = hanjakal@gmail.com

================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment