Kaum Marginal di Bedeng Ancol (1)
Potret Kemiskinan yang Tak Pernah Buram
HINGGA tahun 1970-an di tengah Kota Bandung berdiri sebuah pemukiman tempat bernaungnya rakyat bawah, kaum marginal. Orang menyebutnya "Panampungan Galandangan Bedeng Ancol". Maklum, sebagian besar penghuni di sana adalah mereka yang terkena razia Tibum saat mengais rejeki di pinggiran jalan. Agus, adalah salah seorang yang sempat bermukim di sana. Ia menuturkan kisah hidupnya selama itu seraya mengenang Bedeng Ancol yang kini telah tiada. Ditulis kembali oleh Denny Kurniadi.
MALAM pekat di bedeng Ancol. Tak ada lagi suara sahdu Sam D'lloyd dan lengkingan mesra Yon Koeswoyo. Atau setidaknya suara waditra kiliningan dari radio. Semuanya terbinasakan oleh gemuruh air Sungai Cikapundung. Hujan lebat sejak sore tadi membangkitkan aliran air begitu deras dan ganas. Penghuni bedeng tertegun dalam kesunyian di setiap kamar petak berukuran tiga kali empat meter. Bedeng berdinding bilik beralas tanah. Gubuk sunyi tempat mereka melepas lelah setelah seharian pontang panting mencari sesuap nasi.
Ibu-ibu bedeng beranjak tidur. Istri-istri dari suami-suami yang hanya seorang kuli angkut di pasar Cilentah atau tukang becak di Karapitan. Juga seorang pengemis di trotoar Jalan Mochammad Ramdhan dan tukang parkir di sepanjang Jalan Pungkur. Selebihnya kalau bukan pekerja serabutan, ya pengangguran.
Mereka, ibu-ibu itu, tak pernah menyerah pada keadaan. Berperang melawan ketiadaan supaya anak-anaknya tak mati kelaparan. Mereka tak bisa berharap banyak pada suami-suaminya. Beberapa ibu menggelar tikar di pinggiran Pasar Cilentah jualan rampe, sayuran dan goreng-gorengan. Ibu-ibu lain berkeliling menjajakan jasanya sebagai tukang cuci. Hanya satu dua ibu saja yang mampu membuka warung dalam bedeng. Warung kecil-kecilan bermodal sepeser dua peser. Potret kemiskinan di bedeng Ancol itu tak pernah buram.
Rumah-rumah petak di bedeng Ancol berjajar dari selatan ke utara, dari pinggir Jalan Cilentah hingga pinggiran Sungai Cikapundung. Saling berdempetan. Tak ada ventilasi, kecuali dari jendela berukuran 40 hingga 70 cm. Pengap dan lembab, selembab wc umum yang berdiri tegar di tengah pelataran bedeng. Bau pesing adalah parfum segar keseharian mereka.
Malam semakin hening. Seorang perempuan tua duduk di bibir risbang yang reyot, dalam kamar bedeng yang pengab itu. Sorot matanya terlempar jauh entah kemana. Sesekali bibirnya yang keriput bergetar seolah ada kalimat yang ia ucapkan. Lalu, ia melirik sesosok tubuh yang sedang tergolek lemah. Tubuh Abah, suaminya yang dulu gagah dan berwibawa, kini terkulai karena serangan struk akut.
Abah adalah bekas pegawai Nirom (kini RRI) yang kemudian bekerja sebagai sukarelawan jawatan sosial dengan jabatan kepala panti di bedeng Ancol itu. Penampungan kaum kecil yang dicap sebagai perusak pemandangan kota.
Emak, sejak Abah jatuh sakit harus memeras keringat demi mempertahankan hidupnya dan juga cucu-cucunya. Emak menjadi pedagang sayuran di emperan Pasar Cilentah. Subuh ia berangkat untuk kembali petang hari. Rupiah yang didapat tak seberapa hanya cukup untuk makan hari itu. Begitulah keseharian Emak, tanpa derai air mata.
"Seharusnya Emak tidak begitu", kata penghuni bedeng suatu saat itu. "Abah 'kan kepala bedeng, minta saja ke pemerintah sekadar uang santunan atas jasa-jasa Abah yang telah bertahun-tahun membina kerukunan di bedeng Ancol ini. Jasa Abah sangat besar. Ia tidak hanya jadi sesepuh, tapi mampu memberdayakan penghuni menjadi orang yang bermartabat."
Orang-orang yang tadinya sekadar jadi pengemis atau gelandangan, Abah rangkul dan mencarikan solusinya agar meninggalkan pekerjaannya itu. Yang berminat jadi tukang becak, Abah daftarkan ke Babah Bandar becak, maka jadilah tukang becak. Begitu pun yang memiliki bakat menjahit, sol sepatu dll., berkat Abah mereka menekuni pekerjaan barunya itu, sehingga mereka punya penghasilan yang lumayan untuk bertahan hidup.
Sebetulnya Emak pun ingin seperti itu. Abah hendaknya mengurus surat-surat identitas siapa tahu dapat uang santunan. Tapi Abah selalu menolak. "Jadi sukarelawan, ya sukarela, jangan minta imbalan apa-apa. Sesungguhnya itu lebih baik buatku," ujar Abah ditirukan Emak.
Kalau sudah begitu Emak tak kuasa melawan. Di mata Emak, Abah adalah seorang aktivis kemanusiaan yang idealis, meski akhirnya jatuh miskin.
Selain kemiskinan yang mendera hidupnya, Emak juga sedang dilanda kegelisahan. Ia teringat anak semata wayangnya, Amih yang berada di Cirebon. Emak tahu kalau Amih sedang menghadapi masalah berat dalam rumahtangganya. Menantunya yang berpangkat kolonel mendua hati menikahi perempuan lain. Emak hanya mampu menutup mulutnya. Tak kuasa berbicara meski sekadar memaki mencari tahu apa kekurangan anaknya.
Amih, perempuan sempurna. Seorang istri yang mengerti siapa suaminya, kata seorang pemuda bertubuh tinggi yang muncul dari balik pintu. Lalu duduk disamping Emak.
Emak tersenyum. Sorot matanya tetap kosong. "Kalau saja ayahmu tidak nyeleweng, mungkin tidak berantakan begini," gumam Emak.
"Anak-anak selalu jadi korban keegoan orangtua," ujar pemuda yang bernama Agus, cucu Emak.
Pemuda itu adalah saksi hidup tangisan Amih, ibunya. Ia tahu persis pertengkaran yang terjadi antara kedua orangtuanya. Dasyat memang. Namun ia dan juga adik-adiknya hanya bisa menatap redupnya rembulan dibalik dedaunan. Kebahagiaan itu terlepas jauh ke atas awan. Pemuda itu marah tapi rindu akan tangisan bunda tersayang. Rindu akan tatapan nanar adik-adik tercinta, namun tak pernah benci garangnya ayah terhormat.
Ibu-ibu bedeng beranjak tidur. Istri-istri dari suami-suami yang hanya seorang kuli angkut di pasar Cilentah atau tukang becak di Karapitan. Juga seorang pengemis di trotoar Jalan Mochammad Ramdhan dan tukang parkir di sepanjang Jalan Pungkur. Selebihnya kalau bukan pekerja serabutan, ya pengangguran.
Mereka, ibu-ibu itu, tak pernah menyerah pada keadaan. Berperang melawan ketiadaan supaya anak-anaknya tak mati kelaparan. Mereka tak bisa berharap banyak pada suami-suaminya. Beberapa ibu menggelar tikar di pinggiran Pasar Cilentah jualan rampe, sayuran dan goreng-gorengan. Ibu-ibu lain berkeliling menjajakan jasanya sebagai tukang cuci. Hanya satu dua ibu saja yang mampu membuka warung dalam bedeng. Warung kecil-kecilan bermodal sepeser dua peser. Potret kemiskinan di bedeng Ancol itu tak pernah buram.
Rumah-rumah petak di bedeng Ancol berjajar dari selatan ke utara, dari pinggir Jalan Cilentah hingga pinggiran Sungai Cikapundung. Saling berdempetan. Tak ada ventilasi, kecuali dari jendela berukuran 40 hingga 70 cm. Pengap dan lembab, selembab wc umum yang berdiri tegar di tengah pelataran bedeng. Bau pesing adalah parfum segar keseharian mereka.
Malam semakin hening. Seorang perempuan tua duduk di bibir risbang yang reyot, dalam kamar bedeng yang pengab itu. Sorot matanya terlempar jauh entah kemana. Sesekali bibirnya yang keriput bergetar seolah ada kalimat yang ia ucapkan. Lalu, ia melirik sesosok tubuh yang sedang tergolek lemah. Tubuh Abah, suaminya yang dulu gagah dan berwibawa, kini terkulai karena serangan struk akut.
Abah adalah bekas pegawai Nirom (kini RRI) yang kemudian bekerja sebagai sukarelawan jawatan sosial dengan jabatan kepala panti di bedeng Ancol itu. Penampungan kaum kecil yang dicap sebagai perusak pemandangan kota.
Emak, sejak Abah jatuh sakit harus memeras keringat demi mempertahankan hidupnya dan juga cucu-cucunya. Emak menjadi pedagang sayuran di emperan Pasar Cilentah. Subuh ia berangkat untuk kembali petang hari. Rupiah yang didapat tak seberapa hanya cukup untuk makan hari itu. Begitulah keseharian Emak, tanpa derai air mata.
"Seharusnya Emak tidak begitu", kata penghuni bedeng suatu saat itu. "Abah 'kan kepala bedeng, minta saja ke pemerintah sekadar uang santunan atas jasa-jasa Abah yang telah bertahun-tahun membina kerukunan di bedeng Ancol ini. Jasa Abah sangat besar. Ia tidak hanya jadi sesepuh, tapi mampu memberdayakan penghuni menjadi orang yang bermartabat."
Orang-orang yang tadinya sekadar jadi pengemis atau gelandangan, Abah rangkul dan mencarikan solusinya agar meninggalkan pekerjaannya itu. Yang berminat jadi tukang becak, Abah daftarkan ke Babah Bandar becak, maka jadilah tukang becak. Begitu pun yang memiliki bakat menjahit, sol sepatu dll., berkat Abah mereka menekuni pekerjaan barunya itu, sehingga mereka punya penghasilan yang lumayan untuk bertahan hidup.
Sebetulnya Emak pun ingin seperti itu. Abah hendaknya mengurus surat-surat identitas siapa tahu dapat uang santunan. Tapi Abah selalu menolak. "Jadi sukarelawan, ya sukarela, jangan minta imbalan apa-apa. Sesungguhnya itu lebih baik buatku," ujar Abah ditirukan Emak.
Kalau sudah begitu Emak tak kuasa melawan. Di mata Emak, Abah adalah seorang aktivis kemanusiaan yang idealis, meski akhirnya jatuh miskin.
Selain kemiskinan yang mendera hidupnya, Emak juga sedang dilanda kegelisahan. Ia teringat anak semata wayangnya, Amih yang berada di Cirebon. Emak tahu kalau Amih sedang menghadapi masalah berat dalam rumahtangganya. Menantunya yang berpangkat kolonel mendua hati menikahi perempuan lain. Emak hanya mampu menutup mulutnya. Tak kuasa berbicara meski sekadar memaki mencari tahu apa kekurangan anaknya.
Amih, perempuan sempurna. Seorang istri yang mengerti siapa suaminya, kata seorang pemuda bertubuh tinggi yang muncul dari balik pintu. Lalu duduk disamping Emak.
Emak tersenyum. Sorot matanya tetap kosong. "Kalau saja ayahmu tidak nyeleweng, mungkin tidak berantakan begini," gumam Emak.
"Anak-anak selalu jadi korban keegoan orangtua," ujar pemuda yang bernama Agus, cucu Emak.
Pemuda itu adalah saksi hidup tangisan Amih, ibunya. Ia tahu persis pertengkaran yang terjadi antara kedua orangtuanya. Dasyat memang. Namun ia dan juga adik-adiknya hanya bisa menatap redupnya rembulan dibalik dedaunan. Kebahagiaan itu terlepas jauh ke atas awan. Pemuda itu marah tapi rindu akan tangisan bunda tersayang. Rindu akan tatapan nanar adik-adik tercinta, namun tak pernah benci garangnya ayah terhormat.
(bersambung)**
--
bantu kami dengan bergabung dan daftarkan diri anda di sini
__._,_.___
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
.
__,_._,___






0 comments:
Post a Comment