Fainnamaa nadzhabanna bika fainnaa minhum muntaqimuun (S.Al-Zukhruf, 43:41)
Tsumma a'radha 'anhaa innaa mina l-mujrimiina muntaqimuun (As-Sajdah, 32:22)
----- Original Message -----From: Mu'iz, AbdulSent: Monday, January 23, 2012 12:27 PMSubject: Re: Bls: Re: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's AtheistsNah, itu dia yang sudah saya jelaskan kepada abah HMNA mengenai "muntaqimuun" tanpa "al" karena memang kontek kalimatnya ya sudah ma'rifat sehingga muntaqimun tanpa al karena menunjuk pada diri Allah sendiri (sebagai mubtada').
Wassalam
Abdul Mu'iz
Powered by Telkomsel BlackBerry®
From: "chodjim" <chodjima@gmail.com>Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.comDate: Mon, 23 Jan 2012 11:08:28 +0700To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>ReplyTo: wanita-muslimah@yahoogroups.comSubject: Re: Bls: Re: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's Atheists
Tidak harus ada "al" bila sudah didahului oleh subjek yang ma'rifah. Jadi, ghaniyy dan haliim hanya menegaskan sifat-Nya. Dan, masih banyak lagi yang tanpa "al". Dalam Hadis al-asmaa al-husna itu semuanya diberi tambahan "al" karena yang dijadikan subjek itu ya kata "al-asmaa al-husna" itu sendiri, sehingga al-rahmaan, al-rahiim, dan yang lainnya dinyatakan dengan "definite article" karena kedudukannya sebagai khabar atau predikat.Wassalam,chodjim----- Original Message -----From: Mu'iz, AbdulSent: Monday, January 23, 2012 10:54 AMSubject: Re: Bls: Re: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's AtheistsThanks pak Chodjim, maaf saya khilaf. Artinya tidak semua asmaa ulhusna di qur'an selalu dalam bentuk definit artikel. Ada juga bentuk mufrad tanpa "al"
Wassalam
Abdul Mu'iz
Powered by Telkomsel BlackBerry®
From: "chodjim" <chodjima@gmail.com>Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.comDate: Mon, 23 Jan 2012 10:36:20 +0700ReplyTo: wanita-muslimah@yahoogroups.comSubject: Re: Bls: Re: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's Atheists
Urun rembug untuk koreksi.Pada 2:263 bukan 'aliim tetapi ghaniyy dan haliim. Keduanya al-asmaa al-husna.Wassalam,chodjim----- Original Message -----From: "Mu'iz, Abdul" <quality@posindonesia.co.id>Sent: Monday, January 23, 2012 10:12 AMSubject: Re: Bls: Re: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's Atheists> Pak ANB,
>
> (1) Sebenarnya kami (saya dan abah HMNA) sama-sama menyepakait bahwa al muntaqim adalah asmaa ulhusna, hanya saya menginformasikan bahwa dalam pemakain redaksi di Qur-an tidak ada dalam bentuk mufrad (singular), semuanya disajikan dalam buntuk jama' (plural). Namun saya tidak tahu apanya yang dibantah abah HMNA ?, muntaqimuun (QS 32:22, QS 43:41, QS 44:16) jelas-jelas dalam bentuk jama' tetapi yang dipermasalahkan abah HMNA adalah ketiadaan "al", mungkin karena asmaa ulhusna dalam bentuk definite article maka muntaqimuun (bentuk jama') di qur'an karena tanpa "al" maka di benak abah muntaqimuun tsb bukan termasuk asmaa ulhusna. Kalau benar pemikiran abah HMNA demikian maka tentu keliru. Karena ada juga asmaa ulhusna yang bentuk mufrad (singular) juga tanpa "al" contohnya sudah saya sebutkan yaitu al alim" di QS 2:263.
>
> (2) Adapun makna al muntaqim ya dekat dengan hal-hal pembalasan, siksaan atau hal-hal yang menyakitkan. Dalam hal apa Allah tampil sebagai al muntaqim ?
>
> a) Allah menghancurkan mereka yang suka menantang, menghukum penjahat, dan memperkeras hukuman atas penindas.
>
> Contohnya Kaum Ad yang menentang Nabi Hud dan mereka manantang ditimpakan azab, Kaum Tsamud yang menentang Nabi Syuaib, mereka juga menantang diberi azab, Kaum Sodom dan Gomorah yang menentang Nabi Luth, juga meremehkan azab juga meminta didatangkan azab. Ini contoh masa dahulu.
>
> Bagaimana dengan contoh masa sekarang ?, intiqam juga berlaku misalnya kalau pendduduk jorok hidup tidak tertib, buang sampah sembarangan sehingga menyumbat air selokan, kawasan resapan air dan hutan lindung dijadikan villa atau pabrik maupun plaza maka akan terjadi banjir, yang bakal menderita tidak hanya kaum yang bersalah tetapi semua wilayah akan mendapat penderitaan yang sama tanpa pandang bulu meskipun hidup tertib (misalnya buang sampah pada tempanya), contoh lain penduduk yang gemar mencuri listrik, main batol arus listrik seenaknya sendiri sehingga berpotensi korsluit maka tertimpa musibah kebakaran. Negeri yang gak kunjung tuntas mengatasi korupsi, maka akan dirundung malapetaka silih berganti bak benang kusut.
>
> Nah, kalau contoh di akhirat ya neraka merupakan balasan (intiqam) bagi hamba-hamba Allah yang kafir. Adapun balasan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh dapat balasan juga berupa syurga, biasanya balasan syurga bukan menggunakan istilah intiqam melainkan pahala atau ajrun ghairu mamnuun alias pahala yang tiada putus2nya.
>
> Wassalam
> Abdul Mu'iz
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment