Advertising

Monday, 25 October 2010

[wanita-muslimah] Mahendradatta Mendebat Pengemban Sekularisme Pembela Ahmadiyah

 

gara2 ustd Muiz nyebut soal mahendradatta, jadi inget link ini

- Mahendradatta Mendebat Pengemban Sekularisme Pembela
Ahmadiyah<http://www.syabab.com/index.php?option=com_content&view=article&id=254:mahendradatta-mendebat-pengemban-sekularisme-pembela-ahmadiyah&catid=81:ummah&Itemid=198>

[image: [Image]]*Syabab.Com* - Persoalan Ahmadiyah dan SKB bukanlah masalah
kekerasan seperti yang sering dituding oleh kaum sekular AKKBB. Demokrasi
pun kerapkali menimbulkan kekerasan dan konflik. Mahendradatta dari Tim
Pembela Muslim (TPM) menegaskan bahwa SKB ini hanya masalah agama. Ia
menyatakan bahwa persoalan ini merupakan persoalan adanya penistaan dan
penodaan agama bukan kekerasan.

Demikian diungkapkan Mahendradatta dalam acara debat soal SKB Ahmadiyah di
tvOne yang disiarkan pada hari Rabu malam (11/06) [baca: Audio Mahendradatta
Mendebat Ketua Kontras - *soon*]. Dalam debat tersebut hadir dari wakil
pembela Ahmadiyah, Ketua Kontras, Usman Hamid. Takbir pun berkali-kali
menggema diteriakkan oleh para peserta wakil dari umat Islam.

*Masalah Kekerasan?*

Seringkali para pembela kebebasan yang nota bene membela sekularisme
menuding umat Islam seringkali melakukan tindakan kekerasan. Bahkan sejak
insiden Monas berbagai media tak luput dari tudingan terhadap umat Islam
yang seolah-olah selalu melakukan kekerasan. Ujung-ujungnya mereka menuntut
pembubaran ormas-ormas Islam seperti Front Pembela Islam. Lebih parah lagi,
beberapa waktu lalu Adnan Buyung Nasution meminta Majelis Ulama Indonesia
(MUI) ikut dibubarkan saja.

"Jangan dibelokkan ini masalah kekerasan karena kalau masalah kekerasan maka
SKB tersebut bisa juga harus mengatur Persija, Persib, penonton-penonton
yang melakukan kekerasan. SKB ini hanya masalah agama. Di sini adalah
penistaan dan penodaan agama jangan dibelokkan masalah kekerasan," tegas
Mahendradatta.

"Ini dibelokkan juga bahwa ada kebebasan beragama dalam hal ini umat Islam
yang diganggu selama 1400 tahun lebih. Mereka meyakini ada ajaran
sebagaimana yang ditulis dalam Al-Quran dan Rasulullah sebagai Nabi
terakhir. Tiba-tiba diganggu dengan penafsiran-penafsiran baru yang baru
muncul di abad 18," tambahnya lagi.

*Kekerasan Demokrasi*

Demokrasi seringkali menimbulkan tindakan kekerasan dan konflik di
tengah-tengah umat. Hanya sayang, para pembela kebebasan yang notabene
mereka pengemban sekularisme jarang mengangkat kekerasan akibat demokrasi
ini. Justru mereka selalu membebasarkan kekerasan yang terjadi oleh kelompok
Islam, tanpa melihat alasan penyebabnya. Seperti sejak insiden Monas,
tudingan kekerasan oleh kelompok umat Islam menjadi sorotan berbagai pihak.
Sebagian media pun ikut membesar-besarkan tindak kekerasan ini.
Ujung-ujungnya desakan pembubaran segelintir kelompok terhadap ormas-ormas
Islam seperti Front Pembela Islam (FPI). Lebih parah lagi, Adnan Buyung
Nasution meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga harus dibubarkan.

Mahendradatta menegaskan kepada semua pihak, bahwa tindakan kekerasan bukan
hanya monopoli dari konflik ini. Kekerasan juga terjadi seperti yang
dilakukan para penonton sepakbola bahkan juga dalam pilkada.

"Kalau jangan melakukan kekerasan, bukan monopoli dari konflik ini. Itu juga
monopoli penonton sepakbola. Pilkada juga. Kalau bicara masalah kekerasan
maka KPUD-KPUD itu bubarkan saja karena setiap pilkada selalu mengadakan
kekerasan. Contoh Maluku Utara sampai sekarang belum beres. Berapa rumah
yang terbakar. itu bukan gara-gara SKB, itu gara-gara SKB." tegas
Mahendradatta.

Memang seringkali para pembela ideologi kapitalisme dengan asasnya
sekularisme selalu menuding dan memiliki perhatian besar bila terjadi
kekerasan oleh kelompok kaum Muslim. Seperti insiden Monas dan tuntutan
pembubaran Ahmadiyah. Wajar mereka selalu bersikap demikian karena mereka
mengikuti skenario dan strategi Rand Corporation dalam upaya pecah belah
umat Islam. Tujuannya agar Islam dan para pejuang yang rindu ideologi Islam
ditegakkan di muka bumi ini tenggelam.

Mahendradatta juga membantah Usman yang meminta umat Islam berdialog saja
dengan Ahmadiyah.

"Kita bicara masalah hukum saja. Tidak ada tindak pidana dinegosiasikan atau
didialogkan. Kalau penistaan agama itu sudah jelas melanggar 156A KUHP sama
ama maling, rampok dan lain sebagainya. Bagaimana bayangkan apabila kita
harus bernegosiasi atau berdialog dengan maling, rampok." kata
Mahendradatta.

Ahmad Michdan yang juga ikut dalam acara debat tersebut menegaskan bahwa
yang dilakukan Ahmadiyah itu adalah penodaan.

"Kebebasan beragama itu dalam Islam dinyatakan dengan tegas. Lakum dinukum
walyadiin artinya semua orang boleh, budha boleh, kristen boleh. Tapi yang
dilakukan Ahmadiyah adalah penodaan. Penodaan itu menyatakan bahwa siapa
yang tidak percaya pada dia adalah babi dan macam-macam. Bahkan di dalam
kitab tadzkirahnya itu enghina banyak agama. Apa anda sudah belajar itu?
Pelajari dulu!" tegas Michdan.

*Cari Simpati*

Pihak pembela Ahmadiyah dan pegemban kebebasan yang mengemban akidah
sekularisme menggiring perhatian pada persoalan minoritas dan mayoritas.
Tegas saja, Mahendradatta menolaknya. Menurutnya para pembela Ahmadiyah
melakukan hal tersebut untuk mencari simpati. Padahal penodaan yang
dilakukan Ahmadiyah tersebut merupakan tindakan pidana.

"Jangan kita kemudian dibawa lagi kepada dikotomi antara minoritas dan
mayoritas. Itu adalah membangkitkan katakanlah simpati bahwa ini orang kecil
dan lain sebagainya, enggak kena dalam hal ini. Karena bagaimana pun juga
minoritas bisa terjadi, katakanlah sekarang pelaku-pelaku tindak pidana itu
minoritas. Orang gila juga minoritas nggak semua rakyat Indonesia, banyakkan
yang waras. Jangan mengungkapkan sesuatu untuk mencari simpati. Ini orang
kecil, kasihan kelompok kita, nggak kena jaman sekarang. Ini adalah suatu
bentuk penistaan, orang menghina," tegasnya lagi.

*Tarik Tadzkirah*

Umat Islam marah ketika Nabi dan ajarannya dinodai oleh Ahmadiyah.
Mahendradatta mendesak pembubaran Ahmadiyah.

"Kalau anda mengatakan jangan emosional. Bagaimana tidak emosional ibu saya
diganti, saya marah. Ini Rasul saya diganti," ujarnya lagi.

Dalam pernyataan terakhir Mahendradatta menegaskan kembali bahwa SKB ini
merupakan langkah maju tetapi menurutnya belum cukup. SKB ini harus diikuti
dengan pembubaran Ahmadiyah serta penarikan semua ajaran-ajaran Ahmadiyah
terutama Tadzkirah.

"Ini sangat berbahaya. Di dalam Tadzkirah ini yang mendustai Ahmadiyah
adalah manusia kotor dan babi. Islam tidak pernah mengajarkan begitu. Islam
selalu menghormati agama-agama lain. Dengan demikian ajaran-ajarannya
semacam ini jelas harus dilarang karena mengajarkan suatu perpecahan, ini
mengajarkan suatu konflik , apa jadinya. Sekarang kita konflik karena
Ahmadiyah." tegasnya lagi. [z/m/syabab.com]

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.
.

__,_._,___

0 comments:

Post a Comment