Advertising

Monday 30 April 2012

Re: [wanita-muslimah] Sastra dan Perubahan Sosial by Amiq Ahyad

 


Pak Mu'iz yang baik,
terima kasih sudah menyampaikan tanggapan singkat saya kepada Pak Amiq Ahyad, dan memforward balik jawaban beliau. Saya kira kalau yang dimaksudkan beliau adalah Umar Kayam, bukan Koentjaraningrat, memang masuk akal.

Maksud saya dengan perbandingan yang tidak apel dengan apel sebelumnya adalah, karena pak Amiq sebetulnya bisa mencari contoh-contoh dari kumpulan puisi terdahulu yang juga berkomentar tentang perubahan sosial seperti BM. Antologi puisi seperti ini cukup banyak dibuat oleh para penggiat sastra di tanah air. Jadi, perbandingannya lebih jelas dalam satu koridor.

Atau jika perbandingan hendak diperluas, maka langkah berikutnya bisa dengan membandingkan antologi puisi BM dengan sajak-sajak Rendra (awal) yang juga banyak mengomentari peristiwa sosial. Perbandingan ini masih lebih kontekstual ketimbang cara Pak Amiq membandingkan antologi BM dengan karya-karya Pram, Kunto, Kayam, atau Tohari.

Jika Pak Amiq berpendapat membandingkan antologi DM dengan sajak-sajak Rendra seperti membandingkan karya manusia dengan karya dewa, paling tidak mereka berada dalam semesta yang sama. Sebab membandingkan BM dengan karya Pram dkk, sejatinya juga adalah membandingkan dengan karya "dewa-dewa" juga, bukan? Sehingga kontra argumen seperti ditunjukkan Pak Amiq justru semakin menunjukkan betapa tidak kontekstual dan tidak validnya perbandingan yang beliau lakukan.

Bagaimana pun, mohon disampaikan salam kenal dan takzim saya kepada Pak Amiq. Upaya beliau untuk melakukan pembacaan dekat (close reading) terhadap antologi BM saja sudah merupakan angin segar yang menggembirakan, karena memang sastra memang seharusnya merupakan wilayah inklusif yang bisa, dan boleh, ditafsirkan oleh profesi mana pun, sepanjang tetap menggunakan argumentasi yang valid.

Boleh tahu spesialisasi kajian Pak Amiq di bidang sejarah ini apa ya? Kebetulan novel saya yang akan segera terbit "Napoleon dari Tanah Rencong" (sekitar mid-Juni) akan bersetting Aceh era DI/TII tahun 50-an di bawah pimpinan Teungku Daud Beureueh, kendati tokoh utama di novel adalah Hasan Saleh, mantan Panglima Perang dan Menteri Pertahanan DI/TII yang akhirnya berunding dengan Wakil Perdana Menteri Mr. Hardi. Perundingan ini kemudian tercatat dalam sejarah Indonesia menghasilkan berdirinya Daerah Istimewa Aceh, meski juga mempunyai akibat buruk lain: pecah kongsinya Hasan Saleh dan beberapa petinggi DI/TII di satu pihak dengan Daud Beureueh dkk di pihak lain, yang tetap memilih angkat senjata terhadap Jakarta sampai 1962.

Salam,

ANB


On Apr 30, 2012, at 2:22 PM, "Mu'iz, Abdul" <muizof@yahoo.com> wrote:

 

Pak Akmal N Basral,

ini info tanggapan dari pak Amiq Ahyat, saya copy paste : Muiz, itu memang tulisan saya ada satu hal yang ingin saya luruskan Kuntjoroningrat memang tidak menulis karya sastra, yang ada di kepala saya adalah Novel "Sang Priyayi" karya Umar Kayam. Ini harus saya akui sebagai ketidak-tepatan ingatan saya. Selebihnya tidak ada yang perlu diklarifikasi karena berbeda cara melihatnya bagaimana kita melihat sebuah teks. Membandingkan BM dengan karya penulis lainnya juga bukan berarti tidak ada masalah. Semuanya adalah karya prosa, sedangkan BM adalah karya puisi. Tapi membandingkan BM dengan karya Rendra juga bukan tidak bermasalah. Sebab membandingkan keduanya ibarat membandingkan karya dewa dengan karya manusia. Tapi itulah resiko sebuah perbandingan, keduanya tidak akan pernah bisa disetarakann (apple to apple). Sedangkan motivasi politik yang mungkin melatarbelakangi BM, saya kira betul. sebab itu adalah konteks kesejarahan dari genre puisi tematik seperti BM

Wassalam
Abdul Mu'iz

--- Pada Sen, 30/4/12, Mu'iz, Abdul <muizof@yahoo.com> menulis:

Dari: Mu'iz, Abdul <muizof@yahoo.com>
Judul: Re: [wanita-muslimah] Sastra dan Perubahan Sosial by Amiq Ahyad
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Tanggal: Senin, 30 April, 2012, 12:46 PM

 

Pak Akmal N Basral,

Siapakah pak Amiq Ahyad ? jangan-jangan beliau itu dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya back ground beliau memang dari pengetahuan agama, SMA di Ponpes Gontor, kemudian melanjutkan di IAIN Sunan Ampel Surabaya jurusan Islamic History and Civilization kemudian Studi S3 di Universitas Leiden Angkatan1998 : Islamic Studies Majoring Modern History of Idonesian Islam.

Ketika mengulas Bima Membara memang menyebut nama Pramudya Ananta Toer, Koentjaraningrat, Kutowijoyo, Ahmad Thohari, memang tidak diperinci mana yang sastra, antropolog dan sejarawan. Rasanya kok berlebihan kalau disebut membuat perbandingan yang not apple to apple, karena di paragraf tsb, pak Amiq Ahyad bukankah juga mengakui, "tentu saja karya sastra  berbeda dengan karya sejarah yang secara detil menggambarkan proses terjadinya sebuah peristiwa" ?.

Wassalam
Abdul Mu'iz

--- Pada Sen, 30/4/12, Akmal N. Basral <anb99@yahoo.com> menulis:

Dari: Akmal N. Basral <anb99@yahoo.com>
Judul: Re: [wanita-muslimah] Sastra dan Perubahan Sosial by Amiq Ahyad
Kepada: "wanita-muslimah@yahoogroups.com" <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Tanggal: Senin, 30 April, 2012, 10:02 AM

 


Judul makalah yang menarik, dari sebuah tema menarik dan aktual. Namun saya duga Sdr. Amiq Ahyad tak punya cukup waktu untuk mendalami materi dan bahan-bahan referensi sehingga judul yang diinginkan tak tersaji dengan baik dan mendalam lewat paparannya.

Bahkan pada paragraf terakhir "Buku antologi puisi BM bukanlah karya tulis pertama yang memotret perubahan sosial untuk menjadi sebuah karya sastra. Karya Pramoedya Ananta Toer, Koentjaraningrat, Kutowijoyo, Ahmad Thohari, umpamanya ... " Sdr. Amiq Ahyad melakukan begitu banyak kekeliruan:

1. Perbandingan antolologi puisi BM dengan nama-nama yang disebut, bukanlah perbandingan apple to apple, karena hampir semua nama yang disebut adalah prosais/novelis.

2. Saya tidak pernah tahu Koentjaraningrat pernah membuat karya sastra yang memotret perubahan sosial.

3. Pram, Kunto, dan Tohari membuat karya sastra yang memotret perubahan sosial memang betul. Tetapi karya-karya mereka dibuat bukan tendensi sebagai "political commentary" seperti antologi puisi BM. Dilihat dari kadar estetika licencia poetica, contoh-contoh puisi yang dikutip Sdr. Amiq Ahyad dalam makalahnya ini, adalah sajak-sajak konkret yang tak terasa adanya pengendapan emosi dan pengolahan kembali yang lebih estetik. Bandingkan dengan sajak-sajak awal WS Rendra yang juga tak kalah "pamflet", tapi masih menyisakan rasa sastra yang menarik dikunyah, dan karenanya bertahan terus sampai sekarang.

4. Karena itu upaya menyandingkan antologi puisi BM dengan karya-karya sastra Pram, Kunto, dan Tohari adalah sebuah ambisi Sdr. Amiq Ahyad yang "jauh panggang dari api".  Sebuah perbandingan yang terlalu ambisius.

5. All in all, selamat atas penerbitan antologi puisi BM dan diskusi yang berlangsung di Oegstgeest ini. 

Terima kasih untuk Sdr. Mira La Luta yang sudah memposting paper ini.
Salam untuk angku Heri Latief yang sudah lama tak berjumpa.

Akmal Nasery Basral

On Apr 29, 2012, at 7:54 PM, MiRa <la_luta@yahoo.com> wrote:

 

 

Sastra dan Perubahan Sosial

Sun, 04/29/2012 - 10:54 | 


Sastra dan Perubahan Sosial[1]


by Amiq Ahyad on Saturday, 28 April 2012 at 21:41

Sastra dan Perubahan Sosial[1]

Amiq Ahyad[2]

Pendahuluan

Beberapa waktu yang lalu saya dihubungi Heri Latief untuk mengadakan bedah buku Antologi Puisi "Bima Membara" di rumah pak Mintardjo, sekaligus meminta saya untuk menjadi "dokter bedah". Dua hal yang harus saya akui dengan jujur asing bagi saya. Bima, sebagai kawasan geografis, adalah asing bagi saya. Puisi, sastra sebagai disiplin ilmu pengetahuan juga harus saya akui juga asing bagi saya yang secara akademis dididik dalam disiplin sejarah. Oleh sebab itu pada kesempatan ini saya akan membahas dari sisi disiplin sejarah yang saya akrabi sejak lama. Sedapat mungkin saya akan membatasi untuk membedahnya dari sisi sastra yang tidak saya akrabi. Meskipun demikian Bima bagi saya bukan kawasan yang tidak pernah saya ketahui

Perkenalan saya dengan Bima sebagai kawasan geografis ketika saya mengikuti Simposium Masyarakat Naskah Nusantara, Manassa pada tahun 2007 di Bima. Kesan saya tidak jauh berbeda ketika saya menelusuri Pulau Madura. Panas berdebu, tetapi tentu saja kesan itu hanya luarnya, sebab tanah Bima pada khususnya dan Nusa Tenggara Barat[3] pada umumnya menyimpan kekayaan di perut buminya. Isi perut bumi inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusuhan sosial, tepatnya di Pantai Sape Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, NTB.

Antologi Puisi "Bima Membara"

"Bima Membara" adalah buku kecil dan tipis. Buku kecil ini merupakan kumpulan 32 puisi yang ditulis 32 penulis yang berbeda. Saya kira tidak semua penulis pernah berinteraksi secara fisik dengan intim, seperti halnya saya dengan bumi Bima. Tetapi informasi tentang Bima di era teknologi komunikasi seperti sekarang ini, tidak hanya di dominasi oleh mereka yang tinggal di Bima. Mereka yang secara geografis tidak pernah berinteraksi dengan Bima mampu dengan mudah mengakses informasi tentang Bima sekehendak mereka. Internet memungkinkan untuk itu semua.

Dari ketiga puluh dua kontributor, empat orang di antaranya bermukim di Belanda. Mereka adalah Ratih Miryanti, yang akrab dengan nama pena Mira, Asahan, dan Heri Latief. Mira menulis "Malam Kudus Berdarah (Haibun) (halaman 54-55), Asahan menulis "Emas dan Tanah Air" (halaman 61), Zeta Rosa menulis "Negeriku di Serambi Bima" (halaman 24-25), sedangkan Heri Latief menulis "Emas Berdarah Rakyat" (halaman 63). Sedangkan kedua puluh delapan kontributor lainnya tinggal di Indonesia. Dari penulis yang berasal dari Indonesia, ternyata tidak ada satupun yang tinggal di Nusa Tenggara Barat.

Satu satunya "orang Bima" dalam antologi ini adalah Arif Hidayat, yang memberi kata pengantar. Arif Hidayat adalah pemilik akun facebook arif hidayat, pemilik kantor berita online www.sumbawanews.com. Dia harus saya beri tanda kutip pada kata orang Bima, sebab meskipun lahir di bima dan memiliki interaksi dengan Sumbawa yang intensif dengan membuka kantor berita khusus tentang Sumbawa, ia menghabiskan sebagian besar umurnya di Bandung, dan akhirnya menetap di Bekasi.  

Atau dengan ungkapan lain bahwa antologi ini merupakan ungkapan solidaritas orang orang yang peduli dengan Bima. Bima bagi mereka merupakan bagian dari kesadaran kemanusiaan mereka yang terusik oleh kekuasaan dan keserakahan pemilik kapital. Kesadan kolektif para kontributor pada antologi ini dibentuk oleh kemudahan akses informasi terhadap kekerasan yang terjadi di Pantai Sepa, Kecamatan Lambu, Bima. Jarak geografis bukan menjadi persoalan laagi diera teknologi informasi dan komuniksi. Pada detik yang sama, mereka yang tinggal di Belanda seperti tiga orang yang saya sebutkan diatas bisa memiliki informasi yang sama dengan mereka yang berada di Indonesia dengan fasilitas pesan singkat, Short Message Service (SMS), Blackberry Message (BBM), miling list atau dengan berselancar di dunia maya melalui yahoo atau google. Bahkan tidak jarang mereka yang memiliki akses ke dunia teknologi informasi memiliki informasi yang lebih lengkap ketimbang mereka yang secara geografis tidak berjarak. Difinisi "kesadaran" tidak lagi dipengaruhi oleh faktor geografis dimana seseorang itu tinggal, tetapi oleh relasi antara seseorang dengan ruang eksternal (external space) lewat situs situs elektronik yang dalat diakses secara mudah saat  ini[4]

Pada bagian ini saya akan mencoba melihat bagaimana tiga orang kontributor yang saya kenal secara pribadi, dan bermukim di luar negeri dalam menuliskan bait bait puisinya. Mereka adalah Mira, Asahan dan Heri Latief. Akan lihat apakah jarak geografis memiliki pengaruh pada detail peristiwa, simbol yang dipergunakan dalam mengekspresikan puisi yang mereka tulis.

Pertama kesempatan saya akan menjelaskan bagaimana penyair Indonesia menggambarkan bagaimana peristiwa Bima tersebut berlangsung.

Mira menulis[5]

Eksploitasi
Area tambang mas
Lahan tercemar

Tragedi Bima
Air limbah kubangan
Berlumur darah

Asahan menulis[6]

Di negeri ini emas lebih penting dari air
Karena emas menjadi uang
Air cuma melahirkan kehidupan
Di negeri ini tembakan peluru
Lebih penting dari suara protes
Karena peluru mematikan manusia
Protes suara yang tidak sedap

Sedangkan Heri Latief menulis[7]

Demi tambang emas rakyat bersimbah darah
Terkutuklah rezim pembantai rakyat

Ketiga penyair Indonesia yang tinggal di Belanda memiliki kesadaran geografis yang sama, bahwa peristiwa di Kecamatan Lambu adalah konflik kepentingan pemanfaatan lahan. Antara eksplorasi tambang emas di satu sisi, dan kepentingan masyarakat di sisi yang lain. P.T. Sumber Mineral Nusantara (PTSMN) yang akan melakukan eksplorasi tambang emas di satu sisi, dan masyarakat Lambu yang tergantung pada Bendungan Diwu Moro untuk persediaan air bagi lahan pertanian mereka. Eksplorasi yang hendak dilakukan PTSMN, di mata penduduk akan mengabatkan kebutuhan air bagi lahan pertanian mereka akan terancam. Konflik kedua belah pihak kemudian melibatkan aparat keamanan yang menggunakan kekuatan "peluru" untuk meredam protes masyarakat Bima. Akhirnya terjadi bentrok antara aparat keamanan dengan penduduk Kecamatan Lambu pada tanggal 10 Pebruari 2012.

Kekerasan aparat digambarkan dengan ungkapan berbeda. Mira menulisnya dengan "Lahan tercemar.....berlumpur darah", Asahan menulis dengan sebuah perbandingan  "Di negeri ini tembakan peluru ....Lebih penting dari suara protes" sedangkan Heri Latief menulis dengan " Demi tambang emas rakyat bersimbah darah". Tetapi ketiga penulis memiliki kesadaran yang sama, bahwa pada peristiwa di pantai Sepa, Kecamatan Lambu, Bima, terdapat kekerasan aparat terhadap masyarakat.

Bagi ketiga penulis konflik yang disebabkan oleh konflik pengelolaan lahan adalah menjadi penyebabnya. Nampak dengan jelas bahwa keberpihakan mereka kepada para masyarakat Bima. Di mata mereka bertiga, pemicunya adalah investor tambang emas yang dikhawatirkan masyarakat akan mengganggu supplai air bagi lahan pertanian. Ketiganya jelas berpihak pada para petani yang memang tidak memiliki kekuatan dan negara dalam hal ini abai melindungi rakyatnya yang justru merupakan kewajiban konstitusionalnya.

Bagi masyarakat Bima yang memiliki kawasan geografis tandus, kebutuhan akan air menjadi faktor yang amaat penting. Bagi mereka, air adalah kehidupan yang melestarikan peradabannya. Bisa jadi bagi masyarakan Bima ni

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment