LIPUTAN HARIAN KALTENG POS
Tentang Bedah Buku Di Mana Bumi Dipijak Di Sana Langit Dibangun, Transformasi Sosial Pembebasan Melalui Re-Humanisasi Terbitan Bayu Media untuk Lembaga Kebudayaaan Dayak Kalimantan Tengah (LKD-KT)
KALTENG POS BANGUN TRADISI AKADEMIK
Palangka Raya -- Kegiatan bedah buku Di Mana Bumi Dipijak Di Sana Langit Dibungun, Transformasi Sosial Pembebasan Melalui Re-Humanisasi mendapat sambutan hangat dari banyak kalangan. Tak kurang dari 50 orang turut hadir dalam Forum Diskusi Kalteng Pos (FDKP) yang digelar di Ruang TV Gedung Biru PT Kalteng Pos Press, Rabu (22/2) kemarin.
Para peserta yang hadir tak hanya dari kalangan budayawan atau akademisi, tetapi juga kalangan PNS dan dari aktivis mahasiswa serta para pemerhati sosial.
Respons positif juga disampaikan oleh Dr. Muhammad, ketika membuka penyampaian materinya sebagai salah seorang pemateri.
"Bedah buku serta forum diskusi seperti ini merupakan tradisi akademik yang sangat bagus sekali", kata Muhammad.
Sementara itu, sejak diskusi dibuka, para peserta nampak begitu bersemangat. Seperti salah satu pengarang buku, Kusni Sulang. Termasuk tokoh Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Daerah Kalteng (LMMDD-KT), Prof. H.KMA Udop. Begitu pula dengan Dr. Muhammad dan Uskup Palangka Raya, Mgr. Dr. A.M.Sutrisnaatmaka, MSF yang saat itu menjadi pembedah.
Kedua pembedah diberikan waktu kurang lebih dua jam untuk membedaqh buku karya Kusni Sulaqng dkk, yang berjudul Di Mana Bumi Dipijak Di Sana Langit Dibangun. Tranformasi Sosial Pembebasan Melalui Re-Humanisasi.
Pembahasan ini begitu menarik. Sebab, menurut sebagian besar peserta, buku tentang budaya cukup jarang dibahas. Apalagi dibedah.
Acara yang dimulai sejak pukul 13.00 hingga pukul l 16.30 ini tampak tidak terasa. Mungkin karena membahas tentang budaya., khususnya tentang budaya Dayak seperti tak ada habisnya.
Semakin didalami maka akan semakin banyak pertanyaan yang muncul. Terlebih lagi kalau dikaitkan dengan jargon di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Termasuk kalau dikaitkan dengan konflik antara warga Dayak Kalteng dan Front Pembela Islam (FPI) beberapa waktu lalu.
Saat memasuki bagian diskusi atau Tanya-Jawab Bedah buku ini suasana menjadi sdemakin semarak. Ada banyak opini yang berkembang ketika dikaitkan dengan budaya.Dari masalah lahan, budaya korupsi hingga kemusnahan budaya Dayak yang sedang mengancam.
Bagi sebagian kalangan, diskusi dalam bedah buku ini seperti tidak tuntas. Sebab masih menyisakan banyak pertanyaan. Namun, paling tidak para pemateri sepakat bahwa diskusi se;acam ini sangat diperlukan. Paling tidak untuk membuka wawasan kita.
Dan lebih bagus lagi kalau lewat tradisi akademik seperti ini akan muncul berbagai kesimpulan. Tentunya yang dapat menjadi solusi. "Oleh karena itu diharapkan kegiatan atau tradisi akade;ik seperti ini dapat diteruskan. Tentunya dengan tema-tema yang beragam", kata Muhammad (fad/tur).
Harian Kalteng Pos, Palangka Raya, Kamis, 23 Februari 2012.
Bedah Buku "Di Mana Bumi Dipijak Di Sana Langit Dibangun" Karya Kusni Sulang dan Kawan-kawan (1)
PENULIS MENGAKUI AKTIVITAS REVITALISASI
KE-DAYAK-AN
Sebuah kalimat , judul buku yang ditulis Kusni Sulang dan kawan-kawan tampaknya memposisikan para pembaca sebagai para penulis. Judul buku yang dibedah oleh Dr. Muhammad, STAIN Palangka Raya di Gedung Biru Kalteng Pos, Rabu (22/2) lalu, membuka dinamika kebudayaan dengan praxis atau perilaku manusia sebagai mahluk budaya.
Budaya apa pun namanya, mau Jawa, Bugis, Sumatera, dan sebagainya, sesungguhnya tidak berasal dari sebuah substansi yang sudah hadir sejak dulu melainkan direkacipta oleh orang yang termaktub dalam budaya itu untuk mewakili tujuan dan maksud tertentu, termasuk tujuan konsolidasi identitas lambat-laun menjadi sebuah budaya yang mapan, yang membedakan satu dari yang lain.
Dari sini muncul kecenderungan untuk menempatkan budaya sebagai salah satu identitas. Mengapa dikatakan identitas, oleh karena budaya sebuah istilah general, sedangkan isi dan bentuk budaya itu berbeda , seperti artefak , nyanyian, tarian, bahasa dan sebagainya.
Pemakaian kata yang menunjuk pada budaya yang berbeda, misalnya budaya Jawa, disamping menunjukkan nama, ia juga merupakan sebuah bentuk representasi, yang berperan membentuk apa yang sebenarnya direpresentasikan. Sebuah ide tentang budaya – apa pun namanya –telah membentuk praxis kehid upan budaya di suatu ruang, dan bukan sebaliknya.
Sebagai sebuah proses yang endeless (tak berujung, Red) , seiring dengan adanya proses kreatif, lambat-laun menjadi potensi yang menggoncang identitas budaya yang dianggap mapan. Dari mana ia bermula? Lembaga politik, agama. Juga kapitalisme selalu mencoba menangkap apa yang di luar lembaga-lembaga itu menjadi taxonomi sehingga terjadi identifikasi dan klasifikasi.
Dalam identifikasi dan kemapanan itu ternyata tidak ada hi;punan yang kokoh di tiap keadaannya yang tampak stabil, di sebuah lingkungan budaya dengan identitas yang terus-menerus dipertegas, selalu ada unsur yang tersingkir. Mereka inilah yang dikategorikan kelompok minoritas, bukan karena jumlahnya sedikit, tetapi juga karena posisinya yang tidak berada dalam jangkauan taxonomi kekuasaan yang menentukan semuanya.
Di sinilah bermula praktek oleh lembaga kekuasaan yang tidak saja menunjukkan ketidakadilan , namun juga cacat serius karena ketidakmampuannya untuk menjerat semua. Di sini pulalah peluang bagi aktualisaasi xdari yang lain, yang berbeda , dan pada saat yang sama, yang belum merupakan bagian dari kesatuan.
CULTURAL GENOCIDE
Dalam konteks budaya lokal, penulis buku ini ;eneropong adanya proses penghancuran Bangsa Dayak melalui culutral genocide (penghancuran budaya secara terencana, Red.), yaitu pengaburan dalam hegemoni yang tak terkontrol yang dilakukan oleh negara, corporate besar yang bersekutu dengan pemerintah. Kedua kekuatan ini melakukan proses reinkarnasi dalam tubuh orang Dayak dalam lembaga yang menyebut diri organisasi/lembaga Dayak. Konsep ideologi dan pembangunan ekonomi lahir dari rahum ideologi negara, state yang diterima oleh masyarakat Dayak.
Dalam ideologi ini, Dr. Muhammad memaparkan bahwa para penulis buku mengakui adanya aktivitas revitalisasi ke-Dayak-an, namun sebatas proyek yang hasilnya adalah ornamen-ornamen dan artefak artifisial. Sehingga semua gerakan kehidupan Dayak terjebak dalam politik transaksionbal dalam dunia kapitalisme global yang tak terbendung. Dewan Adat pun seolah sudah kehilangan jejak dari esensi yang asli. Konflik horisontal terjadi di antara sesama Dayak sendiri yang hanya melicinkan jalan bagi sang "ratu adil" yakni negara dan rasukan modal.
Apa yang harus dilakukan menuju perubahan? Penulis menawarkan pemberontakan tidak dalam arti fisik m melainkan penguatan basis-basis , perumusan isu-isu strategis , kekuatan Orang Dayak harus disuarakan, terutama perempuan, melakukan proses pembusukan ketidakadilan, membangun mind set yang benar tentang budaya Dayak, dan terus-menerus melakukan penulisan ulang sxejarah kde budayaan Dayak yang berangkat dari grass root (akar rumput, Red.) dan dari the voice of the voiceless (suara dari mereka yang tanpa suara, atau yang tak terdengar, Red).
PARADIGMA PEMBEBASAN
Penulis dengan kemampuan filosofis menawarkan beberapa paradigma dengan melakukan gerakan pembebasan masyarakat Dayak dari cultural genocide. Ia mengungkapkan dua paradigma, yaitu paradigma penelitian pembebasan dan paradigma konvensional. Kedua paradigma ini memiliki perbedaan. Paradigma pembebasan melihat penelitian sebagai bagian dari rakyat, mitra rakyat dalam produksi pengetahuan, berfungsi untuk saling ingat-mengingatkan tentang tantangan yang mereka hadapi, serta potensi mereka untuk merubah nasib mereka. Hasil akhir yang dituju adalah transformasi sosial melalui re-humanisasi (hal.26).
Meski pun paradigma penelitian pembebasan ini mempunyai varian, namun secara filosofis memiliki key words (kata-kata kunci, Red) yang sama, yaitu change or transformation (perubahan atau transformasi, Red.) seperti yang dimotori oleh Gramsci dengan traditional and intellectual organic, Foucault dengan konsep power/knowledge, Paulo Freire dengan konsep decodification-nya.
Sejumlah paradigma pembebasan yang dikemukakan penulis pada inbtinya menolak asumsi filosofis yang value free (bebas nilai, Red.), meneguhkan value laden (nilai yang terkandung, Red.).
Value free sebenarnya asumsi yang dianut paradigma konvensuonal, yaitu proses dialektika kelembagaan dalam produksi pengetahuan, menyedot pengetahuan rakyat tanpa mengembalikan pengetahuan dari rakyat. Hasil ikutan dari proses penelitian ini adalah promosi akademik peneliti kenaikan status sosialnya, fee (biaya, Red.) dari pemesan penelitian, serta kontrol dari Negara dan modal terhadap rakyat.
Memang bisa dipahami poila kerja paradigma penelitian konvensional yang tidak berujung pada liberalisasi (pembebasan, Red.). Hal ini bisa dipahami karena memang paradigma ini dominasi positrivisme yang mulai berkembang sejak abad ke-18.
Positivisme beranggapan bahwa klaim ilmiah hanya dapat dibuktikan kebenarannya lewat scientific method (metode ilmu alam, Red.). dan metode ini berdasarkan pada logika ilmu alam. Setiap pengetahuan yang tidak berdasarkan pada metode ilmu alam, tidak layak disebut sebagai pengetahuan. Jika pembebasan sebagai ranah kekuasaan ilmu-sosial-budaya, maka harus memakai baju metode ilmu alam.
Pandangan absolut semacam ini memiliki akar historis yang sudah panjang, ia bukan produk yang tampak dalam empat abad terakhir, melainkan sejak zaman Galileo dan rekan-rekan sezamannya bahkan dielaborasi oleh Francis Bacon di awal abad ke-17.
Inti dari metode ilmiah Bacon adalah penelitian ilmiah yang dimulai dari pengumpulan data yang dapat diamati secara terbuka, disertai dengan pengembangan hipotesis yang mengarah pada penjelasan data, selanjutnya pengujian hipotesis itu melalui eksperimen.Pembuktian secara empiris membantu memperkuat posisi hukum ilmiah, menjadi satu tambahan permanen dalam tubuh sains itu.
Pengetahuan teoritis yang dipakai untuk mengendalikan realita diturunkan dalam bedntuk hipotesis dan instrumentasi untuk melakukan cek empiris, Dengan bantuan feed back monitoring (umpqan balik pengawasan, Red.) suatu tes empiris akan mentransfer balik falsifikasi kepada hipotesa.
Ini merupakan sesuatu yang luar biasa dan ini merupakan realisasi jasa besar Baconian (penganut Bacon, Red.) dengan pernyataan scientia proptia potentiam, yang berarti pengetahuan teoritik mempuynyai kemampuan prediktif dan dapat diterapkan secara teknis untuk kepentingan praktis. Sayang sekali, absolutisme dalam memahami manusia sebagai obyek statis telah menempatkan manusia bagaikan informasi yang dapat dimanipulasi, dikontrol dan diarahkan perkembangannya.
Upaya pembebasan dominasi epistemologi dan metodologi positivisme muncul. Wilhelm Dilthey tampil untuk membedakan dua jenis metode ilmu pengetahuan yang tidak dapat saling direduksi , yaitu Geisteswissenschaften dan Naturwissenschaften, yang merujuk pada ilmu sosial budaya, yang kedua merujuk pada ilmu alam.
Dengan postulasi yang dikemukakan di atas dapat dipastikan, saya sependapat dengan sang guru-guru penulis buku bahwa paradigma konvensional tidak akan mampu membebaskan masyarakat dari perangkap jejaring realitas sosial yang melingkupinya.
Mengapa? Karena realtias sosial yang ingin dibebaskan, sebagaimana harapan para sang guru pdenulis buku ini, diciptakan berdasarkan kepentingan hegemoni dan didominasi kuasa pafradigma positivism.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa sebuah realitas sosial tak lahir dari kevakuman, melainkan membawa misi terselubung, apakah itu bernama ideologi atau kepentingan apa pun jua, atau kekuasaan itu sendiri. Meski pun paradigma konvensional mengklaim diri bebas dari nilai, namun dalam kenyataannya sulit diterima dan kepentingan itu selalu terselubung atas nama apa pun.
Menggoyangkan kemapanan yang sudaqh mapan sebagai akibat konstruksi realtias sosial yang didominasi oleh positivisme konvensional memerlukan kekuatan paradigmatik lain, yang dalam buku ini ditawarkan paradigma penelitian pembebasan. Di antara paradigma penelitian pembebasan itu dikemukakan dalam buku ini ala Gramsci (perang posisi dalam masyarakat
(Red.), Paulo Freire (pendidikan rakyat, Red.), dan Foucault (wacana budaya dan sosial, Red.).
(Red.), Paulo Freire (pendidikan rakyat, Red.), dan Foucault (wacana budaya dan sosial, Red.).
Pembedah dapat menerima beberapa nama yang disodorkan, namun dalam konteks, pengembangan horizon maka perlu diberikan elaborasi lebih detail. Elaborasi detail itu ditekankan pada satu paradigma penelitian pembebasan yang bernama post-modernisme, Ciri utama paradigma ini adalah emansipatoris, change and transformation.
POST-MODERNISME
Dr. Muhammad memaparkan bahwa post-modernisme (pasca-modernisasi,Red.) pada dasarnya merupakan sebuah pandangan dunia yang mencoba meletakkan dirinya di luar paradigma konvensional (modernisme) yang menilai modernitas dengan cara kontemplasi dan dekonstruksi.Paradigma ini muncul sebagai reaksi atas kegagalan modernisme dalam kehidupan manusia. Ia (modernitas) tidak saja melibatkan penyebaran hegemoni kapitalisme, industrialisme, urbanisasi, dan sebagainya, tetaqpi juga melahirkan binnary opposition, perbedaan kaya-miskin, diskriminasi dan sebagainya.
Kegagalan ini membawa konsekwensi ketidak-mampuan untuk melihat hakekat manusia secara utuh. Dalam pandangan research-nya, ia cenderung berfikir logosentrisme . Ciri paling mudah dikenali dari logosentrisme ini terletak pada aspek praxis dan keilmuan. Pada aspek praxis logosentrisme mengklaim bahwa praktek ekonomi dan bisnis atau praktek apa saja harus berlaku universal. Pada aspek keilmuan, logosentrisme melecehkan aspek nilai (etika) dan memberangus nilai-nilai lokalitas.
Atas dasar karakter yang dikemukakan tadi, maka secara eksplisit tepatlah istilah yang digunakan sang para guru penulus buku ini seperti cultural genocide yang menggambarkan kematian lokalitas yang diberangus oleh universalitas.Dengan adanya post-modernisme, semoga saja mampu melumerkan logosentrisme yang dihadirkan oleh budaya kosmopolitan (modernitas) sehingga Uluh Kalteng dapat survive melihat dan menyediakan tempat bagi survivalitas budaya lokal.
Budaya lokal (budaya Dayak) sebagai hasil kreasi masyarakat Dayak harus pula mewarnai mind set hingga merembet ke perilaku Dayakness atau masyarakat Kalteng sehingga menjadi dasar bagi hidup berbangsa, bernegeri dan bernegara (abe/*/yon).***
Harian Kalteng Pos, Senin, 27 Februari 2012.
Bedah Buku "Di Mana Bumi Dipijak Di Sana Langit Dibangun" Karya Kusni Sulang dan Kawan-kawan (2-Habis)
ASPEK MORALITAS MERUPAKAN KUNCI PENTING
Sayangnya, perspektif melihat budaya ghetto, budaya etnik penduduk yang majemuk yang tidak tersambung satu dengan lain, terlihat dua sifat binnary opposition, agresif-defensif yang berdampak pada tidak terakomodirnya secara secara maksimal budaya Dayak sebagai kekayaan untuk membangun Uluh Kalteng yang beridentitas Kalteng sehingga budaya ghetto (kampung Yahudi, Red.) berkembang subur menjadi cermin diri dalam budaya politik di daerah ini.
Apabila kita hendak mengembalikan budaya Dayak sebagai sentrum baqgi budaya ghetto mmaka langkah transformatif yang harus dilakukan adalah melakukan gerakan pembebasan melalui paradigm penelitian pembebasan dan melakukan tranformasi sosial pembebasan hingga sampai pada re-humanisasi secara kongkret dan sempurna.
Gerakan re-humanisasi ini dilakukanoleh mereka yang memiliki kepentingan untuk secara bersama-sama membangun dan mempertahankan local wisdom di tengah gencarnya universalisme budaya dan budaya ghetto. Yang tak kalah penting yang harus dimiliki oleh para transformer itu adalah unitas dan loyalitas bahasa, unitas tujuan dan adanya komitmen pembebasan , kemampuan melepaskan Uluh Kalteng dari budaya ghetto yanbg dianggaqp telah menjadi cermin politik di daerah ini.
Budaya ghetto harus pula mampu menciptakan realitas sosial yang membawa masyarakat Dayak cinta budaya Dayak. Kenapa para transformer yang bervisi pembebasan? Karena seperti dikatakan tadi bahwa realitas cinta budaya Dayak atau realitas benci budaya Dayak, misaqlnya itu dapat dikonstruksi oleh sang aktor dengan caranya, nilainya dan kepentingannya, dalamn mengubah wajah kehidupan masyarakat daqri yang cultural genocide menjadi cinta budaya Dayak.
Apabila realitas sosial yang diciptakan , misalnya, menjauhkan masyarakat dari budaya Dayak, maka ia akan melahirkan realitas sosial yang menghindari budaya Dayak, sebaliknya, jika sang aktor sosial menciptakan realitas cinta damai cinta budaya Dayak , maka realitas sosial yang tercipta akan besar pengaruhnya dalam membentuk perilaku individu untuk berperilaku sama dengan warna realitas sosial yang mengikatnya, yaitu cinta budaya Dayak.
Demikian pula sebaliknya, ketika kita hendak menciptakan realitas sosial lupus et homini (manusia yang satu adalah serigala bagi yang lain,Red.), maka realitas itu terpola sebagaimana realitas yang mengikatnya pula.
Jika cultural genocide dipahami berdasarkan alur penciptaan realitas sosial, maka orang mesti menciptakan realitas sosial yang sarat dengan kepentingan bersama yang diikat oleh nilai keadaban public (public civility).
"Mengapa harus public civility? Karena saya menangkap lebih lanjut pandangan dari penulis buku ini bahwa kehancuran suatu masyarakat atau bangsa bukan karena perbedaan atau bencana , tetapi adalah persoalan moralitas. Saya sepakat karena statement yang dikutip penulis dari KH Maman Imanul Haq (2011) ini, "beber Dr. Muhammad.
Memang suatu bangsa tidak akan dapat mencapai kebesaran atau kejayaan kecuali bangsa itu (pemimpin)nya masih memiliki sesuatu untuk dijadikan pedoman, dan pedoman itu mengandung dimensi moral untuk menopang sebuah budaya dan peradaban besar.
DIPERLUKAN KEADABAN PUBLIK
Kemajuan peradaban yang dicapai manusia harus diwarnai oleh moralitas. Relasi yang erat kemajuan masyarakat dan dimensi moral mengandalkan dua sisi yang saling melengkapi. Buah dari moral inilah yang mendorong munculnya keadaban publik dalam kehidupan komunitas.
Ketinggian dalam memahami keluhuran moral dalam budaya dan peradaban memiliki pengaruh besar dalam mengangkat martabat manusia dan membebaskan masyarakatnya dari tirani, penguasa atau mereka yang memiliki power untuk menundukkan orang lain, dan membetulkan hubungan antara penguasa dengan rakyat yang diperintah serta mengarahkan pandangan masyarakatnya pada realitas semu, yang tidak didasarkan pada konsrtruksi public civility.
Antitesis dari keadaban adalah kebiadaban.Kebiadaban merujuk pada sikap dan perilaku seseorang yang mencerminkan disfungsionalnya nilai moralitas. Mereka adalah pribadi dari masyarakat tidak tercerahkan, yang digambarkan dalam fenomena etnis antropologis yang kemudian disebut sebagai masyarakat primitif.
Dalam tapak tilas sejarah yang popular di Arabia, kita mendengarkan masyarakat jahiliyah, masyarakat yang telah memiliki kebudayaan yang tinggi secara seni dan sastera namun secara moral dan religi tidak tercerahkansama sekali.
Mensintesiskan pembangunan (development) sosial, politik, ekonomi dan budaya dengan moralitas dan etika secara berimbang adalah sebuah keharusan. Karena bukti sejarah menunjukan jatuh-bangunnya kerajaan Romawi disebab karena dimensi moralitas yang terabaikan dalam peta pembangunan.
Kita pun tidak bisa juga membangun tanahair kita ini dengan merekonstruksi adagium klasik let's everything related to wordly matter to the king and here after to the Pope (urusan duniawi serahkan kepada sang raja melalui Paus, Red.).
Aspek moralitas dalam pembangunan sosial, budaya dan ekonomi merupakan kunci penting dan sarana penting dalam mewujudkan gerakan transformasi sosial ekonomi yang berperadaban.
Tanpa spirit nilai-nilai keadaban pembangunan dalam segala aspek hanya menjebak manusia pada munculnya ketamakan, egoisme dan individualisme yang mencemari watak dasarnya sebagai rnahluk madani dan mahluk hanief, condong pada kebenaran dan kebajikan.
Moralitas memagar semua bentuk praktek feodalisme, patriafrmhi, monopoli dan monopsoni yang terakumulasi berbagai bentuk anomali yang kita saksikan sekarang. Misalnya saja rakyat harus diungsikan dari negerinya sendiri, kekerasan terhadap rakyat yang dilakukan atas nama Tuhan demi menegakkan kebajikan dan kebenaran , korupsi yang menggurita, yang bertentangan dengan keadaban publik (public civilty).
"Ini semua terjadi lantaran lemahnya penegakkan keadaban publik, dan tiadanya konsistensi untuk mengganti anomali itu dengan sistem yang egaliter dan berkeadilan yang bersumber dari spirit nilai-nilai etika dan moralitas public, tegas Dr. Muhammad. (abre/*/yon).***
Harian Kalteng Pos, Palangka Raya, Selasa, 28 Februari 2012.
__._,_.___
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
.
__,_._,___






0 comments:
Post a Comment