Advertising

Sunday 31 October 2010

[wanita-muslimah] Meneguhkan Solidaritas Sosial

 

Refleksi : Apakah perlu adanya solidaritas atau juga yang disebut gotong royong? Kalau perlu adanya solidaritas maka tentu sekali telah dikembangkan oleh pihak berkuasa agar masyarakat bisa saling bantu-membantu dan bahu-membahu dalam keadaan suka dan duka. Tetapi justru karena dianggap berbahaya bagi kepentingan kaum berkuasa maka hal ini tidak pernah keluar dari mulut penguasa maupun dalam aplikasi politik praktisnya untuk solidaritas dikembangkan. Apa lagi yang disebut solidaritas internasional, samasekali terhapus dari kamus buah bibir mayarakat. Benarkah demikian?

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/28/178219/68/11/Meneguhkan-Solidaritas-Sosial

Meneguhkan Solidaritas Sosial

Kamis, 28 Oktober 2010 00:00 WIB

BANGSA kita sedang diterpa beragam bencana. Belum lalai dengan banjir bandang di Wasior, Papua, dan banjir Jakarta yang membuat lumpuh transportasi, kita sudah dirundung duka dengan gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatra Barat, serta meletusnya Gunung Merapi di Magelang dan Yogyakarta. Salah satu korban dari meletusnya Gunung Merapi adalah Mbah Marijan, tokoh karismatik yang menjadi juru kunci Gunung Merapi sejak 1982. Juru kunci yang dikenal dermawan itu telah tiada, meninggalkan jejak kepada kita ihwal kepedulian menjaga alam raya.

Di tengah terpaan bencana saat ini, menegakkan solidaritas sosial merupakan kebajikan utama. Menunggu kebijakan negara yang kerap lambat menangani bencana bisa membuat saudara kita semakin terpuruk merasakan bencana. Warga bangsa harus bersatu padu menggalang solidaritas sehingga bisa memberikan senyum bahagia. Gerakan masyarakat sipil harus segera tanggap sehingga mampu melakukan konsolidasi sosial dalam merekrut para dermawan untuk berbagi. Pada masyarakat Indonesia sudah tertanam dalam sanubarinya untuk bersama-sama meringankan beban saudara yang terkena musibah.

Dalam konteks kemanusiaan, tali persaudaraan juga menjadi tali kasih sayang dengan sesama. Jangan sampai kasih sayang terputus antarsesama. Terputusnya kasih sayang dengan sesama merupakan kabar buruk ihwal persatuan dan persaudaraan yang semakin runtuh. Tanpa kasih sayang, persatuan hanya slogan yang tak berarti apa-apa. Tanpa kasih sayang, persaudaraan justru akan menjadi ajang permusuhan. Tanpa kasih sayang, manusia akan menghamba dalam kerusakan dan kebrutalan.

Solidaritas sosial itu juga harus ditegakkan kaum elite politik kita. Satu elite dengan elite lain harus bersatu padu menggerakkan politiknya dalam menciptakan solidaritas sosial kita. Dengan catatan, jangan sampai bencana demikian ini dimanfaatkan untuk kepentingan politis. Bencana harus disikapi dengan sikap kemanusiaan, membela rasa kemanusiaan kita, bukan ajang kampanye politik. Itu penting ditegaskan karena elite kita saat ini justru saling mengumbar pernyataan yang kerap merugikan.

Minimnya solidaritas

Politisi kita gampang terbuai oleh fitnah yangt tak pernah usai. Ironisnya, fitnah politik yang terjadi malah dilestarikan sebagai ajang politik citra yang begitu didamba. Semakin tegang konflik politik, semakin sukses politik citra dijalankan. Perilaku politik yang demikian itu sangat dinikmati elite politik kita sehingga jalinan solidaritas sosial seolah 'sengaja' diputus untuk menikmati pencitraan. Tak lain, pencitraan itu sebagai salah satu modal politik untuk meraih keuntungan besar.

