Advertising

Friday, 3 August 2012

[wanita-muslimah] @ Prof Thomas ... Re: [mus-lim] Malam ini (2 Agustus) purnama?

 



On Aug 3, 2012, at 1:38 PM, "T. Djamaluddin" <t_djamal@hotmail.com> wrote:

Assalamu'alaikum wr. wb.,

Wa'alaikumsalam Wr.Wb,

Terima kasih atas jawaban Prof. Thomas yang cepat di tengah kesibukan. Karena masih ingin belajar, boleh saya tanya lagi ya Prof, karena saya ingin memahaminya dalam perspektif yang lebih luas dari sekadar tipifikasi "hisab Muhammadiyah vs rukyat non-Muhammadiyah" mengingat perbedaan ini juga terjadi di tingkat global.

Pertanyaan lanjutan di bawah masing-masing penjelasan Prof.

Baik, saya tanggapi sesuai butir pertanyaan:
1. Di situs moohsighting sudah ditulis, tanggal yang dicantumkan merujuk pada ketetapan ISNA/ICNA, yaitu berdasarkan kalender ummul Quro (Wujudul hilal di Mekkah). Umumnya yang mengikuti Arab Saudi adalah negara yang mengikuti faham rukyat global atau karena alasan tidak punya kemampuan hisab rukyat  sehingga jalan praktisnya sekadar mengikut Arab Saudi. Negara-negara yang punya kemampuan hisab rukyat, mereka punya dasar sendiri untuk memutuskan, baik dengan hisab maupun rukyat lokal.

ANB: 

1.1. Kalau negara yang mengikuti rukyat global atau Follow Saudi, saya mengerti. Yang saya masih kurang jelas adalah negara yang tidak punya kemampuan hisab rukyat. Misalnya dengan mengacu pada daftar negara yang berpuasa mulai Jumat, 20 Juli dan dipublikasikan Moonsighting.com, ada negara-negara seperti Prancis, Jerman dan Luxembourg yang menisbatkan penetapan mereka pada ECFR (Europe Council of Fatwa & Research) yang berpusat di Dublin, yang pengorganisasiannya dipimpin oleh Syaikh Yusuf Qardhawi. Ketiga negara ini jelas berbeda dengan Italia yang menisbatkan penetapan 1 Ramadhan pada Follow Saudi. Dengan adanya ECFR apakah statement Prof. Thomas tentang "negara-negara yang tidak  punya kemampuan hisab rukyat" masih valid? Sementara, EFCR sendiri tidak menisbatkan penetapan mereka pada Follow Saudi melainkan pada moonsighting lokal.

1.2. Bagaimana juga memahami proses penetapan 1Ramadhan dalam kelompok Jumat, 20 Juli itu seperti Thailand atau Turki yang mendasarkan pada local sighting? Mereka tidak Follow Saudi dan tidak juga menganut rukyat global.


1.a. Sistem kalender yang mapan mensyaratkan 3 hal: ada otoritas tunggal, ada kriteria, ada wilayah yang jelas. Otoriras kalender Cina ada di salah satu observatorium astronomi di Cina, kriterianya sudah mereka tetapkan, wilayahnya global. Jadi, warga keturunan Cina tinggal mengikuti saja. Kalender Islam belum mapan karena 3 syarat itu belum terpenuhi. Kiti ingin bersatu, tetapi masing-masing kelompok merasa punya otoritas. Pemerintah yang mengupayakan persatuan pun diabaikan.

ANB:
Cina menjadi kasus menarik dalam peristiwa ini, karena mayoritas (Otoritas muslim Chinese) menetapkan puasa dimulai Jumat 20/7 dengan argumen Follow Saudi, dan sebagian kecil pada sehari sesudahnya. 

Mengingat informasi Prof Thomas bahwa observatorium astronomi di sana punya otoritas tinggi, apakah dalam keputusan mayoritas itu observatorium tersebut terlibat aktif sepengetahuan, Prof?

2.  Pernah, sekilas. Ahli hisab belum tentuk ahli falak. TS saksono pakar dalam menghisab dengan latar belakang geodesinya, tetapi saya menilai konsep astronomi obervasionalnya terabaikan, sehingga cenderung menafikkan rukyat. Hilal hanya sekadar dianggap sebagai benda langit yang bisa diperhitungkan, tetapi bukan sebagai objek yang amati seperti lazimnya astronom menyetarakan hisab dan rukyat. Bagaimana pun pakar geodesi bukanlah astronom, jadi wajar cara pandangnya agar berbeda.

2. Noted.


3. Purnama dalam pehamanan awam tidak tunggal satu malam. Bulan yang cemerlang yang hampir bulat sempurna terjadi sekitar tanggal 13, 14, 15. Mungkin disebut hari putih karena cemerlangnya purnama. Secara astronomi, didefinisikan purnama/fullmoon adalah saat bulan melintasi bujur ekliptika 180 derajat, berarti hanya sesaat. Itu pula beda antara calculated purnama dan observable purnama. Definisi purnama secara astronomi adalah yang dihitung, sedangkan yang tampak oleh awam adalah yang teramati. Hal yang sama untuk awal bulan. Newmoon/ijtimak sering dikelirukan dengan hilal sebagai awal bulan Islam. Newmoon adalah saat bulan melewati bujur ekliptika nol, itu dihitung, termasuk ekstrapolasinya dalam konsep wujudul hilal. Sedangkan awal bulan ditandai dengan observable newmoon atau hilal. Observable bisa dalam makna rukyat langsung atau hisab dengan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal). Astronomi modern dengan akurasi perhitungannya yang semakin canggih tidak bermakna meninggalkan konsep-konsep rukyat.


3. Ini yang masih mengusik rasa keingintahuan saya menyangkut penggunaan diksi "tasaq" (purnama) dalam Qur'an yang merupakan wahyu Allah, dengan diksi "Ayyamul Bidh" (tiga hari pertengahan bulan Hijri) melalui riwayat Hadits Nabi.

Saya memvisualisasikan dalam pikiran saya, ketika Allah menurunkan wahyu Q:S: 84: 18-19 itu kepada Nabi, tentu sebagai penutur bahasa ibu, Nabi mengerti sekali arti kata "Tasaq".

Namun fakta bahwa Nabi tak menggunakan kata ini dalam menyebut puasa sunah Ayyamul Bidh, apakah tidak mungkin bahwa ini sebetulnya merupakan "hint" bagi astronom muslim modern untuk melakukan penelitian lebih dalam baik secara saintifik maupun dalam kaitan spesifik. 

Purnama dalam pemahaman awam tidak tunggal satu malam, seperti Prof sebutkan, bukankah itu merupakan sebuah kondisi yang menarik diuji? Mengapa kita harus terkungkung dalam pemahaman awam? 

Dalam pemahaman awam, gunung tidak bergerak. Diam. Tapi Al Qur'an sejak 14 abad silam sudah menyatakan dalam Q:S: 27: 88:

----------

Dan engkau akan melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap di tempatnya. Padahal Ia berjalan seperti awan berjalan. Itulah ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Maha Teliti dengan apa yang kamu kerjakan.
------------

Baru pada awal abad ke-20 sains modern lewat Geolog Jerman Alfred Wegener menemukan kebenaran adanya pergerakan gunung itu, yang membuktikan kebenaran Al Qur'an.

Dus, jika terhadap gunung yang lebih mudah dilihat, diamati, diteliti, sampai dieksplorasi saja manusia (pengertian awam) selama berabad-abad menganggapnya sebagai sesuatu yang statik, bagaimana kita bisa berpegang pada pandangan awam bahwa purnama itu tidak tunggal satu malam, melainkan satu malam?

Saya kira Nabi yang benar, dan sudah sangat tepat menggunakan istilah Ayyamul Bidh (hari-hari yang terang) untuk menyebut 13, 14, 15 bulan Hijri karena Ayyamul Bidh tak otomatis berarti purnama (Tasaq), meski kondisi Purnama (Tasaq) merupakan bagian dari Ayyamul Bidh. 

Persoalannya: bagaimana para astronom muslim sedunia membuktikan hal ini, scientifically, bahwa konsep Qur'an tentang Purnama (Tasaq) sesungguhnya hanya beririsan dengan, namun tak serta merta (exclusively) mengacu pada, pemahaman awam tentang Purnama (yang tiga hari) seperti selama ini.

Ataukah, kita, umat muslim, harus menunggu lagi adanya ilmuwan semacam Alfred Wegener (non-muslim) yang akan membuktikan bahwa seperti halnya gunung yang "berjalan seperti awan (تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ)", maka konsep AL Qur'an tentang  "purnama (تَسَقَ)" pun belum sepenuhnya dipahami saat ini?

Wallahu'alam bish shawab.

Salam,

Akmal N. Basral 


Wassalamu'alaikum wr. wb.,

T. Djamal

******************************************************************
Hidup ini adalah perjuangan lahir batin dengan iman, ilmu dan amal.
Matahari telah terbit.
Hari ini adalah hari perjuangan dengan semangat baru.
Majulah! Majulah! Majulah!
******************************************************************
Dokumentasi T. Djamaluddin : http://tdjamaluddin.wordpress.com/
******************************************************************

> From: anb99@yahoo.com
> Date: Fri, 3 Aug 2012 11:18:30 +0700
> To: mus-lim@milis.isnet.org
> Subject: Re: [mus-lim] Malam ini (2 Agustus) purnama?
>
> Bu Ida yang baik,
> meski tanggapan ibu ke Prof Thomas, tapi karena saya yang memulai thread ini, jadi sebetulnya arah komentar ibu kepada saya, bukan? Apakah ibu tahu bahwa saya berpuasa mengikuti ketetapan Pemerintah pada Sabtu, 21 Juli? Tentu ibu tidak tahu. Sayangnya ibu Ida lebih mengedepankan su'u dzhon terhadap pertanyaan saya yang 'akademis' (dilengkapi gambar bulan, tingkat iluminasi, dll). Wah, sayang sekali shaum bu Ida masih sepagi ini sudah tercemar su'u dzhon terhadap sesama muslim dan shoimin juga.
>
> Sebetulnya kemarin/semalam waktu bu Ida bertanya one liner: "so what?" terhadap posting saya, saya sudah berniat menjelaskan hal di atas. Tetapi karena kesibukan, termasuk buka bersama di rumah Pak Aburizal Bakrie dst, sampai di rumah malah terlupa.
>
> Namun saya sangat setuju dengan kalimat terakhir bu Ida, "Sudah dibilang: serahkan kepada ahlinya." Karena itulah saya tanyakan di milis Isnet ini tersebab saya yakin banyak ahlinya di sini, dan alhamdulillah bahkan dijawab langsung oleh Prof. Thomas yang kompetensi dan kredibilitasnya sudah mumpuni.
>
> (Mohon maaf bagi Isneters yang, mungkin, merasa komentar saya sebelumnya sangat dangkal, tidak prinsipal, dsb. Itulah risiko yang saya bayar untuk belajar. Karena menulis adalah salah satu peluang terbesar untuk menunjukkan kebodohan kita. Afwan ya Akhi wa Ukhti.)
>
> @ Prof Thomas: terima kasih tautan lamannya, Prof. Alhamdulillah pendapat Prof sudah saya baca sejak tahun lalu dan ikuti juga diskusinya. Utamanya pada pertukaran pendapat antara Prof dan Zulfikar pada tanggal 13 Sept '11 jam 13:51 (Prof) dan jam 14:30 (Zulfikar). Sepembacaan saya ada pertanyaan lanjutan Zulfikar yang belum Prof jawab.
>
> Mumpung Prof sudah muncul di milis, saya ingin menanyakan hal lain:
>
> 1. Organisasi rukyatul hilal dunia Moonsighting (www.moonsighting.com) dalam situsnya memadankan 2 Agustus (kemarin bagi kita) dengan 14 Ramadhan (saat purnama terjadi pada malam harinya). Pada awal penentuan Ramadhan lalu, Moonsighting memantau 60 dari 77 negara (77.9 %) memulai 1 Ramadhan pada Jumat, 20 Juli, termasuk Arab Saudi. Sisanya yang 17 negara (22.1 %), termasuk Indonesia, memulai puasa sehari kemudian. Dari yang saya baca, logika mayoritas 78 % itu adalah "Follow Saudi". Bagaimana menurut Prof?
>
> (1a. Ini pertanyaan kembangan, tidak terlalu penting. Tapi jika Prof Thomas ada waktu untuk menjelaskan dalam sebuah perbandingan, akan baik sekali.
>
> Kemarin seorang kawan saya di Batam menginformasikan bahwa komunitas Chinese di sana menyelenggarakan Sembahyang Bulan Purnama, yang berarti menurut perhitungan mereka (yang juga berbasis peredaran bulan) sudah tanggal 14.
>
> Pertanyaan awam saya: mengapa dalam komunitas Chinese penentuan penanggalan Lunar Year terkesan tidak serumit kita? Contoh termudah, tanggal untuk Cap Go Meh dan hari-hari besar Chinese lainnya untuk beberapa tahun ke depan bahkan sudah bisa ditentukan dari sekarang)
>
> 2. Dari sejumlah laman yang saya baca, selain blog Prof Thomas, blog lain yang inspiratif bagi saya adalah http://cis-saksono.com milik Tono Saksono, alumnus Geodetic Science dari OSU. Sepembacaan saya, posisi TS dalam hal ini bertolak belakang diametral dengan Prof Thomas. Apakah Prof sudah (pernah) membaca blog ini, karena ada juga menyebut Prof Thomas.
>
> 3. Kembali kepada posting awal saya soal full moon, kita tahu Rasul mewasiatkan tentang Shaum Ayyamul Bidh, puasa "Hari-hari Putih/Terang" selama tiga hari setiap tanggal 13, 14, 15 bulan Hijri. Dalam masyarakat sebutan puasa ini kadang-kadang "Puasa Bulan Purnama".
>
> Pertanyaan saya; Apakah pengertian "purnama" itu, Prof Thomas?
>
> Betulkah "purnama" merupakan rentetan hari (yang umum 13-15 bulan Hijri, meski ada juga varian yang menyebutkan sampai 17 bulan Hijri), atau "purnama" sebetulnya mengacu pada hari tertentu saat bulan paling bercahaya saja (iluminasi tertinggi antara 99.8 ke atas).
>
> Berarti jika ada tiga hari (13-15 bulan Hijri) maka purnama (full moon) sesungguhnya hanya terjadi pada tanggal 14 saja, karena sebelum dan sesudahnya tingkat kecerlangan rembulan sebelumnya menurun sedikit, yang disebut dalam astronomi disebut fase Waxing Gibbous (13) dan Waning Gibbous (15).
>
> Pertanyaan saya ini bertaut dengan Shaum Ayyamul Bidh, yang menurut saya kurang pas diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Puasa Bulan Purnama". Karena Purnama (full moon) di dalam Al Qur'an disebutkan sebagai Tasaq (تَسَقَ) sebagaimana difirmankan Allah dalam Q:S: 84: 18-19
>
> dan bulan apabila menjadi purnama (تسق)
> sungguh, akan kami jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)
>
> Ada pendapat yang mengatakan bahwa secara umum makna "tingkat demi tingkat (طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ)" adalah tentang perkembangan manusia dari setetes mani, dst. Namun ada juga yang berpendapat bahwa secara khusus itu menyangkut fase-fase perkembangan alam semesta termasuk bulan dari Waxing crescent (hilal) dst.
>
> Jika diksi Al Qur'an tentang Purnama adalah Tasaq, maka mengapa Rasul tak menyebutnya sebagai Shaum(ul) Tasaq, melainkan Shaum Ayyamul Bidh, yakni puasa pada saat bulan "sedang putih"?
>
> Bukankah tidak sulit bagi Rasul, yang mendapat wahyu dari Allah, untuk menyebutkan puasa tiga hari 13-15 setiap bulan Hijri itu sebagai Shaum Tasaq (Puasa Bulan Purnama)? Tetapi karena yang digunakan adalah Ayyamul Bidh, maka secara tersirat bahwa Tasaq berada dalam deretan waktu Ayyamul Bidh, atau Tasaq adalah bagian dari Ayyamul Bidh.
>
> Jadi Hadits Rasul itu sudah self-explanatory bahwa purnama (Tasaq) sebetulnya bukanlah tiga hari (13-15 hari) melainkan hanya pada saat bulan mencapai kondisi tercerlangnya saja. Pada saat itu, kondisi masyarakat yang melihat dengan mata telanjang akan melihat kecerlangan rembulan selama 3 hari seakan-akan sama bercahayanya, meski ada gradasi cahaya (iluminasi).
>
> Namun baru dengan perkembangan astronomi moderen yang bisa mengamati lebih seksama antara fase Waxing Gibbous dan Waning Gibbous yang "menjepit" Full Moon itulah yang menjelaskan betapa agungnya ajaran Islam, visioner, karena adanya pembedaan konsep antara "Tasaq" (Purnama/Full Moon) dengan "Ayyamul Bidh" (Waxing dan Waning Gibbous). Subhanallah.
>
> Mohon pencerahan dari Prof. Thomas atau Isneters lain yang menekuni masalah ini.
>
> DISCLAIMER: Meski sesungguhnya tidak perlu, namun untuk menjaga agar jangan sampai ada Isneters lain yang su'u dzhon kepada saya menyangkut pilihan pribadi saya dalam awal Shaum Ramadhan, saya sampaikan bahwa saya berpuasa mulai Sabtu, 21 Juli mengikuti ketetapan Pemerintah.
>
> Wallahu'alam bis shawab.
>
> Akmal Nasery Basral
>
>
> Sent from my iPad2
>
> On Aug 3, 2012, at 8:35 AM, Ida Sitompul <ida.n.sitompul@gmail.com> wrote:
>
> > Pak Thomas, yang bilang begitu dalam saat2 semacam ini biasanya memang
> > brmaksud mengatakan: tuh kan benar puasanya mestinya hari Jum'at,
> > lihat tuh hari ke 12 saja sudah purnama. Jadi maksudnya yg puasa satu
> > hari kemudian salah, sudah tueeeelat kemana2. Mereka lupa menghitung
> > kalau sekarang mereka anggap purnama, artinya bulan tinggal 14,5 hari
> > lagi. Mari kita tunggu mereka lebaran tanggal 17 atau 18...:) Atau 19
> > kalau dibulatkan sj ramadhan masih ada 15 hari lagi sejak 'purnama'
> > tersebut.
> >
> > Sudah dibilang: serahkan pada ahlinya.
> >
> > On 8/3/12, T. Djamaluddin <t_djamal@hotmail.com> wrote:
> >>
> >> Assalamu'alaikum wr. wb.,
> >>
> >> Purnama bisa terjadi pada 13, 14, atau 15 bergantung kondisi hilal pada awal
> >> bulan
> >> Silakan baca rinciannya di
> >> http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/09/13/purnama-tidak-bisa-menjadi-penentu-awal-bulan-qamariyah/
> >>
> >> Wassalamu'alaikum wr. wb.,
> >>
> >> T. Djamal
> >>
> >> ******************************************************************
> >> Hidup
> &

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment