Advertising

Thursday, 24 June 2010

[wanita-muslimah] Seri 399. Wasilah dan Paradigma Ilmu

 

Pertarungan sepak bola di Afrika Selatan mengingatkan saya kepada salah seorang Pahlawan Nasional Afrika Selatan yaitu Allahu yarham Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka, yang mempunyai empat makam, di Cape Town Afrika Selatan, Ceylon, Banten dan Gowa Sulawesi Selatan.

SOROTAN mata tajam, alis hitam, bibir gairah, jenggot lebat, berpakaian gamis, bersorban putih, itulah Syeikh Yusuf asal Goa, Sulawesi Selatan, yang pada abad ke-17 menyemaikan Islam di Afrika Selatan.(1)

Masyarakat Sulawesi Selatan dan dari daerah-daerah lain banyak yang datang menziarahi makam Allahu yarham Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka, seorang ulama besar, menulis banyak buku, mujahid (pejuang) kemerdekaan berkaliber internasional, yang berjihad bergerilya melawan Belanda di Banten dan Ceribon, tetap berjuang di Ceylon dan di Tanjung Pengharapan, yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional Afrika Selatan kemudian secara terlambat sekali disusul oleh Pemerintah Republik Indonesia yang mengangkatnya pula menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Diantara para peziarah ke makam itu tidak kurang yang menjadikan Syaikh Yusuf sebagai wasilah kepada Allah.(2)

Dalam tahun 1686 raja Iskandar dari Minangkabau melakukan pertemua rahasia dengan Sultan Aceh, susuhsuhan Mataram, raja Kalimantan, dan Andalas Timur untuk membentuk serikat perlawanan Islam melawan kompeni Belanda.
Perkembangan baru ini mengancam kedudukan kompeni Belanda di Bantam. Kejadian ini terpikir oleh Kompeni siapa otak perkembangan baru ini, pasti bukan di Jawa, Sumatera, atau Sulawesi, pasti dari jauh memberikan kordinasi, pasti di Ceylon, karena gerakan ini dari kalangan Islam. Dan sumber pergerakan ini melalui haji, haji yang pulang dari Mekkah yang singgah di Ceylon, pesan diterima dari Ceylon selanjutnya untuk diberitakan, kabar ini disebarkan keberbagai negeri kerajaan Islam di Timur. Akhirnya pemerintah kompeni Belanda memustukan memindahkan Syeich Yusuf dari Ceylon ke Afrika-Selatan.(3)

Wassalam
HMNA
----------------------------------------------------------
(1)
KOMPAS Rabu, 27 April 2005

Syeikh Yusuf Al-Maqassari

SOROTAN mata tajam, alis hitam, bibir gairah, jenggot lebat, berpakaian gamis, bersorban putih, itulah Syeikh Yusuf asal Goa, Sulawesi Selatan, yang pada abad ke-17 menyemaikan Islam di Afrika Selatan.

DALAM berkas yang saya terima di seminar "Perbudakan dan Buangan Politik" di Cape Town, 23 Maret 2005, saya temukan potret Syeikh Yusuf. Tidak jelas pelukisnya. Tidak pasti otentiknya. Betulkah begitu wajahnya? Siapa takut? Bagaimanapun, ini adalah insan hebat luar biasa.

Riwayat Syeikh Yusuf mulai saya kenal di masa sekolah menengah zaman kolonial dari buku-buku ilmuwan Belanda seperti Cense, Drewes, De Graaf, dan Noorduyn. Di seminar tadi Prof Dr Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Dr Nabilah Lubis juga dari UIN Jakarta menyajikan makalah mengenai peran Syeikh Yusuf di Indonesia dan Afrika Selatan.

Syeikh Yusuf lahir tahun 1626 di Goa, Sulawesi Selatan. Ayahnya, Abdullah, bukan bangsawan, tetapi ibunya, Aminah, keluarga Sultan Ala al-Din. Dia dididik menurut tradisi Islam, diajari bahasa Arab, fikih, tauhid. Pada usia 15 tahun dia belajar di Cikoang pada seorang sufi, ahli tasawuf, mistik, guru agama, dan dai yang berkelana. Saya tahu dari sejarawan Belanda, Van Leur, betapa agama Islam dibawa ke Indonesia pada mulanya oleh pedagang-pedagang Islam yang sekaligus
adalah sufi. Kembali dari Cikoang Syeikh Yusuf menikah dengan seorang putri Sultan Goa, lalu pada usia 18 tahun dia naik haji ke Mekkah sekalian memperdalam studi tentang Islam.

Di Makassar dia naik sebuah kapal Melayu dan berlayar menuju Banten yang merupakan pusat Islam penting di Nusantara. Di sana dia bersahabat dengan putra mahkota yang kelak memerintah sebagai Sultan Ageng Tirtayasa (1651-83), penguasa agung terakhir dari Kesultanan Banten, juga kerajaan terakhir dari Nusantara yang dengan kapal-kapalnya melaksanakan perdagangan jarak jauh.

Mengikuti rute perdagangan antar-Nusantara zaman itu Syeikh Yusuf melanjutkan perjalanan ke Aceh, lalu ke Gujarat, India, tempat dia bertemu dengan Sufi Nuruddin Ar-Raniri, penasihat sultan perempuan Safyatuddin dari Aceh, kemudian ke Yaman, akhirnya ke Mekkah dan Madinah, bahkan sampai ke Damascus (Suriah) dan Istanbul (Turki) yang disebut dalam tambo-tambo Melayu sebagai "Negeri Rum". Bila dipikir sangat lamanya waktu perjalanan dengan kapal layar atau dengan kafilah unta zaman itu, maka sungguh mengagumkan kekuatan fisik dan mental Syeikh Yusuf untuk berkelana sambil belajar tasawuf bertahun-tahun dalam tradisi seorang sufi. Sungguh menyenangkan di Mekkah dia memperoleh ijazah dari tarekat (mystical order) Khalwatiyyah, diakui sebagai ilmuwan Islam yang berwibawa, dipandang sebagai guru agama oleh orang-orang Melayu-Indonesia yang datang naik haji ke tanah Haramyn. Dia menikah dengan putri Imam Shafi'i di Mekkah yang meninggal dunia waktu melahirkan bayi. Sebelum pulang ke Indonesia, dia kawin lagi dengan seorang perempuan asal Sulawesi di Jeddah.

SYEIKH Yusuf tidak kembali ke Goa di mana agama sudah dilecehkan, orang berjudi, mengadu ayam, meminum arak, menghidupkan lagi animisme tanpa ditindak secara tuntas oleh Sultan. Alih-alih dia menetap di Banten dan menjadi penasihat agama utama Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan ini sangat anti-VOC Belanda. Ia berselisih dengan putranya yang
dikenal sebagai Sultan Haji. Timbul perang saudara, Sultan Haji minta bantuan VOC yang mengirim tentara Kompeni untuk menangkap Sultan Ageng dan menyekapnya di Batavia di mana dia meninggal tahun 1692.

Syeikh Yusuf dengan 4.000 tentara Bugis memihak Sultan Ageng, turut bergerilya dengannya, juga ditangkap oleh Belanda. Pada bulan September 1682, Syeikh Yusuf bersama dua istrinya, beberapa anak, 12 murid, dan sejumlah perempuan pembantu dibuang ke Ceylon, kini Sri Lanka. Di Sri Lanka dia menulis karya-karya keagamaan dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis. Dia aktif menyusun sebuah jaringan Islam yang luas di kalangan para haji yang singgah di Sri Lanka, di kalangan para penguasa, dan raja-raja di Nusantara. Haji-haji itu membawa karya-karya Syeikh Yusuf ke Indonesia, dan karena itu bisa dibaca di negeri kita sampai sekarang.

Mengingat aktivitas Syeikh Yusuf tadi, VOC Belanda khawatir dampaknya dalam bidang agama dan politik di Nusantara. Keadaan bisa bergolak terus. VOC lalu mengambil keputusan memindahkan Syeikh Yusuf ke Kaapstad di Afrika Selatan. Dalam usia 68 tahun, Syeikh Yusuf beserta rombongan pengikutnya terdiri dari 49 orang tiba di Tanjung Harapan tanggal 2 April 1694 dengan menumpang kapal Voetboog. Di tengah perjalanan badai besar menghantam sehingga membuat nakhoda Belanda, Van Beuren, ketakutan kapalnya akan tenggelam, tapi berkat wibawa dan karisma Syeikh Yusuf dia bisa tenang dan selamat sampai di Kaapstad. Akibat pengalaman tersebut, sang kapten memeluk agama Islam dan sampai
sekarang keturunannya yang semua Muslim masih ada di Afrika Selatan.

Syeikh Yusuf ditempatkan di Zandvliet, desa pertanian di muara Eerste Rivier, dengan tujuan supaya tidak bisa berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang telah datang lebih dahulu. Lokasi itu di Cape Town sekarang dikenal sebagai Macassar. Bersama ke-12 pengikutnya, yang dinamakan imam-imam, Syeikh Yusuf memusatkan kegiatan pada menyebarkan agama Islam di kalangan budak belian dan orang buangan politik, juga di kalangan orang-orang Afrika hitam yang telah dibebaskan dan disebut Vryezwarten.

MENYAMPAIKAN syiar Islam, memelihara dan mempertahankan agama Islam di kalangan golongan Muslim merupakan perhatian dan aktivitas Syeikh Yusuf di Afrika Selatan. Sebagai sufi, dia mengajarkan tarekat Qadiniyyah, Shattariyyah, dan Rifaiyyah di kalangan Muslim Afrika Selatan. Dia meninggal dunia tanggal 22 Mei 1699 dan dimakamkan di Faure, Cape Town. Makamnya terkenal sebagai Karamah yang berarti 'keajaiban, mukjizat'. Sultan Gowa meminta kepada VOC supaya jenazah Syeikh Yusuf dibawa ke Tanah Airnya. Dia tiba di Goa 5 April 1705 dan dimakamkan kembali di Lakiung. Seperti makamnya di Faure, makamnya di Makkasar juga banyak diziarahi orang. Fakta bahwa Syeikh Yusuf memiliki dua makam menimbulkan spekulasi. Sejarawan De Haan percaya Belanda mengirimkan kerangka Syeikh Yusuf ke Makassar dan karena itu makamnya di Faure telah kosong. Di pihak lain, tulis Prof Azyumardi Azra dalam makalahnya, orang-orang Muslim di Cape percaya hanyalah sisa sebuah jari tunggal dari Syeikh Yusuf yang dibawa kembali. Spekulasi ini mungkin ada benarnya mengingat sebuah legenda di Goa mengenai jenazah Syeikh Yusuf yang dimakamkan kembali. Menurut legenda, pada mulanya hanya sejemput abu yang mungkin sisa-sisa jarinya yang dibawa dari Afrika Selatan. Tapi abu itu bertambah terus sampai mengambil bentuk seluruh badan penuh Syeikh Yusuf tatkala tiba di Goa. Dr Nabilah Lubis berkata kepada saya, soalnya adalah apakah yang tiba di Goa, kerangka atau keranda?

Syeikh Yusuf adalah seorang sufi. Pada awal tahun 1960-an ketika membaca soal mistik di Jawa dalam disertasi Dr Schmidt yang diajukan di Universitas Geneva saya mendapat keterangan tasawuf mana yang tidak diterima oleh Islam. Yaitu yang mengandung panteisme, yang menganggap diri sendiri adalah Tuhan, ana'l Haq, itu ditolak. Azyumardi Azra menulis Syeikh Yusuf menolak konsep wahdah al-wujud. Dalam analisis terakhir: man is man and God is God. Karena HAMKA menulis buku Tasawuf Indonesia saya bertanya kepadanya apakah dia sufi, dan pada awal tahun 1960-an Buya menjawab dalam bahasa Minang: Ha indak, ambo ma ngaji-ngaji sajo. HAMKA menyangkal dirinya seorang sufi.

Memang susah menjelaskan tentang sufi apabila orang tidak menjalankannya dengan bergabung dalam sebuah tarikat yang dipimpin oleh syeikh. Sebagai orang awam, tentu terlebih-lebih saya tidak punya bakat dan persediaan untuk memahami sufi dan ajarannya. Kalangan yang mengetahui berkata sufi-ism adalah sama dengan akhlak yang baik.

Siapa yang berusaha hidup dengan akhlak baik, tidak mengundurkan diri dari masyarakat ramai, tetap aktif dalam urusan dunia, mengindahkan sepenuhnya suruhan dan larangan Tuhan, dia itu sesungguhnya mirip sufi. Bagaimanapun juga, Syeikh Yusuf al-Makassari, Pahlawan Nasional, adalah seorang sufi.

H Rosihan Anwar Wartawan Senior Tinggal di Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0504/27/Jendela/1704367.htm

(2)
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
399. Wasilah dan Paradigma Ilmu

Wasilah berarti perantara. Orang-orang Arab pada zaman jahiliyah ada yang menyembah berhala, namun ada pula yang tidak menyembah berhala melainkan menjadikan berhala itu sebagai wasilah dalam menyembah Allah. Masyarakat Arab pra-Islam sudah mengenal Allah, buktinya ayahanda Nabi Muhammad SAW bernama Abdullah yang berarti hamba Allah. Pengenalan kepada Allah ini bersumber dari Nabi Isma'il AS, nenek moyang bangsa Arab. Hal berhala yang dijadikan wasilah ini disindir dalam Al Quran:
-- AWLaK ALDZYN YD'AWN YBTGHWN ALY RBHM ALWSYLT (S. BNY ASRAaYL, 57), dibaca: Ula-ikal ladzi-na yad'u-na yabtaghu-na ila- rabbihim wasilah (S. Bani- Isra-i-l), artinya:
-- Mereka yang berdoa mencari wasilah kepada Tuhan mereka (17:57).

Biasanya pula ada yang menjadikan alim-ulama yang telah wafat sebagai wasilah untuk berkomunikasi dengan Allah, tidak terkecuali di Indonesia, khususnya di tanah Makassar ini. Masyarakat Sulawesi Selatan dan dari daerah-daerah lain banyak yang datang menziarahi makam Allahu yarham Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka, seorang ulama besar, menulis banyak buku, mujahid (pejuang) kemerdekaan berkaliber internasional, yang berjihad bergerilya melawan Belanda di Banten dan Ceribon, tetap berjuang di Ceylon dan di Tanjung Pengharapan, yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional Afrika Selatan kemudian secara terlambat sekali disusul oleh Pemerintah Republik Indonesia yang mengangkatnya pula menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Diantara para peziarah ke makam itu tidak kurang yang menjadikan Syaikh Yusuf sebagai wasilah kepada Allah.

Di Indonesia ini dalam bidang politik ekonomi wasilah inipun dipraktekkan juga. Sepatu yang diproduksi di tanah Pasundan dikirim dahulu ke Sungapura, lalu dicap di sana: made in Singapore, kemudian dimasukkan lagi di Indonesia barulah konsumen di Indonesia tergiur membelinya. Dalam hal ini Singapura dijadikan wasilah. Rencana pemerintah membuka hubungan dagang dengan Israel, karena ingin menjadikan Israel sebagai wasilah untuk menarik minat inverstor asing. Dengan menjadikan bangsa asing (baca: Singapura dan Israel) sebagai wasilah dalam bidang politik ekonomi menunjukkan kebanyakan dari masyarakat kita masih bermental jajahan yang disebut kompleks rendah diri (inferiority complex). Apakah dengan menyewa lembaga asing PwC yang upahnya cukup tinggi (ini juga dari uang rakyat) disebabkan pula oleh mental jajahan tersebut, ini perlu direnungkan baik-baik!

***

Fuad Rumi menanggapi tulisan saya dalam kolom ini Seri 397 tentang Isra-Mi'raj, tatkala bertemu di Ruang Tunggu Rektor UMI beberapa hari yang lalu. Ia tidak dapat menerima seluruhnya bahwa
peristiwa Isra-Mi'raj tidak dapat didekati secara ilmiyah. Dalam Seri 397 itu saya mengemukakan bahwa orang tidak dapat melakukan pendekatan ilmiyah terhadap Isra-Mi'raj.

Ilmu berasal dari akar kata yang dibentuk oleh 'ain, lam, mim artinya tahu. Dalam bahasa Indonesia dibedakan antara ilmu dengan pengetahuan. Ilmu adalah hasil olahan dari sumber informasi, sedangkan pengetahuan hanya sekadar endapan dari sumber informasi tanpa olahan. Olahan adalah sebuah proses dalam qalbu manusia. Ada tiga sektor dalam qalbu yaitu shudr, fuad dan hawa. Sumber informasi yang diolah oleh shudr hasilnya disebut ilmu tasawuf, sumber informasi yang diolah oleh fuad disebut ilmu pengetahuan (science) dan ilmu filsafat, sedangkan sumber informasi yang diolah oleh hawa disebut naluri (instinct). Yang terakhir ini dimiliki juga oleh binatang.

Ketiga komponen dalam qalbu manusia itu untuk setiap orang berbeda-beda kecerdasannya. Kecerdasan emosi dari shudr diukur dalam emotional quotient (EQ), dan kecerdasan berpikir dari fuad diukur dalam intelligence quotient (IQ). Sedangkan kecerdasan naluri (instinct) sepanjang pengetahuan saya belum pernah diukur sehingga belum ada yang disebut instinct quotient.

Dalam diskusi kecil-kecilan itu saya katakan kepada Fuad Rumi bahwa memang ada kekurangan dalam uraian saya itu mengenai peristilahan ilmiyah. Sesungguhnya semua istilah ilmiyah yang saya tuliskan dalam bahasan itu seharusnya dibaca ilmiyah sekuler. Bahwa makhluk yang bernama sekuler itu bukan hanya terdapat dalam lapangan politik praktis belaka, melainkan terdapat dalam segala bidang yang memisahkan antara wahyu dengan akal serta iman dengan ilmu, alias dikhotomi antara dunia dengan akhirat. Ilmu sekuler (dari secula artinya dunia) bertumpu di atas paradigma filsafat positivisme, yaitu filsafat yang tanpa sadar diakui ataupun diterima oleh masyarakat ilmuan muslim untuk kelanjutan aktivitas keilmuan mereka. Positivisme adalah sistem filsafat yang hanya mengakui fakta-fakta dan fenomena yang positif, yaitu yang dapat dideteksi oleh pancaindera baik secara langsung maupun tak langsung melalui pertolongan instrumen dalam laboratorium. Dengan demikian ilmu sekuler hanya menerima sumber informasi dari dunia atau alam syahadah.

Saya katakan kepada Fuad Rumi bahwa peristiwa Isra-Mi'raj dapat saja didekati secara ilmiyah apabila paradigma ilmu itu diubah, bukan lagi bertumpu di atas filsafat positivisme yang hanya mengenal satu jenis sumber informasi. Paket ayat yang mula-mula diturunkan dimulai dengan: AQRA BASM RBK (S. AL'ALQ, 1), dibaca: Iqra' bismi rabbik (S. al'alaq), artinya: Bacalah atas nama Maha Pengaturmu (S. Segumpal darah, 96:1).

Yang dibaca itu adalah sumber informasi berupa ayat, yang terdiri atas ayat qawliyah (verbal), yaitu Kitab Suci Al Quran dan ayat kawniyah (kosmologis), yaitu alam syahadah (physical world). Alhasil dengan mengubah tumpuan ilmu dari paradigma filsafat positivisme menjadi paradigma S. Al 'Alaq, ayat 1, maka peristiwa Isra-Mi'raj dapatlah didekati secara ilmiyah. Walla-hu a'lamu bishshawa-b.

*** Makassar, 21 November 1999
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/1999/11/399-wasilah-dan-paradigma-ilmu.html

(3)
----- Original Message -----
From: Hamus R
To: buginese@yahoogroups.com
Sent: Saturday, June 24, 2006 2:04 PM
Subject: [BUGINESE] Syeich Yusuf, Terkenang dan dikenang di Afrika Selatan

Oleh: Hamus Rippin

Berbincang dengan beberapa orang asal afrika Selatan dari ras Negro dan ras Hindustan tentang Syeich Yusuf.
Beliau terkenal dan terkenang dihati orang-orang Afrika Selatan, tetapi mereka selaku orang biasa tidak tahu asal usul dan siapa beliau sebelum beliau berada di Afrika Selatan.
Pada satu kesempatan, saya duduk didalam satu restoran dikota Utrecht, Negeri Belanda. Saya sedang menunggu kereta api dari Amsterdam akan ke Belanda Selatan. Dekat perbatasan dengan Belgia. Saya pindah kereta dari Leiden di KITLP yang buntu di Utrecht dan saya akan melanjutkan perjalanan.
Duduk sambil menikmati secangkir kopi panas, untuk mengusir kantuk siang yang mulai mengganggu, dalam udara musim panas. Dari pintu restoran masuk sepasang sosok pria-wanita, bertubuh tegap prianya dan perawakan langsing yang wanita.
Keduanya berambut kriting, berkulit warna hitam mengkilap, sebagaimana warna kulit bangsa Negro. Yang pria berjalan sebelah kanan dari si wanita, tangan kirinya dililitkan pada pinggang pasangannya. Jalan berpapasan menuju kearah dimana saya duduk.
Lelakinya berjalan sambil menebarkan senyum, seakan-akan senyumnya ditujukan kepada saya. Tetapi saya tidak yakin senyumnya ditujukan pada saya, karena tempat duduk yang ada dibelakan saya masih duduk banyak orang. Apalagi orang yang baru masuk dimaksud, seingat saya tidak pernah bertemu saya sebelumnya.
Tetapi perkiraan saya tidak salah, dugaan saya tepat. Karena laki-laki yang berjalan bersama dengan wanita tadi, sudah berdiri didepan saya. Sedangkan bersebelahan meja, dimana saya duduk masih ada tempat kosong, kursinya sama sekali belum diduduki orang.
"Boleh kami duduk semeja dengan anda?" tanya laki-laki ini dengan nada sopan dalam bahasa Belanda logat Afrika-Selatan.
"Ya. Tentu saja, silahkan" jawab saya berbahasa Belanda pula.
Mereka berdua serta-merta duduk diatas kursi kosong berhadapan dengan saya. Disamping saya masih ada kursi kosong satu lagi.
"Anda dari Indië...?" tanya sang pria kepada saya.
"Ya. Saya dari Indonesia. Saya mengerti maksud anda. Indië nama Indonesia tempo dulu pada jaman kolonial. Sejak Indonesia merdeka, 17-8-1945 nama ini sudah diganti." Jawab saya. "Kalau anda asal dari negara mana ...... Afrika-Selatan, bukan?"
Laki-laki yang baru saja duduk, beranjak dari tempat duduk. Berdiri ditempat sambil menyedorkan tangan kepada saya, menyebut nama dan memperkenalkan nama pasangannya. Dan membenarkan dugaan saya, dia mengaku berasal dari Afrika-Selatan.
Mereka mulai memesan kopi pula, sebagaimana saya minum, kopi hitam tampa gula.
"Anda tahu? Pernah dengar nama Tuan Syeich Yusuf dari Indië?"
"Tentu saja. Saya tahu nama, asal dan sejarah beliau." Jawab saya.
Sebelum saya ceritera dan terlibat berbincang dengan mereka tentang "Siapa Syeich Yusuf sebelum berada di Afrika-Selatan" saya teringat kembali pertanyaan sama, pernah saya ditanyai oleh beberapa orang jemaah haji, rombongan haji berasal dari Afrika-Selatan ketika saya menunaikan ibadah haji ke dua tahun 1999, setelah menunaikan haji pertama tahun 1984.
Di Airport International Juddah. Saya pernah bermalam semalam diterminal pada tanggal 7-4-1999, menunggu pesawat KLM dari San'a, Jaman, yang akan menerbangkan kami ke Amsterdam, dimana beberapa orang rombongan jemaah haji asal Afrika-Selatan, juga menunggu pesawat yang akan terbang ke Cape Town melalui Ankara, Turki. Kami berbincang tentang beliau. Dan saya merasa senang selalu orang asal Sulawsi Selatan.
Kemudian saya ceritera tentang sejarah Syeich Yusuf yang pernah saya baca pada satu buku: Haji Syeich Muhammad Yusuf dilahirkan di Goa, Sulawesi-Selatan sekarang. Dulu kerajaan Goa, pada tahun 1623. Masa kecil beliau, ia belajar agama Islam di Goa.
Dalam usia muda beliau, pada tahun 1645 beliau berangkat menuju ke Bantam dengan maksud menuntut pengetahuan agama. Disana beliau tinggal menambah ilmu dan berkenalan Sultah Ageng Tirtayasa. Setelah beberapa lama beliau meninggalkan Bantam, melanjutkan perjalanan ke Aceh untuk menambah pengetahuan Agama Islam.
Di Aceh beliau belajar pada seorang ulama besar yakni Syeich Nurdin Ar Raniri. Masa itu Aceh diperintah seorang raja wanita, yakni Ratu Tadju'l Alam Shafiayatu'ddin Syah.
Dari gurunya di Aceh beliau mendapat gelar dalam tariqat Al-Qadariyah, dari Aceh beliau meneruskan perjalanan menuntut ilmu agama Islam ke Yaman. Semasa di Yaman, beliau belajar pada seorang ulama besar yang bernama syeich Abi Abdillah Muhammad Abdul-Bagi dalam tariqah Naqsyabandiyah. Selanjutnya masih di Yaman beliau belajar ke Zubaid, berguru pada Sajid Ali mempelajari tariqat " Assadah Al-Baalawiyah". Setelah pelajaran beliau selesai di Yaman, beliau meneruskan perjalanan ke Makkah menunaikan ibadah haji. Karena dua negeri ini berjiran.
Kemudian selanjutnya beliau meneruskan perjalanan ke Medinah Al Munawwarah, disana beliau belajar dan menerima ijazah dalam tariqah Syattariyah dari gurunya Syeich Burhanuddin Al Mulla. Setelah dari Medinah beliau meneruskan perjalanan ke negeri Syam (Syria). Disana beliau belajar dan memperdalam ilmu agama, ilmu tariqat pada guru yang bernama Abu'l Barakat Ayyub bin Ahmad. Dari gurunya beliau ini, beliau mendapatkan gelar "Taju'l Chalwati Hidayatu Lah". Setelah beliau mendapat gelar yang disebut terakhir, beliau masih belajar pada beberapa guru tariqat. Setelah beliau lama keliling mengembara menimbah ilmu pengetahuan agama Islam, akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke negeri asalnya, di Goa.
Setelah Syeich Yusuf tiba dari perantauan di negeri kelahirannya Goa, perasaan yang beliau dambakkan dan dibayangkan selama dalam perantauan menuntut pengetahuan dibidang agama Islam, kenyataan yang beliau lihat saat itu sangat berbeda, jauh beda yang dibayangkan. Goa yang dibayangkan dan didambakkan sudah mempunyai kemajuan dibidang agama Islam, tenyata tidak demikian. Agama Islam yang beliau bayangkan sudah semarak, faktanya tidak begitu, malah menurut penilaian beliau sendiri mengalami kemunduran dari yang dibayangkan semula. Diharapkan selama dalam pengembaraan menuntut ilmu agama Islam kebiasaan lama yang sudah berlangsung turun-temuru sudah hilang, kenyataannya tidak demikian.
Minun ballo atau arak dan menyabung ayam makin menjadi-jadi. Kekecewaan beliau ini semakin mendalam setelah beliau melihat kenyataan, kerajaan Goa sudah taklut pada Kompeni Belanda (VOC) dibawah Spelman melalui satu perjanjian "Perjanjian Bungaya". Karena perjanjian ini, mengakibatkan Goa kehilangan daerah kekuasaannya Makassar. Setelah Perjanjian Bungaya ini Makassar sudah dibawah kekuasaan Kompeni Belanda. Mengenai hal tradisi dan kebiasaan lama ini, beberapa kali Syeich Yusuf menghadap baginda raja Goa, karena yang duduk ditahta pada saat itu adalah Sultan Hasanuddin. Beliau meminta kepada baginda Sultan, agar hal judi dan minum arak ini, atas kuasa baginda dapat merubahnya. Tetapi jawaban yang diterima beliau dari baginda bertentangan yang ditunggu. Karena Sultan menganggap kebiasaan-kebiasaan lama ini, baik untuk mempertahankan kesiap siagaan prajurit yang selaku berada ditengah-tengah gelanggang dan disekeliling baginda.
Jawaban yang beliau terima dari baginda Sultan Hasanuddin mengecewakan hati beliau. Akhirnya beliau memutuskan untuk meniggalkan negerinya Goa pergi merantau. Sementara beliau berada di Goa, sebelum beliau berangkat beliau sempat menammatkan beberapa murid. Kemudian beliau datang pamit pada baginda Sultan Hasanuddin untuk berangkat meninggalkan Goa. Negeri tujuannya adalah Bantam.

Sesampai beliau di Bantam, Syeich Yusuf mendapati sahabatnya dulu ketika beliau dalam perjalanan belajar, beliau singgah di Bantam. Kini sudah naik tahta, sudah dinobatkan menjadi raja "Sultan Ageng Tirtayasa" menggantikan ayahnya, yang berkuasa semasa Syeich Yusuf dulu berada disana ialah "Sultan Abul Ma'li Ahmad Rahmatullah".
Di Kerajaan Bantam Syich Yusuf merasa tenang dan lebih bebas mengembangkan ilmunya, dari hasil pelajaran beliau diberbagai negeri dan bereda-beda tempat. Ditempat baru beliau ini, beliau bertemu dan dapat bertukar pikiran dan mendiskusikan pendapat dengan berbagai orang yang berasal dari luar negeri, misalnya Turki, Syiria, Mesir, Mekkah dan banyak lagi negeri islam lainnya. Diantara sekian cabang ilmu agama Islam yang dimiliki Syeich Yusuf, ilmu tasawwuf yang lebih mendekatkan dirinya dengan SultanAgeng. Karena Sultan Ageng banyak perhatian kepada ilmu tasawwuf. Dengan demikian antara Sultan dan Syeich Yusuf keduanya menjadi dekat dan makin lama pengaruh Syeich Yusuf makin masuk kedalam istana, utamanya dibidang agama. Kedekatan Syeich Yusuf pada kraton, menjadikan beliau akrap pula dengan petera ke dua dari Sultan Ageng yakni Pangerang Purbaya. Mereka berdua dibawah Sultan Ageng bahu membahu memajukan Bantam, dan menjadi komando lapangan memimpin rakyat Bantam menghadapi kompeni Belanda, dimana salah seorang putera (Putera Mahkota) dari Sultan Ageng yakni Sultan Haji bersekutu dengan kompeni. Karena diadu kompeni Belanda berperang melawan ayahandanya. Peperangan antara Sultan Ageng dengan puteranya Sultan Haji tidak dapat dielakkan. Jadi rakyat Bantam juga jelas terbagi. Ada yang berpihak kepada sultan Haji yang bersekutu dengan kompeni Belanda, tetapi lebih banyak yang berpihak kepada Sultah Ageng. Perpecahan antara ayah dan anak adalah usaha kompeni Belanda yang berhasil. Kompeni Belanda memberikan dukungan kepada Sultan Haji untuk melemahkan kekuatan ayahnya. Sultan Ageng Tirtayasa dibantu dengan puteranya Pangeran Purbaya dan Syeich Yusuf bersama dengan rakyat Bantam yang sebahagian besar bersimpati kepada Sultan Ageng melakukan perlawanan, yang pada khakikatnya melawan kompeni Belanda. Namun akhirnya Sultan tua dikalahkan oleh Sultan Haji, puteranya. Setelah Bantam dikalahkan kompeni, Syeich Yusuf dianggap kompeni Belanda selaku biangkeladi perlawanan sengit dari rakyak Bantam dan Syeich Yusuf mesti dibuang jauh. Beliau dibuang ke Ceylon (Srilangka) sekarang.

Kehadiran Syeich Yusuf ditempatnya yang baru, mulanya tidak membangkitkan minat beliau lagi melakukan perlawanan politik terhadap kompeni Belanda. Kehidupan beliau ditempat pengasingan mulanya mengalami tekanan bathin, hingga beliau kembali menekuni diri dalam ilmu tasawwuf. Karena tekanan bathin ini membawa beliau menekuni ilmu agama Islam dan menulis buku-buku. Beliau tidak lama mengalami kebekuan ditempat baru ini, kemudian terjadi lagi hubungan antara beliau dengan masyarakat.
Selaku orang berilmu luas, berpengalaman banyak dan berpengatahuan agama mendalam, beliau berhubungan lagi dengan seorang ulama tasawwuf yang berkebangsaan Hindustan bernama Syeich Ibrahim bin Michan.
Tidak berapa lama beliau di Ceylon, akhirnya beliau menyadari ditempatnya ini sangat strategis, karena beliau tetap punya hubungan dengan Goa, Aceh dan Bantam.
Melalui jemaah haji yang kapalnya selalu singgah di Ceylon setiap berangkat dan pulang, Syeich Yusuf tetap mengirim berita-berita ke negeri-negeri yang disebutkan diatas. Mengingat tempat barunya ini selaku jembatan antara Mekkah dan negeri-negeri disebelah Timur, malah beliau makin berkesempatan melakukan kordinasi untuk mengadakan perlawanan kepada kompeni Belanda. Ditempat barunya berdatangan orang-orang dari berbagai penjuru untuk belajar ilmu agama pada beliau, termasuk orang-orang Hindustan datang belajar dibidang tasawwuf pada Syeich Yusuf.
Akhirnya sampai berita kesohor kepada Kaisa Aurangzeh Alamgir yang memerintah pada tahun 1659-1707. Baginda Sultan dikenal sebagai seorang Sultan yang mencintai ilmu agama dibidang tasawwuf. Mengetahui hal tentang Syeich Yusuf, baginda meminta kepada pemerintah kompeni Belanda agar Syeich Yusuf dijaga dan dipelihara kehormatan pribadinya. Pribadinya jangan dihinakan selaku seorang yang berpengetahuan mendalam.
Pemerintah kompeni Belanda jadi gerah, menjadi pusing kepada Syeich Yusuf, di Bantam bergabung dengan Sultan melakukan perlawanan, di Ceylon cepat mendapatkan perhatian masyarakat, utamanya pemuka agama Islam.
Turunnya Sultan Ageng Tirtayasa dari tahta, bukan berarti perlawanan rakyat Bantam terhadap kompeni Belanda langsung berakhir. Pangeran Purbaya tetap memimpin rakyat Bantam melawan kompeni Belanda. Namun akhirnya Pangeran Purbaya juga menyatakan diri menyerah kepada kompeni Belanda.
Untuk menerima keris penyerahan dari Pangeran Purbaya, kompeni Belanda mengirim Untung Surapati untuk menemui Pangeran Purbaya menerima keris penyerahan. Tetapi selain Untung Surapati kompeni Belanda mengirim pula seorang opsir Belanda. Hal ini, Untung Surapati merasa tersinggung. Karena perasaan tersinggung ini, malah Untung Surapati balik melakukan perlawanan kepada Kompeni. Untung Surapati memberontak kepada kempeni Belanda.
Dalam tahun 1686 raja Iskandar dari Minangkabau melakukan pertemua rahasia dengan, Sultan Aceh, susuhsuhan Mataram, raja Kalimantan, dan Andalas Timur untuk membentuk serikat perlawanan Islam melawan kompeni Belanda.
Perkembanan baru ini mengancam kedudukan kompeni Belanda di Bantam. Kejadian ini terpikir oleh Kompeni siapa otak perkembangan baru ini, pasti bukan di Jawa, Sumatera, atau Sulawesi, pasti dari jauh memberikan kordinasi, pasti di Ceylon, karena gerakan ini dari kalangan Islam. Dan sumber pergerakan ini melalui haji, haji yang pulang dari Mekkah yang singgah di Ceylon, pesan diterima dari Ceylon selanjutnya untuk diberitakan, kabar ini disebarkan keberbagai negeri kerajaan Islam di Timur.
Akhirnya pemerintah kompeni Belanda memustukan memindahkan Syeich Yusuf dari Ceylon ke Afrika-Selatan. Disana meninggal pada tahun 1699 dan jenazahnya dikembalikan ke Goa, tanah leluhurnya dan kepada keluarganya untuk dikebumikan di negeri Goa selaku negeri asal tempat kelahiran beliau. Pusarah pemakaman beliau berada di Goa, disekitar kota Makassar di Sulawesi, Indonesia.

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment