http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=151363
[ Jum'at, 20 Agustus 2010 ]
Lebih dari 70 Persen Anak TKI di Sabah Tak Bisa Sekolah
NUNUKAN - Pendidikan masih menjadi masalah serius bagi anak-anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Di antara 50 ribu anak TKI yang tersebar di sejumlah wilayah di Sabah, Malaysia, baru 13 ribu anak yang beruntung bisa menikmati pendidikan.
Sisanya masih terkatung-katung. Mereka tidak bisa bersekolah karena harus ikut orang tua bekerja di ladang atau lokasinya jauh dari sekolah. Bahkan, tak sedikit pula yang menjadi korban eksploitasi.
Kondisi itu diperparah kebijakan Pemerintah Malaysia yang melarang anak TKI mengenyam pendidikan formal di negeri jiran tersebut. Padahal, hanya sebagian kecil perusahaan perkebunan yang bersedia menyediakan tempat belajar bagi anak TKI.
Kepala Kantor Pelaksana Tugas dan Fungsi (KPTF) Konsulat Jenderal RI (KJRI) Tawau Widoratno Rahendra Jaya mengakui hal itu kemarin. Di beberapa perusahaan kelapa sawit, misalnya Felda Plantations Sendirian Berhad (Sdn Bhd), ada enam ribu lebih anak TKI. Namun, yang terlayani baru 600-an anak.
Diakui pula, ribuan anak TKI lain yang sekolah di tempat-tempat belajar seperti Humana menerima pola pendidikan berbeda dengan kurikulum Indonesia. ''Anak-anak TKI itu terpaksa mengikuti kurikulum Malaysia. Dampaknya, mereka tidak mampu menjawab soal-soal UNPK Paket A," katanya.
Belakangan, menurut Widoratno, di Sabah sudah berdiri kantong-kantong belajar. Misalnya, sudah ada delapan unit Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM), termasuk program Ponpes Hidayatullah. Ada juga learning centre, misalnya yang diprakarsai organisasi non pemerintah Humana Child Aid Society.
Di Malaysia, lanjut dia, memang tidak banyak pilihan bagi anak TKI untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. ''Sebab, Malaysia tidak membenarkan pekerja asing memboyong keluarga mereka," katanya.
Dengan demikian, anak-anak yang lahir di kawasan perladangan menjadi ilegal dan sulit bersekolah di lembaga pendidikan formal.
''Anak kami hanya bisa ikut belajar di Humana karena dilarang belajar di sekolah formal. Ada juga isu bahwa anak-anak Indonesia itu cerdas sehingga anak Malaysia merasa tersaingi. Karena itu, muncul larangan tersebut. Dulu kan anak Indonesia boleh belajar di sekolah formal," kata Alex, TKI yang sudah puluhan tahun bekerja di Tawau. (ica/jpnn/c3/soe)
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment