Untuk mendapat gambaran rakyat kaya , click link di bawah ini :
1) http://www.youtube.com/watch?v=pa7xXaL5oUs
2) http://www.youtube.com/watch?v=aLjS_0hCkUU&NR=1
http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=33226
MINGGU, 02 Juli 2011 | 390 Hits
Orang Miskin Belum Siap Subsidi BBM Dicabut
Jakarta, AE.- Pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) diyakini belum siap diterima oleh orang-orang miskin. Malah, pencabutan subdisi akan menjadi beban bagi rakyat yang sekarang ini sudah terhimpit dengan mahalnya harga kebutuhan sehari-hari.
"Kalau bahasa pesona pemerintah, kekurangan infrastruktur itu bisa diatasi dengan pengurangan subsidi BBM. Tapi, kenyataannya di lapangan tidak ada kelihatannya," kata Anggota Komite II Dewan Perwakilan Daerah, Instsiawati Ayus dalam sebuah diskusi, Jumat (1/7), di Jakarta. Senator asal Riau itu menambahkan, bahwa jika pemerintah mengurangi subsidi BBM, maka tidak semua lapisan masyarakat bisa menjangkau harga tersebut. "Harusnya pengurangan subsidi harus bertahap," katanya.
Ia mengingatkan, jika pengurangan subsidi dilakukan, harus jelas kemana alokasi subsidinya. "Kalau subsidinya dialokasikan untuk perorangan atau orang miskin, kita belum ada database-nya tentang siapa orang miskin. Kriterianya apa orang miskin itu," katanya.
Diakui Instsiawati, antara pengurangan subsidi dan pembangunan infrastruktur masih menjadi dilema. Di satu sisi, ia mengatakan, belum semua masyarakat siap apabila subsidi BBM ditarik pemerintah. Akan tetapi, sisi lainnya, juga harus dipahami kekurangan pembangunan infrastruktur. "Tapi, jika subsidi dikurangi, angka subsidi tidak signifikan memengaruhi peningkatan pembangunan infrastruktur," jelasnya. Karenanya, ia meminta kepada pemerintah harus ada transparansi dalam penetapan biaya pokok produksi BBM hingga pendistribusiannya sampai ke masyarakat. Orang Miskin Sementara itu, pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat drastis. Namun jumlah penduduk miskin di Indonesia masih cukup besar.
Dari indeks kemiskinan Indonesia yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat jumlah penduduk miskin per Maret 2011 sebanyak 30,02 juta jiwa. Penurunan yang terjadi cukup landai dan tidak signifikan. BPS menghitung terjadi penurunan sekitar 1 juta orang miskin di Indonesia sepanjang 1 tahun. Terhitung pada Maret 2010 jumlah orang miskin di Indonesia 31,02 juta orang atau 13,33 persen. "Pada Maret 2011 turun menjadi 30,02 juta orang atau 12,49 persen. Artinya dari 100 orang, ada sekitar 12,5 persen penduduk miskin. Jumlah penduduk miskin turun 1 juta orang, dibanding Maret 2009 ke Maret 2010 turun 1,51 juta orang," jelas Kepala BPS, Rusman Heriawan pada wartawan di Jakarta, Jumat (1/7). Landainya penurunan angka kemiskinan meski pertumbuhan ekonomi tinggi, dikatakan Rusman karena kebutuhan bahan makanan di kalangan orang miskin naik seiring dengan kenaikan garis kemiskinan. "Inilah persoalan yang kita hadapi, garis kemiskinan kita naik hingga 10,4 persen. Di situ kelihatan beban di orang miskin semakin berat. Meski berbagai usaha mengentaskan kemiskinan dilakukan pemerintah, namun harga di pasaran cukup menentukan kemampuan orang miskin," kata Rusman.
Dilihat dari penyebaran penurunan kemiskinan, imbuh dia, jumlah orang miskin di pedesaan lebih besar daripada di perkotaan. Maret 2011 penurunan jumlah orang miskin di desa sebanyak 953 ribu orang, sedangkan di perkotaan orang miskin tercatat 51 ribu orang. Namun meski demikian, jumlah orang miskin di desa masih tercatat paling besar yakni 18,97 juta orang dibandingkan orang miskin di kota sebanyak 11,05 juta orang. "Jadi meski penurunan angka kemiskinan banyak di desa namun jumlah orang miskin di desa juga sangat besar," kata Rusman. Penyebaran penduduk miskin menurut pulau tahun 2011, tercatat tingkat kemiskinan masih paling besar berada di pulau Maluku dan Papua sebesar 25,95 persen dari jumlah penduduk miskin se Indonesia (30,02 juta jiwa). Selanjutnya Bali dan Nusa Tenggara sebesar 15,63 persen, Sumatera 12,56 persen, Jawa 12,14 persen, Sulawesi 12,20 persen dan Kalimantan sebesar 6,92 persen. "Selama maret 2010-maret 2011 garis kemiskinan naik 10,39 persen yakni dari Rp211.726 menjadi Rp233.740 per kapita per bulan pada Maret 2011," kata Rusman.
Untuk mengukur angka kemiskinan, kata Rusman, BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar. Jadi kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan seseorang atau keluarga dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan. Garis kemiskinan makanan adalah 2.100 kalori per kapita per hari. Garis kemiskinan non makanan meliputi perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan pokok non makanan lainnya. Metode ini digunakan sejak tahun 1998 supaya hasil perhitungan konsisten dan terbanding dari waktu ke waktu. "Dari jumlah orang miskin per Maret 2011, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan sangat besar yakni mencapai 73,52 persen dibandingkan peranan komiditi bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan," kata Rusman.
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment