Terawangannya Pak Wikan boleh juga soal konstruk sosial poliandri. Yah, emang begitu sih, ada 3 bapak lebih menjamin kesejahteraan anak, kalau yg satu pergi, mati, atau perang. Dan itu memang di desa2 yg poliandri di Nepal dan Cina kuno, memang begitu konstruk sosialnya. Lagian, kalo desa bentuknya komunal dan tertutup,nggak terlalu peduli siapa bapaknya, anak siapa saja anaknya suku.
Kalo yg dijabarin mba Lina tentang rahim yg akan membesarkan anak, ini mendorong "yg penting punya anak" bukan bapaknya siapa hehe..Dengan kata lain, dorongan utk perempuan adalah utk beranak, sehingga laki2nya sedikit ndak masalah. Dorongan laki2 menyebarkan benih, sehingga makin banyak perempuan makin ok. Tapi kan ini bukan yg namanya konstruk sosial, ini sosiobiologi.
Yg saya ngertiin implikasi dari pertanyaan pAk Wikan begini. Islam membatasi poligami pada laki2 dg 4 isteri sekaligus. Islam nggak mengharamkan "serial monogami". Nah, di sini perempuan bisa saja melakukan itu. Dan di Nusantara ini marak prakteknya.
Sangat mungkin, selain monogami, poligami, poliandri, dan serial monogami, semua itu adalah konstruk sosial yg sudah berjalan di masa lalu, artinya diterima sbg bagian dari nilai.
Lalu, pertanyaannya, nilai yg progresif gimana? Saya percaya monogami adalah nilai dari konstruk sosial yg progresif. Dan intensitasnya bisa dimengerti dari ayat Quran yang nyindirin kita, boleh saja sampe 4, tapi syaratnya berlaku adil, lha emangnya kamu bisa? Padahal satu itu lebih baik buatmu, kalo nyadar.
Salam
Mia
soal kejelasan nasab ini kan konstruk sosial yang dibikin di agama islam
kalau misalnya di suatu budaya yang membolehkan poliandri, mungkin
konstruk sosialnya beda lagi
bahwa nasab itu ada di ibu, semua bapak harus ikut tanggung jawab pada
si anak karena dianggap sudah "menyumbang"
tapi mungkin kaum laki2 kurang suka dengan konstruk sosial kayak gini,
karena secara tabiat kurang suka "berbagi" tetapi lebih suka
"bersaing", di sisi lain "kepemimpinan" laki-laki jadi terasa di
bawahnya perempuan
cuman terus terang saya masih nggak ngerti soal kebolehan poligami
buat laki2, apa iya agama cuman buat "melegalkan" nafsu laki-laki
saja? toh pada kenyataannya saat ini rasio laki-laki lebih banyak
daripada perempuan dan apa jawaban agama terhadap kondisi kayak gini?
salam,
--
Wikan
2012/3/8 Mu'iz, Abdul <muizof@yahoo.com>
>
>
>
> Mbak Lina,
>
> boleh juga tuh perumpamaannya, namun ada yang kurang pas perempuan memang
> punya rahim alias uterus oleh mbak Lina diumpamakan gelas, tetapi soal isi
> gelas yang mbak lina umpamakan sperma, ada yang dilupakan mbak Lina, ahwa di
> rahim itu tidak cuma menampung seperma laki-laki tetapi menjadi tempat
> pertemuan sel telur (ovum) perempuan dan sel sperma (spermatozoa) pria.
> apabila sukses bertemu dan sama sama subur maka akan menjadi janin - bayi
> dan akan lahir menjadi manusia. ini tentu tidak sama dengan teh, susu atau
> kopi dicampur baur tidak akan membingungkan.
>
> Nah bayi beda lagi, ketika terlahir karena benihnya banyak akibat
> polyandri, si ibu yang melahirkan jelas tidak tahu siapa bapak sebenarnya
> dari si jabang bayi, nah test DNA sanggup menentukan benih siapa yang
> menjadi ayah si jabang bayi.
>
> Wassalam
> Abdul Mu'iz
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment