Cintaku Seolah-olah Tergadai (1) *Gadis Tua itu Bernama Dahlia*
*KISAH* ini dilami oleh Jaeni (26 tahun), bukan nama aslinya, pemuda
tampan lulusan sebuah perguruan tinggi di Bandung tinggal yang tinggal di
sebuah desa di Kabupaten Sumedang. Ia malah disuruh menikah dengan gadis
pilihan ayahnya. Sayangnya, ia hanya berbulan madu beberapa malam saja.
Selebihnya sang istri tidur bersama ibunya. Apa yang terjadi dengan mereka?
*H. Undang Sunaryo* mengisahkan. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil.
*ANEH* ayah tiba-tiba berubah pikiran. Semula, setelah lulus sarjana, aku
akan dikuliahkan untuk program strata dua (S2), ternyata ceriteranya lain.
Ketika aku duduk di bangku kuliah semester akhir, ayah mamaksaku agar segera
menikah. Sementara aku belum berpikir untuk berumah tangga dan cita-citaku
ingin meneruskan ke S2.
Alasan yang aku paparkan sama sekali tak dipedulikan ayah dan ibu. Mereka
memaksa jika aku lulus kuliah, langsung menikah dengan anak bungsu salah
seorang rekanan ayah. Ayah merayu jika aku menikah dengan gadis bungsu itu,
orangtuanya akan memberi sebuah rumah toko di kota dan sekaligus modal
usahanya.
"Ayah tidak enak pada teman. Dia ingin mengharapkan anaknya yang bungsu
menikah dengan kamu. Makanya tolong hargai ayah," kata ayah.
Meski belum memberi jawaban pasti, ayah mebawaku ke rumah temannya. Kemudian
aku dikenalkan dengan perempuan itu. Masya Allah aku kaget juga, mengapa
ayah setega itu menawarkan aku harus menikahnya. Meski dia sudah bekerja di
sebuah perusahaan swasta, namun usianya lebih tua sepuluh tahun dari usiaku.
"Kalau Ade mau menikah dengan anak Bapak, entar akan Bapak akan kuliahkan
hingga S2. Bila perlu mencapai gelar doktor. Kasihan anak Bapak, selama ini
belum pernah tersentuh laki-laki dan usianya sudah hampir mendekati 35
tahunan," kata Pak Karta, ayah Dahlia (bukan nama aslinya) si bungsu itu.
Memang dilihat dari postur tubuhnya Dahlia cocok denganku. Dia cantik,
pendiam, bertubuh jangkung, kurus, berkulit putih. Meski usianya sudah
"tua", mungkin karena pandai merawat tubuh dan masih perawan ting-ting,
orang tidak akan percaya dia sudah mencapai usia itu.
Namun yang aku sesalkan mengapa ayah setega itu harus cepat-cepat
menikahkanku. Padahal aku sebagai anak sulung bercita-cita ingin meraih
pendidikan tinggi dermi masa depan dan ingin membantu kedua adikku yang
masih duduk di bangku sekolah. Saking teguh dengan cita-cita itu selama
kuliah aku tak pernah menyentuh bercinta dengan perempuan.
Pada pertemuan pertama di rumah Pak Karta, aku belum memberi jawaban. Dengan
Dahlia pun aku belum sempat berkenalan, hanya bertatap muka sambil
disaksikan ayah ibunya dan ayahku sendiri. Namun rupanya Pak Karta dan
istrinya sudah merasa yakin aku mencintai anaknya.
Seminggu setelah pertemuan itu, Pak Karta dan istrinya singgah ke tempat
kost di kawasan Ledeng Kota Bandung. Aku kaget dan menaruh curiga juga
mengapa mereka datang. Jangan-jangan aku dipaksa auntuk menikah dengan
segera. Wah, kalau begitu hancurlah cita-citaku ingin meraih jenjang sarjana
dari perguruan tinggi.
"Bapak dan Ibu datang ke sini hanya ingin mendapatkan kepastian. Apakah Ade
senang sama anak kami? Jika memang senang dan cocok, mau sekarang atau nanti
habis di wisuda menikah saja. Jangan bimbang, kami sudah menyediakan ruko di
Sumedang, rumah baru dan bila perlu silakan urusi semua harta kekayaan kami.
Untuk siapa lagi kalu bukan untuk si bungsu," kata Pak Karta.
"Ya aku cocok, Pak! Namun masalah pernikahan nanti saja jika aku sudah lulus
kuliah," hanya itu lontaran jawaban yang ku katakan sama Pak Karta dan Ibu.
Sebelum neingglkan tempat kost Pak Karta memberi amplop berisi uang Rp 10
juta.
Memang Pak Karto dikenal orang kaya raya di desaku. Dia sarjana ekonomi
pernah dan jadi pemborong. Sekarang dia menggeluti pertanian dengan memiliki
areal sawah lebih dari sepuluh hektaran dan digarap sendiri tanpa disewakan
sama orang lain. Karena itu pantaslah jika setiap tahun sawahnya terus
bertambah.
Pak karto memiliki anak tiga orang. Yang pertama dan kedua laki-laki sudah
menikah dan bekerja di instansi pemerintah di Provinsi Jawa-Tengah.
Sementara ibunya ibu rumah tangga anak orang kaya raya dan memiliki warisan
sawah dan pekarangan luas. Saudara-saudaranya secara kebetulan berada di
lingkungan rumahku. Secara kebetulan semua saudaranya mendukung rencana
pernikahanku dengan Dahlia.
Waktu untuk menamatkan kuliah hanya tinggal beberapa bulan saja. Selama itu
aku sering disuruh pulang oleh ayah dan oleh Pak Karta. Jika aku pulang
langsung main ke rumah calon istri. Sayang sang kekasih begitu dingin tak
banyak komunikatif jauh dibanding wanita pada umumnya. Tapi biarlah soal
itu, mungkin karena sifat dan prilakunya begitu, akupun memakluminya.
(bersambung)**
--
Aldo Desatura ® & ©
Twitter = @desatura
YM = desatura
Facebook = hanjakal@gmail.com
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata
--
Aldo Desatura ® & ©
Twitter = @desatura
YM = desatura
Facebook = hanjakal@gmail.com
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment