SBY: Harga BBM Naik untuk Selamatkan Ekonomi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Andri Malau
TRIBUNNEWS.COM, CIKEAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan partai politik yang tergabung dalam Setgab Koalisi berjanji bahwa kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak makin memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah.
Pasalnya, sebagaimana diutarakan SBY, pemerintah dan Setgab Koalisi telah memikirkan perindungan sosial bagi mereka yang dinilai tidak mampu dan yang akan paling merasakan dampaknya.
"Semua memikirkan bagaimana perlindungan sosial dan bantuan kepada masyarakat itu sesuai. Itulah kepedulian kita semua yang kami empati kepada masyarakat dimana harga BBM disesuaikan untuk mereka semua," demikian janji SBY, saat konferensi pers, menyampaikan pokok bahasan dalam pertemuan petinggi Parpol Koalisi, di Kediamannya, Cikeas, Rabu (14/3/2012).
Apalagi, lanjut SBY, kebijakan menaikkan harga BBM subsidi bertujuan untuk menyelamatkan perekonomian nasional. Dengan itu pula, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu meningkat mencapai sasaran yang ditetapkan dalam APBN 2012. Akhirnya juga kesejahteraan rakyat bisa tetap terjaga.
"Kepada rakyat, bisa kami sampaikan bahwa jajaran pimpinan partai koalisi sangat peduli pada penyelamatan perekonomian serta penyelamatan kehidupan rakyat."
"Termasuk dampaknya dari gejolak perekonomian global, kepada perekonomian kita dan yang secara langsung juga akan berdampak pada masyarakat kita. Kami sangat peduli dan kami mendiskusikan panjang lebar kira-kira bantuan perlindungan sosial seperti apa yang tepat untuk rakyat kita," ucap SBY.
Jika Harga BBM Naik, SBY Paling Bersalah
11/03/2012 18:57
Liputan6.com, Jakarta: Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis tokoh yang dinlai paling bersalah terkait rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). "Jika harga BBM naik, 34,06 persen responden menyalahkan SBY. Sebanyak 30,79 persen responden menyalahkan DPR. Sedangkan 17,7 persen menyalahkan Menteri ESDM. Di luar partai, SBY menjadi aktor yang paling disalahkan dalam hal ini," ungkap Peneliti LSI Adjie Alfaraby saat jumpa pers di Rawamangun, Jakarta Timur, Ahad (11/3).
Selain itu, Adjie menambahkan, untuk partai yang disalahkan responden adalah Partai Demokrat. Menurutnya, jika harga BBM naik, 54,27 persen responden menyalahkan Partai Demokrat, sebanyak 34,16 persen responden menjawab tidak tahu atau tak menjawab. Hanya 11,67 persen responden yang menyalahkan partai lain. "Demokrat menjadi tumpuan kemarahan publik atas kenaikan harga," terangnya.
Seperti diketahui, LSI menyatakan penolakan kenaikan BBM bersubsidi merata di semua lapisan masyarakat terutama terkait segmen ekonomi, masyarakat di desa ataupun kota, laki atau perempuan, level pendidikan, dan sebagainya.
Dalam catatannya, hasil survei LSI ini menggunakan metode Quick Poll, sebanyak 86,60 persen publik tidak setuju kenaikan harga BBM. Sementara 11,26 persen publik setuju, sedangkan sisanya atau 2,14 persen publik mengaku tidak tahu/tidak mau menjawab.(ADI/ULF)
11/03/2012 18:57
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment