Arcon, terimakasih atas sharingnya. Saya inget pilem Asrul Sani dan Sang Pencerah, dimana kepergian haji menjadikan inspirasi buat tokoh pilem, kurang lebihnya seperti yang dirimu alami, cuman beda jaman dan beda kondisi.
Di sini kita ketemu Arcon, aku belum pernah haji, dan bercermin dari visi mu, yang pernah pergi umroh.
Salam
Mia
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message-----
From: Ari <masarcon@gmail.com>
Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Date: Sun, 24 Jul 2011 08:34:02
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Makna pergi haji - buat saya
hubungannya gimana yah antara karya ilmiah vs harokah minded ?
hmm. menjelaskannya di cerita sebelumnya rada susah, karena personal
subyektif dan kompleks.
tapi kira kira seperti ini.
- ketika di kampus, pengen menjalani dua hal yg gak pernah saya sentuh di
jaman sebelumnya (smp dan sma), yaitu aktif di organisasi dan karya tulis
ilmiah.
- awal kuliah nyobain berbagai kegiatan cari yg cocok, senat, himpunan
jurusan, pencinta alam, aiesec, yudo, pandawa (tenaga dalam), seni budaya,
hmi, masjid kampus, karya tulis, dll, akhirnya menclok paling lengket di
masjid kampus dan karya tulis.
- waktu itu terkesima dengan konsep ismail raji al faruqi, jadi shaping
tempat ngumpulnya anak karya tulis dengan nuasa kental harokah sampai
blusukan berbagai konsep anak harokah. sampai di level yg anak harokah ada
yg protes karena kesan luarnya terlalu tendensius --> dari situ jadi
belajar, owh, anak harokah aja gak pengen ketemu nuasa harokah di semua
tempat dimana dia beraktivitas. why ?
- menjelang reformasi melihat ada mobilisasi anak harokah untuk
kepentingan politik islam, baik di partai maupun di kampus. mobilisasi
adalah suatu hal yang sangat politis, seringkali melawan jati diri dan hati
nurani. jiwa saya makin terusik di sini. apalagi ketika mulai melihat
mengerasnya pertarungan antar harokah untuk berebut pengaruh
- sekitar reformasi, dapat bimbingan adik adik yg nelitinya tentang kyai
dan pesantren. background mereka nu. jadilah banyak menyerap informasi
tentang tradisi nu, kyai, pesantren. plus nginap di tempat asal mereka.
jadi dapat pencerahan tentang islam yang berbeda dari yg ala muhamadiyah,
dan harokah, langsung dari tangan pertama.
- bibit ketidakpercayaan pada harokah mulai berkembang sekitar 98 sih
- lomba karya tulis tahun 2000, penyelenggaranya masyarakat ekonomi
syariah dan fossei feui, yg notabene pks minded. peserta yg jadi finalis
kebetulan dari berbagai kalangan islam. jadi seperti melihat komunitas
islam daam versi kecil.
- waktu di saudi melihat fenomena orang melayu mukim yg udah tiga
generasi di saudi tetap dianggap orang asing di sana, tidak ada istilah
naturalisasi, orang afghan yang jadi peminta, bahkan di makkah madinah ada
pelacur, orang orang afrika yg jualan di pinggir masjid dan kena oprak
pengurus dengan pentungan kayu, blusukan ke pasar seng dan pasar kurma,
ngobrol sama supir dan orang sana tentang kehidupan mereka, dan ketika
pulang diskusi panjang lebar semalam suntuk dengan HNW di pesawat, menjawab
pertanyaan saya yang terpendam. perjalanan di saudi jadi seperti melihat
dua dunia sekaligus, yang berdiri antara mitos dan realita.
- pulang dari sana, jiwa saya seperti disiapkan, untuk saatnya kritis
terhadap harokah, terhadap premis konsep konsepnya, desakralisasi hal hal
yang dulunya dianggap mapan, yang ternyata juga nggak mapan mapan banget.
- 9/11 dan penolakan balik dunia islam dan ketidakmampuan masyarakat
muslim untuk mengakui adanya unsur kekerasan dalam diri islam dan ajarannya
sendiri, seperti menguatkan dan mengulang visi tersebut yg saya lihat selama
perjalanan tersebut.
salam,
Ari
<http://papabonbon.wordpress.com>
2011/7/23 <aldiy@yahoo.com>
> Arcon, ada yg aku kurang ngerti, apa hubungannya tulis karya ilmiah dan
> harokah, pada waktu itu?
>
> Aku percaya itu panggilan (kalau kamu sendiri memaknakan gitu). Afala
> tatafakkarun, itu termasuk berpikir dengan logika dan dengan intuisi. Yg
> satu prosesnya lebih lambat ketimbang yang lain. Yg satu datangnya langsung
> atau logika kita terlibat langsung, yg lain bisa tercecer dimana2 (tanda).
> Keduanya perlu pengujian, yg satu bisa langsung keliatan "bener" atau
> berdampak langsung, yg lain proses "benernya" lama. Bedanya banyak tapi
> ibunya tetep satu: nilai2 abadi yang tak lekang jaman.
> Saya bilang proses intuitif itu tandanya tercecer dimana2. Bisa bayangkan
> bagaimana internet global ini berpotensi mempengaruhi cara kita berpikir
> secara intuitif?
> Salam
> Mia
> Sent from my BlackBerryŽ smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
> Teruuusss...!
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment