Advertising

Monday, 25 March 2013

[wanita-muslimah] “Jagal Di Sekitar Kita”

 


"Film saya juga butuh kuasa kalau mau menggerakkan perubahan. Kuasa rakyat –people power–, bukan rezim." — Joshua Oppenheimer,

#Twitteriak Oktober 2012
Sejarah tahun 1965 bisa dibilang merupakan salah satu sejarah yang tak bisa dilupakan bangsa Indonesia dengan kebenaran yang masih simpang siur. Perlahan tapi pasti, fakta demi fakta mulai terungkap. Gunter Grass pernah menulis biografi "Peeling the onion", analogi yang sama bisa kita terapkan saat membahas pembantaian massal 1965. Meskipun menimbulkan kepedihan demi kepedihan bila diungkapkan selembar demi selembar, bila dilakukan secara serius dalam rangkaian mengungkap kebenaran dan rekonsiliasi, "luka bangsa" ini akan sembuh juga.

Joshua Oppenheimer (@joshuaoppenheim), sutradara The Act of Killing (TAoK), awalnya tidak terpikir untuk membuat film tentang pembunuhan massal 1965. Pria kelahiran Texas, Amerika Serikat, tahun 1974 ini semula berkunjung ke Serdang Bedagai, Sumatra Utara, pada tahun 2001 untuk membuat film dokumenter tentang buruh perkebunan, hingga suatu saat ia bertemu dengan seorang jagal bernama Amir Hasan. Semakin lama, ia semakin sering menemui jagal-jagal yang membunuh buruh PKI dari tahun 1965-1966 sampai ia kemudian pergi ke Medan. Di Medan, Joshua menemui pimpinan para jagal bernama Anwar Congo, yang juga menjadi tokoh di film The Act of Killing.

Film ini diproduksi sedang tahun 2004 dan baru selesai 7 tahun kemudian. Joshua mengaku ia merasa tersiksa batinnya selama proses pembuatan film. Selain Anwar Congo, film ini juga merekam Amir Hasan, Adi Zulkardy, dan politik Orde baru. Film The Act of Killing pertama kali diputar di Festival Film Telluride Colorado, kemudian Toronto. Sutradara kawakan Werner Herzog dan Errol Morris tercatat sebagai executive producer film ini. Versi Indonesia dari The Act of Killing berjudul "Jagal" dan ada perbedaan dari versi internasionalnya.

Sekarang kita langsung aja ngobrol bareng Joshua Oppenheimer, yang sekarang sedang berada di Denmark untuk keperluan final mixing film "Jagal".

#Twitteriak: Pertanyaan mudah. Kapan film "Jagal" ditayangkan untuk publik? Dan dimana?
Joshua Oppenheimer: Banyak yang akan selenggarakan pemutaran ini, lembaga, festival dll. 1-2 bulan lagi. Tanggal sedang dibicarakan. Akan diumumkan jika sudah dipastikan waktu dan tempatnya di https://www.facebook.com/the.act.of.killing

#Twitteriak: Belum juga film diputar, reaksi negatif muncul dari Menteri Pertahanan, ulama NU, Anwar Congo. Ada tanggapan?
Joshua Oppenheimer:
Dari menteri dan Jaksa Agung cuma ada "Belum nonton, no comment." Sementara kami tidak pernah menipu Anwar. Kami menjelaskan semua, mendapatkan izin tertulis dari Anwar. Tujuh tahun kami membuat film bersama. Tidak mungkin bisa jadi film, kalau didasarkan pada tipu-menipu. Anwar memang ingin dibuatkan filmnya. Mungkin Anwar kecewa pada hasil filmnya dan judulnya. Tapi kami tak pernah menjanjikan soal judul atau hasilnya. Saya belum tahu reaksi ulama NU terhadap film TAoK/Jagal ini.

#Twitteriak: Mengapa butuh waktu lama untuk memproduksi film "Jagal" ini? Apa yang menjadi hambatan dalam proses produksinya?
Joshue Oppenheimer:
Karena film ini tidak punya skenario awal, penuh improvisasi. Dan menggali hati, imajinasi, butuh waktu lama. Kalau pemutaran film dihalangi, saya kembalikan kepada masyarakat Indonesia. Mau nonton tidak? Saya sudah membuatnya semudah mungkin bagi orang Indonesia untuk menontonnya. Gratis pula.

#Twitteriak: Apakah film "Arsan dan Aminah" juga akan ikut di-screening berbarengan dengan "Jagal"?
Joshua Oppenheimer:
"Arsan dan Aminah" hanyalah 'ruang' bagi Anwar untuk menuangkan ingatan, imajinasi tentang pengalamannya dalam TAoK. "Arsan dan Aminah" adalah bagian metode, tidak pernah dimaksudkan sebagai film utuh tersendiri, terpisah. Anwar tahu itu.

#Twitteriak: Apakah reaksi yang Joshua harapkan muncul dari penonton setelah melihat film "Jagal" ini?
Joshua Oppenheimer: Merenung. Dan menimbang ulang bagaimana kita melihat dan meyakini yang kita lihat. Film ini membawa harapan perbaikan, tapi tidak bisa mewujudkannya. Penonton bisa.

#Twitteriak: Mana yang lebih mengerikan bagi Joshua: Jagal 1965 atau masyarakat yang membiarkan jagal semacam Anwar Congo ada?
Joshua Oppenheimer:
Bukan keduanya. Tapi sistem yang melahirkan keduanya. Justifikasi Anwar dan ketakutan masyarakat berpangkal dari imajinasi. Hanya sistem yang kuat bisa membentuk imajinasi.

#Twitteriak: Hambatan paling sulit apa saat shooting dan editing The Act of Killing? (Pertanyaan @Yuki_aditya)
Joshua Oppenheimer:
Lama dan ratusan jam footage. Editing rumit, perlu 3 tahun, sambil syuting.

#Twitteriak: Rekonsiliasi bagi korban dan jagal pembantaian massal 1965 sudah berhenti. Apa film ini juga mengangkat isu ini?
Joshua Oppenheimer:
Ya. Rekonsiliasi harus didahului kebenaran. Pelaku harus mampu mengakui perbuatannya salah dan jahat.

#Twitteriak: Pemuda Pancasila bukan satu-satunya yang jadi jagal 1965. Tempo menunjuk banyak lainnya. Mengapa tidak semua ditampilkan?
Joshua Oppenheimer:
Pilihan antara dalam atau luas. Kami memilih dalam, menimbang sumber daya yang ada. Perlu banyak film supaya luas.

#Twitteriak: Renungan film ini adalah mempertimbangkan nilai-nilai kebaikan. Apa pasca 1965 kebaikan orang Indonesia berubah?
Joshua Oppenheimer:
Dirundung teror, bayangan masyarakat tentang apa itu baik berubah. Tidak peka terhadap impunitas dan kekerasan.

#Twitteriak: Sebagai antropolog mana yang lebih dahulu: keinginan membuat film atau pengetahuan Anda terhadap suatu peristiwa ? (Pertanyaan @tumanisme)
Joshua Oppenheimer:
Keingintahuan mendorong riset, metodenya film, juga cara menyampaikan jawaban. Kamera mengganti kuesioner.

#Twitteriak: Penghakiman atas genosida Nazi dan Apartheid apakah juga bisa dilakukan bagi pelaku-pelaku pembantaian massal 1965?
Joshua Oppenheimer:
Setiap kasus berbeda cara, tapi kebenaran harus diungkap. Bagaimana dengan pelanggaran HAM Bush dkk? Penghakiman tak selalu penghukuman. Tapi tak bisa jika rezim pembunuh masih menang dan berkuasa.



 
http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
Information about Coup d'etat '65click: http://www.progind.net/  
List of books, click:  http://sastrapembebasan.wordpress.com/


__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment