Surah "Al Hujuraat" # 49, Verse # 13
|
Dilema Bertoleransi dalam Beragama
Yang dapat saya tangkap dari opini Pak Fernando, beliau mulai opininya dengan menceritakan temannya yang emosional menanggapi kasus penyegelan Gereja GKI Yasmin Bogor, berharap pemerintah menyelesaikan kasus tersebut dan di kesempatan lain temannya malah menuntut agar pemerintah membubarkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak diakui di Indonesia. (Harian Analisa, 2 Februari 2012).
Dua kondisi yang kontradiktif tentang kebebasan beragama jika dilihat dengan kacamata kebebasan beragama perfektif sekuler. Mengapa saya katakan demikian? Karena dalam faham sekuler yang dimaksudkan dengan kebebasan beragama adalah setiap individu boleh beragama dan boleh tidak beragama, bahkan boleh menghina agamanya ataupun agama lain, dan negara dilarang ikut campur dalam urusan agama ini, karena dalam faham sekuler masalah agama termasuk ke dalam masalah privat. Maka jangan heran jika di negara ini pun kita dilarang menyinggung SARA —suku, agama, dan ras—, misalkan dalam suatu perkenalan kurang etis menanyakan agama seseorang.
Akhirnya seorang Muslim bisa enggan menunjukkan keislamannya sehingga sesuatu yang wajar banyak wanita Muslim tapi tidak mengenakan pakaian muslimah —jilbab dan kerudung—, begitu juga halnya dengan penganut budha-hanya memakai pakaian khas Buddha di rumah-rumah ibadah saja, namun jika di kehidupan umum mereka pun akan menanggalkan pakaian tersebut, hal sama terjadi juga pada penganut agama yang lain.
Pak Fernando juga menyinggung tentang kebebasan beragama merupakan HAM yang sudah diakui oleh dunia internasional, namun hanya sebatas hitam di atas putih dan prakteknya diabaikan. Pak Fernando pun mengangkat sebuah contoh lunturnya persaudaraan hanya dikarenakan 'kita berbeda' dan kesedihan yang mendalam harus dirasakan oleh seorang anak sekolah yang selalu dijauhkan oleh teman-temannya karena agamanya bukan merupakan salah satu dari agama yang diakui.
Dalam hal ini, saya mau menambahkan bahwa praktek toleransi beragama di negara ini bukan hanya menimbulkan rasa kesedihan bagi penganut agama yang tidak diakui di negara ini, bahkan kesedihan yang berkepanjangan akibat tekanan pemerintah dan publik kepada penganut agama yang berusaha menjalankan ajaran agamanya secara menyeluruh dan sempurna.
Pernahkah pembaca menyadari bahwa sangat banyak wanita Muslim yang dihambat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya hanya karena wanita Muslim tersebut memakai pakaian muslimah?
Suatu saat —awal tahun 2001— saya pernah mengikuti testing di salah satu perusahaan asing (Prancis), saya pun lulus testing tertulis dan akademik dengan nilai tertinggi, tiba saat wawancara salah satu pertanyaan yang diajukan bersediakah saya melepaskan pakaian muslimah saya, karena di perusahaan tersebut tidak menerima karyawan yang berpakaian muslimah.
Dan itu bukanlah satu-satunya pengalaman saya, si kesempatan lain masih di tahun yang sama saya dipanggil oleh perusahaan asing (Amerika Serikat) dan lagi-lagi saat wawancara saya diminta untuk melepaskan pakaian muslimah saya. Bahkan anehnya saat mencantumkan pasfoto di ijazahpun seorang muslimah dipersulit jika pasfotonya memakai pakaian Muslim —kerudung.
Saat saya lulus perguruan tinggi pihak tata usaha pun meminta saya untuk membuat surat pernyataan karena saya mencantumkan pasfoto yang berkerudung, begitu juga halnya saat saya lulus akta mengajar dari salah satu perguruan tinggi Islam. Inikah toleransi beragama? Maka tidak berlebihan jika saya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa faham toleransi beragama yang ada saat ini menghambat penganut agama menjalankan agamanya dengan benar, sempurna dan menyeluruh. Bahkan toleransi beragama mengkerdilkan ajaran agama, terutama ajaran agama Islam.
Mari juga kita membuka mata, maraknya pembongkaran mesjid di kota ini dengan alasan pembangunan ataupun ekonomi, pada dasarnya sudah tidak menghargai orang-orang yang beragama! Padahal penduduk kota Medan masih mayoritas penganut agama Islam! Masihkah kita mengagungkan-agungkan toleransi beragama ataupun kebebasan beragama dalam persfektif sekuler ini?
Faham Sekuler dan Kebenaran Mutlak
Pak Fernando juga menyinggung bahwa praktek toleransi beragama di negara ini bersifat ambivalen. Menurut saya, selama prakteknya masih berlandaskan faham sekuler maka toleransi akan selalu bersifat ambivalen. Bahkan hampir semua hal dalam faham sekuler itu bersifat ambivalen. Mengapa bisa demikian? Karena faham sekuler tidak memiliki kebenaran mutlak, kebaikan mutlak, kejahatan mutlak, dan lain sebagainya.
Itu disebabkan sekuler tidak memiliki standar yang jelas. Sebagai contoh standard miskin saja tidak jelas, begitu juga halnya dengan standar kaya. Seseorang bisa dikatakan kaya jika dia memiliki mobil walaupun dengan cara kredit, tapi bisa pula orang tersebut dinilai tidak kaya karena mobilnya masih kredit. Begitu juga halnya dengan standar kebenaran yang saya istilahkan dengan kebenaran mutlak.
Lihat kasus kriminal yang ada di negara ini bingung untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebagai contoh kasus korupsi yang menimpa Nazaruddin, awalnya Nazaruddin dipandang sangat bersalah namun belakangan Nazaruddin seperti pahlawan pembongkar pelaku korupsi di tubuh partainya, demikian juga halnya dengan kasus yang menimpa Antasari, Susno Djuadi, dan lain sebagainya. Akhirnya kebenaran itu sangat tergantung kepada pihak yang berkuasa dan kepentingan penguasa, serta kemahiran insane media memutar balikkan fakta!
Toleransi Beragama dalam Pandangan Islam
Jika ada seseorang yang mengatakan sedang berupaya mengubah negara ini menjadi negara Islam, suatu negara yang memiliki pemerintah yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dan sempurna, maka komentar pertama adalah bahwa hal itu tidak mungkin terwujud karena negara ini bukan negara Islam.
Komentar berikutnya, jika hal itu terwujud bagaimana dengan nasib rakyat yang tidak beragama Islam, apa mereka akan dipaksa masuk Islam? Komentar konyol berikutnya bahwa tidak mau jika negara ini diubah menjadi negara Islam, karena negara Islam itu merupaka negara yang kejam yang suka memotong tangan orang, merajam orang, mencambuk orang, dan gambaran lain yang menakutkan.
Komentar terakhir ini saya katakan konyol, karena Islam hanya memotong tangan pencuri, hanya merajam pezina dan mencambuk peminum khamar dan pelaku kriminal lainnya. ***
Penulis adalah Anggota DPD I Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Sumut.
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment