Hidup Gus Dur....Hidup Gus Dur....!!!
Wassalamualaikum.
Bachtiar Nyomba
Laskar NU Sejati
Pendukung Gus Dur untuk Pluralisme
On 11/24/10, kader cikarang <nu.pkb.cikarang@gmail.com> wrote:
> Nasib UKM dan Reformasi Ekonomi
>
> Senin, 19 Januari 2004
>
> Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
>
>
>
> Semenjak tahun 1945 usaha kecil dan menengah (UKM) tidak pernah secara
> sungguh-sungguh di bantu oleh pemerintah. Bahkan sebaliknya, terjadi apa
> yang dinamakan "kucuran kredit" bagi mereka, tidak pernah terjadi dalam
> jumlah yang cukup signifikan. Sektor yang dinamai dengan berbagai sebutan
> itu, sering kali kekurangan modal. Penulis pernah mendengar pada Radio
> El-Shinta, seorang pengusaha pakaian di Teluk Belanga yang menyatakan
> mengekspor lebih kurang 30.000 lembar pakaian jadi ke Malaysia. Ditanya,
> apakah hanya itu permintaan yang dating dari negeri jiran tersebut? Ia
> menjawab hanya dapat membuat pakaian jadi sejumlah itu, walaupun permintaan
> datang 10 kali lipatnya. Mengapa? ia menjawab mesin jahitnya sudah terlalu
> tua dan hanya dapat menjahit sejumlah itu. Mengapa ia tidak mengambil kredit
> pada sebuah bank, mungkin Bank pemerintah? Dijawabnya, tidak mampu membayar,
> karena labanya hanya 10%, sementara bunga Bank yang harus dibayar 19%.
> Karena itu tidak saya perluas usaha ini sampai datang pertolongan, katanya.
>
>
>
> Kejadian seperti ini sudah dianggap "praktek normal" dari perekonomian
> nasional kita. Normal, karena mereka merasa kenyataannya para pengusaha
> besar (disebut "pengusaha kelas kakap") yang memperoleh segala macam
> fasilitas kredit pada bank-bank pemerintah. Baik yang melalui jalan lurus
> maupun praktek 'serba curang' dan menyedihkan. Dalam rangkaian hal-hal yang
> menyedihkan itu, adalah "uang hangus" (komisi) yang harus dibayarkan kepada
> pegawai bank yang bersangkutan, jika ingin memperoleh kucuran kredit
> tersebut. Tidak heranlah jika UKM berkembang tanpa bantuan siapapun, dan
> bahkan mungkin dengan berbagai hambatan yang harus diatasi sendiri di
> lapangan. Ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah.
>
>
>
> Pernah penulis ditanya dalam sebuah seminar, apakah tanda-tandanya gerakan
> koperasi menjadi sehat dan dewasa? Penulis menjawab, jika Departemen
> Koperasi sudah tidak diperlukan lagi. Langsung Menteri Koperasi Bustanil
> Arifin mengajak penulis ke ruang kerjanya untuk dimarahi. Tetapi hal itu
> tidak mengubah kenyataan, urusannya tidak selesai dengan memarahi penulis,
> melainkan dengan perbaikan-perbaikan dalam segala hal yang menyangkut
> gerakan koperasi.
>
>
>
> *****
>
>
>
> Penulis pernah berkunjung ke Prince William Rural Electricity Cooperatives
> (Koperasi listrik Pedesaan Prince William) di Negara bagian Virginia, A.S.
> Setelah meninjau tata kerja di kantornya, yang hanya mempunyai seorang
> pegawai/staff, penulis masuk ke ruang mesin yang menghasilkan ratusan juta
> watt dan melayani kebutuhan listrik 5 negara bagian, termasuk ibukota
> federal A.S, Washington, D.C. Walaupun berskala sangat besar, koperasi ini
> dianggap UKM karena ia memiliki pegawai dan staff kurang dari 50 orang. Ini
> baru koperasi, dan di mata penulis, ini koperasi baru. Kalau di negeri kita
> biasanya koperasi mempunyai pengawai dan staff demikian banyak (termasuk
> tukang masak dan tukang parkir), maka terasa aneh sebuah koperasi demikian
> besar skala pekerjaanya di asuh oleh hanya beberapa orang saja.
>
>
>
> Dari Semaul Undong di Korea Selatan, Kibutz di Israel maupun Ejido di Mexico
> adalah koperasi-koperasi pertanian yang tentu saja harus dipelajari
> kelebihan dan kekurangan masing-masing, apabila kita ingin memiliki koperasi
> pertanian yang tangguh. Beberapa tahun yang lalu, statistik mengumumkan
> bahwa 43% dari ekonomi nasional A.S dimiliki oleh UKM, sedangkan 29% oleh
> BUMD dan hanya 28% dimiliki pihak swasta (termasuk yang sangat terkenal
> nama-namanya seperti Boeing, General Electric dan sebagainya). Inilah
> rahasia mengapa perekonomian A.S menjadi kuat dan "tahan banting". Kalau
> kita ingin memiliki perekonomian kuat, kita juga harus sanggup membangun
> jaringan UKM yang luas dan kuat.
>
>
>
> Memang pernah dicoba untuk "menegarakan" gerakan koperasi tetapi senantiasa
> gagal. Sebagai gerakan, koperasi memerlukan wiraswastawan yang sanggup
> memandang ke depan dan mengambil keputusan dengan cepat untuk organisasi
> mereka, tentu saja dengan resiko yang juga sangat besar. Hal ini tidak
> dimiliki oleh jajaran pegawai dan staff yang tunduk dan bertanggung jawab
> kepada kantor koperasi milik pemerintah di daerah yang bersangkutan. Gerakan
> koperasi seperti Ujamaa di Tanzania ciptaan Julius Nyerere, Jamiyyah
> Al-Ta'awun ciptaan Nasser di Mesir, serta BUUD (Badan Usaha Unit Desa) di
> negeri kita, sewajarnya mengalami kegagalan karena factor terlalu besarnya
> campur tangan pemerintah, dan sangat kecilnya kewiraswastaan di dalamnya.
>
>
>
> *****
>
>
>
> Jelaslah dengan demikian, bahwa menghidupkan UKM (termasuk koperasi),
> bukanlah kerja yang mudah. Namun ia harus dilakukan, karena tanpa koperasi
> sebuah perekonomian yang sehat dan normal dapat berdiri. Apalagi untuk
> kawasan seluas tanah air kita dan penduduk yang demikian besar bilangannya
> seperti tanah air kita. Bahwa kegagalan demi kegagalan dalam mendorong
> kemajuan UKM telah terjadi secara meluas, tidak berarti bahwa upaya
> memajukan UKM (termasuk koperasi), bukanlah sesuatu yang tidak mungkin
> dilakukan. Di tangan UKM-lah terletak masa depan perekonomian nasional kita.
>
>
>
> Salah satu syarat untuk menjaga UKM yang sehat dapat bekerja sebagai
> "lokomotif perekonomian" dengan menjaga jumlah kucuran kredit yang cukup
> bagi mereka. Banyak perusahaan raksasa dunia dewasa ini berangkat dari
> sebuah UKM, seperti Bank of America, Credit Lyons di Prancis, Kredit Anstalt
> di Jerman, Rabo Bank di Belanda, adalah bukti dari kemampuan UKM untuk
> memanfaatkan kucuran kredit dalam jumlah sangat besar. Sekian banyak pasar
> swalayan di Swedia dimiliki oleh koperasi sebagai pemegang saham tunggal.
> Karena itu, tepatlah kalau dianggap UKM adalah "lokomotif" sebuah
> perekonomian. Karena UKM memiliki kewiraswastaan dalam skala yang diperlukan
> tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Tentu saja ini adalah hal
> yang relatif, seperti terbukti dengan pemilikan sebuah koperasi atas
> saham-saham dan pabrik mobil Volvo di Scandinavia.
>
>
>
> Karena Undang-Undang Dasar 1945 maupun letak geografis kita, maka jelas
> bahwa diperlukan penguatan UKM atasnya dengan tidak membatasi usaha swasta.
> Kita harus berpegang teguh kepada asas kompetisi yang sehat, persaingan yang
> jujur dan penggunaan pertimbangan-pertimbangan efisiensi yang rasional, jika
> kita memiliki usaha swasta yang tangguh dan UKM yang "tahan banting"
> tentulah kita dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Karena
> kita memiliki 3 buah sumber alam yang sangat besar, yaitu hasil-hasil hutan
> yang demikian banyak tambang-tambang mentah yang berlimpah ruah (terutama
> BBM dan gas alam) dan hasil-hasil laut dalam jumlah yang tidak tertandingi
> oleh bangsa-bangsa lain. Tentu itu semua harus dikembangkan. Sesuatu yang
> gampang dikatakan, namun sulit dilaksanakan bukan?
>
>
>
> Jakarta, 7 Januari 2004
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment