Advertising

Friday, 17 February 2012

[wanita-muslimah] BUKU, SEJARAH DAN TAFSIR BUDAYA

 

BUKU, SEJARAH DAN TAFSIR BUDAYA
Judul buku   : Dimana Bumi Dipijak Disana Langit Dibangun:
                        Transformasi Sosial
                        Pembebasan Melalui Re-Humanisasi.
Penulis          : Goenawan Mohamad dkk.
Penerbit        : Bayu Media
Cetakan         : I
Tebal              : 210 hal
Pengantar     : Dr (cand.) Dra. A. Trecy Anden, M.Pd.
Simpul           : Prof. Dr. Bambang Garang, M.Pd.
Peresensi       : Dr. Gaby Faimau*
 
Apakah cara berpikir manusia yang membentuk sejarah atau sejarah yang membentuk cara berpikir manusia? Pertanyaan klasik ini muncul dalam pikiran ketika saya membaca buku Dimana Bumi Dipijak Disana Langit Dibangun: Transformasi Sosial Pembebasan Melalui Re-Humanisasi.Buku ini memang tidak menjawab apalagi menelaah secara filosofis pertanyaan klasik ini. Tetapi menelusuri berbagai refleksi dari sejumlah penulis yang tertuang dalam buku ini kita dihadapkan pada kebenaran tak tersangkal: manusia tidak bisa terlepas dari sejarah dan sejarah tidak bisa terlepas dari hidup manusia. Sepintas tampak ada dikotomi di sini.Tetapi kebenaran seperti ini tidak harus dipilah secara dikotomis karena keduanya saling mengandaikan dalam sebuah hubungan dinamis ('dynamic interplay').
Mengikuti alur cara papar buku Dimana Bumi Dipijak Disana Langit Dibangun: Transformasi Sosial Pembebasan Melalui Re-Humanisasi, hemat saya, pembaca akan dihadapkan pada dua hal penting: sejarah DARI sebuah buku dan sejarah DALAM sebuah buku. Pertama, pada ide sejarah dari sebuah buku, pembaca disadarkan bahwa setiap karya tulis mempunyai cerita dan setiap buku mempunyai sejarah khusus.Itu bisa cerita pribadi atau cerita kolektif.Itu bisa sejarah yang lahir dari takhta yang mangatur cara tutur, itu juga bisa sejarah yang muncul dari ruang sempit kaum terpinggirkan yang kadang meraung ibarat singa ganas, kadang tak berdaya karena ditindas kekuasaan atau kadang hanya menatap dengan tatapan yang oleh khalayak disebut tatapan cinta tulus.
Sejarah dari buku ini bermula dari sebuah acara penting yakni bedah buku Antologi Esei Budaya Dayak, Permasalahan  dan Alternatifnya karya Kusni Sulang dkk pada 14 Oktober 2011. Peristiwa bedah buku ini diramu sedemikian mungkin sehingga menjembatani cara pikir akademis dan apresiasi budaya. Itulah sebabnya, buku ini sebetulnya tidak hanya lahir dari sebuah peristiwa akademis ('academic event') atau latihan intelektual ('intellectual exercise') tetapi juga sebuah peristiwa budaya ('cultural event').Ini karena bedah buku adalah juga peristiwa budaya yang bisa ditelaah dan diteropong dari berbagai sudut pemikiran.Dalam catatan mereka, Andriani S. Kusni dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah dan Yanedi Jagau dari Borneo Institute secara tepat mengungkap roh sejarah dari buku ini.
Kedua, ternyata sejarah juga ada dalam buku Dimana Bumi Dipijak Disana Langit Dibangun.Meskipun penting mengetahui sejarah dari sebuah buku, sebetulnya adanya sejarah dalam sebuah buku lebih penting.Yang dimaksudkan di sini adalah kenyataan bahwa buku ini merekam sejarah perjalanan budaya dan peradaban manusia, khususnya manusia dan budaya Dayak.Tetapi ada sesuatu yang lebih penting di sini.Ternyata para penulis ini tidak hanya berkutat pada pertanyaan seputar sejarah perjalanan budaya dan peradaban manusia. Mereka malah mengambil satu atau beberapa langkah lebih jauh dan memberi tantangan baru untuk berpikir lebih dalam dan lebih tajam bahwa ternyata dalam derap budaya dan peradaban, kita sebenarnya tidak saja ada dalam sebuah perjalanan ('journey') tetapi juga dalam sebuah pencarian ('search').Pencarian ini membutuhkan daya kreatif untuk merumuskan pertanyaan yang tepat sehingga bisa menghantar untuk menemukan jawaban yang tepat sasar pula.
Tantangan pencarian ini terangkum dalam ungkapan menarik  seperti "tenaga kreatif dalam gerak hidup kebudayaan" dalam tulisan sastrawan Goenawan Mohamad (hal 4) dan "membangun plot-plot kebudayaan" dalam refleksi sastrawan dan pemerhati budaya Iman Budhi Santosa (hal 69). Meskipun merupakan aspek sangat hakiki, pencarian saja sebenarnya tidak cukup. Setiap pencarian selalu harus diikuti dengan interpretasi dan reinterpretasi untuk menemukan makna ("meaning") dan pesan ("message") dibalik budaya yang memberi kita nafas. Hal ini ditawarkan dalam cara berbeda seperti tampak dalam tulisan Frans de Sales Sani Lake SVD,Kardinal Tarung, Yanedi Jagau, Andriani S. Kusni dan Kusni Sulang.
Lebih lanjut, para penulis ini mengingatkan bahwa di setiap sudut tafsir budaya, disana sebetulnya ada proses internalisasi makna dan pesan budaya. Frase "transformasi sosial melalui re-humanisasi" muncul dalam subjudul buku ini.Konsep ini mungkin saja mengundang berbagai pemahaman yang berbeda.Sayang sekali bahwa konsep yang tampak menjanjikan dan menarik ini tidak ditelaah secara mendalam oleh para penulis, kecuali secara sepintas dibedah Frans de Sales Sani Lake dalam tulisannya "Reintegrasi Kebudayaan Dayak".Andriani S. Kusni juga hanya menjelaskan sepintas bahwa "transformasi sosial melalui re-humanisasi tidak lain dari pemanusiawiaan diri sendiri,  masyarakat, manusia dan kehidupan. Re-humanisasi diri sendiri adalah langkah awal yang menuntut kejujuran dan keberanian besar" (hal 125). Tetapi apa artinya "pemanusiawian"? Secara sangat singkat, hemat saya, pada setiap proses 're-humanisasi' yang terjadi adalah proses internalisasi pesan-pesan budaya yang selalu menantang untuk tafsir ulang dan tafsir baru.
Di aras setiap tafsir budaya terdapat pertanyaan seputar identitas. Menarik bahwa sebagian besar tulisan yang termuat dalam buku ini bermuara dengan pertanyaan ini.Tentu saja ini tidak mengagetkan, terutama karena abad ke-21 telah membuat pertanyaan identitas menjadi pertanyaan maha-penting menyusul bangkitnya berbagai etnik dan kelompok minoritas untuk berbicara tentang identitas dan hak dasar mereka.Seperti dikatakan rohaniwan dan filsuf Jonathan Sacks, "salah satu transformasi besar dari abad ke-20 menutu abad ke-21 adalah bahwa abad ke-20 didominasi oleh politik ideologi sementara di abad ke-21 kita melangkah masuk menuju sebuah abad politik identitas". Identitas memang menciptakan jurang karena ketika sebuah "dunia kita"  tercipta, pada saat yang sama tercipta pula sebuah dunia yang lain yakni "dunia mereka". Meskipun demikian, semua pertanyaan seputar identitas terjadi dalam konteks hubungan.Semangat yang tertuang dalam buku ini mengingatkan bahwa langkah pertama untuk membangun hubungan dengan orang atau kelompok lain adalah pemahaman atas identitas sendiri. Ide ini dituangkan secara metaforis dalam judul buku ini: dimana bumi dipijak disana langit dibangun. Metafora ini menggambarkan keterkaitan tak terpisahkan atas identitas pribadi dan kolektif dalam hubungan dengan transformasi hidup sosial.
Buku yang lahir dari sebuah 'cultural event' ini perlu disambut oleh setiap pencinta budaya.  Para pemimpin politik, agama dan budaya akan menimba semangat untuk membangun kualitas hidup bersama dari pesan-pesan refleksif yang tertuang dalam buku ini. Kalangan akademisi, aktivis budaya dan hak-hak hidup dan masyarakat umum  yang  tertarik dengan siasat dan tafsir budaya akan menuai berlimpah ide segar. Ketika dunia seakan berjalan di gurun yang kian rentan terhadap konflik, refleksi para penulis buku ini bisa menghantar pada sebuah perhentian baru untuk sejenak bertanya sejauh mana tafsir atas identitas budaya memberi sumbangan pada transformasi sosial hidup bersama.***
 
* Dr. Gaby Faimau, dosen dan Kep. Bid.Penelitian pada Kgolagano College Campus,University of North West, Goborone, Botswana.

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment