Pernyataan maaf saya terima. Mariah berdiskusi dengan memfokuskan pada
substansi, bukan menyinggung pribadi lawan diskuasi
Wassalam
HMNA
----- Original Message -----
From: "Abdul Muiz" <muizof@yahoo.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Thursday, March 03, 2011 06:42
Subject: Bls: [wanita-muslimah] Re: Akhlak yang baik
> Abah HMNA yang dirahmati Allah,
>
> Perkenankan saya dengan hati yang tulus, kerendahan hati dan penuh
> kesadaran
> menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya, sedalam-dalamnya,
> setinggi-tingginya
> dan seluas-luasnya kepada abah HMNA secara khusus dan teman-teman lain di
> millist WM ini atas sikap saya dalam mereply, merespons atau menyampaikan
> tanggapan yang membuat abah HMNA pada khususnya membuat tersinggung,
> sehingga
> tidak dapat dimaafkan.
>
> Saya ingin menyampaikan klarifikasi sekedar untuk menyamakan persepsi yang
> amat
> mungkin disalahfahami :
>
> 1) Lontaran syahwat pribadi yang saya sampaikan ketika kita membahas
> asmaul
> husna (99+1) yang menurut versi abah ada "al rabb" tetapi tidak ada "al
> ahad",
> sedangkan yang menurut versi saya tidak ada "al rabb" tetapi ada "al
> ahad",
> tidaklah saya maksudkan untuk menghina ataupun melecehkan abah HMNA
> pribadi
> apalagi dikaitkan dengan sumber referensi abah HMNA yang mengaku asma'ul
> husna
> versi tsb diperolah dari hand-book Kakek Abah yang didapat dari guru
> beliau di
> Mekkah, arab Saudi.
>
> Bagi saya, syahwat atau istilah generiknya adalah hawa nafsu pada dasarnya
> merupakan karunia Allah SWT juga di samping karunia lain yaitu kecerdasan.
> Kalau
> kecerdasan kita kenal ada kecerdasan intelektual (dalam al Qur'an
> seringkali
> disebut aql, fikr, ilm), ada juga kecerdasan emosi dan spiritual (dalam al
> qur'an seringkali disebut al albaab, al abshor) wallahu a'lam mohon
> koreksi bila
> salah. Nah syahwat atau nafsu memang banyak dicela oleh al Qur'an, karena
> seringkali mengajak kepada kesesatan dan kejahatan, maka ada ahli (pakar)
> yang
> mengelompokkan nafsu jahat (su') menjadi : nafsu hewaniyah (libido/sex dan
> merusak), nafsu syetaniyah (kesesatan dan durhaka). Tetapi ada juga nafsu
> yang
> tidak dicela Allah bahkan dipuji seperti nafsul muthmainnah, yakni nafsu
> yang
> penuh ketaatan pada sang Ilahi.
>
> Ketika saya melontarkan syahwat pribadi kepada Abah HMNA tidak ada maksud
> saya
> sedikitpun untuk menjelek-jelekkan Abah HMNA sebagai nafsu syahwat yang
> jelek
> (hewan apalagi syetan), karena manusia secara fithrah (naluri dasar) pasti
> memiliki kadar syahwat tertentu dan itu lumrah saja karena dapat
> dibayangkan
> tanpa syahwat, manusia akan kesulitan melampiaskan libido sexual pada
> pasangannya, sehingga mustahil manusia akan berkembang biak, manusia tanpa
> syahwat juga mustahil merealisasikan ambisi meraih cita-cita, sehingga
> pada
> titik tertentu manusia menjadi berpotensi pada serakah ketika berada di
> puncak
> kekuasaan. Sekali lagi mohon maaf apabila lontaran "syahwat pribadi" yang
> saya
> sampaikan pada Abah HMNA ditafsirkan mengabaikan nalar, tidak seperti itu
> yang
> saya maksudkan. Semoga dapat difahami.
>
> 2) Saya sadar dalam berkomunikasi kadang tidak dapat melepaskan diri dari
> kultur
> asal, yang ternyata kadang berpotensi disalah-fahami oleh komunikan yang
> memiliki kultur yang berbeda. Saya dilahirkan di Lamongan, masa balita dan
> kanak-kanak, saya habiskan di sana. Kemudian saya mengikuti orang tua yang
> menjadi PNS di Surabaya, di kota inilah, saya menyelesaikan pendidikan
> formal
> saya mulai TK, SD, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Unair tentu
> saja
> saya sehari-hari berinteraksi dengan kultur surabaya, sehingga saya merasa
> dekat
> dengan kultur surabaya, meskipun saya berpindah-pindah ke Malang,
> Ujungpandang/Makassar, Bandung, Surabaya lagi dan sekarang di Denpasar.
> Kultur
> surabaya sebagaimana saya posting saat mereply wan Sabri, mirip dengan
> budaya
> pekalongan yang suka misuh (meledek) dengan padanan kata-kata mulai halus
> hingga
> kasar untuk merespon kangen-kangenan atau mengungkapkan kebencian atau
> kemarahan
> hampir sama ungkapan yang dipakai. Ini kultur yang biasa dipakai dan mudah
> dipahami tentu saja bagi penganut kultur yang sama, tidak demikian halnya
> dengan
> orang yang hidup di luar atau bukan penganut kultur suroboyoan. Saya di
> makassar
> (dulu saya penah merasakan nama ujungpandang yang kemudian skep walikota
> mengubah menjadi makassar) pernah tinggal di sana kurang lebih lima tahun
> bergaul tidak hanya dengan etnis makassar tetapi juga dengan etnis bugis,
> mandar
> dan tator (tanah toraja). Tentu saja saya mengerti budaya sirri, dan saya
> merasa
> enjoy, tidak pernah konflik dengan teman-teman di Sulawesi. Tidak hanya
> makassar
> yang saya kunjungi, tetapi hampir semua kota-kota besar di pulau sulawesi
> pernah
> saya kunjungi, tetapi karena kunjungan tsb karena penugasan formal
> perusahaan
> tempat saya bekerja, tentu saja saya cuma menengok sepintas bukan
> mengamati
> mendalam bak peneliti arkeologist atau sosiologist. Semoga persinggungan
> kultur
> atau kebiasaan saya tidak membuat tersinggung lagi pada diri Abah HMNA
> pada
> interaksi atau komunikasi berikutnya.
>
> 2) jujur saja, saya adalah tipe konfrontatif, bukan tipe yang suka
> menghindari
> konfrontasi, bukan berarti saya tidak menghormati orang yang lebih tua
> (senior)
> dari saya, tetapi karena memang saya ingin mengedepankan kejujuran apa
> adanya,
> bahwa ketika ada dialektika yang kurang pas dengan nalar yang saya fahami,
> maka
> saya mencoba melontarkan opini yang berbeda, nah sekali lagi saya mohon
> maaf
> ternyata sikap saya yang nampak konfrontatif ternyata menimbulkan
> ketersinggungan pada diri Abah HMNA dengan menganggap respons saya sebagai
> isyarat menabuh genderang perang, padahal bagi saya perang itu cocok untuk
> kafir
> harbi dengan segala prosedur fiqh yang pernah disampaikan pada ulama'
> fiqh.
>
> Ini dulu permohonan maaf saya, saya amat terbuka untuk dikritik dan
> dinasehati
> sebanyak-banyaknya. Kalau bersalah kepada Allah ya harus minta ampun
> kepada
> Allah dengan beristighfar dan tobat nasuha, tetapi kalau konflik dengan
> sesama
> manusia ya dengan meminta maaf, sekali lagi dengan segala kerendahan hati
> saya
> mohon perkenan maaf atas response saya selama ini yang membuat abah HMNA
> tersinggung. Percayalah saya akan berusaha lebih menahan diri untuk
> memanage
> hati supaya lebih arif dan bijaksana.
>
> Wassalam
> Abdul Mu'iz
>
>
>
>
> ________________________________
> Dari: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@yahoo.co.id>
> Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Terkirim: Rab, 2 Maret, 2011 05:16:14
> Judul: Re: [wanita-muslimah] Re: Akhlak yang baik
>
>
> "Syahwat pribadi" yang sekonyong-konyong begitu saja dimuntahkan oleh Abd
> Muiz
> yang akhlaqnya tidak beradab itu, yang tidak berfokus pada materi saja,
> adalah
> makian yang paling top yang menyinggung kerhormatan bagi orang Bugis
> Makassar,
> yang tidak bisa dimaafkan sampai kapanpun. Jadi dari suku lain harus faham
> itu,
> jangan pandang enteng makian "syahwat pribadi" itu. Dan makian itu bukan
> mengenai saya saja secara pribadi, melainkan mengenai pula ayah, kakek dan
> guru
> kakek saya seorang ulama besar di Makkah yang sangat dihormati oleh rumpun
> keluarga turunan kakek saya Opu Tuan Imam Barat Batangmata. Oh ya, juga
> jangan
> memegang kepala orang Bugis Makassar (kecuali tukang cukur) itu adalah
> penghinaan.
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment