Kalo misalnya terjadi di "negeri antah berantah", jumlah laki2 jauh melebihi perempuan, kalau aku jadi ulama akan kugagas fatwa nggak boleh poligami. Karena akibat dari poligami adalah banyak laki2 yang nggak akan kebagian, bisa jadi huru-hara.
Apakah ini universal? Iya lah, nilai universalnya terletak pada manfaat keseimbangan/keadilan, bukan bentuk fatwanya.
Sebenernya di Batavia di antara abad 17 - 20 terjadi kekurangan/krisis perempuan, sedemikian rupa jenderal VoC memohon2 ke Pemerintahnya agar mengirimkan perempuan Belanda ke Batavia. Keadaan ini menyebabkan kedudukan Nyai (isteri opsir Belanda dan Cina) menjadi sangat terhormat dan berkuasa penuh pada rumah tangganya. Sebutan Nyai secara tradisional di Jawa diberikan pada perempuan yg berjasa/terhormat.
Keadaan ini berubah menjelang abad 20, dimana keran transmigrasi ke Batavia terbuka lebar, sejak itu jumlah penduduk Jakarta meledak. Tambahan lagi berkembangnya Muhammadiyah yg membawa paham Wahhabi, peran perempuan makin termarjinalkan.
Salam
Mia
soal kejelasan nasab ini kan konstruk sosial yang dibikin di agama islam
kalau misalnya di suatu budaya yang membolehkan poliandri, mungkin
konstruk sosialnya beda lagi
bahwa nasab itu ada di ibu, semua bapak harus ikut tanggung jawab pada
si anak karena dianggap sudah "menyumbang"
tapi mungkin kaum laki2 kurang suka dengan konstruk sosial kayak gini,
karena secara tabiat kurang suka "berbagi" tetapi lebih suka
"bersaing", di sisi lain "kepemimpinan" laki-laki jadi terasa di
bawahnya perempuan
cuman terus terang saya masih nggak ngerti soal kebolehan poligami
buat laki2, apa iya agama cuman buat "melegalkan" nafsu laki-laki
saja? toh pada kenyataannya saat ini rasio laki-laki lebih banyak
daripada perempuan dan apa jawaban agama terhadap kondisi kayak gini?
salam,
--
Wikan
2012/3/8 Mu'iz, Abdul <muizof@yahoo.com>
>
>
>
> Mbak Lina,
>
> boleh juga tuh perumpamaannya, namun ada yang kurang pas perempuan memang
> punya rahim alias uterus oleh mbak Lina diumpamakan gelas, tetapi soal isi
> gelas yang mbak lina umpamakan sperma, ada yang dilupakan mbak Lina, ahwa di
> rahim itu tidak cuma menampung seperma laki-laki tetapi menjadi tempat
> pertemuan sel telur (ovum) perempuan dan sel sperma (spermatozoa) pria.
> apabila sukses bertemu dan sama sama subur maka akan menjadi janin - bayi
> dan akan lahir menjadi manusia. ini tentu tidak sama dengan teh, susu atau
> kopi dicampur baur tidak akan membingungkan.
>
> Nah bayi beda lagi, ketika terlahir karena benihnya banyak akibat
> polyandri, si ibu yang melahirkan jelas tidak tahu siapa bapak sebenarnya
> dari si jabang bayi, nah test DNA sanggup menentukan benih siapa yang
> menjadi ayah si jabang bayi.
>
> Wassalam
> Abdul Mu'iz
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment