Sumber: http://ulas-buku.blogspot.com/2012/01/menengok-akar-pemberontakan-bersenjata.html
Jumat, 20 Januari 2012
Menengok Akar Pemberontakan Bersenjata

Penulis : Imam Soedjono
Penerbit : Resist Book
Terbit : I, November 2011
Halaman : x + 352 Halaman
Bilamana pembaca menginginkan untuk memiliki buku-buku tersebut dapat ditemukan di berbagai toko buku di Indoesia atau memesan langsung kepada penerbit dengan alamat:
E-mail:Resistbook@gmail.com
Isi buku:
1. Tiongkok. Dari Chingkangshan sampai ke Tien An Men
2. Filipina. Perjuangan senjata di negeri kepulauan.
3. Vietnam. Tigapuluh Tahun Berjuang, Tidak Lelah dan Menang.
Pemberontakan bersenjata acap kali dipicu oleh ketidakpuasan rakyat yang berlangsung menahun. Ketidakadilan, perasaan tertindas, hingga diskriminasi adalah faktor-faktor yang menyulut pemberontakan tersebut.
Hal di atas biasanya diperparah oleh ketidakmampuan rejim untuk memenuhi tuntutan rakyat. Rakyat yang tidak melihat titik terang penyelesaian persoalan, akhirnya merasa harus berbuat sesuatu. Mereka akhirnya mengangkat senjata untuk melakukan perlawanan.
Lewat buku inilah akar sejumlah peristiwa pemberontakan yang terjadi di negara-negara Asia, yakni Tiongkok, Filipina dan Vietnam, dibongkar. Tidak hanya petikan sejarah, buku ini juga mencoba untuk memperlihatkan bagaimana konflik berkembang di tengah kelompok yang saling berseberangan. Kelompok tersebut misalnya saja kaum borjuis dan kaum proletar.
Seperti yang terjadi di Tiongkok. Lahirnya PKT (Partai Komunis Tiongkok) pada tahu 1921, didasari atas pertentangan kelas antara kaum buruh dengan kaum borjuis. Bahkan dalam kongres pertama PKT dideklarasikan bahwa organisasi itu harus menggulingkan kaum borjuis dengan menggunakan tentara revolusioner proletar.
Sedangkan yang terjadi di Filipina, salah satu faktor pemicu pemberontakan bersenjata adalah kekuasaan asing yang dominan, yakni kekuasaan Jepang. Hal ini tidak saja terjadi di Filipina, namun juga di sejumlah negara Asia lainnya seperti Indonesia.
Selain itu, masih di Filipina, pemberontakan rakyat juga terjadi melawan para tuan tanah. Pemberontakan ini pecah ketika kaum Sakdal yang menginginkan reformasi nasional menuntut pembagian tanah dari para tuan tanah.
Karena keinginan tersebut dianggap mengganggu, maka gerakan kaum Sakdal dinyatakan dilarang. Sebagai reaksi, terjadi pemberontakan bersenjata yang dilakukan oleh puluhan ribu petani. Namun pemberontakan tersebut berhasil diredam oleh tentara pemerintah.
Pemberontakan lain yang tercatat dari Filipina adalah pemberontakan untuk menggulingkan presiden Ferdinand Marcos pada tahun 1986. Kediktatoran Marcos yang tidak dapat ditolerir oleh berbagai elemen masyarakat, telah menyudutkan presiden itu ke jurang kehancuran.
Berbagai janji Marcos yang tidak sepenuhnya dipenuhi, serta semakin merajalelanya korupsi para pejabat, telah memperkuat sikap anti Marcos. Oposisi bermuculan dari berbagai arah. Marcos akhirnya tidak dapat menahannya lagi dan ia harus menyerahkan kekuasaannya
Buku ini mengingatkan, mencuatnya pemberontakan bersenjata tidak semata-mata terjadi demi perebutan kekuasaan. Pemberontakan, yang kadang-kdang menjadi gerakan revolusi, selalu memiliki akar historis yang panjang.
Akar historis itu adalah tidak tercapainya keadilan dari lembaga-lembaga ataupun otoritas yang seharusnya dapat memberikannya. Merosotnya kemampuan lembaga pemerintahan dalam memenuhi kebutuhan rakyat juga memperparah kondisi ini.
Oleh sebab itu, siapa pun yang tengah memegang tampuk kekuasaan sebaiknya memerhatikan hal ini. Lalai dalam memenuhi rasa keadilan rakyat, pembiaran terhadap penindasan, dan ketidakberpihakan kepada rakyat, adalah awal dari perlawanan yang dampaknya panjang.
dimuat di HU Koran Jakarta 27 januari 2012
***
21/02/2012 04:11 WIB
Sumber: http://rimanews.com/read/20110915/41100/versi-lain-sejarah-perlawanan-bangsa
Versi Lain Sejarah Perlawanan Bangsa
Sesuai judulnya, Yang Berlawan menyampaikan pandangan lain bahwa sejarah rakyat Indonesia adalah suatu rangkaian perlawanan rakyat. Perlawanan tersebut dapat diartikan penolakan politik terhadap segala macam bentuk penindasan dan penghisapan dari penjajah asing dan kolaborator pribumi. Selain itu, sang penulis, Imam Soedjono -yang kini menetap di Belanda- juga terlihat berupaya merehabilitasi nama Partai Komunis Indonesia (PKI) dari segala macam hal (yang menurutnya adalah) pemalsuan ataupun penggelapan sejarah. Kedua sudut pandangan tersebut dirangkai sedemikian rupa sehingga menunjukkan bahwa PKI punya andil cukup besar dalam memimpin sejarah perlawanan rakyat Indonesia.
Pencatatan sejarah dilakukan oleh penulis dengan teramat rinci dan jeli tanpa meninggalkan kilas situasi sosial dan ekonomi yang berlangsung saat itu. Tentang rincinya data yang disajikan di dalam buku, peneliti sejarah Indonesia, George Junus Aditjondro (pada Kata Pengantar Yang Berlawan) menyatakan kekagumannya atas kapasitas kualitas dan kuantitas data sejarah- mengingat begitu minimnya pengalaman penulis sebagai peneliti sejarah.
Ambil satu contoh saat pria yang dicap exiles Orde Bari ini mengulas periodisasi perlawanan rakyat tidak jauh dari monentum Proklamasi di akhir tahun 1945 dan masa tanam paksa di abad 19 di Jawa Tengah. Sungguh menakjubkan membaca bagaimana jalannya Peristiwa Tiga Daerah pada Bab IV (Penggulingan Kekuasaan Lokal dan Revolusi Sosial) digambarkan dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan bulan ke bulan dengan sangat terinci. Fenomena perlawanan politik a'la petani Jawa semacam pepe (suatu aksi demonstrasi damai para petani miskin di zaman Kerajaan Mataram ) pun tidak luput dari pengamatannya. Diceritakan juga landasan filosofi milenaristik yang menjadi ideologi para pelawan di masa akhir tanam paksa tersebut.
Sesuai dengan sub-judul yang tertera di cover ("Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI"), perjalanan PKI sebagai salah satu partai tertua di Indonesia dikupas untuk disajikan dengan sangat tuntas dan rinci. Dari masa awal kelahirannya; budaya-budaya aksi massa yang mengiringi kelahirannya; gambaran profil tokoh-tokoh (baca: agitator-agitator) pentingnya; kisah rinci perjuangan yang dilakukan (Pemberontakan 1926, Provokasi Madiun 1948, dan Blitar 1967); dinamika strategi dan taktik yang digunakan (perjuangan bersenjata, bawah tanah, dan parlementarian), bahkan sampai kepada perdebatan-perdebatan, konflik dan intrik yang terjadi dalam internal partai pun dapat mata kita santap dengan jelas.
Penulisan sejarah yang objektif sangat sulit untuk dilakukan di masa ini, apalagi jika sejarah tersebut sarat dengan kepentingan politik masa lalu. Itu dikarenakan, dalam kadar yang berbeda, muatan subjektif sang penulis sejarah ikut ambil bagian di dalamnya. Beberapa penilaian penulis yang terlalu subjektif terhadap lawan-lawan politik PKI saat itu: kekuatan-kekuatan politik yang berseberangan (Militer, PSI, Masyumi, dan Murba) beserta tokoh-tokohnya (Tan Malaka, Syahrir, Hatta, dan Nasution), diungkapkan dengan agak tajam. Namun tidak hanya itu, penilaian yang subyektif dan tidak adil terhadap faksi yang berseberangan di dalam intenal PKI diuraikan dengan cukup eksplisit oleh penulis (terutama kepada kelompok Aidit cs). Tampak penulis sudah memiliki posisi tersendiri dalam memandang situasi politik internal PKI –partai terbesar ketiga di dunia pada masa Perang Dingin.
Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan buku ini, suara-suara sayup pihak yang kalah selayaknya tetap diperdengarkan. Kemudian kita kidungkan bersama di hadapan mahkamah hukum dan perdebatan intelektual. Seharusnya, dengan demikian, pengamatan kita terhadap sejarah akan bisa menjadi lebih jernih dan adil. Karena tanpa memahami sejarah masa lalu secara adil dan benar, masa sekarang akan menjadi sulit dicermati. Bagaimana kita bisa melangkah ke masa depan yang adil dan beradab jika lembar-lembar sejarah bangsa belum utuh dirampaikan.
Begitulah. Membaca buku Yang Berlawan bagai menelisik lembar-lembar sejarah ke dalam suatu buku ingatan kemanusiaan Indonesia. Secara obyektif kita dapat menilai, membandingkannya dengan sejarah resmi versi rezim Orde Baru. Dengan memperbandingkan, semoga kita dapat lebih mencerna khasiat ilmu pengetahuan sejarah. Sehingga, kita dapat yakin bahwa sejatinya Indonesia kita adalah rakyat yang memiliki sejarah berlawan. Meski kalah, perlawanan tetaplah perlawanan. Setiap perlawanan akan menjadi batu fondasi candi perlawanan yang lebih besar di masa ke depan. Ituah sepertinya yang hinggap di ingatan setiap pembaca buku terbitan RESIST BOOK dua tahun lalu.
Sebagai penutup akan dihadirkan sedikit pandangan pledoi dari komentar Ali Archam (salah satu pimpinan PKI pada tahun 1920an) dari pembuangannya di Digul tentang kegagalan PKI dalam pemberontakan bersenjata tahun 1926-1927. Cuplikan kata-kata itu mungkin bisa mewakili semangat PKI yang terus berlawan sampai kepada pemusnahannya di tahun 1965:
"Suatu pemberontakan yang mengalami kekalahan adalah tetap sah dan benar. Kita terima kekalahan ini karena musuh lebih kuat; kita terima pembuangan ini sebagai resiko perjuangan yang kalah. Tidak di antara kita yang salah, karena kita melawan penjajahan. Pihak yang salah adalah pemerintah kolonial"
_________________________________
Peresensi: Gede Sandra, Aktivis, tinggal di Ujung Aspal-Pondok Gede, Bekasi
Judul Buku : YANG BERLAWAN, Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI
Penulis : Imam Soedjono
Penerbit : RESIST BOOK
Cetakan : Pertama, Januari 2006
Tebal : 441 halaman
http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
Information about Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
List of books, click: http://sastrapembebasan.wordpress.com/
Information about Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
List of books, click: http://sastrapembebasan.wordpress.com/
__._,_.___
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
.
__,_._,___







0 comments:
Post a Comment