Minimnya solidaritas sosial elite politik kita menjadikan kondisi sosial masyarakat merunyam. Tidak sedikit konflik sosial horizontal akibat elite politik kita yang gemar mengumbar fitnah. Konflik yang terjadi di berbagai tempat ibadah merupakan bukti elite kita gampang larut dalam keterpecahan. Sementara itu, umat dan rakyat yang di bawah menjadi korban lahirnya berbagai konflik horizontal. Kita lihat konflik ketika reformasi bergulir, Poso yang bergolak, Ahmadiyah yang selalu diburu, Papua dan Maluku yang masih menyimpan bara, dan rakyat Sidoarjo yang tak kunjung mendapatkan keadilan.

Beragam konflik horizontal yang tak kunjung usai itu menjadikan bangsa Indonesia semakin terpuruk menapaki masa depannya. Indonesia tertatih-tatih mengemudikan kapal peradabannya sehingga selalu jatuh berkeping-keping. Lihatlah deretan korupsi yang terus masuk penjara, mafia hukum yang semakin berkeliaran, kemiskinan yang semakin parah, dan maling republik yang terus menggerogoti kekayaan negara. Pendidikan kita juga dijalankan dengan manajerial yang amburadul. Kehidupan yang berjalan dengan gila-gilaan menyembah hedonisme-materialis. Budaya instan yang makin digemari dan kesejatian yang makin ditinggalkan.

Momentum tepat

Di tengah suramnya wajah bangsa Indonesia inilah, penduduk bangsa ini selaiknya merefleksikan diri untuk membangkitkan Indonesia menuju peradaban yang lebih beradab. Bencana menjadi momentum tepat yang bisa digunakan sebagai media efektif dalam menggerakkan perubahan sosial (taghayyur al-ijtima'iyyah) dan kesepakatan nasional (mu'ahadah wathaniyyah) untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) akan kebangsaan kita.

Merajut persaudaraan (brotherhood) dalam konteks bangsa Indonesia meliputi trilogi ukhuwah (persaudaraan); ukhuwwah diniyyah (persaudaraan di antara orang-orang seiman), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan sesama anak bangsa), ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan sesama anak manusia). Trilogi persaudaraan itu untuk membangun sepakat dalam ketidaksepakatan (agree in disagree) di tengah bangsa Indonesia yang beragam. Keberagaman kita jadikan sebagai potensi membangun Indonesia yang lebih maju dan beradab dengan beragam potensi yang dimiliki bangsa. Dalam konteks keberagamaan, solidaritas sosial bisa menumbuhkan kepekaan sosial untuk meneguhkan persaudaraan dalam menjaga Indonesia.

Solidaritas sosial ini sangat penting bagi Indonesia untuk menapaki kebangkitan bangsa. Menurut A Malik Madaniy (2010: 132), kita harus menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan li al-'alamin) (QS: 21: 107). Rahmat bukan sekadar untuk umat manusia an sich, melainkan juga mencakup berbagai makhluk yang lain. Membatasi rahmat hanya untuk umat manusia merupakan bentuk pengingkaran terhadap prinsip dasar tersebut. Dengan demikian, rahmat yang dibawa tidak harus menjadi monopoli komunitas tertentu, tetapi menjadi hak semua umat manusia tanpa membedakan jenis agama, ras, suku, dan negara.

Bangkit di tengah keterpurukan dengan limpahan rahmat kasih sayang antarwarga bangsa tanpa harus membatasi komunitas, ras, suku, dan agama akan menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang bangkit menuju pencerahan. Kasih sayang yang memantul menjadi modal paling fundamental dalam membangun sebuah peradaban. Peradaban yang dibangun dengan fondasi kebencian hanya akan menghadirkan konflik, perang dan pembunuhan antarsaudara. Kasih sayang membangun peradaban yang saling memberi saudara, bahkan bisa mengalahkan dirinya sendiri. Wajah peradaban yang penuh kasih sayang inilah yang dalam sejarah peradaban dunia telah menghadirkan pencerahan.

Berulang-ulang Bung Karno berujar bahwa persatuan akan menjadikan Indonesia terus bangkit. Saatnya kita bersatu menghadapi berbagai bencana bangsa.

Oleh Muhammadun AS
Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes) Jakarta

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
MARKETPLACE

Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment