Nah, temans2 sekarang paradigma kesejarahan ke depan mungkin akan berubah.
Kita akan mengakui keragaman bangsa dan suku bangsa yg berperan dalam sejarah Nusantara, hormatilah itu sebagai fakta sejarah (dimana bukti2 kesejarahannya mesti ditampilkan secara lengkap, utuh dan transparan).
Yang perlu ditelisik adalah, apakah benar premis yang mengatakan bahwa bumi Pertiwi ini ratusan tahun belakangan, kalau bukan ribuan tahun, telah mensejahterakan masyarakat di belahan bumi lain, bahkan orang asing di Nusantara sendiri? Dengan cara memarjinalkan sebagian (besar) masyarakat Nusantara, dan mengabaikan ekosistemnya?
Kalau itu benar, berarti sulit menemukan nilai leluhur pengelolaan masyarakat madani yg membentuk cikal bakal NKRI di pimpinan kelas satu atau kelas dua. Yang berarti bahwa sistem banditry- militeristik belum selesai diserap oleh ajaran leluhur. Bahkan ajarannya dilupakan oleh kita sendiri.
Berarti sampai saat ini sistem kita belum mampu menampilkan pimpinan (leadership) kelas satu dan dua yang mampu membawa nilai leluhur ajaran budi pekerti. Malah agama2 pun dijadikan alat oleh mereka.
Namun kenyataannya Nusantara masih "utuh" sampe sekarang. Mungkinkah karena parasit-parasit dalam tubuh kita belum teridentifikasi, boro-boro dikeluarkan?
Mungkinkah karena pengelolaan masyarakat madani yg meluas di kepemimpinan kelas tiga ke bawah mampu menghidupi ketahanan Nusantara ini, namun tidak cukup kuat menggantikan pimpinan kelas satu dan dua. Kenapa?
Salam
Mia
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message-----
From: aldiy@yahoo.com
Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Date: Thu, 24 May 2012 03:42:18
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: [jurnalisme] Irshad Manji, Sekali Lagi (Tanggapan Atas Buku "Allah, Liberty, and Love")
Menurut yg kupahami dari Muljana,Raden Patah dan penguasa Demak lainnya dibantu Wali Sanga, terlalu konsentrasi pada politik penguasaan, atas nama kefanatikan pada Islam. Ketimbang memberdayakan masyarakat petani pedalaman yg dikuasai sistem kasta, Raden Patah menolak memberdayakan, tapi malah konsentrasi mau menguasai perdagangan pesisir di sepanjang Jawa, dan Malaka. Motifnya sekular banget, tapi atas nama Islam. Raden Patah nggak mau memberdayakan rakyat Hindu Majapahit, karena dirinya sudah memeluk Islam katanya, dia nggak mau membantu raja kaffir. Padahal masyarakat Tionghoa juga banyak yang non muslim atau kembali pada ajaran nenek moyangnya. Contohnya mesjid Sam Po Kong diubah jadi kelenteng untuk keperluan upacara nenek moyang. Nah, Raden Patah dan penguasa Demak nggak keberatan sama sekali kerjasama dengan masyarakat Tionghoa non muslim.
Eeh, malah SSJ dan penguasa pendukungnya yang kegiatannya memberdayakan masyarakat petani malah dikucilin dan dihukum mati oleh penguasa Demak dan Wali Sanga.
Kita mesti menggali sejarah Nusantara yang mencontohkan pemberdayaan masyarakat madani, kepatuhan pada ekosistem dalam membentuk kebijakan publik dan ketatanegaraan. Kalo nggak ketemu di Jawa ya ke pulau lain donk.
Yang ketemu kok sejarah mata rantai mafia militeristik melulu, apa salah baca sejarah?
Arcon, dikatakan Muljana bahwa pejabat2 Tionghoa di Palembang dan di pesisir Jawa berusaha mengadopsi gelar-gelar kebangsawanan Jawa Hindu dengan cara perkawinan dan jasa proyek2 perluasan dan teknologi.
Apa nama keluarga diperlukan untuk di-expose? Dengan kata lain, menghapus nama keluarga adalah bagian dari strategi budaya?
Salam
Mia
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message-----
From: aldiy@yahoo.com
Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Date: Thu, 24 May 2012 03:18:47
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: [jurnalisme] Irshad Manji, Sekali Lagi (Tanggapan Atas Buku "Allah, Liberty, and Love")
Bagaimana dengan Kerajaan Pasai, perlak, Aceh dan kerajaan2 Islam di Indonesia Timur? Mungkin berbeda dengan kerajaan2 Islam di Jawa? Kita kan jarang ngomongin Indonesia Timur, Sumatera dan Kalimantan di sini. Dikatakan ajaran Islam dan budaya Arab lebih "merakyat" di Indonesia Timur dan di Sumatera/Kalimantan. Apa betul, gitu? Artinya "merakyat" gimana, menggantikan sama sekali tradisi leluhurnya, atau Arab menguasai kebudayaannya?
Salam
Mia
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message-----
From: "Mu'iz, Abdul" <muizof@yahoo.com>
Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Date: Thu, 24 May 2012 00:06:33
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: [jurnalisme] Irshad Manji, Sekali Lagi (Tanggapan Atas Buku "Allah, Liberty, and Love")
Selamat sahur dan selamat berpuasa mbak Mia,
Kalau menyimak sejarah indonesia pra kolonialism, maka kerajaan nusantara yang berlebel Islam umurnya pendek dan syarat dengan muatan konflik, rebutan kekuasaan melulu. Padahal sebelum Islam masuk nusantara, Majapahit (jawa), Sriwijaya (sumatra), Kutai (Kalimantan) cukup punya nama besar sampai ke mancanegara.
Tragisnya Majapahit yang amat toleran justru jatuh setelah walisongo dan jin bun dibesarkan Majapahit ? Dan pasca majapahit, kita disuguhi konflik berdarah antar elit penguasa (sultan).
(1) Jangan-jangan tidak stabilnya kabinet pemerintahan sekarang merupakan warisan Demak/mataram islam ?
(2) Jangan-jangan maraknya ormas hardliner sekarang merupakan warisan walisongo (kecuali sunan kalijogo) yang mempersekusi syekh siti jenar ?
Mudah2an saya keliru.
Wassalam
Abdul Mu'iz
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: aldiy@yahoo.com
Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Date: Wed, 23 May 2012 21:51:24
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: [jurnalisme] Irshad Manji, Sekali Lagi (Tanggapan Atas Buku "Allah, Liberty, and Love")
Adipati Unus dari Demak menyerang raja terakhir Majapahit.
Menurut buku Slamet Muljana, Adipati Unus namanya Yat Sun, anak Jin Bun (Raden Patah) pendiri Demak.
Yang mengusik dari buku Muljana, dikatakan di Semarang tumbuh masyarakat muslim dan non muslim Tionghoa, yg berbasiskan perdagangan pesisir dan maritim. Pada waktu itu di bawah instruksi Kekaisaran Cina via Palembang yg sudah dikuasai duluan. Menurut Muljana praktis Kerajaan Demak adalah kerajaan Cina pesisir pada awal berdirinya. Puteri-puteri Cina dari keluarga mereka dihadiahkan sebagai selir kepada raja2 Majapahit, sehingga memudahkan penetrasi ke Majapahit.
Oalaaa belajar sejarah Indonesia sendiri, makin nggak jelas, banyak fakta2 sejarah yg ditutup2in selama orde baru.
Tapi makin menguatkan kesimpulanku, bahwa sumber daya (termasuk manusianya) bumi Pertiwi ini telah menghidupkan tidak hanya orang asing di negerinya masing2, bahkan juga orang2 asing yang datang ke sini. Dengan cara yg bagaimana? Dengan cara yg nggak sesuai ekosistem, termasuk zalim kepada sebagian masyarakat. Kepada manusianya saja zalim gimana thd flora dan faunanya. Agama2 digunakan sbg bagian dari politiking yang terbatas di kalangan elit, yg boleh kusebut sebagai bagian mata rantai mafia, secara bergantian. Mata rantai mafia membangun negara dengan cara politiking banditry-militeristik. Agama pun sudah biasa dijual.
Harap ada yg bisa menghibur saya, bahwa ini nggak gitu2 amat. Masak nggak ada pelajaran sejarah yg mencerahkan di waktu sahur!
Salam
Mia
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message-----
From: "chodjim" <chodjima@gmail.com>
Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Date: Wed, 23 May 2012 11:12:44
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: [jurnalisme] Irshad Manji, Sekali Lagi (Tanggapan Atas Buku "Allah, Liberty, and Love")
Kalau kita mempelajari prasasti-prasasti yang sekarang mulai terkumpul,
ternyata dalam genealogi raja-raja Majapahit tidak ada yang menggunakan nama
"Brawijaya" kecuali Bhre Krtabhumi (1468 - 1478 M). Bhre Krtabhumi adalah
cucu selir dari Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk).
Jadi, berdasarkan silsilah raja-raja Majapahit yang dimulai dari Ken Angrok
(bukan Arok, karena Arok menyalahi kaidah penulisan huruf Jawa) yang
bergelar Sri Ranggah Rajasa, dinasti raja-raja Majapahit disebut wangsa
Rajasa atau Wardhana. Di bawah ini dicantumkan raja-raja Majapahit
berdasarkan genealogi dan prasasti:
1. Krtarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya, 1293 - 1309).
2. Jayanagara (Kala Gemet, 1309 - 1328)
3. Tribhuwana Wijayottunggadewi (Bhre Kahuripan, 1328 - 1350; perempuan)
4. Rajasanagara (Hayam Wuruk, 1350 - 1389)
5. Wikramawardhana (Bhra Hyang Wisesa, 1389 - 1429; menantu HW)
6. Suhita (Prabhu Stri, 1429 - 1447; putri dari selir Wikramawardhana)
7. Wijayaparakrama Wardhana (Bhre Tumapel alias Dyah Krtawijaya, 1447 -
1451; putra dari selir Wikramawardhana). Raja Wijayaparakrama tak punya
permaisuri.
8. Rajasawardhana (Sang Sinagara = Bhre Pamotan = Bhre Keling = Bhre
Kahuripan, 1451 - 1453; putra dari selir Wikramawardhana)
INTERREGNUM 1453 - 1456 (kekosongan raja)
9. Girisawardhana (Dyah Suryawikrama = Bhre Wengker = Bhra Hyang
Purwawisesa, 1456 - 1466; anak dari Wijayaparakrama W.). Raja ini tidak
punya permaisuri.
10.Singha Wikramawardhana (Dyah Surapraphawa = Bhre Tumapel = Bhre
Pandanalas, 1466 - 1474; putra dari Girisawardhana)
11.Bhre Krtabhumi Brawijaya yang merupakan garis keturunan dari Tribhuwana
merebut Majapahit dan memerintah 1474 - 1478.
12.Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya = Bethara i Kling, 1478 - 1519; putra
selir dari Singha Wikramawardhana).
Jadi, Majapahit resmi luluh lantak dan lenyap pada 1519 setelah diserang
oleh Adipati Unus. Sampai di sini terjadi kekaburan terhadap sosok yang
bernama Patih Udara, karena ada yang mengatakan bahwa penyerangan Demak
terhadap majapahit itu di bawah pimpinan Patih Udara, dan ada pula yang
menyebut bahwa yang melindungi Girindrawardhana adalah Patih Udara.
Dengan demikian siapa tokoh "Brawijaya"? Ia bisa Bhre Wijaya (Raden Wijaya)
pendiri Majapahit, atau bagi pemihak Raja Krtabhumi, ya Krtabhumi-lah
Brawijaya itu? Lha, kalau dihitung dari silsilah raja-raja Majapahit
laki-laki yang bergelar Bhre, maka Raden Wijaya adalah Brawijaya I, maka
Raja Krtabhumi adalah Brawijaya V. Kalau Bhre Krtabhumi tidak dianggap
sebagai yang menjadi ahli waris sah, maka yang menjadi Brawijaya V adalah
Girindrawarhana.
Jadi, kalau dilihat dari aspek Serat Pararaton yang memandang gugurnya Bhre
Kertabhumi dengan sandi Sonya Nora Yoganing Wong (1400 S = 1478 M), tiada
putra mahkota dari permaisuri, maka Pararaton ditulis oleh orang yang
berpihak kepada Raja Bhre Krtabhumi Brawijaya.
Sumber silsilah raja-raja Majapahit: Masa Akhir Majapahit oleh Hasan Djafar.
wassalam,
chodjim
----- Original Message -----
From: <masarcon@gmail.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, May 23, 2012 7:30 AM
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: [jurnalisme] Irshad Manji, Sekali Lagi
(Tanggapan Atas Buku "Allah, Liberty, and Love")
> Prabu brawijaya V bukannya prabu udara, mas ?
>
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: "Mu'iz, Abdul" <muizof@yahoo.com>
> Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Date: Wed, 23 May 2012 00:11:05
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: [jurnalisme] Irshad Manji, Sekali Lagi
> (Tanggapan Atas Buku "Allah, Liberty, and Love")
>
> Saya tidak tahu referensi dari mana mas Ari dapatkan tentang prabu udara,
> bahwa betara kathong adalah anak prabu " udara", raja majapahit.
>
> Kalau menurut "eyang" wikipedia
> (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Bathara_Katong)
>
> (1) Batara Kathong adalah anak Prabu Brawijaya dari selir Putri Campa.
> Nama lain Betara Kathong adalah Lembu Kanigoro, menganut islam mengikuti
> dakwah wali songo.
>
> (2) Reyog asal mulanya karya ki Ageng Kutu kawula majapahit, yang
> dimaksudkan mengkritik prabunya (Raja Majapahit) sendiri yang dipandang
> "lembek" setelah menikahi Putri Campa. Reyog menampilkan kepala harimau
> yang ditundukkan dengan rayuan seorang perempuan/Putri Campa (disimbolkan
> dengan dadak merak). Ki Ageng kutu tinggal di Wengker (sekarang ponorogo).
>
> (3) Upaya Ki Ageng Kutu untuk memperkuat Basis di Ponorogo (Wengker)
> dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan Majapahit dan kasultanan Demak.
> Sunan Kalijaga, bersama muridnya Kiai Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba
> melakukan investigasi terhadap keadaan Ponorogo, dan mencermati
> kekuatan-kekuatan yang paling berpengaruh di Ponorogo. Dan mereka
> menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu. Demi
> kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islamisasi, penguasa Demak mengirimkan
> seorang putra terbaiknya yakni yang kemudian dikenal luas dengan Bathara
> Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40
> orang santri senior yang lain.
>
> (3) Bethara Katong bertarung melawan ke ageng kutu, kedua sama2 kuat.
> Bethara katong mencari tahu apa kelemahan lawannya melalui putri lawannya
> Niken Gandini diketahui bahwa lawannya memiliki pusaka sakti yang bernama
> pusaka welang. Belum sempat memanfaatkan pusaka tsb, ki Ageng Kutu moksha
> alias lenyap misterius.
>
> (4) Pada tahun 1486, hutan daerah wengker dibabat atas perintah Bathara
> Katong. Banyak gangguan dari berbagai pihak, termasuk makhluk halus yang
> datang. Namun, karena Bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya
> pekerjaan membabat hutan itu lancar.
>
> (5) Oleh Batara Katong, daerah yang baru saja dibangun itu diberi nama
> Prana Raga yang berasal atau diambil dari sebuah Babad legenda "Pramana
> Raga". Menurut cerita rakyat yang berkembang secara lisan, Pono berarti
> Wasis, Pinter, Mumpuni dan Raga artinya Jasmani. sehingga kemudian dikenal
> dengan nama Ponorogo. Bathara Katong kemudian menjadi Adipati di Ponorogo.
> Menurut Handbook of Oriental History hari wisuda Bathara Katong sebagai
> Adipati Kadipaten Ponorogo yaitu pada hari Ahad Pon tanggal 1 Bulan Besar
> tahun 1418 Saka, bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1496 atau 1
> Dzulhijjah 901 Hijriyah. Selanjutnya tanggal 11 Agustus ditetapkan sebagai
> Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.
>
> (6) Kesenian Reog yang menjadi seni perlawanan masyarakat Ponorogo mulai
> dihilangkan dari unsur-unsur pemberontakan, dengan menampilkan cerita
> fiktif tentang Kerajaan Bantar Angin sebagai sejarah reog. Para punggawa
> dan anak cucu Bathara Katong, inilah yang kemudian mendirikan
> pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam.
>
> Wassalam
> Abdul Mu'iz
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: masarcon@gmail.com
> Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Date: Tue, 22 May 2012 22:55:27
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: [jurnalisme] Irshad Manji, Sekali Lagi
> (Tanggapan Atas Buku "Allah, Liberty, and Love")
>
> Beberapa waktu lalu saya ke ponorogo. Sosok batara katong mewujud di mana
> mana. Dia adalah anak prabu udara, raja majapahit. Dan pernah mengerahkan
> pasukan untuk menandingi pengaruh demak saat majapahit mulai tergerogoti
> kejayaan demak.
>
> Di sisi lain saya melihat muhammadiyah dimana mana. Ponorogo adalah
> muhamadiyah yg fanatik. Toserba dan bank thithil langsung merosot skala
> ekonominya ketika muhammadiyah bikin tandingannya.
>
> Gimana ceritanya raden katong dan islam ala muhammadiyah bisa menjadi satu
> identitas ? Saya gak paham.
>
> Yg pasti, satenya pak tukri sobikun di jalan sate yg paling enak dan dawet
> jabung tiada tara segarnya. Hehehe
>
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: "Mu'iz, Abdul" <muizof@yahoo.com>
> Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Date: Tue, 22 May 2012 21:13:46
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: [jurnalisme] Irshad Manji, Sekali Lagi
> (Tanggapan Atas Buku "Allah, Liberty, and Love")
>
> Ini link lain yang memuat artikel "DINAMIKA PEMIKIRAN ISLAM WAROK
> PONOROGO"
> http://ssantoso.blogspot.com/2009/11/dinamika-pemikiran-islam-warok-ponorogo.html
>
> Wassalam
> Abdul Mu'iz
>
> Ini copy pastenya selamat membaca dan didiskusikan
>
> DINAMIKA PEMIKIRAN ISLAM WAROK PONOROGO
>
> Abstrak : Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan penelitian
> tentang dinamika pemikiran Islam warok Ponorogo. Aspek ini menarik untuk
> diteliti, mengingat warok Ponorogo yang dikenal selama ini, seolah tidak
> mungkin untuk melakukan karya di bidang pemikiran Islam. Bahkan yang
> berkembang selama ini, warok selalu akrab dengan pencitraan sosok negatif
> disebabkan bayang-bayang sisi gelap kehidupannya, berkaitan dengan sikap
> jumawah dan penyimpangan seksual. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan
> dinamika pemikiran Islam warok Ponorogo. Pengumpulan data dilakukan dengan
> teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian
> menunjukkan, bahwa dua tipologi pemikiran Islam yang diwakili oleh Kiai Ma'shum
> melalui seni reyog dan Kiai Syukri melalui warok kanuragan berdampak
> secara signifikan terhadap pengembangan seni reyog pada sati sisi, dan
> peningkatan keberagamaan warok kanuragan pada sisi yang lain. Dari hasil
> penelitian ini ditemukan masalah penelitian baru, yakni berkembangnya pola
> Islamisasi di kalangan warok kanuragan terkait dengan peningkatan kualitas
> keberagamaan di kalangan konco reyog dan warok Ponorogo secara umum.
>
>
> Kata kunci : Warok, Olah Kanuragan, Pemikiran Islam, Islamisasi
>
> PENDAHULUAN
>
>
> Bisa diduga, bahwa kesenian ini menjadi alat dakwah yang sangat efektif
> pada masanya. Dan, itulah yang memang terjadi kemudian. Simbolisasi
> instrumen Reyog, diantaranya; manik-manik yang dipasang di paruh merak
> dimaksudkan sebagai simbol tasbih (alat ber-zikr yang berfungsi sebagai
> alat untuk memastikan nominal bacaan zikr); jumlah dan warna pakaian
> penari (jathil) dimaksudkan sebagai lambang nafsu yang berada di dalam
> diri manusia, dimana hal-hal yang baru disebut itu menjadi bukti adanya
> gerakan dakwah islamiyah yang sangat sistematis. Selanjutnya, posisi R.
> Katong sebagai penguasa menjadi strategis dalam mewarnai agama rakyatnya,
> terutama para tokoh kota ini dari berbagai lapisan sosial maupun agama.
> Para tokoh inilah yang dikemudian hari menjadi pilar-pilar pelestari dan
> pengembang kesenian Reyog Ponorogo itu.
>
>
>
>
> Dalam situasi tertentu, para tokoh, sebagaimana diterangkan di atas,
> selanjutnya mendapat gelar kehormatan ; para warok. Belum ada data
> obyektif, memang, untuk memastikan jati diri keberagamaan para warok itu;
> apakah Muslim ataukah non-Muslim (Kejawen, Animis, Dinamis, Hindhu,
> Budha). Namun, jika mencermati kosakata sebutan yang disandangkan
> kepadanya, yakni "warok", maka jelas ia diambil dari kosa kata Arab dari
> kata "wira'i" artinya orang yang selalu menjaga kehormatan diri. Dari sini
> bisa diasumsikan, bahwa para warok itu adalah Muslim. Hal ini dikuatkan
> dengan kenyataan ruang dan waktu saat itu, dimana R. Katong sangat
> berkepentingan untuk membumikan sekaligus mengembangkan agama Islam di
> bumi Ponorogo ini.
> Dinamika perubahan jaman telah membawa dampak terhadap berubahnya
> orientasi hidup para warok. Definisi warok yang semula terbatasi hanya
> untuk orang-orang yang memiliki kanoragan, kasekten tinggi (dalam arti
> yang sesungguhnya dalam bentuk kekuatan fisik dan lahir; kuat tirakat,
> prihatin sekaligus ruhaninya, sehingga karenanya mereka tidak mempan
> diterjang senjata tajam, otot kawat balung wesi), telah bergeser dan
> melebar menjadi milik siapapun (baik dlondonge wong Ponorogo; "penduduk
> asli Ponorogo" maupun pendatang) yang ditokohkan karena jasa-jasanya dalam
> membangun peradaban kota ini. Karena itu, deretan daftar warok menjadi
> panjang, bahkan pada saat ini, para warok dalam pengertian kedua itu,
> ternyata yang lebih mendapatkan ruang gerak memberikan kontribusi riil
> dalam pengembangan masyarakat Ponorogo.
> Para warok, yang kebanyakan berlatar intelektual Muslim itu dituntut oleh
> ruang dan waktu untuk memberikan kontribusi nyata, terutama di bidang
> pemikiran Islam di Ponorogo. Hal ini mengingat begitu panjangnya masa
> interaksi Islam dengan dunia masyarakat Ponorogo (dimana sebagaimana
> masyarakat lain di Jawa telah memiliki sejumlah keyakinan atau "agama"
> sebelum Islam datang, dalam stadium telah mendarah mendaging dalam
> kehidupan mereka), telah membentuk Islam dalam interpretasi mereka (yang
> sangat kental dengan aspek-aspek dari keyakinan atau "agama" asal
> tersebut). Persoalan yang muncul kemudian, bisa diduga, bahwa ada banyak
> aspek kehidupan mereka yang jauh dari ruh ajaran Islam itu sendiri (baca:
> "syirk"; menyekutukan atau menduakan Tuhan dengan sesuatu yang lain).
> Interpretasi terhadap Islam yang diwujudkan dalam aksi pemelukan Islam
> oleh masyarakat Ponorogo, jelas akan terus membutuhkan pencerahan dari
> para tokoh masyarakat (warok) tersebut. Pemikiran Islam, dengan demikian,
> tidak sekadar perlu diperhatikan para warok itu, tetapi bahkan harus
> dilakukan, dalam rangka menjembatani kesulitan-kesulitan berekspresi
> sebagai Muslim disebabkan oleh jeratan-jeratan keyakinan masa lalunya.
> Penelitian ini bisa dianggap penting, mengingat belum pernah dilakukan
> penelitian tantang warok dari aspek pemikiran Islam, terkait dengan upaya
> pencerahan masyarakat (baca : Islamisasi secara kualitatif). Beberapa
> penelitian yang telah dilakukan, lebih terfokus kepada kaji budaya seni
> Reyog berikut Warok Ponorogo (pada aspek profil kanoragan, kasekten nya),
> sehingga kontribusi dan peran yang lebih besar dalam pengembangan dan
> pembangunan masyarakat sendiri, terabaikan. Penelitian ini juga
> dimungkinkan akan membuka wacana baru bagi dunia pe-warok-an di Ponorogo.
> Selama ini, warok diklaim hanya bagi mereka yang memiliki "olah kanoragan"
> tinggi, dan inilah yang selama ini dikawal oleh masyarakat Ponorogo.
> Padahal, mestinya, sesuai dengan istilahnya, warok mestilah tidak sebatas
> itu. Sangat niscaya warok dimaknai lebih dari sisi partisipasi aktifnya
> dalam memberikan kemanfaatan bagi pembangunan masyarakat Ponorogo.
> Berdasarkan permasalahan di atas, maka pertanyaan permasalahan penelitian
> ini dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana dinamika pemikiran Islam yang
> dilakukan oleh para warok Ponorogo ?. Kemudian agar memperoleh jawaban
> penelitian yang lebih rinci dan mampu mendukung analisis pertanyaan
> permasalahan penelitian itu, maka akan dicari jawabannya lewat
> pengembangan permasalahan penelitian berikut ; a) Bagaimana perkembangan
> Islam di Ponorogo berikut hubungannya dengan adat setempat ?; b) Bagaimana
> konsepsi tentang warok Ponorogo dari masa ke masa ?; c) Apa saja
> kontribusi pemikiran Islam para warok di bidang pengembangan umat Islam
> Ponorogo secara kualitatif ?; dan d) Apa saja kontribusi para warok itu
> bagi pembangunan masyarakat Ponorogo, sesuai dengan bidangnya
> masing-masing ?.
> Dinamika pemikiran Islam yang berkembang di Ponorogo, diasumsikan terkait
> rapat dengan seni Reyog Ponorogo, mengingat aktifitas warok juga terkait
> erat dengan kesenian yang telah menjadi kebanggaan nasional ini, sekalipun
> antara warok dan seni reyog itu sendiri memiliki tradisinya
> sendiri-sendiri. Karena itu, permasalahan penelitian yang telah dirumuskan
> di atas, akan disetting fokus kajiannya melalui seni reyog Ponorogo.
>
> METODE PENELITIAN
> Data yang hendak dikumpulkan adalah tentang dinamika pemikiran Islam. Dari
> ungkapan konsep tersebut, jelas, bahwa yang dikehendaki adalah suatu
> informasi dalam bentuk deskripsi. Karena itu, penelitian ini lebih
> mempunyai perspektif emik, artinya data yang dikumpulkan diupayakan untuk
> dideskripsikan berdasarkan ungkapan, bahasa, cara berpikir, pandangan
> subjek penelitian, sehingga apa yang menjadi pertimbangan dibalik
> pemikiran, dapat terungkap.
> Data tentang dinamika pemikiran warok Ponorogo, akan digali melalui teknik
> wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang
> digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis, melalui proses
> induksi-interprtetasi-konseptualisasi, baik saat di lapangan maupun di
> luar lapangan. Sedangkan validasi data akan dilakukan bersamaan dengan
> analisis data, baik saat di lapangan maupun terutama setelah dari lapangan
> dengan memilah data yang masih meragukan untuk dilakukan reduksi data
> kemudian diteruskan dengan melakukan verifikasi data, dianalisis kembali
> dan terakhir akan didiskusikan dengan informan penelitian untuk memastikan
> validitas temuan.
>
> HASIL PENELITIAN
> Perkembangan Islam dan Adat di Ponorogo
> Kondisi keberagamaan masyarakat yang erat dengan adat tradisi kepercayaan
> lama, seperti di Ponorogo, nampaknya berdampak pada kualitas keberagamaan
> berikutnya. Hingga saat ini pemelukan keberagamaan itu masih bercampur
> dengan kepercayaan lama, bahkan sulit untuk memilah antara adat tradisi
> yang terwarisi dari kepercayaan lama itu dengan ajaran Islam yang tengah
> mereka peluk. Disinilah sering terjadi yang namanya tumpang suh (tumpang
> tindih) antara adat dan agama (Islam); aspek ajaran Islam sering disikapi
> sebagai adat, dan sebaliknya adat disikapi layaknya agama.
> Dalam hidup keseharian, pencampur-adukan itu mewujud di dalam berbagai
> ritual, misalnya kenduri. Kenduri yang diboyong dari kepercayaan animisme
> dinamisme, atau Hindhu bertemu di dalam semangat shadakah (di dalam ajaran
> Islam). Di dalam ritual kenduri, aspek simbol sesaji dalam kepercayaan
> lama sangat kental. Perangkat kenduri dalam bentuk ambeng (nasi lengkap
> dengan lauknya ditaruh ditempat sejenis dulang atau leser; sebuah perkakas
> dapur yang berfungsi untuk menaruh gelas atau piring siap saji), ditata
> menurut urutan sesaji. Ada sedikit beda terkait dengan isi ambeng
> disebabkan berbeda tujuan sesaji-nya. Ambeng akan dilengkapi dengan
> sondreng (terbuat dari parutan kelapa yang digoreng dan dikasih bumbu
> untuk melengkapi lauk) dan apem (kue manis terbuat dari tepung dan ditaruh
> disekeliling ambeng), ketika ambeng ini diperuntukkan untuk memperingati
> ruh leluhur yang telah meninggal dunia. Sementara ambeng yang
> diperuntukkan selain tujuan itu tanpa dikasih dua kelengkapan tersebut.
> Dalam praktik ritual sesaji lewat kenduri ini, biasanya didahului dengan
> hidiyah (kirim surat al-Fatihah) untuk para leluhur diteruskan dengan
> membaca surah Yasin dan atau tahlil. Disinilah masih sangat nampak
> perpaduan dua unsur itu; adat dan ajaran Islam.
> Memudarnya tradisi ritual sesaji pada seni reyog ini, nampaknya memang
> terilhami oleh pemikiran Kiai Ma'shum berkaitan dengan pemikiran Islam
> beliau yang dituangkan dalam meramu tampilan seni reyog islami yang
> dipublikasikan secara gencar lewat festival reyog islami yang
> diselenggarakan di pesantrennya; di Ponpes Modern Slahung Ponorogo.
> Festival ini dilakukan tahun 2004 dan 2005. Sebagaimana dijelaskan oleh
> Ustad Syarifan Nurjan, S.Ag., MA (bagian Humas Pesantren dan tangan kanan
> Kiai Ma'shum), animo masyarakat terhadap festival reyog islami ini cukup
> besar, baik dari peserta festival maupun masyarakan yang menikmati pentas
> reyog tersebut. Ada 22 group reyog yang mengikuti festival ini. Sekalipun
> belum melibatkan peserta dari luar propinsi (1 group peserta berasal dari
> Kabupaten Magetan Madiun), namun justru apresiasi masyarakat Ponorogo yang
> cukup besar itu mengisyaratkan sebuah keinginan besar menyambut seni reyog
> islami yang selama ini tak pernah mereka lihat dan nikmati. Nuansa
> islaminya, lanjut Ustad Syarifan, sudah sangat kental begitu pentas
> dimulai. Masing-masing group reyog membuka pentas dengan doa-doa
> kepasrahan kepada Allah SWT, yang ditembangkan dengan dua bahasa; Arab dan
> Jawa Ponorogo-an. Iringan dan hentakan gendang dikuatkan alunan gong
> besar, membuat hati haru dan menghadirkan suasana layaknya di sebuah
> majlis para shufi.
>
> Konsepsi Warok dari Masa ke Masa
> Beberapa pandangan yang berasal dari para Warok tentang warok bervariasi.
> Kasni Gunopati (karena ketokohannya, terutama di bidang seni Reyog
> Ponorogo, beliau tersohor dengan sebutan Mbah Wo Kucing), misalnya,
> menyatakan bahwa warok berasal dari kata wewarah (wongkang sugih wewarah).
> Jadi warok adalah orang yang mampu memberikan petunjuk atau pengajaran
> kepada orang lain tentang hidup dan kehidupan yang baik. Warok, lanjutnya,
> adalah orang yang memiliki tekad suci, siap memberikan tuntunan dan
> perlindungan tanpa pamrih. "Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing
> laku, lan wus menep ing rasa" (Warok adalah orang yang telah sempurna
> dalam hidup dan kehidupan lahir maupun batin). Dikarenakan konsep warok
> seperti ini maka sudah barang tentu untk menjadi seorang warok dibutuhkan
> bekal yang memadahi. Bekal yang dimaksud disini lebih pada "laku prihatin"
> untuk membekali diri baik fisik (kanuragan) maupun batin (spiritual). Di
> antara laku prihatin itu, ia contohkan, saat masih ngudi kaweruh (mbeguru
> wong sepuh, wong ngerti, pinter). Begitu beratnya laku prihatin itu sampai
> ia menyebrangi lautan luas serta menyusuri hutan belantara.
> Seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat Ponorogo, definisi dan
> interpretasi tentang warok nampaknya juga mengalami dinamikanya sendiri.
> Adalah Pak Kiai Syukri (panggilan akrab KH. Drs. Abdullah Syukri Zarkasyi,
> MA pimpinan Ponpes Modern "Darussalam" Gontor Ponorogo) dan Pak Kiai Ma'shum
> (panggilan akrab KH. Drs. Muhammad Ma'shum Yusuf; pimpinan Ponpes Modern
> "Arrisalah" Slahung Ponorogo) belakangan dikenal dan masuk deretan warok
> Ponorogo. Dua orang tokoh ini memaknai warok dengan merujuk kepada akar
> kata warok itu sendiri, yakni kata Arab. Kiai Ma'shum mengatakan, bahwa
> "konsep warok dulu sesuai dengan namanya yang berasal dari terjemahan
> bahasa Arab "wara'a" menjadi wira'i, wara' (warok, menurut lidah
> masyarakat Ponorogo) yaitu orang yang mampu menjaga dirinya dari
> perbuatan-perbuatan yang tidak benar. Kemudian konsep tersebut berubah
> menjadi kesenian budaya masyarakat Ponorogo". Darinya lahir sebuah
> definisi yang lebih menekankan aspek fungsi atau peran sang tokoh dalam
> membangun masyaraktnya dalam pengertian yang luas, tidak sebatas dari
> aspek olah kanuragan. Warok menurut mereka adalah tokoh sentral dalam
> memberikan solusi permasalahan hidup dan kehidupan masyarakatnya. Dan
> karena itu, ia di tuakan (disepuhake), dalam pengertian menjadi tokoh
> panutan di dalam sikap, ucap, serta tindaknya. Warok, lanjutnya "yang
> artinya menjaga diri akan selalu dijaga oleh Allah dan dia tidak akan
> takut dengan bentuk-bentuk apapun, yang dia takuti hanya Allah. Keberanian
> tersebut membuat masyarakat Ponorogo mengistilahkan dia (warok) mempunyai
> kanuragan, kemudian dilebih-lebihkan lagi menjadi warok kanuragan".
> Pandangan serupa disampaikan Kiai Syukri, bahwa warok Ponorogo adalah
> seorang yang memiliki jiwa yang suci (fitrah), dimana dengan jiwa suci ini
> seseorang itu mampu menjalani hidup di tengah-tengah masyarakat dengan
> sangat baik. Jiwanya yang suci dibalut oleh keimanan yang murni kepada
> Allah SWT, membuat hidupnya selalu diarahkan kepada Sang Pencipta, dimana
> pada gilirannya mengantarkan dirinya mampu memaknai hidup ini dengan
> sebuah kemanfaatan. Hidup adalah untuk menebar kemanfaatan yang luas
> kepada masyarakat. Ia mengatakan "warok itu ya orang yang wira'i, suci
> jiwa dan hatinya, karena ia getol menjaga dirinya dari hal-hal yang
> dilarang oleh Allah. Gerak warok adalah gerak ketuhanan, gerak yang selalu
> menghasilkan kemanfaatan bagi masyarakatnya. Oleh karena itu ia selalu
> dituakan dalam segala urusan di tengah-tengah masyarakatnya. Ia dijunjung
> tinggi karena kejujurannya, kesesuaian antara ucap dengan tindaknya. Ia
> dianggap tokoh sakti dalam pengertian kehebatan luar biasa dalam aspek
> kematangan diri serta kemanfaatan yang disebarkan itu."
>
> (Bersambung) Kontribusi Para Warok Bagi Peradaban Kabupaten Ponorogo
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> ------------------------------------
>
> =======================
> Milis Wanita Muslimah
> Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
> Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
> Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
> Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
> Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
>
> Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> ------------------------------------
>
> =======================
> Milis Wanita Muslimah
> Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
> Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
> Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
> Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
> Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
>
> Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> ------------------------------------
>
> =======================
> Milis Wanita Muslimah
> Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
> Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
> Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
> Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
> Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
>
> Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> ------------------------------------
>
> =======================
> Milis Wanita Muslimah
> Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
> Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
> Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
> Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
> Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
>
> Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
------------------------------------
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
------------------------------------
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
------------------------------------
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
------------------------------------
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
------------------------------------
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
------------------------------------
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
wanita-muslimah-digest@yahoogroups.com
wanita-muslimah-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/






0 comments:
Post a Comment