Abah HMNA yang dirahmati Allah,
Perkenankan saya dengan hati yang tulus, kerendahan hati dan penuh kesadaran
menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya, sedalam-dalamnya, setinggi-tingginya
dan seluas-luasnya kepada abah HMNA secara khusus dan teman-teman lain di
millist WM ini atas sikap saya dalam mereply, merespons atau menyampaikan
tanggapan yang membuat abah HMNA pada khususnya membuat tersinggung, sehingga
tidak dapat dimaafkan.
Saya ingin menyampaikan klarifikasi sekedar untuk menyamakan persepsi yang amat
mungkin disalahfahami :
1) Lontaran syahwat pribadi yang saya sampaikan ketika kita membahas asmaul
husna (99+1) yang menurut versi abah ada "al rabb" tetapi tidak ada "al ahad",
sedangkan yang menurut versi saya tidak ada "al rabb" tetapi ada "al ahad",
tidaklah saya maksudkan untuk menghina ataupun melecehkan abah HMNA pribadi
apalagi dikaitkan dengan sumber referensi abah HMNA yang mengaku asma'ul husna
versi tsb diperolah dari hand-book Kakek Abah yang didapat dari guru beliau di
Mekkah, arab Saudi.
Bagi saya, syahwat atau istilah generiknya adalah hawa nafsu pada dasarnya
merupakan karunia Allah SWT juga di samping karunia lain yaitu kecerdasan. Kalau
kecerdasan kita kenal ada kecerdasan intelektual (dalam al Qur'an seringkali
disebut aql, fikr, ilm), ada juga kecerdasan emosi dan spiritual (dalam al
qur'an seringkali disebut al albaab, al abshor) wallahu a'lam mohon koreksi bila
salah. Nah syahwat atau nafsu memang banyak dicela oleh al Qur'an, karena
seringkali mengajak kepada kesesatan dan kejahatan, maka ada ahli (pakar) yang
mengelompokkan nafsu jahat (su') menjadi : nafsu hewaniyah (libido/sex dan
merusak), nafsu syetaniyah (kesesatan dan durhaka). Tetapi ada juga nafsu yang
tidak dicela Allah bahkan dipuji seperti nafsul muthmainnah, yakni nafsu yang
penuh ketaatan pada sang Ilahi.
Ketika saya melontarkan syahwat pribadi kepada Abah HMNA tidak ada maksud saya
sedikitpun untuk menjelek-jelekkan Abah HMNA sebagai nafsu syahwat yang jelek
(hewan apalagi syetan), karena manusia secara fithrah (naluri dasar) pasti
memiliki kadar syahwat tertentu dan itu lumrah saja karena dapat dibayangkan
tanpa syahwat, manusia akan kesulitan melampiaskan libido sexual pada
pasangannya, sehingga mustahil manusia akan berkembang biak, manusia tanpa
syahwat juga mustahil merealisasikan ambisi meraih cita-cita, sehingga pada
titik tertentu manusia menjadi berpotensi pada serakah ketika berada di puncak
kekuasaan. Sekali lagi mohon maaf apabila lontaran "syahwat pribadi" yang saya
sampaikan pada Abah HMNA ditafsirkan mengabaikan nalar, tidak seperti itu yang
saya maksudkan. Semoga dapat difahami.
2) Saya sadar dalam berkomunikasi kadang tidak dapat melepaskan diri dari kultur
asal, yang ternyata kadang berpotensi disalah-fahami oleh komunikan yang
memiliki kultur yang berbeda. Saya dilahirkan di Lamongan, masa balita dan
kanak-kanak, saya habiskan di sana. Kemudian saya mengikuti orang tua yang
menjadi PNS di Surabaya, di kota inilah, saya menyelesaikan pendidikan formal
saya mulai TK, SD, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Unair tentu saja
saya sehari-hari berinteraksi dengan kultur surabaya, sehingga saya merasa dekat
dengan kultur surabaya, meskipun saya berpindah-pindah ke Malang,
Ujungpandang/Makassar, Bandung, Surabaya lagi dan sekarang di Denpasar. Kultur
surabaya sebagaimana saya posting saat mereply wan Sabri, mirip dengan budaya
pekalongan yang suka misuh (meledek) dengan padanan kata-kata mulai halus hingga
kasar untuk merespon kangen-kangenan atau mengungkapkan kebencian atau kemarahan
hampir sama ungkapan yang dipakai. Ini kultur yang biasa dipakai dan mudah
dipahami tentu saja bagi penganut kultur yang sama, tidak demikian halnya dengan
orang yang hidup di luar atau bukan penganut kultur suroboyoan. Saya di makassar
(dulu saya penah merasakan nama ujungpandang yang kemudian skep walikota
mengubah menjadi makassar) pernah tinggal di sana kurang lebih lima tahun
bergaul tidak hanya dengan etnis makassar tetapi juga dengan etnis bugis, mandar
dan tator (tanah toraja). Tentu saja saya mengerti budaya sirri, dan saya merasa
enjoy, tidak pernah konflik dengan teman-teman di Sulawesi. Tidak hanya makassar
yang saya kunjungi, tetapi hampir semua kota-kota besar di pulau sulawesi pernah
saya kunjungi, tetapi karena kunjungan tsb karena penugasan formal perusahaan
tempat saya bekerja, tentu saja saya cuma menengok sepintas bukan mengamati
mendalam bak peneliti arkeologist atau sosiologist. Semoga persinggungan kultur
atau kebiasaan saya tidak membuat tersinggung lagi pada diri Abah HMNA pada
interaksi atau komunikasi berikutnya.
2) jujur saja, saya adalah tipe konfrontatif, bukan tipe yang suka menghindari
konfrontasi, bukan berarti saya tidak menghormati orang yang lebih tua (senior)
dari saya, tetapi karena memang saya ingin mengedepankan kejujuran apa adanya,
bahwa ketika ada dialektika yang kurang pas dengan nalar yang saya fahami, maka
saya mencoba melontarkan opini yang berbeda, nah sekali lagi saya mohon maaf
ternyata sikap saya yang nampak konfrontatif ternyata menimbulkan
ketersinggungan pada diri Abah HMNA dengan menganggap respons saya sebagai
isyarat menabuh genderang perang, padahal bagi saya perang itu cocok untuk kafir
harbi dengan segala prosedur fiqh yang pernah disampaikan pada ulama' fiqh.
Ini dulu permohonan maaf saya, saya amat terbuka untuk dikritik dan dinasehati
sebanyak-banyaknya. Kalau bersalah kepada Allah ya harus minta ampun kepada
Allah dengan beristighfar dan tobat nasuha, tetapi kalau konflik dengan sesama
manusia ya dengan meminta maaf, sekali lagi dengan segala kerendahan hati saya
mohon perkenan maaf atas response saya selama ini yang membuat abah HMNA
tersinggung. Percayalah saya akan berusaha lebih menahan diri untuk memanage
hati supaya lebih arif dan bijaksana.
Wassalam
Abdul Mu'iz
________________________________
Dari: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@yahoo.co.id>
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Terkirim: Rab, 2 Maret, 2011 05:16:14
Judul: Re: [wanita-muslimah] Re: Akhlak yang baik
"Syahwat pribadi" yang sekonyong-konyong begitu saja dimuntahkan oleh Abd Muiz
yang akhlaqnya tidak beradab itu, yang tidak berfokus pada materi saja, adalah
makian yang paling top yang menyinggung kerhormatan bagi orang Bugis Makassar,
yang tidak bisa dimaafkan sampai kapanpun. Jadi dari suku lain harus faham itu,
jangan pandang enteng makian "syahwat pribadi" itu. Dan makian itu bukan
mengenai saya saja secara pribadi, melainkan mengenai pula ayah, kakek dan guru
kakek saya seorang ulama besar di Makkah yang sangat dihormati oleh rumpun
keluarga turunan kakek saya Opu Tuan Imam Barat Batangmata. Oh ya, juga jangan
memegang kepala orang Bugis Makassar (kecuali tukang cukur) itu adalah
penghinaan.
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment